Ketika Tren Generasi Z Lebih Takut Menikah, daripada Takut Kehilangan Arah

4 menit baca
Muhammad Mufti Sulthanan Nasira
Ditulis oleh Muhammad Mufti Sulthanan Nasira diterbitkan Minggu 17 Mei 2026, 11:19 WIB
Pernikahan adalah wujud keseriusan dalam membangun arah masa depan (Sumber: Pixeabay | Foto: Rizky_Motion)

Pernikahan adalah wujud keseriusan dalam membangun arah masa depan (Sumber: Pixeabay | Foto: Rizky_Motion)

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, pernikahan perlahan tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan mendesak bagi sebagian generasi muda. Banyak anak muda hari ini lebih memilih menjalani hubungan tanpa ikatan dibanding memasuki pernikahan yang dianggap rumit, mahal, dan penuh konsekuensi emosional. Di media sosial, hubungan romantis tanpa komitmen bahkan semakin dinormalisasi dan dipotret sebagai bagian dari kebebasan hidup.

Ironisnya, ketika angka pernikahan terus menurun, fenomena pergaulan bebas justru menunjukkan arah sebaliknya.

Berdasarkan data BKKBN dan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, angka pernikahan di Indonesia mengalami penurunan cukup signifikan dalam lima tahun terakhir, dari sekitar 2 juta pernikahan menjadi 1,5 juta per tahun. Namun di saat yang sama, usia pertama kali melakukan hubungan seksual justru semakin muda, berada pada rentang usia 15–19 tahun.

Fenomena ini memperlihatkan satu realitas yang cukup mengkhawatirkan: menikah semakin ditunda, tetapi relasi seksual justru semakin bebas.

Generasi hari ini hidup di tengah dunia digital yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Akses terhadap konten pornografi, sensualitas, dan gaya hidup bebas begitu mudah ditemukan, bahkan tanpa dicari sekalipun. Algoritma media sosial sering kali bekerja lebih agresif daripada kesadaran manusia itu sendiri. Apa yang awalnya hanya rasa penasaran perlahan berubah menjadi kebiasaan, lalu menjadi budaya.

Belum lagi munculnya fenomena marriage is scary yang semakin populer di media sosial. Pernikahan digambarkan sebagai sesuatu yang melelahkan, membatasi kebebasan, dan penuh luka. Konten tentang perselingkuhan, perceraian, kekerasan rumah tangga, hingga konflik finansial terus memenuhi ruang digital anak muda setiap hari. Akibatnya, banyak orang mulai memandang pernikahan bukan sebagai tempat bertumbuh, melainkan sumber kecemasan baru.

Di sisi lain, budaya bebas dari luar juga masuk tanpa banyak filter. Hubungan tanpa status, seks bebas, dan hidup bersama tanpa pernikahan perlahan dipandang sebagai sesuatu yang normal. Sebagian generasi muda akhirnya lebih nyaman menjalani relasi tanpa komitmen karena dianggap lebih praktis dan tidak terlalu membebani mental.

Namun, benarkah itu solusi?

Dalam psikologi humanistik, Abraham Maslow menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar akan cinta dan rasa memiliki (love and belonging needs). Manusia ingin dicintai, diterima, dihargai, dan merasa terhubung dengan orang lain. Ketika kebutuhan itu tidak terpenuhi secara sehat, manusia akan mencari pelampiasan dengan berbagai cara, termasuk melalui hubungan yang tidak sehat dan impulsif.

Fenomena ini terasa sangat relevan dengan kondisi generasi muda hari ini. Banyak anak muda sebenarnya bukan hanya lapar akan hubungan romantis, tetapi lapar akan kasih sayang, perhatian, dan ketenangan emosional. Sayangnya, kebutuhan itu sering dicari di tempat yang salah.

Hubungan bebas akhirnya dijadikan pelarian dari kesepian. Validasi pasangan dijadikan pengganti ketenangan batin. Kedekatan fisik dianggap mampu menyembuhkan kehampaan emosional, padahal sering kali hanya memberikan ketenangan sesaat sebelum akhirnya meninggalkan luka yang lebih dalam.

Tidak sedikit anak muda yang akhirnya mengalami tekanan mental akibat hubungan yang tidak sehat: kecemasan berlebihan, ketergantungan emosional, trauma relasi, hingga kehilangan arah hidup. Dalam beberapa kasus, kehamilan di luar nikah, aborsi, bahkan bunuh diri menjadi konsekuensi tragis dari hubungan yang sejak awal tidak dibangun di atas kesiapan dan tanggung jawab.

Sepasang kekasih halal (Sumber: Pixeabay | Foto: pastelila_id)
Sepasang kekasih halal (Sumber: Pixeabay | Foto: pastelila_id)

Dalam konteks inilah agama sebenarnya hadir bukan untuk membatasi manusia, melainkan melindunginya.

Islam sejak awal telah mengajarkan konsep menjaga diri melalui ghadhul bashar atau menundukkan pandangan. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka.”
(QS. An-Nur: 30)

Ayat ini kemudian dilanjutkan dengan perintah yang sama kepada perempuan beriman agar menjaga pandangan dan kehormatannya. Dalam kehidupan modern hari ini, pesan tersebut terasa semakin relevan. Ketika media sosial membuka pintu syahwat tanpa batas, Islam justru mengajarkan pengendalian diri sebagai benteng pertama sebelum manusia berbicara tentang hubungan dan pernikahan.

Menjaga diri di zaman seperti sekarang memang bukan perkara mudah. Ini bukan soal berlebihan atau terlalu lebay dalam beragama. Faktanya, banyak orang sedang berjuang melawan arus yang sangat deras. Arus visual, arus budaya, arus algoritma, dan arus kesepian yang diam-diam menggerus ketahanan moral generasi muda.

Namun perjuangan itu tidak pernah sia-sia. Allah melihat perjuangan tersebut, mencatatnya, dan menghargainya.

Karena itu, iman dan niat yang kuat menjadi kunci penting bagi generasi muda hari ini. Ketakutan karena belum menikah, rasa kesepian, atau tekanan sosial tidak akan cukup diselesaikan hanya dengan hubungan romantis tanpa arah. Tanpa iman dan tujuan yang jelas, seseorang justru lebih mudah terbawa arus dan masuk dalam fenomena seks bebas yang semakin dinormalisasi.

Pada akhirnya, persoalan terbesar generasi muda hari ini mungkin bukan sekadar takut menikah, tetapi takut menjalani komitmen dan proses pendewasaan. Padahal cinta yang sehat tidak hanya membutuhkan rasa nyaman, tetapi juga tanggung jawab, pengendalian diri, dan keberanian untuk menjaga diri di tengah dunia yang semakin permisif.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Mufti Sulthanan Nasira
Penggiat literasi digital, magister yang minat kajian agama, media dan budaya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)