Ketika Tren Generasi Z Lebih Takut Menikah, daripada Takut Kehilangan Arah

4 menit baca
Muhammad Mufti Sulthanan Nasira
Ditulis oleh Muhammad Mufti Sulthanan Nasira diterbitkan
Pernikahan adalah wujud keseriusan dalam membangun arah masa depan (Sumber: Pixeabay | Foto: Rizky_Motion)
Pernikahan adalah wujud keseriusan dalam membangun arah masa depan (Sumber: Pixeabay | Foto: Rizky_Motion)

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, pernikahan perlahan tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan mendesak bagi sebagian generasi muda. Banyak anak muda hari ini lebih memilih menjalani hubungan tanpa ikatan dibanding memasuki pernikahan yang dianggap rumit, mahal, dan penuh konsekuensi emosional. Di media sosial, hubungan romantis tanpa komitmen bahkan semakin dinormalisasi dan dipotret sebagai bagian dari kebebasan hidup.

Ironisnya, ketika angka pernikahan terus menurun, fenomena pergaulan bebas justru menunjukkan arah sebaliknya.

Berdasarkan data BKKBN dan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, angka pernikahan di Indonesia mengalami penurunan cukup signifikan dalam lima tahun terakhir, dari sekitar 2 juta pernikahan menjadi 1,5 juta per tahun. Namun di saat yang sama, usia pertama kali melakukan hubungan seksual justru semakin muda, berada pada rentang usia 15–19 tahun.

Fenomena ini memperlihatkan satu realitas yang cukup mengkhawatirkan: menikah semakin ditunda, tetapi relasi seksual justru semakin bebas.

Generasi hari ini hidup di tengah dunia digital yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Akses terhadap konten pornografi, sensualitas, dan gaya hidup bebas begitu mudah ditemukan, bahkan tanpa dicari sekalipun. Algoritma media sosial sering kali bekerja lebih agresif daripada kesadaran manusia itu sendiri. Apa yang awalnya hanya rasa penasaran perlahan berubah menjadi kebiasaan, lalu menjadi budaya.

Belum lagi munculnya fenomena marriage is scary yang semakin populer di media sosial. Pernikahan digambarkan sebagai sesuatu yang melelahkan, membatasi kebebasan, dan penuh luka. Konten tentang perselingkuhan, perceraian, kekerasan rumah tangga, hingga konflik finansial terus memenuhi ruang digital anak muda setiap hari. Akibatnya, banyak orang mulai memandang pernikahan bukan sebagai tempat bertumbuh, melainkan sumber kecemasan baru.

Di sisi lain, budaya bebas dari luar juga masuk tanpa banyak filter. Hubungan tanpa status, seks bebas, dan hidup bersama tanpa pernikahan perlahan dipandang sebagai sesuatu yang normal. Sebagian generasi muda akhirnya lebih nyaman menjalani relasi tanpa komitmen karena dianggap lebih praktis dan tidak terlalu membebani mental.

Namun, benarkah itu solusi?

Dalam psikologi humanistik, Abraham Maslow menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar akan cinta dan rasa memiliki (love and belonging needs). Manusia ingin dicintai, diterima, dihargai, dan merasa terhubung dengan orang lain. Ketika kebutuhan itu tidak terpenuhi secara sehat, manusia akan mencari pelampiasan dengan berbagai cara, termasuk melalui hubungan yang tidak sehat dan impulsif.

Fenomena ini terasa sangat relevan dengan kondisi generasi muda hari ini. Banyak anak muda sebenarnya bukan hanya lapar akan hubungan romantis, tetapi lapar akan kasih sayang, perhatian, dan ketenangan emosional. Sayangnya, kebutuhan itu sering dicari di tempat yang salah.

Hubungan bebas akhirnya dijadikan pelarian dari kesepian. Validasi pasangan dijadikan pengganti ketenangan batin. Kedekatan fisik dianggap mampu menyembuhkan kehampaan emosional, padahal sering kali hanya memberikan ketenangan sesaat sebelum akhirnya meninggalkan luka yang lebih dalam.

Tidak sedikit anak muda yang akhirnya mengalami tekanan mental akibat hubungan yang tidak sehat: kecemasan berlebihan, ketergantungan emosional, trauma relasi, hingga kehilangan arah hidup. Dalam beberapa kasus, kehamilan di luar nikah, aborsi, bahkan bunuh diri menjadi konsekuensi tragis dari hubungan yang sejak awal tidak dibangun di atas kesiapan dan tanggung jawab.

Sepasang kekasih halal (Sumber: Pixeabay | Foto: pastelila_id)
Sepasang kekasih halal (Sumber: Pixeabay | Foto: pastelila_id)

Dalam konteks inilah agama sebenarnya hadir bukan untuk membatasi manusia, melainkan melindunginya.

Islam sejak awal telah mengajarkan konsep menjaga diri melalui ghadhul bashar atau menundukkan pandangan. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka.”
(QS. An-Nur: 30)

Ayat ini kemudian dilanjutkan dengan perintah yang sama kepada perempuan beriman agar menjaga pandangan dan kehormatannya. Dalam kehidupan modern hari ini, pesan tersebut terasa semakin relevan. Ketika media sosial membuka pintu syahwat tanpa batas, Islam justru mengajarkan pengendalian diri sebagai benteng pertama sebelum manusia berbicara tentang hubungan dan pernikahan.

Menjaga diri di zaman seperti sekarang memang bukan perkara mudah. Ini bukan soal berlebihan atau terlalu lebay dalam beragama. Faktanya, banyak orang sedang berjuang melawan arus yang sangat deras. Arus visual, arus budaya, arus algoritma, dan arus kesepian yang diam-diam menggerus ketahanan moral generasi muda.

Namun perjuangan itu tidak pernah sia-sia. Allah melihat perjuangan tersebut, mencatatnya, dan menghargainya.

Karena itu, iman dan niat yang kuat menjadi kunci penting bagi generasi muda hari ini. Ketakutan karena belum menikah, rasa kesepian, atau tekanan sosial tidak akan cukup diselesaikan hanya dengan hubungan romantis tanpa arah. Tanpa iman dan tujuan yang jelas, seseorang justru lebih mudah terbawa arus dan masuk dalam fenomena seks bebas yang semakin dinormalisasi.

Pada akhirnya, persoalan terbesar generasi muda hari ini mungkin bukan sekadar takut menikah, tetapi takut menjalani komitmen dan proses pendewasaan. Padahal cinta yang sehat tidak hanya membutuhkan rasa nyaman, tetapi juga tanggung jawab, pengendalian diri, dan keberanian untuk menjaga diri di tengah dunia yang semakin permisif.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Mufti Sulthanan Nasira
Penggiat literasi digital, magister yang minat kajian agama, media dan budaya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Jul 2026, 18:01

Membaca Ulang Jogja Dua yang Kini Bertransformasi Jadi 'Buah Dua'

Asal-usul julukan “Jogja 2” yang disematkan kepada Buahdua, Sumedang, melalui tinjauan sejarah pada masa Agresi Militer Belanda II, juga peran warga memaknai julukan tersebut.

Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:49

Jejak Otentisitas Kuliner Bumi Pasundan: Tinjauan 8 Resep Warisan dalam Karya Ny. Tuty Latief (1976)

Pada tahun 1976, sebuah pustaka boga berjudul Resep Masakan Daerah hadir sebagai dokumentasi penting bagi khazanah kuliner Nusantara.

Pepes ikan emas (pais lauk mas) Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 17:41

Rujak Cingur Surabaya, Kuliner Legendaris Sejak 1930-an

Kenali sejarah rujak cingur Surabaya, bahan khas, warung legendaris, Festival Rujak Uleg, hingga tips menikmati kuliner Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Rujak Cingur Surabaya.
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:03

Perjalanan Panjang Mie Ayam: Dari Makanan Pendatang hingga jadi 'Comfort Food' Sejuta Umat

Rasanya sudah biasa ketika pergi ke mana pun, pasti ada gerobak atau warung mie ayam yang berjualan.

Foto mie ayam dari warung pinggir jalan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syabil Rasyidan)
Bandung 06 Jul 2026, 16:15

Kisah Ratri Wijaya Nakhodai 3 Lini Mode: Potret Tangguh UMKM Bandung yang Ogah Gulung Tikar Digilas Zaman

Di tengah ketatnya persaingan pasar digital dan pergeseran tren yang bergerak secepat kilat, para kreator lokal dituntut untuk tidak sekadar bertahan, melainkan terus beradaptasi dan bertransformasi.

Ratri Wijaya dikenal sebagai desainer sekaligus entrepreneur sukses yang menaungi tiga brand fashion sekaligus, yaitu Rumah Batik Wijaya, Kamaku, dan Alaiya. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 16:01

10 Netizen Terpilih Juni 2026, Menangkap Momentum dengan Kualitas

Per Juni 2026 dan seterusnya penulis tidak lagi dibatasi satu tema besar, melainkan dipersilakan mengangkat isu apa pun yang relevan dengan momentum.

Website ayobandung.id. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Knight)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 14:14

Mendefinisikan Ulang Nation Branding: Ketika Identitas Bangsa Tak Lagi Ditentukan dari Atas

Artikel ini mengulas partisipasi publik dalam pemilihan logo HUT ke-81 RI sebagai paradigma baru nation branding yang memperkuat legitimasi, reputasi, dan identitas kolektif Indonesia.

logo HUT ke-81 RI. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:40

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang: Nostalgia Berujung Meriah Bersama Java Jive

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang membuktikan bahwa persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah tetap hidup meski waktu terus berjalan.

Band legendaris asal Bandung, Java Jive, tampil menghibur dan menyemarakkan Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:19

Demokratisasi Keahlian: Reinvensi Peran SME dalam Ekosistem Corporate University

Reinvensi peran SME dalam Corporate University mengubah pelatihan menjadi ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang relevan, adaptif, dan berdampak pada kinerja organisasi.

Ilustrasi ASN. (Sumber: diskominfo.bandaacehkota.go.id)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 12:47

Lagu Kontroversial 'Lalaki Langit' dari Bupati Purwakarta

Kontroversi Lagu "Lalaki Langit" buatan Bupati Purwakarta menuai kritik panas dari netizen hingga berujung permintaan maaf.

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein. (Sumber: ppid.purwakartakab.go.id)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 12:40

Pantai Sayang Heulang, Wisata dengan View Eksotis di Garut Selatan yang Wajib Dikunjungi

Pantai Sayang Heulang Garut menawarkan karang raksasa, gumuk pasir, camping, dan sunset indah. Ketahui harga tiket, lokasi, aktivitas, serta tips berkunjung terbaru.

Pantai Sayang Heulang Garut. (Sumber: Instagram @pantaisayangheulang)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 11:38

Kaum Prekariat, Mimpi yang Digantung Zaman

Kaum Prekariat sampai saat ini hanya menggantungkan impiannya untuk meningkatkan taraf hidup.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 10:25

Tari Bali: Kaya akan Ritual Sakral hingga Berkembang menjadi Tarian Penyambutan

Sejarah keindahan tarian tradisional Bali dan makna dibaliknya.

Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 09:41

Sate Maranggi: Narasi Evolusi, Filosofi, dan Diplomasi Budaya di Balik Ikon Kuliner Purwakarta

Kekuatan utama Sate Maranggi tersebut justru terletak pada teknik marinasinya yang intens.

Sate Maranggi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunwan Kartapranata)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 08:40

Rupiah Kuat Harapan Tertinggi Masyarakat

Kekuatan Rupiah harus diperhatikan dengan seksama.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 20:03

Menelusuri Akar Sejarah Pasunda Bubat dan Kondisi Kedua Kerajaan Pascatragedi

Peristiwa Pasunda Bubat dan Kondisi Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda Pasca-Pasunda Bubat berdasarkan catatan kitab-kitab kuno.

Ilustrasi Pasunda Bubat (Sumber: Wikimedia commons)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 18:11

Komentar Jahat yang Mendongkrak Penjualan PUKA

Hate comment yang membanjiri TikTok PUKA justru mendongkrak penjualan scrunchie buatan para penyandang disabilitas.

Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)
Wisata & Kuliner 05 Jul 2026, 17:23

Cara Berkunjung ke Suku Baduy Banten, Semua yang Wajib Diketahui Sebelum Datang ke Kanekes

Berencana ke Baduy? Ketahui rute menuju Ciboleger, larangan di Baduy Dalam, masa Kawalu, penginapan rumah warga, dan tips perjalanan sebelum berangkat.

Pemukiman di Desa Knekes, Banten, yang popular dengan sebutan Baduy. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 17:10

Merebut Simpati Masyarakat Desa dalam Ketahanan Pangan Bergizi

Ketercapaian pemerintah dapat dilihat ketika masyarakat di desa antusias untuk mempertahankan pangan yang aman dan amanah. 

Program makan bergizi gratis (MBG). (Sumber: kebumenkab.go.id)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 13:22

Sering Dianggap Lemah, Sains Buktikan Perempuan Lebih Kuat Tahan Rasa Sakit

Ungkap fakta sains tentang mekanisme proteksi saraf unik pada tubuh perempuan.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)