Bandung sebagai Ensiklopedi Buku

Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan Jumat 15 Mei 2026, 09:12 WIB
Pasar Buku Bekas Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)

Pasar Buku Bekas Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)

Karena dari sebuah buku, kadang masa depan sebuah kota dimulai (ayat-ayat sastra).

Setiap tahun pada tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Apakah dampak positif dan terbesar bagi kehidupan sehari-hari. Atau hanya sekadar seremonial tanpa arti? Apakah kota Bandung bisa menjadi pionir dalam ensiklopedi buku di tengah tantangan zaman yang kian tajam? Atau berusaha bangkit, perlahan tapi pasti dan menjadi pusat ensiklopedi Indonesia.

Di sudut-sudut Bandung yang mulai dipenuhi cahaya layar dan suara kendaraan yang tak pernah benar-benar tidur, buku masih berjalan diam-diam di antara manusia. Ia hidup di rak-rak tua perpustakaan, di kios kecil dekat trotoar Braga, di tangan mahasiswa yang duduk sendiri di taman kota, juga di meja kayu warung kopi tempat percakapan tentang masa depan lahir dari halaman-halaman yang dibuka perlahan.

Peringatan Hari Buku bukan sekadar mengenang lembaran kertas yang dipenuhi huruf. Ia adalah pengingat bahwa sebuah bangsa pernah dibangun oleh gagasan, oleh keberanian membaca kenyataan, dan oleh imajinasi yang menolak menyerah pada kebodohan. Di Bandung—kota yang sejak lama akrab dengan semangat intelektual, gerakan seni, dan percakapan kebudayaan—buku seperti denyut yang menjaga kesadaran tetap hidup di tengah zaman yang serba cepat.

Di bawah langit sore Dago yang berkabut tipis, generasi muda hari ini mungkin lebih akrab dengan layar dibanding halaman buku. Namun harapan tidak pernah benar-benar hilang. Sebab setiap anak yang membaca satu buku dengan sungguh-sungguh, sedang membuka jendela baru bagi peradaban. Setiap penulis yang tetap menulis di tengah minimnya perhatian, sedang menanam pohon untuk masa depan yang belum tentu ia nikmati sendiri.

Hari Buku mengajarkan bahwa kemajuan bukan hanya tentang gedung tinggi, teknologi, atau angka pertumbuhan ekonomi. Masa depan juga ditentukan oleh kemampuan manusia memahami sesamanya—dan buku adalah salah satu jalan paling sunyi menuju kebijaksanaan itu.

Bandung di masa depan mungkin akan berubah lebih modern, lebih digital, dan lebih padat. Tetapi semoga kota ini tetap menyisakan ruang bagi perpustakaan kecil, toko buku independen, diskusi sastra, dan anak-anak muda yang percaya bahwa membaca bukan kegiatan usang. Sebab kota yang kehilangan budaya membaca perlahan akan kehilangan kemampuan untuk bermimpi.

Dan pada akhirnya, harapan terbesar Hari Buku bukan hanya lahirnya banyak pembaca, melainkan lahirnya manusia-manusia yang lebih peka: yang mampu melihat penderitaan orang lain, menghargai perbedaan, serta menjaga kemanusiaan di tengah dunia yang terus bergerak tanpa jeda.

Karena dari sebuah buku, kadang masa depan sebuah kota dimulai.

Bandung sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat intelektual dan kebudayaan di Indonesia. Dari kota ini lahir banyak penulis, sastrawan, dan pemikir penting yang berpengaruh pada perkembangan sastra serta pemikiran nasional. Beberapa tokoh terkenal dari masa lalu antara lain:

Ajip Rosidi: ia salah satu tokoh sastra Sunda dan Indonesia paling penting. Ia sangat produktif menulis puisi, cerpen, esai, dan aktif menjaga kebudayaan Sunda melalui berbagai lembaga budaya di Bandung.

Utuy Tatang Sontani: penulis drama dan cerpen terkenal era 1940–1950-an. Karyanya banyak menggambarkan kegelisahan sosial rakyat kecil setelah kemerdekaan.

Mochtar Lubis: meski lahir di Padang, ia memiliki hubungan kuat dengan atmosfer intelektual Bandung. Novel terkenalnya seperti Jalan Tak Ada Ujung menjadi tonggak sastra modern Indonesia.

Sutan Takdir Alisjahbana: pernah aktif dalam perkembangan intelektual dan pendidikan modern yang juga memengaruhi dunia literasi Bandung pada zamannya.

Remy Sylado: dikenal sebagai penulis multitalenta dengan gaya satiris dan ensiklopedis. Bandung menjadi salah satu ruang kreatif penting dalam perjalanan kepenulisannya.

Godi Suwarna: tokoh sastra Sunda modern yang dikenal dengan eksplorasi bahasa dan gaya eksperimental.

Pidi Baiq: meski lebih dikenal generasi modern, namanya sangat melekat dengan identitas Bandung lewat karya-karya bernuansa humor, romantik, dan keseharian kota.

Selain itu, Bandung juga pernah menjadi ruang tumbuh berbagai komunitas sastra penting, terutama sekitar kampus Institut Teknologi Bandung dan kawasan budaya seperti Jalan Braga. Kota ini memiliki tradisi diskusi, penerbitan independen, hingga gerakan kesenian yang cukup kuat sejak masa kolonial hingga reformasi.

Karena itu, Bandung bukan hanya kota wisata atau pendidikan, tetapi juga salah satu kota yang ikut membentuk sejarah sastra Indonesia modern. Sebagaimana yang pernah dikatakan seorang filsuf Indonesia, Karlina Supelli, dengan membaca sastra, kita akan menemukan nilai-nilai kemanusiaan lebih dalam.

Kita berharap, kota Bandung terus-menerus melahirkan tokoh-tokoh intelektual, yang tidak terlepas dari gerakan-gerakan literasi. Kita tidak ingin mendengar dengung dari masyarakat yang merasa letih dalam perjuangan membangun bangsa. Harus ada upaya aktif untuk membangun kesadaran masyarakat, betapa pentingnya menguasai literasi melalui buku-buku. Apakah kita benar-benar dalam kondisi krisis literasi?

Konsep membangun kota Bandung yang lebih integral, bukan hanya dengan kritisi tajam tanpa solusi. Tetapi sebagai upaya yang kreatif, seakan kita sedang menulis buku. Satu halaman dengan halaman yang lain, pasti akan melengkapi dan sama pentingnya. Kehilangan satu halaman berarti kehilangan masa depan yang utuh. Tercapai tujuannya tapi tidak utuh secara makna.

Kondisi Pasar Buku Palasari Bandung kini, terus bertahan di tengfah gempuran perubahan zaman. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Kondisi Pasar Buku Palasari Bandung kini, terus bertahan di tengfah gempuran perubahan zaman. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

Dalam artikel ini, ada beberapa gagasan yang bisa menjadi pemikiran dan telaah ilmiah bagi masyarakat Bandung. Memahami ensiklopedi sebuah kota bukan sekadar membaca kumpulan data geografis, nama jalan, atau catatan sejarah administratif. Banyak pakar memandang kota sebagai ruang hidup yang menyimpan ingatan kolektif, identitas budaya, bahkan arah peradaban manusia. Karena itu, ensiklopedi kota menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan masyarakatnya.

Lewis Mumford, seorang pemikir kota dan peradaban, melihat kota sebagai “wadah memori manusia.” Dalam pandangannya, memahami kota berarti memahami bagaimana manusia membangun makna hidup melalui ruang, tradisi, teknologi, dan relasi sosial. Ensiklopedi kota penting karena ia mendokumentasikan denyut peradaban itu agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya.

Sementara itu, Kevin Lynch menekankan bahwa manusia membutuhkan “citra kota” yang jelas agar memiliki kedekatan emosional dengan tempat tinggalnya. Ketika masyarakat memahami sejarah kampungnya, asal-usul nama jalan, bangunan tua, sungai, hingga ruang publik dalam ensiklopedi kota, mereka akan lebih mudah membangun rasa memiliki dan tanggung jawab sosial terhadap lingkungannya.

Menurut Jane Jacobs, kota bukan hanya dibentuk pemerintah atau arsitek, melainkan juga oleh kehidupan sehari-hari masyarakat kecil: pedagang kaki lima, percakapan di gang sempit, pasar tradisional, dan interaksi warga. Ensiklopedi kota menjadi penting karena mampu merekam detail-detail kecil yang sering hilang dalam sejarah resmi, padahal justru di situlah jiwa kota berada.

Dalam konteks kebudayaan, Clifford Geertz memandang kota sebagai teks budaya yang dapat “dibaca.” Tradisi lokal, bahasa masyarakat, ritus, makanan, kesenian, hingga konflik sosial adalah simbol yang membentuk identitas sebuah daerah. Ensiklopedi kota membantu generasi muda memahami simbol-simbol tersebut agar modernitas tidak menghapus ingatan budaya mereka.

Sedangkan Benedict Anderson melalui gagasan “komunitas terbayang” menunjukkan bahwa identitas kolektif terbentuk melalui narasi bersama. Kota yang memiliki dokumentasi pengetahuan yang baik—baik sejarah, sastra, arsip budaya, maupun biografi tokoh lokal—akan lebih kuat membangun kesadaran warganya tentang siapa mereka dan ke mana arah peradabannya.

Di era digital hari ini, ensiklopedi kota juga berfungsi sebagai alat pendidikan publik. Ia bukan hanya rak arsip, melainkan ruang refleksi sosial. Kota yang memahami dirinya sendiri cenderung lebih siap menghadapi krisis identitas, kerusakan lingkungan, dan homogenisasi budaya global. Sebab masyarakatnya tidak hidup dalam keterputusan sejarah.

Maka, memahami ensiklopedi sebuah kota pada akhirnya bukan sekadar kegiatan akademik. Ia adalah upaya merawat ingatan, menjaga identitas, dan meneguhkan kemanusiaan di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Mei 2026, 20:08

'Jejak Rupa', Ruang Refleksi Perjalanan Seni Tjetjep Rohendi Rohidi

Pameran “Jejak Rupa” menghadirkan 123 karya Tjetjep Rohendi Rohidi yang merekam hubungan manusia dengan alam, ingatan, dan perubahan zaman.

Poster Jejak Rupa. (Sumber: Galeri Dago Thee Huis)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 17:11

Pengorbanan Tidak Pernah Mati dalam Kehidupan Manusia

Peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus menjadi refleksi bahwa manusia perlahan mulai memanfaatkan ketulusan seseorang dibanding menghargai pengorbanannya.

Ilustrasi peristiwa Kenaikan Yesus Kristus yang dimaknai sebagai simbol pengorbanan, harapan, dan ketulusan dalam kehidupan manusia. (Sumber: Designed by Freepik)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 14:22

Media Liberal sebagai 'Sekolah Kedua' dan Krisis Moral Pelajar

Media liberal telah menjadi “sekolah kedua” yang membentuk pelajar dengan nilai kekerasan, hedonisme, dan kebebasan tanpa batas dalam sistem sekuler kapitalistik.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Wisata & Kuliner 15 Mei 2026, 10:56

Panduan Wisata Kebun Raya Cibodas, Taman Tertua di Kaki Gede Pangrango

Panduan wisata Kebun Raya Cibodas mencakup sejarah, koleksi tanaman, taman sakura, akses lokasi, harga tiket, serta tips berkunjung di kawasan dataran tinggi.

Kebun Raya Cibodas. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 15 Mei 2026, 10:49

Bandung dan Perjuangan Panjang Mengatasi Sampah

Kota Bandung tengah berjuang membenahi persoalan sampah lewat perubahan sistem, keterlibatan warga, dan upaya membangun budaya lingkungan yang berkelanjutan.

Warga RW 19 Kelurahan Antapani Tengah, Kecamatan Antapani mengadaptasi pola penyelesaian sampah tanpa harus melakukan pengiriman ke TPA. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Beranda 15 Mei 2026, 10:34

Bandung, Dongeng, dan Cara Baru Menjinakkan Ketakutan akan Sesar Lembang

Komunitas Sesar Lembang Kalcer memakai dongeng, musik, dan seni untuk membangun kesadaran mitigasi gempa di Bandung tanpa menebar ketakutan.

Wisatawan lokal berwisata ke Tebing Keraton yang berada di Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan berada di atas permukaan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 10:25

Hari Lahir Tatar Sunda 18 Mei 669: Sulit untuk Disimpulkan karena 'Omong Kosong'

Amat banyak kritik terlontar saat Pemprov Jabar secara resmi menetapkan 18 Mei sebagai Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran di Kabupaten Sumedang, Sabtu malam (2/5/2026). (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 09:12

Bandung sebagai Ensiklopedi Buku

Peringatan Hari Buku Nasional tidak hanya menjadi seremonial belaka tetapi bagaimana bisa menjadi refleksi dalam membangun citra kota Bandung

Pasar Buku Bekas Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 20:19

Ketika Kemacetan Bisa Ditembus dengan Pengawalan

Fenomena pengawalan kendaraan di tengah kemacetan memunculkan persoalan keadilan ruang jalan, keselamatan lalu lintas, dan budaya privilese dalam sistem transportasi.

Rombongan kendaraan menembus antrean keluar Gerbang Tol Pasteur dengan bantuan pengawalan polisi. (Sumber: Dok. Penulis)
Wisata & Kuliner 14 Mei 2026, 17:18

Wisata Karang Tawulan, Pantai Tebing di Tasikmalaya dengan Lanskap Samudra Hindia

Karang Tawulan menawarkan panorama tebing karang, ombak besar Samudra Hindia, serta spot melihat Pulau Nusa Manuk dan situs ziarah ulama di Tasikmalaya selatan.

Pantai Karang Tawulan Tasikmalaya. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 15:40

Ketika GOR Saparua Bandung Berguncang oleh Deretan Rocker Kawakan

Atmosfer rock Bandung yang sedang bergairah membuat “Super Rock ’84” menjadi salah satu pertunjukan paling semarak.

Pentas musik Super Rock ’84 menghiasi halaman surat kabar INTI JAYA edisi Mei 1984, yang kala itu memberitakan gegap gempita konser rock di GOR Saparua Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 11:37

Simfoni Hijau Tanah Priangan: Mengupas Cita Rasa Kearifan Lokal Gastronomi Sunda

Tanah Priangan tidak hanya menjanjikan pemandangan hijau yang memanjakan mata, tetapi juga simfoni rasa yang berakar kuat pada kearifan lokal.

Makanan khas Sunda nasi tutug oncom, di Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Dudygr)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 10:49

6 Tahapan Sertifikasi Profesi BNSP, Fresh Graduate Wajib Tahu!

Masih bingung bagaimana alur sertifikasi profesi BNSP? Simak 6 tahapan sertifikasi profesi BNSP lengkap mulai dari pendaftaran, asesmen, hingga terbit sertifikat kompetensi resmi.

Ilustrasi wisuda kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Gül Işık)
Beranda 13 Mei 2026, 21:00

Satu Tahun ayobandung.id dan Krisis Ingatan Kota

Setahun ayobandung.id diperingati lewat seminar tentang krisis ingatan Kota Bandung, membahas toponimi, lingkungan, dan pentingnya menjaga hubungan warga dengan kotanya.

T. Bachtiar berfoto bersama mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran usai seminar tentang toponimi, lingkungan, dan krisis ingatan Kota Bandung di Jatinangor, Selasa (13/5/2026). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 20:39

KDM dan Mas Nunu di Tahun 1990-an

Tahun 1990-an dua model rambut Demi Moore dan Keanu Reeves menggila mempengaruhi kawula muda Bandung dan ada istilah KDM atau Korban Demi Moore.

Tahun 1990-an dua model rambut Demi Moore dan Keanu Reeves menggila mempengaruhi kawula muda Bandung dan ada istilah KDM atau Korban Demi Moore. (Sumber: Facebook | Foto: Jadulover)
Wisata & Kuliner 13 Mei 2026, 18:37

Panduan Wisata Situ Gede Tasikmalaya, Botram di Danau Kota dengan Lanskap Tenang

Panduan wisata Situ Gede Tasikmalaya, danau alami dengan Pulau Nusa, perahu wisata, serta kisah tradisi lisan tentang Eyang Prabudilaya.

Wisata Situ Gede Tasikmalaya. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 16:58

Bandung Lautan Sampah

Kota Bandung masih menghadapi tantangan serius dengan 200 ton sampah per hari tidak terangkut.

Tumpukan sampah di Pasar Gedebage. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 14:15

Peran dan Tantangan Perempuan Multiidentitas di Kota Bandung

Kota Bandung tidak lepas dari peran seorang perempuan baik sebagai penggerak ekonomi kreatif maupun keterlibatannya dalam bidang sosial yang tidak luput dri tantangan sebagai perempuan multiidentitas.

Acara Bedah Buku Multiidentitas Karya Zahid Ibrahim (Sabtu, 09 Mei 2026) Gramedia Merdeka Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 13 Mei 2026, 06:42

5 Pantai Pilihan di Pelabuhan Ratu Sukabumi yang Wajib jadi Itinerary Wisata

Rekomendasi 5 pantai di Pelabuhan Ratu Sukabumi dengan karakter berbeda, dari pantai ramah keluarga hingga spot surfing terbaik.

Wisata Pantai Karang Hawu Palabuhanratu Sukabumi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 19:46

Lembangku Sayang, Lembangku Malang: Warga Lokal yang Termarjimalkan

Kawasan tempat tinggal saya sekarang di Lembang adalah sebuah tempat yang dahulunya hanyalah hutan belantara tak bertuan.

Tanjakan Cibogo tahun 1955. Masih kebun dan sawah, dan sekarang kebun semakin terdesak, sawah telah hilang. (Sumber: wereldculturn.nl)