Bandung sebagai Ensiklopedi Buku

6 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Pasar Buku Bekas Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Pasar Buku Bekas Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)

Karena dari sebuah buku, kadang masa depan sebuah kota dimulai (ayat-ayat sastra).

Setiap tahun pada tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Apakah dampak positif dan terbesar bagi kehidupan sehari-hari. Atau hanya sekadar seremonial tanpa arti? Apakah kota Bandung bisa menjadi pionir dalam ensiklopedi buku di tengah tantangan zaman yang kian tajam? Atau berusaha bangkit, perlahan tapi pasti dan menjadi pusat ensiklopedi Indonesia.

Di sudut-sudut Bandung yang mulai dipenuhi cahaya layar dan suara kendaraan yang tak pernah benar-benar tidur, buku masih berjalan diam-diam di antara manusia. Ia hidup di rak-rak tua perpustakaan, di kios kecil dekat trotoar Braga, di tangan mahasiswa yang duduk sendiri di taman kota, juga di meja kayu warung kopi tempat percakapan tentang masa depan lahir dari halaman-halaman yang dibuka perlahan.

Peringatan Hari Buku bukan sekadar mengenang lembaran kertas yang dipenuhi huruf. Ia adalah pengingat bahwa sebuah bangsa pernah dibangun oleh gagasan, oleh keberanian membaca kenyataan, dan oleh imajinasi yang menolak menyerah pada kebodohan. Di Bandung—kota yang sejak lama akrab dengan semangat intelektual, gerakan seni, dan percakapan kebudayaan—buku seperti denyut yang menjaga kesadaran tetap hidup di tengah zaman yang serba cepat.

Di bawah langit sore Dago yang berkabut tipis, generasi muda hari ini mungkin lebih akrab dengan layar dibanding halaman buku. Namun harapan tidak pernah benar-benar hilang. Sebab setiap anak yang membaca satu buku dengan sungguh-sungguh, sedang membuka jendela baru bagi peradaban. Setiap penulis yang tetap menulis di tengah minimnya perhatian, sedang menanam pohon untuk masa depan yang belum tentu ia nikmati sendiri.

Hari Buku mengajarkan bahwa kemajuan bukan hanya tentang gedung tinggi, teknologi, atau angka pertumbuhan ekonomi. Masa depan juga ditentukan oleh kemampuan manusia memahami sesamanya—dan buku adalah salah satu jalan paling sunyi menuju kebijaksanaan itu.

Bandung di masa depan mungkin akan berubah lebih modern, lebih digital, dan lebih padat. Tetapi semoga kota ini tetap menyisakan ruang bagi perpustakaan kecil, toko buku independen, diskusi sastra, dan anak-anak muda yang percaya bahwa membaca bukan kegiatan usang. Sebab kota yang kehilangan budaya membaca perlahan akan kehilangan kemampuan untuk bermimpi.

Dan pada akhirnya, harapan terbesar Hari Buku bukan hanya lahirnya banyak pembaca, melainkan lahirnya manusia-manusia yang lebih peka: yang mampu melihat penderitaan orang lain, menghargai perbedaan, serta menjaga kemanusiaan di tengah dunia yang terus bergerak tanpa jeda.

Karena dari sebuah buku, kadang masa depan sebuah kota dimulai.

Bandung sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat intelektual dan kebudayaan di Indonesia. Dari kota ini lahir banyak penulis, sastrawan, dan pemikir penting yang berpengaruh pada perkembangan sastra serta pemikiran nasional. Beberapa tokoh terkenal dari masa lalu antara lain:

Ajip Rosidi: ia salah satu tokoh sastra Sunda dan Indonesia paling penting. Ia sangat produktif menulis puisi, cerpen, esai, dan aktif menjaga kebudayaan Sunda melalui berbagai lembaga budaya di Bandung.

Utuy Tatang Sontani: penulis drama dan cerpen terkenal era 1940–1950-an. Karyanya banyak menggambarkan kegelisahan sosial rakyat kecil setelah kemerdekaan.

Mochtar Lubis: meski lahir di Padang, ia memiliki hubungan kuat dengan atmosfer intelektual Bandung. Novel terkenalnya seperti Jalan Tak Ada Ujung menjadi tonggak sastra modern Indonesia.

Sutan Takdir Alisjahbana: pernah aktif dalam perkembangan intelektual dan pendidikan modern yang juga memengaruhi dunia literasi Bandung pada zamannya.

Remy Sylado: dikenal sebagai penulis multitalenta dengan gaya satiris dan ensiklopedis. Bandung menjadi salah satu ruang kreatif penting dalam perjalanan kepenulisannya.

Godi Suwarna: tokoh sastra Sunda modern yang dikenal dengan eksplorasi bahasa dan gaya eksperimental.

Pidi Baiq: meski lebih dikenal generasi modern, namanya sangat melekat dengan identitas Bandung lewat karya-karya bernuansa humor, romantik, dan keseharian kota.

Selain itu, Bandung juga pernah menjadi ruang tumbuh berbagai komunitas sastra penting, terutama sekitar kampus Institut Teknologi Bandung dan kawasan budaya seperti Jalan Braga. Kota ini memiliki tradisi diskusi, penerbitan independen, hingga gerakan kesenian yang cukup kuat sejak masa kolonial hingga reformasi.

Karena itu, Bandung bukan hanya kota wisata atau pendidikan, tetapi juga salah satu kota yang ikut membentuk sejarah sastra Indonesia modern. Sebagaimana yang pernah dikatakan seorang filsuf Indonesia, Karlina Supelli, dengan membaca sastra, kita akan menemukan nilai-nilai kemanusiaan lebih dalam.

Kita berharap, kota Bandung terus-menerus melahirkan tokoh-tokoh intelektual, yang tidak terlepas dari gerakan-gerakan literasi. Kita tidak ingin mendengar dengung dari masyarakat yang merasa letih dalam perjuangan membangun bangsa. Harus ada upaya aktif untuk membangun kesadaran masyarakat, betapa pentingnya menguasai literasi melalui buku-buku. Apakah kita benar-benar dalam kondisi krisis literasi?

Konsep membangun kota Bandung yang lebih integral, bukan hanya dengan kritisi tajam tanpa solusi. Tetapi sebagai upaya yang kreatif, seakan kita sedang menulis buku. Satu halaman dengan halaman yang lain, pasti akan melengkapi dan sama pentingnya. Kehilangan satu halaman berarti kehilangan masa depan yang utuh. Tercapai tujuannya tapi tidak utuh secara makna.

Kondisi Pasar Buku Palasari Bandung kini, terus bertahan di tengfah gempuran perubahan zaman. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Kondisi Pasar Buku Palasari Bandung kini, terus bertahan di tengfah gempuran perubahan zaman. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

Dalam artikel ini, ada beberapa gagasan yang bisa menjadi pemikiran dan telaah ilmiah bagi masyarakat Bandung. Memahami ensiklopedi sebuah kota bukan sekadar membaca kumpulan data geografis, nama jalan, atau catatan sejarah administratif. Banyak pakar memandang kota sebagai ruang hidup yang menyimpan ingatan kolektif, identitas budaya, bahkan arah peradaban manusia. Karena itu, ensiklopedi kota menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan masyarakatnya.

Lewis Mumford, seorang pemikir kota dan peradaban, melihat kota sebagai “wadah memori manusia.” Dalam pandangannya, memahami kota berarti memahami bagaimana manusia membangun makna hidup melalui ruang, tradisi, teknologi, dan relasi sosial. Ensiklopedi kota penting karena ia mendokumentasikan denyut peradaban itu agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya.

Sementara itu, Kevin Lynch menekankan bahwa manusia membutuhkan “citra kota” yang jelas agar memiliki kedekatan emosional dengan tempat tinggalnya. Ketika masyarakat memahami sejarah kampungnya, asal-usul nama jalan, bangunan tua, sungai, hingga ruang publik dalam ensiklopedi kota, mereka akan lebih mudah membangun rasa memiliki dan tanggung jawab sosial terhadap lingkungannya.

Menurut Jane Jacobs, kota bukan hanya dibentuk pemerintah atau arsitek, melainkan juga oleh kehidupan sehari-hari masyarakat kecil: pedagang kaki lima, percakapan di gang sempit, pasar tradisional, dan interaksi warga. Ensiklopedi kota menjadi penting karena mampu merekam detail-detail kecil yang sering hilang dalam sejarah resmi, padahal justru di situlah jiwa kota berada.

Dalam konteks kebudayaan, Clifford Geertz memandang kota sebagai teks budaya yang dapat “dibaca.” Tradisi lokal, bahasa masyarakat, ritus, makanan, kesenian, hingga konflik sosial adalah simbol yang membentuk identitas sebuah daerah. Ensiklopedi kota membantu generasi muda memahami simbol-simbol tersebut agar modernitas tidak menghapus ingatan budaya mereka.

Sedangkan Benedict Anderson melalui gagasan “komunitas terbayang” menunjukkan bahwa identitas kolektif terbentuk melalui narasi bersama. Kota yang memiliki dokumentasi pengetahuan yang baik—baik sejarah, sastra, arsip budaya, maupun biografi tokoh lokal—akan lebih kuat membangun kesadaran warganya tentang siapa mereka dan ke mana arah peradabannya.

Di era digital hari ini, ensiklopedi kota juga berfungsi sebagai alat pendidikan publik. Ia bukan hanya rak arsip, melainkan ruang refleksi sosial. Kota yang memahami dirinya sendiri cenderung lebih siap menghadapi krisis identitas, kerusakan lingkungan, dan homogenisasi budaya global. Sebab masyarakatnya tidak hidup dalam keterputusan sejarah.

Maka, memahami ensiklopedi sebuah kota pada akhirnya bukan sekadar kegiatan akademik. Ia adalah upaya merawat ingatan, menjaga identitas, dan meneguhkan kemanusiaan di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 30 Jun 2026, 13:27

Perkedel Bondon Bandung, Wisata Kuliner Legendaris Dekat Stasiun Hall

Perkedel Bondon Bandung telah melegenda sejak 1980. Cari tahu sejarah, harga terbaru, lokasi, jam buka, hingga alasan perkedelnya selalu antre panjang.

Perkedel Bondon Bandung. (Sumber: Instagram @info.enak)
Ayo Netizen 30 Jun 2026, 12:43

Membangun Ingatan Adanya Jejak Stasiun Majalaya, Antara Hilang dan Dikenang

Jejak keberadaan Stasiun Madjalaja sebenarnya bukan sekadar cerita lama, tapi jadi bagian dari rencana besar yang disusun sejak akhir abad ke-19.

Terminal Majalaya yang di duga menjadi jejak dari peninggalan keberadaan stasiun Majalaya. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Fajar Rizky Ramadhan)
Ayo Netizen 30 Jun 2026, 11:28

Rektoverso Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung

Catatan empat tahun lebih menjalani carut-marut pelestarian cagar budaya di Kota Bandung dan upaya menanggulanginya.

Apakah Bekas Barak yang Hampir Rubuh di dalam Kompleks Militer Yon Arhanud 3/Kelelawar ini layak disebut Cagar Budaya? (Sumber: Survei Lapangan 29 Juni 2026 | Foto: Garbi Cipta Perdana)
Ayo Netizen 30 Jun 2026, 10:17

Bagaimana MPLS Menjadi Orientasi Pendidikan Berkelanjutan?

Bagaimana MPLS menjadi orientasi pendidikan berkelanjutan?

ilustrasi kegiatan MPLS tahun 2026. (Sumber: Gemini AI | Foto: Gemini AI)
Ayo Netizen 30 Jun 2026, 09:20

Gagasan dan Kritik, Menuju Bandung Masa Depan

Apakah mimpi besar bangsa bisa terwujud dari gagasan dan kritik?

Sisi luar rumah deret Tamansari yang menghadap ke Selatan dengan latar belakang Jalan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Pasuptai). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 30 Jun 2026, 08:41

Masuknya Genre Musik Emo dan Mekap Bergaya Emo ke Indonesia

Sejarah masuknya genre musik emo dan mekap bergaya emo ke Indonesia sekitar awal tahun 2000.

Stiker band emo masa kini oleh anak-anak muda ditempel di pintu Duff Music Studio Bandung (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Hasya Ripela Melodia)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 18:06

Antara Nostalgia dan Ekspektasi dalam Perilisan Live Action Film Animasi Klasik

Strategi komunikasi digital Lilo & Stitch memakai website sebagai media informatif dan Instagram sebagai platform emosional untuk membangun nostalgia dan meningkatkan antusiasme audiens.

Lilo & Stitch. (Sumber: Pexels | Foto: Vinícius Vieira ft)
Wisata & Kuliner 29 Jun 2026, 17:26

Panduan Wisata Pantai Yogyakarta, Jelajah Pantai Selatan dari Bantul hingga Gunungkidul

Rekomendasi pantai di Jogja untuk snorkeling, berenang, camping, dan menikmati sunset, termasuk Pantai Nglambor, Wediombo, dan Pok Tunggal.

Pantai Indrayanti atau Pantai Pulang Syawal di Jpgja. (Sumber: Pemkab Gunungkidul)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 17:02

Ketika Anak Bangsa Memilih Paspor Lain

Di era mobilitas global, tantangan Indonesia bukan sekadar mencegah talenta terbaik pergi, melainkan memastikan mereka tetap berkontribusi bagi bangsa.

Ilustrasi paspor asing. (Sumber: Pexels | Foto: Ethan Wilkinson)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 16:12

Kekaguman Publik terhadap Grafik GTA VI pada Trailer 2 Rockstar Games

Membahas bagaimana Rockstar Games berhasil membangun kekaguman publik terhadap kualitas grafik pada Trailer 2 Grand Theft Auto VI.

Grand Theft Auto VI. (Rockstar Games)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 15:39

Pasunda Bubat: Tragedi Nyata atau Rekayasa Kolonial

Peristiwa Pasunda Bubat (1357) sebagai tragedi nyata akibat ambisi Gajah Mada yang kemudian dimanfaatkan Belanda sebagai alat adu domba untuk memecah belah persatuan Sunda dan Jawa di Nusantara.

Sebuah patung yang menggambarkan Dyah Pitaloka melakukan bunuh diri saat perang bubat. (Sumber: Wikipedia Commons)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 15:08

Fenomena Jualan: 'Real-Time' yang Mengubah Ritel

Live streaming commerce telah mengubah cara konsumen di Indonesia dalam membeli produk secara menyeluruh, belanja yang tadinya bersifat pasif kini telah berubah menjadi interaktif dan dinamis.

Staf NVSR sedang melakukan Live Streaming produk di platform digital. (Foto: Rizma Riyandi)
Beranda 29 Jun 2026, 14:45

Lembur Jurig, Hiburan Murah Warga Maleer di Tengah Himpitan Ekonomi

Lembur Jurig di Maleer menjadi hiburan murah bagi warga di tengah himpitan ekonomi. Wahana horor swadaya ini juga diharapkan menggerakkan ekonomi warga.

Karang Taruna Maleer berpose sebelum beraksi menakut-nakuti warga dalam wahana Lembur Jurig. (Foto: Indra)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 14:20

Filosofi di Balik Semangkuk Bubur Asyura: Harmoni Sejarah, Spiritual, dan Budaya Nusantara

Aroma gurih Bubur Asyura (atau Bubur Suro) selalu berhasil memanggil warga untuk berkumpul.

Bubur Asyura khas Banjar. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 13:39

Kendaraan Listrik Jadi Sumber Masalah Baru

Esai ini membahas dampak lingkungan kendaraan listrik akibat eksploitasi sumber daya alam dan limbah baterai serta pentingnya pengelolaan yang berkelanjutan.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 13:06

Bagaimana Ojek Online Cetak Laba Pertama Dikomunikasikan lewat Website, Instagram, dan Media Online

Mengupas di balik kabar bersejarah GoTo yang akhirnya mencetak laba bersih pertama sebesar Rp171 miliar pada kuartal I 2026 dikemas dalam tiga cara yang berbeda.

Salah satu driver ojol menunggu orderan di pinggir jalan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 29 Jun 2026, 11:26

Wisata Braga Bandung: Tempat Hits, Kuliner Legendaris, dan Spot Foto Terbaik

Panduan lengkap wisata Braga Bandung mulai dari Museum Asia Afrika, Sumber Hidangan, Braga Permai, hingga spot foto bangunan kolonial yang instagramable.

Suasana malam Jalan Braga, Bandung. (Sumber: bandung.go.id)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 11:19

Menjaga Ingatan Melalui Arsip Koleksi Koran Lawas

Setiap lembar koran yang menguning, setiap majalah yang mulai rapuh dimakan usia, menyimpan denyut kehidupan zamannya.

Koleksi surat kabar lawas milik Kin Sanubary. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 10:23

Kemandirian Ekonomi di Balik Bencana

Setiap bencana pasti merenggut kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Warga di lokasi bencana sedang membantu mencari korban tertimbun longsor di Arjasari, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 09:07

Perkembangan Jalan Layang Pasupati di Kota Bandung Tempo Dulu hingga Sekarang

Jalan layang Pasopati yang megah dan selalu menjadi ikon dari Bandung itu telah digagas bahkan jauh sebelum masa kemerdekaan.

Foto pemandangan Jembatan Pasopati pada malam hari (Sumber: pexels.com)