Hari Buku Sedunia dan Angka 59: Ketika Bandung Belum Benar-Benar Membaca

Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan Senin 20 Apr 2026, 09:57 WIB
Ilustrasi Hari Buku Sedunia yang menjadi pengingat bahwa buku bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dibaca dalam keseharian. (Sumber: Freepik | Foto: Black Foundry)

Ilustrasi Hari Buku Sedunia yang menjadi pengingat bahwa buku bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dibaca dalam keseharian. (Sumber: Freepik | Foto: Black Foundry)

Buku selalu kita pakai sebagai sumber utama pengetahuan, tetapi kebiasaan membacanya sering tidak berjalan seirama. Di tengah derasnya arus informasi dari berbagai arah, kebiasaan membaca justru makin tergeser oleh hal-hal yang lebih cepat, lebih ringkas, dan lebih instan seperti media sosial. Scroll, swipe, serba singkat. Lalu muncul satu pertanyaan sederhana, tapi cukup mengganggu: apakah kita masih benar-benar membaca, atau hanya ikut merayakan buku tanpa benar-benar memahami, menghayati, dan memaknainya?

Hari Buku Sedunia atau World Book Day berawal dari gagasan untuk memberikan penghargaan terhadap dunia literasi, khususnya buku dan para penulisnya. Peringatan ini kemudian dipilih dan ditetapkan secara global sebagai bentuk apresiasi terhadap peran buku dalam membentuk pengetahuan dan peradaban manusia. Pada 23 April 1995, UNESCO menetapkan Hari Buku Sedunia sebagai hari peringatan global yang menjadi penanda penting karena berkaitan dengan wafatnya sejumlah tokoh besar sastra dunia seperti William Shakespeare dari Inggris, Miguel de Cervantes dari Spanyol, dan Inca Garcilaso de la Vega dari Peru. Karya-karya mereka dianggap sebagai warisan penting dalam sejarah literasi dunia. Hari Buku Sedunia tidak hanya dimaknai sebagai perayaan simbolik, tetapi juga pengingat bahwa buku selalu punya peran besar dalam perjalanan pengetahuan manusia (Harian Rakyat, 2025).

Namun di tengah itu, ada hal yang sering luput dari perhatian. Ketika Hari Buku Sedunia terus dirayakan sebagai simbol literasi global, maka sejauh mana kebiasaan membaca benar-benar tumbuh di masyarakat kita sendiri? Bukan hanya dalam bentuk acara atau kegiatan seremonial, tetapi dalam rutinitas kecil yang berjalan tanpa perlu diperingati. Di titik ini, Hari Buku Sedunia justru memperlihatkan perbedaan literasi dengan kenyataan di Bandung, sekaligus memunculkan pertanyaan tentang bagaimana budaya membaca benar-benar hidup di Kota Bandung.

Data yang menunjukkan literasi di Kota Bandung masih belum benar-benar kuat. (Sumber: BPS (Badan Pusat Statistik) | Foto: -)
Data yang menunjukkan literasi di Kota Bandung masih belum benar-benar kuat. (Sumber: BPS (Badan Pusat Statistik) | Foto: -)

Angka 59: Cukup atau Tanda Literasi Bandung Belum Kuat?

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mencatat bahwa Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat di Jawa Barat pada tahun 2025 berada di sekitar angka 59. Angka ini muncul dari pengukuran berbagai unsur kebiasaan membaca, mulai dari frekuensi membaca, durasi, hingga akses terhadap bacaan. Dari angka tersebut terlihat bahwa kebiasaan membaca masyarakat masih belum bisa dibilang kuat, bahkan cenderung rendah jika dilihat dari pola keseharian yang belum benar-benar menjadikan membaca sebagai rutinitas.

Di Kota Bandung, angkanya bahkan sedikit lebih meningkat, berada di sekitar 59,26. Peningkatannya memang tidak besar, tetapi tetap cenderung rendah dan cukup untuk menunjukkan satu hal: kebiasaan membaca di Bandung masih belum benar-benar menguat. Di tengah peringatan Hari Buku Sedunia yang setiap tahun dirayakan sebagai simbol penguatan literasi, kondisi ini justru terasa berlawanan dengan realitas di lapangan. Kota yang sering disebut sebagai kota pendidikan dan ruang kreatif ini belum sepenuhnya menunjukkan kebiasaan membaca yang benar-benar kuat dalam keseharian warganya. Buku memang masih ada, tetapi belum benar-benar jadi bagian dari keseharian.

Hari Buku Sedunia sebenarnya bisa menjadi pengingat, bukan sekadar perayaan tahunan yang lewat begitu saja. Mendorong budaya membaca tidak selalu harus dimulai dari hal besar atau program edukasi yang formal, tetapi dari kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele. Di tengah arus media sosial yang serba cepat dan instan, meluangkan 10 menit untuk membaca buku, artikel, atau bacaan apa pun yang disukai, justru menjadi bentuk perlawanan paling sederhana terhadap menurunnya kebiasaan literasi. Dari kebiasaan kecil itu, perlahan cara kita memahami informasi juga berubah, tidak lagi sekadar lewat, tetapi benar-benar dipahami. Semangat Hari Buku Sedunia ini juga sejalan dengan amanat mencerdaskan kehidupan bangsa, namun hal itu harus dimulai dari kebiasaan kita sendiri dalam menjaga kedekatan dengan literasi.

Hari Buku Sedunia pada akhirnya tidak cukup hanya lewat sebagai perayaan tahunan. Ia seharusnya menjadi pengingat kecil bahwa kurangnya membaca hari ini ikut menentukan arah literasi ke depan. Di satu sisi, buku masih dirayakan karena sumber pengetahuan, tetapi di sisi lain, angka 59,26 di Kota Bandung menunjukkan hal yang berbeda: membaca belum benar-benar menjadi kebiasaan yang kuat dalam keseharian. Dan mungkin persoalannya memang ada di situ. Bukan pada kurangnya buku atau fasilitas perpustakaan, tetapi pada jarak antara apa yang kita rayakan dan apa yang kita lakukan setiap hari. Selama membaca masih kalah oleh yang serba cepat dan serba singkat, literasi tidak akan meningkat. Sementara Hari Buku Sedunia akan terus datang setiap tahun, mengingatkan kita pada hal yang sama. (*)

REFERENSI

  • Harian Rakyat. (2025). “Sejarah Hari Buku Sedunia 23 April: Merayakan Warisan Sastra Dunia”.

  • Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat. (2025). “Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat dan Variabelnya Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat, 2025”.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)