Hari Buku Sedunia dan Angka 59: Ketika Bandung Belum Benar-Benar Membaca

4 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan
Ilustrasi Hari Buku Sedunia yang menjadi pengingat bahwa buku bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dibaca dalam keseharian. (Sumber: Freepik | Foto: Black Foundry)
Ilustrasi Hari Buku Sedunia yang menjadi pengingat bahwa buku bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dibaca dalam keseharian. (Sumber: Freepik | Foto: Black Foundry)

Buku selalu kita pakai sebagai sumber utama pengetahuan, tetapi kebiasaan membacanya sering tidak berjalan seirama. Di tengah derasnya arus informasi dari berbagai arah, kebiasaan membaca justru makin tergeser oleh hal-hal yang lebih cepat, lebih ringkas, dan lebih instan seperti media sosial. Scroll, swipe, serba singkat. Lalu muncul satu pertanyaan sederhana, tapi cukup mengganggu: apakah kita masih benar-benar membaca, atau hanya ikut merayakan buku tanpa benar-benar memahami, menghayati, dan memaknainya?

Hari Buku Sedunia atau World Book Day berawal dari gagasan untuk memberikan penghargaan terhadap dunia literasi, khususnya buku dan para penulisnya. Peringatan ini kemudian dipilih dan ditetapkan secara global sebagai bentuk apresiasi terhadap peran buku dalam membentuk pengetahuan dan peradaban manusia. Pada 23 April 1995, UNESCO menetapkan Hari Buku Sedunia sebagai hari peringatan global yang menjadi penanda penting karena berkaitan dengan wafatnya sejumlah tokoh besar sastra dunia seperti William Shakespeare dari Inggris, Miguel de Cervantes dari Spanyol, dan Inca Garcilaso de la Vega dari Peru. Karya-karya mereka dianggap sebagai warisan penting dalam sejarah literasi dunia. Hari Buku Sedunia tidak hanya dimaknai sebagai perayaan simbolik, tetapi juga pengingat bahwa buku selalu punya peran besar dalam perjalanan pengetahuan manusia (Harian Rakyat, 2025).

Namun di tengah itu, ada hal yang sering luput dari perhatian. Ketika Hari Buku Sedunia terus dirayakan sebagai simbol literasi global, maka sejauh mana kebiasaan membaca benar-benar tumbuh di masyarakat kita sendiri? Bukan hanya dalam bentuk acara atau kegiatan seremonial, tetapi dalam rutinitas kecil yang berjalan tanpa perlu diperingati. Di titik ini, Hari Buku Sedunia justru memperlihatkan perbedaan literasi dengan kenyataan di Bandung, sekaligus memunculkan pertanyaan tentang bagaimana budaya membaca benar-benar hidup di Kota Bandung.

Data yang menunjukkan literasi di Kota Bandung masih belum benar-benar kuat. (Sumber: BPS (Badan Pusat Statistik) | Foto: -)
Data yang menunjukkan literasi di Kota Bandung masih belum benar-benar kuat. (Sumber: BPS (Badan Pusat Statistik) | Foto: -)

Angka 59: Cukup atau Tanda Literasi Bandung Belum Kuat?

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mencatat bahwa Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat di Jawa Barat pada tahun 2025 berada di sekitar angka 59. Angka ini muncul dari pengukuran berbagai unsur kebiasaan membaca, mulai dari frekuensi membaca, durasi, hingga akses terhadap bacaan. Dari angka tersebut terlihat bahwa kebiasaan membaca masyarakat masih belum bisa dibilang kuat, bahkan cenderung rendah jika dilihat dari pola keseharian yang belum benar-benar menjadikan membaca sebagai rutinitas.

Di Kota Bandung, angkanya bahkan sedikit lebih meningkat, berada di sekitar 59,26. Peningkatannya memang tidak besar, tetapi tetap cenderung rendah dan cukup untuk menunjukkan satu hal: kebiasaan membaca di Bandung masih belum benar-benar menguat. Di tengah peringatan Hari Buku Sedunia yang setiap tahun dirayakan sebagai simbol penguatan literasi, kondisi ini justru terasa berlawanan dengan realitas di lapangan. Kota yang sering disebut sebagai kota pendidikan dan ruang kreatif ini belum sepenuhnya menunjukkan kebiasaan membaca yang benar-benar kuat dalam keseharian warganya. Buku memang masih ada, tetapi belum benar-benar jadi bagian dari keseharian.

Hari Buku Sedunia sebenarnya bisa menjadi pengingat, bukan sekadar perayaan tahunan yang lewat begitu saja. Mendorong budaya membaca tidak selalu harus dimulai dari hal besar atau program edukasi yang formal, tetapi dari kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele. Di tengah arus media sosial yang serba cepat dan instan, meluangkan 10 menit untuk membaca buku, artikel, atau bacaan apa pun yang disukai, justru menjadi bentuk perlawanan paling sederhana terhadap menurunnya kebiasaan literasi. Dari kebiasaan kecil itu, perlahan cara kita memahami informasi juga berubah, tidak lagi sekadar lewat, tetapi benar-benar dipahami. Semangat Hari Buku Sedunia ini juga sejalan dengan amanat mencerdaskan kehidupan bangsa, namun hal itu harus dimulai dari kebiasaan kita sendiri dalam menjaga kedekatan dengan literasi.

Hari Buku Sedunia pada akhirnya tidak cukup hanya lewat sebagai perayaan tahunan. Ia seharusnya menjadi pengingat kecil bahwa kurangnya membaca hari ini ikut menentukan arah literasi ke depan. Di satu sisi, buku masih dirayakan karena sumber pengetahuan, tetapi di sisi lain, angka 59,26 di Kota Bandung menunjukkan hal yang berbeda: membaca belum benar-benar menjadi kebiasaan yang kuat dalam keseharian. Dan mungkin persoalannya memang ada di situ. Bukan pada kurangnya buku atau fasilitas perpustakaan, tetapi pada jarak antara apa yang kita rayakan dan apa yang kita lakukan setiap hari. Selama membaca masih kalah oleh yang serba cepat dan serba singkat, literasi tidak akan meningkat. Sementara Hari Buku Sedunia akan terus datang setiap tahun, mengingatkan kita pada hal yang sama. (*)

REFERENSI

  • Harian Rakyat. (2025). “Sejarah Hari Buku Sedunia 23 April: Merayakan Warisan Sastra Dunia”.

  • Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat. (2025). “Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat dan Variabelnya Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat, 2025”.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)