Belajar dari Buku 'Broken Strings': Berhenti Berharap Dia Berubah

3 menit baca
Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan
Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)

Lagi rame banget orang bahas buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans. Kayaknya banyak yang ngerasa senasib soal gimana capeknya nyari jati diri pas lagi terpuruk gara-gara hubungan. Dari buku itu, ada satu pelajaran penting yang sebenarnya simpel tapi susah diterapin: jangan pernah mimpi bisa beneran sayang sama orang lain kalau diri kita sendiri aja masih kosong.

Kisah yang ditulis Aurelie ini sebenarnya tamparan buat kita yang sering mulai hubungan cuma karena merasa kesepian atau merasa "tidak utuh". Kita menerima orang lain hanya untuk melengkapi lubang di hati, memenuhi kekosongan yang tak sempat disinggahi. Sering kali kita justru menggantungkan kebahagiaan pada orang lain; di situlah kita dengan sadar telah memberikan "remote control" kebahagiaan kita kepada mereka.

Dampaknya, kesempatan untuk dikecewakan akan terasa sangat besar. Bahkan kalau mereka tiba-tiba berubah atau "akting" tidak kenal, kita akan langsung hancur.

Ilustrasi simbol pria dan wanita. (Sumber: Pexels/Tim Mossholder)
Ilustrasi simbol pria dan wanita. (Sumber: Pexels/Tim Mossholder)

Menurut Adjie Santosoputro dalam podcast Mom's Corner bersama Nikita Willy, "Sebelum memberikan cinta kepada orang lain, seharusnya kita mengisi energi cinta diri sendiri dulu." Beliau menggunakan analogi yang sangat akurat: Teko Cinta.

Bayangkan diri kita adalah sebuah teko dan pasangan kita adalah cangkir. Logikanya sederhana, kita tidak bisa menuangkan air ke cangkir orang lain kalau teko kita sendiri kosong. Hal ini sangat relevan dengan realita hubungan masa kini; banyak dari kita sibuk menuntut pasangan untuk mencintai kita, padahal kita belum selesai mencintai diri sendiri. Alhasil, hubungan yang tercipta bukanlah ruang untuk saling berbagi, melainkan saling menuntut demi menutupi ego dan kekosongan diri sendiri.

Jebakan "Dia Akan Berubah demi Aku"

Ini persis seperti apa yang digambarkan dalam Broken Strings. Sering kali kita terjebak dalam luka cuma karena berharap "dawai" yang sudah putus bisa nyambung lagi dengan sendirinya. Padahal, daripada nungguin dia berubah—yang belum tentu terjadi—mending kita fokus benerin kebahagiaan di diri kita sendiri dulu.

Salah satu hal toxic yang merenggut kebahagiaan adalah berpikir, "Nanti dia juga berubah demi aku." Pemikiran ini membuat kita memaklumi banyak hal yang mengecewakan hanya karena ingin tetap bersama. Padahal, diri kita telah kehilangan kendali dimakan waktu karena terus-menerus memaklumi kesalahan yang sama.

Cinta adalah perihal menerima dan mengalir. Adjie menyebutkan prinsip utama dalam hubungan adalah "You are the Others"; berusaha mengubah orang lain hanya akan melelahkan batin sendiri. Kita bukan superhero untuk pasangan, menjadi penenang saja sudah cukup. Jangan sampai terus-menerus merasa harus menjadi benteng, padahal diri sendiri sudah rapuh dalam mempertahankan benteng itu.

Perjuangan memang bukan suatu hal yang mudah untuk dijalani, terlebih jika kamu adalah seorang perempuan. (Sumber: Pexels/Min An)
Perjuangan memang bukan suatu hal yang mudah untuk dijalani, terlebih jika kamu adalah seorang perempuan. (Sumber: Pexels/Min An)

Sebelum bereaksi berlebihan terhadap sikap pasangan, langkah paling penting agar tetap elegan adalah mempunyai kecerdasan emosional. Kita harus mampu tetap tenang, misalnya saat di-ghosting atau diabaikan. Cobalah praktikkan teknik "One Breath": tarik napas satu kali, diam sebentar, dan sadari kalau kebahagiaan kita itu tanggung jawab kita sendiri. Jeda ini penting supaya kita nggak gampang "meledak" atau terlihat memohon-mohon perhatian saat lagi diabaikan.

Belajarlah untuk merasa cukup dengan diri sendiri dulu. Ingat, kita bisa tetap tumbuh meskipun sendirian—walaupun jujur saja, tidak semua orang punya keberanian untuk melakukan ini.

Baca Juga: Melipir dari Kota: Pesona Magnetis Pinggiran Bandung

Relasi yang sehat bukan dua orang yang saling mencari potongan puzzle yang hilang, tapi dua orang yang sudah merasa utuh dan memilih untuk berjalan beriringan. Jika dia ingin pergi, lepaskan. Itu pilihannya. Jika masih ingin bersama, perjuangkan dan redakan ego masing-masing.

Sebenarnya, ada pesan lama yang sangat relevan untuk kondisi ini: cintailah orang lain sewajarnya saja. Sebab, perasaan itu bisa berubah kapan saja; yang hari ini sangat kita sayangi bisa jadi yang paling kita jauhi nantinya. Menjaga perasaan tetap "sekadarnya" adalah cara paling aman supaya kita nggak hancur total saat keadaan berbalik arah.

Pada akhirnya, kebahagiaan sejati tidak pernah datang dari luar. Bukan tugas orang lain untuk mengisi tekomu sampai penuh, itu adalah tugasmu sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)