Belajar dari Buku 'Broken Strings': Berhenti Berharap Dia Berubah

Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan Rabu 14 Jan 2026, 17:18 WIB
Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)

Lagi rame banget orang bahas buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans. Kayaknya banyak yang ngerasa senasib soal gimana capeknya nyari jati diri pas lagi terpuruk gara-gara hubungan. Dari buku itu, ada satu pelajaran penting yang sebenarnya simpel tapi susah diterapin: jangan pernah mimpi bisa beneran sayang sama orang lain kalau diri kita sendiri aja masih kosong.

Kisah yang ditulis Aurelie ini sebenarnya tamparan buat kita yang sering mulai hubungan cuma karena merasa kesepian atau merasa "tidak utuh". Kita menerima orang lain hanya untuk melengkapi lubang di hati, memenuhi kekosongan yang tak sempat disinggahi. Sering kali kita justru menggantungkan kebahagiaan pada orang lain; di situlah kita dengan sadar telah memberikan "remote control" kebahagiaan kita kepada mereka.

Dampaknya, kesempatan untuk dikecewakan akan terasa sangat besar. Bahkan kalau mereka tiba-tiba berubah atau "akting" tidak kenal, kita akan langsung hancur.

Ilustrasi simbol pria dan wanita. (Sumber: Pexels/Tim Mossholder)
Ilustrasi simbol pria dan wanita. (Sumber: Pexels/Tim Mossholder)

Menurut Adjie Santosoputro dalam podcast Mom's Corner bersama Nikita Willy, "Sebelum memberikan cinta kepada orang lain, seharusnya kita mengisi energi cinta diri sendiri dulu." Beliau menggunakan analogi yang sangat akurat: Teko Cinta.

Bayangkan diri kita adalah sebuah teko dan pasangan kita adalah cangkir. Logikanya sederhana, kita tidak bisa menuangkan air ke cangkir orang lain kalau teko kita sendiri kosong. Hal ini sangat relevan dengan realita hubungan masa kini; banyak dari kita sibuk menuntut pasangan untuk mencintai kita, padahal kita belum selesai mencintai diri sendiri. Alhasil, hubungan yang tercipta bukanlah ruang untuk saling berbagi, melainkan saling menuntut demi menutupi ego dan kekosongan diri sendiri.

Jebakan "Dia Akan Berubah demi Aku"

Ini persis seperti apa yang digambarkan dalam Broken Strings. Sering kali kita terjebak dalam luka cuma karena berharap "dawai" yang sudah putus bisa nyambung lagi dengan sendirinya. Padahal, daripada nungguin dia berubah—yang belum tentu terjadi—mending kita fokus benerin kebahagiaan di diri kita sendiri dulu.

Salah satu hal toxic yang merenggut kebahagiaan adalah berpikir, "Nanti dia juga berubah demi aku." Pemikiran ini membuat kita memaklumi banyak hal yang mengecewakan hanya karena ingin tetap bersama. Padahal, diri kita telah kehilangan kendali dimakan waktu karena terus-menerus memaklumi kesalahan yang sama.

Cinta adalah perihal menerima dan mengalir. Adjie menyebutkan prinsip utama dalam hubungan adalah "You are the Others"; berusaha mengubah orang lain hanya akan melelahkan batin sendiri. Kita bukan superhero untuk pasangan, menjadi penenang saja sudah cukup. Jangan sampai terus-menerus merasa harus menjadi benteng, padahal diri sendiri sudah rapuh dalam mempertahankan benteng itu.

Perjuangan memang bukan suatu hal yang mudah untuk dijalani, terlebih jika kamu adalah seorang perempuan. (Sumber: Pexels/Min An)
Perjuangan memang bukan suatu hal yang mudah untuk dijalani, terlebih jika kamu adalah seorang perempuan. (Sumber: Pexels/Min An)

Sebelum bereaksi berlebihan terhadap sikap pasangan, langkah paling penting agar tetap elegan adalah mempunyai kecerdasan emosional. Kita harus mampu tetap tenang, misalnya saat di-ghosting atau diabaikan. Cobalah praktikkan teknik "One Breath": tarik napas satu kali, diam sebentar, dan sadari kalau kebahagiaan kita itu tanggung jawab kita sendiri. Jeda ini penting supaya kita nggak gampang "meledak" atau terlihat memohon-mohon perhatian saat lagi diabaikan.

Belajarlah untuk merasa cukup dengan diri sendiri dulu. Ingat, kita bisa tetap tumbuh meskipun sendirian—walaupun jujur saja, tidak semua orang punya keberanian untuk melakukan ini.

Baca Juga: Melipir dari Kota: Pesona Magnetis Pinggiran Bandung

Relasi yang sehat bukan dua orang yang saling mencari potongan puzzle yang hilang, tapi dua orang yang sudah merasa utuh dan memilih untuk berjalan beriringan. Jika dia ingin pergi, lepaskan. Itu pilihannya. Jika masih ingin bersama, perjuangkan dan redakan ego masing-masing.

Sebenarnya, ada pesan lama yang sangat relevan untuk kondisi ini: cintailah orang lain sewajarnya saja. Sebab, perasaan itu bisa berubah kapan saja; yang hari ini sangat kita sayangi bisa jadi yang paling kita jauhi nantinya. Menjaga perasaan tetap "sekadarnya" adalah cara paling aman supaya kita nggak hancur total saat keadaan berbalik arah.

Pada akhirnya, kebahagiaan sejati tidak pernah datang dari luar. Bukan tugas orang lain untuk mengisi tekomu sampai penuh, itu adalah tugasmu sendiri. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nenah Haryati
Tentang Nenah Haryati
Mahasiswa yang hobi mengamati sisi lain kehidupan sehari-hari, terutama yang dialami Generasi Z.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)