Pukul tiga dini hari, ketika mayoritas orang masih tenggelam dalam mimpi, Risky Aly justru telah terjaga. Pemuda asal Bondowoso kelahiran 2001 itu memulai harinya dengan ibadah di tengah kesunyian, menunaikan salat tahajud, lalu bersiap mengikuti salat Subuh berjamaah. Setelahnya, barulah ia membuka mushaf dan mengaji. Kedisiplinan ini tidak hadir begitu saja.
Sedari kecil, ia telah dibiasakan oleh orang tuanya untuk bangun lebih awal, menjaga ibadah dan mengatur waktu dengan baik. Ketika lulus SD dan masuk pondok pesantren, kebiasaan itu justru menemukan ruang yang lebih teratur. Pesantren memperkuat pola hidup disiplin yang sejak lama tertanam, membuat ritme bangun dini hari bukan lagi kewajiban, melainkan bagian dari dirinya hingga kini.
Kebiasaan itulah yang menjadi fondasi kuat ketika ia memasuki masa kuliah S1. Saat banyak mahasiswa masih beradaptasi dengan satu program studi, ia justru memilih jalur yang jarang ditempuh, yakni menjalani double degree. Siang hari ia belajar di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Nurul Jadid, sementara malamnya ia menekuni Fikih wa Ushuluhu di Mahad Aly Nurul Jadid. Dua disiplin ilmu yang berbeda, tapi berjalan berdampingan dalam satu ritme hidup yang ia tata sendiri.
Hari-harinya berjalan padat, tetapi teratur. Setelah salat tahajud dan mengaji, ia bersiap kuliah hingga sore. Ketika ada waktu luang, ia tidak menghabiskannya dengan menggulir layar ponsel. Justru sebaliknya, ia memanfaatkan jeda singkat itu untuk tidur sejenak di kelas sebelum dosen masuk, di masjid yang lengang, atau di sudut asrama yang tenang.
Kalau ada waktu luang saya gunakan untuk istirahat sebentar, entah itu di masjid atau di kelas.
Namun, kesibukannya tidak berhenti pada lingkup akademik. Ia aktif di berbagai organisasi, seperti PMII, BEM Fakultas Universitas Nurul Jadid dan BEM Mahad Aly. Di bidang bela diri, ia juga dipercaya menjadi Ketua Perguruan Pencak Silat. Baginya, silat bukan hanya latihan fisik, melainkan cara untuk menjaga kesehatan mental dari hiruk pikuk duniawi.
Memasuki semester lima hingga tujuh, tanggung jawabnya semakin bertambah. Ia mulai mengajar kitab untuk santri putri di MTS Nurul Jadid, sembari menjalankan amanah sebagai musyrif. Tugas membangunkan santri pukul tiga dini hari sering kali membuatnya hanya tidur tiga jam setiap malam. Ada kalanya ia baru tidur pukul dua belas malam, tetapi beberapa jam kemudian sudah kembali berjalan di lorong pondok untuk memastikan semua santri bangun.
Capek tentu ada, tapi kalau niatnya baik, dijalani saja.
Tantangan terbesar datang ketika ia harus menyusun dua tugas akhir sekaligus: skripsi kampus dan syarah kitab untuk Mahad Aly. Namun, alih-alih kewalahan, ia telah menyiapkan strateginya. Ia membagi pekerjaan menjadi target harian. Pagi hingga sore ia fokus menyelesaikan satu bab skripsi kampus, sementara malam hari ia menulis syarah kitab. Bahkan ketika berada di masjid dan menemukan waktu luang, ia tak ragu membuka laptop dan melanjutkan mengetik rangkaian kata untuk tugas-tugasnya.
Lebih cepat selesai akan lebih baik, kalau ditunda-tunda, nanti menumpuk.
Kemampuannya menggunakan dan mengatur waktu dengan baik mengantarnya menyelesaikan dua gelar dalam waktu 3,5 tahun dan lulus pada tahun 2024. Selepas wisuda, ia tidak langsung pulang. Ia merantau ke Pare, Kediri, untuk mengikuti kursus intensif Bahasa Inggris. Dari Pare, ia langsung menuju Bandung untuk mengikuti seleksi pascasarjana dan kini ia resmi menjadi mahasiswa S2 Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Bandung.
Baca Juga: Tes Kemampuan Akademik sebagai Perbaikan Mutu Pembelajaran
Meski kini tinggal di kota berbeda dan ritme kuliahnya lebih longgar, gaya hidupnya nyaris tidak berubah. Ia tetap bangun lebih awal, tetap mengaji sebelum memulai aktivitas dan tetap menyicil tugas sedikit demi sedikit. Kebiasaan yang terbangun sejak kecil dan teruji selama masa double degree membuat proses studi S2 terasa jauh lebih ringan. Bukan karena bebannya kecil, tetapi karena ia sudah terbiasa hidup berdampingan dengan waktu.
Ketika ditanya apa makna “menaklukkan waktu”, ia tersenyum kecil. Baginya, waktu bukan musuh yang harus dilawan, melainkan sahabat yang ritmenya perlu dipahami. Filosofi hidupnya pun sederhana, tapi kuat dan bermakna.
Jalanin aja jalannya, lakonin aja lakonnya. Jangan jalani jalan orang lain.
Ia meyakini bahwa setiap orang memiliki ritme hidup masing-masing dan tidak perlu memaksakan diri mengikuti langkah orang lain hanya karena merasa tertinggal. Kepada mahasiswa yang sering merasa 24 jam tidak cukup, pesannya tegas, waktu cukup, asal fokusnya jelas.
Kalau mau santai-santai, jangan kuliah. Tidak untuk menghakimi, tapi untuk mengingatkan bahwa keseriusan menuntut komitmen dan kedisiplinan. Bukan waktu yang tidak cukup, tapi distraksi digital seperti main game, scroll medsos, hingga kebiasaan menunda yang sering kali menjadi hambatan utama. Oleh karena itu, manfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Jangan sampai menyesal diakhir.
Melalui perjalanan akademik yang ia jalani, harapannya sederhana, ia ingin ilmunya memberi manfaat bagi banyak orang, bukan sekadar menjadi tiket menuju pekerjaan.
Kalau belajar cuma buat kerja, hina sekali ilmu saya. Saya ingin ilmu yang saya pelajari seperti air yang memberi kehidupan di mana pun ia mengalir.
Dari rutinitas dini hari hingga perjalanan akademik yang penuh liku, ia menunjukkan bahwa disiplin bukan soal bekerja tanpa henti, melainkan kemampuan memahami diri, menghargai waktu dan berjalan dengan tujuan yang ia pegang teguh. Kebiasaan yang ia rawat sejak kecil, bangun sebelum fajar, salah tahajud, mengaji dalam sunyi, membagi tugas sedikit demi sedikit, hingga menjaga ritme hidup yang konsisten menjadi fondasi kokoh yang membentuk caranya menjalani hidup.
Dalam 24 jam versinya, tidak ada detik yang terbuang, setiap momen ia isi dengan kesadaran bahwa pertumbuhan dan keberhasilan sering kali lahir dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang dengan penuh kesungguhan. Hidupnya menjadi pengingat bahwa kedisiplinan bukan beban, melainkan bentuk cinta, tanggung jawab dan penghargaan terhadap diri sendiri dalam menata masa depan yang ia harapkan. (*)
