24 Jam Versi Risky Aly: Gaya Hidup Sang Peraih Double Degree dalam Satu Waktu

Tantia  Nurwina
Ditulis oleh Tantia Nurwina diterbitkan Rabu 14 Jan 2026, 12:46 WIB
Foto Risky Aly ketika wisuda double degree. (Sumber: Dari Risky Aly setelah sesi wawancara selesai)

Foto Risky Aly ketika wisuda double degree. (Sumber: Dari Risky Aly setelah sesi wawancara selesai)

Pukul tiga dini hari, ketika mayoritas orang masih tenggelam dalam mimpi, Risky Aly justru telah terjaga. Pemuda asal Bondowoso kelahiran 2001 itu memulai harinya dengan ibadah di tengah kesunyian, menunaikan salat tahajud, lalu bersiap mengikuti salat Subuh berjamaah. Setelahnya, barulah ia membuka mushaf dan mengaji. Kedisiplinan ini tidak hadir begitu saja.

Sedari kecil, ia telah dibiasakan oleh orang tuanya untuk bangun lebih awal, menjaga ibadah dan mengatur waktu dengan baik. Ketika lulus SD dan masuk pondok pesantren, kebiasaan itu justru menemukan ruang yang lebih teratur. Pesantren memperkuat pola hidup disiplin yang sejak lama tertanam, membuat ritme bangun dini hari bukan lagi kewajiban, melainkan bagian dari dirinya hingga kini. 

Kebiasaan itulah yang menjadi fondasi kuat ketika ia memasuki masa kuliah S1. Saat banyak mahasiswa masih beradaptasi dengan satu program studi, ia justru memilih jalur yang jarang ditempuh, yakni menjalani double degree. Siang hari ia belajar di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Nurul Jadid, sementara malamnya ia menekuni Fikih wa Ushuluhu di Mahad Aly Nurul Jadid. Dua disiplin ilmu yang berbeda, tapi berjalan berdampingan dalam satu ritme hidup yang ia tata sendiri. 

Hari-harinya berjalan padat, tetapi teratur. Setelah salat tahajud dan mengaji, ia bersiap kuliah hingga sore. Ketika ada waktu luang, ia tidak menghabiskannya dengan menggulir layar ponsel. Justru sebaliknya, ia memanfaatkan jeda singkat itu untuk tidur sejenak di kelas sebelum dosen masuk, di masjid yang lengang, atau di sudut asrama yang tenang.

Kalau ada waktu luang saya gunakan untuk istirahat sebentar, entah itu di masjid atau di kelas.

Namun, kesibukannya tidak berhenti pada lingkup akademik. Ia aktif di berbagai organisasi, seperti PMII, BEM Fakultas Universitas Nurul Jadid dan BEM Mahad Aly. Di bidang bela diri, ia juga dipercaya menjadi Ketua Perguruan Pencak Silat. Baginya, silat bukan hanya latihan fisik, melainkan cara untuk menjaga kesehatan mental dari hiruk pikuk duniawi. 

Memasuki semester lima hingga tujuh, tanggung jawabnya semakin bertambah. Ia mulai mengajar kitab untuk santri putri di MTS Nurul Jadid, sembari menjalankan amanah sebagai musyrif. Tugas membangunkan santri pukul tiga dini hari sering kali membuatnya hanya tidur tiga jam setiap malam. Ada kalanya ia baru tidur pukul dua belas malam, tetapi beberapa jam kemudian sudah kembali berjalan di lorong pondok untuk memastikan semua santri bangun.

Capek tentu ada, tapi kalau niatnya baik, dijalani saja.

Tantangan terbesar datang ketika ia harus menyusun dua tugas akhir sekaligus: skripsi kampus dan syarah kitab untuk Mahad Aly. Namun, alih-alih kewalahan, ia telah menyiapkan strateginya. Ia membagi pekerjaan menjadi target harian. Pagi hingga sore ia fokus menyelesaikan satu bab skripsi kampus, sementara malam hari ia menulis syarah kitab. Bahkan ketika berada di masjid dan menemukan waktu luang, ia tak ragu membuka laptop dan melanjutkan mengetik rangkaian kata untuk tugas-tugasnya.

Lebih cepat selesai akan lebih baik, kalau ditunda-tunda, nanti menumpuk.

Kemampuannya menggunakan dan mengatur waktu dengan baik mengantarnya menyelesaikan dua gelar dalam waktu 3,5 tahun dan lulus pada tahun 2024. Selepas wisuda, ia tidak langsung pulang. Ia merantau ke Pare, Kediri, untuk mengikuti kursus intensif Bahasa Inggris. Dari Pare, ia langsung menuju Bandung untuk mengikuti seleksi pascasarjana dan kini ia resmi menjadi mahasiswa S2 Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Bandung. 

Baca Juga: Tes Kemampuan Akademik sebagai Perbaikan Mutu Pembelajaran

Meski kini tinggal di kota berbeda dan ritme kuliahnya lebih longgar, gaya hidupnya nyaris tidak berubah. Ia tetap bangun lebih awal, tetap mengaji sebelum memulai aktivitas dan tetap menyicil tugas sedikit demi sedikit. Kebiasaan yang terbangun sejak kecil dan teruji selama masa double degree membuat proses studi S2 terasa jauh lebih ringan. Bukan karena bebannya kecil, tetapi karena ia sudah terbiasa hidup berdampingan dengan waktu. 

Ketika ditanya apa makna “menaklukkan waktu”, ia tersenyum kecil. Baginya, waktu bukan musuh yang harus dilawan, melainkan sahabat yang ritmenya perlu dipahami. Filosofi hidupnya pun sederhana, tapi kuat dan bermakna.

Jalanin aja jalannya, lakonin aja lakonnya. Jangan jalani jalan orang lain.

Ia meyakini bahwa setiap orang memiliki ritme hidup masing-masing dan tidak perlu memaksakan diri mengikuti langkah orang lain hanya karena merasa tertinggal. Kepada mahasiswa yang sering merasa 24 jam tidak cukup, pesannya tegas, waktu cukup, asal fokusnya jelas.

Kalau mau santai-santai, jangan kuliah. Tidak untuk menghakimi, tapi untuk mengingatkan bahwa keseriusan menuntut komitmen dan kedisiplinan. Bukan waktu yang tidak cukup, tapi distraksi digital seperti main game, scroll medsos, hingga kebiasaan menunda yang sering kali menjadi hambatan utama. Oleh karena itu, manfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Jangan sampai menyesal diakhir.

Melalui perjalanan akademik yang ia jalani, harapannya sederhana, ia ingin ilmunya memberi manfaat bagi banyak orang, bukan sekadar menjadi tiket menuju pekerjaan.

Kalau belajar cuma buat kerja, hina sekali ilmu saya. Saya ingin ilmu yang saya pelajari seperti air yang memberi kehidupan di mana pun ia mengalir.

Dari rutinitas dini hari hingga perjalanan akademik yang penuh liku, ia menunjukkan bahwa disiplin bukan soal bekerja tanpa henti, melainkan kemampuan memahami diri, menghargai waktu dan berjalan dengan tujuan yang ia pegang teguh. Kebiasaan yang ia rawat sejak kecil, bangun sebelum fajar, salah tahajud, mengaji dalam sunyi, membagi tugas sedikit demi sedikit, hingga menjaga ritme hidup yang konsisten menjadi fondasi kokoh yang membentuk caranya menjalani hidup.

Dalam 24 jam versinya, tidak ada detik yang terbuang, setiap momen ia isi dengan kesadaran bahwa pertumbuhan dan keberhasilan sering kali lahir dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang dengan penuh kesungguhan. Hidupnya menjadi pengingat bahwa kedisiplinan bukan beban, melainkan bentuk cinta, tanggung jawab dan penghargaan terhadap diri sendiri dalam menata masa depan yang ia harapkan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Tantia  Nurwina
Seorang mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam di UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang aktif menulis berita, artikel dan feature di media digital.

Berita Terkait

News Update

Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)
Beranda 13 Feb 2026, 08:13 WIB

Di Saat Media Arus Utama Tersandera Iklan, Zine Menemukan Jalannya Sendiri

Fenomena tersebut bukan sekadar nostalgia, melainkan bentuk perlawanan terhadap kejenuhan dunia digital yang serba cepat dan penuh ketidakpastian.
Salah satu karya yang ditampilkan di Bandung Zine Fest 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 07:36 WIB

Distraksi Massal: Alasan Mengapa Kita Sengaja Dibuat Sibuk dengan Skandal

Melalui analogi novel Tere Liye, artikel ini mengajak pembaca untuk berhenti terjebak dalam debat kusir dan kembali fokus pada navigasi diri di ambang bulan Ramadan.
Salah satu buku novel karya Tere Liye. (Dokumentasi Penulis)
Bandung 12 Feb 2026, 21:44 WIB

Tren Lebaran 2026: J&C Cookies Usung Konsep "Kukis Kalcer" dan Camilan Gluten Free

Tradisi mudik dan silaturahmi Idul Fitri 2026 diprediksi akan semakin berwarna dengan munculnya tren kuliner baru yang lebih inklusif.
J&C Cookies memperkenalkan lini produk terbaru mereka yang dirancang untuk memenuhi selera generasi masa kini tanpa meninggalkan cita rasa autentik yang telah melegenda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 12 Feb 2026, 21:22 WIB

Bandung Zine Fest 2026, Ruang Kolektif Media Alternatif dari Shanghai Hingga Garut

Lebih dari sekadar ajang pameran, festival ini menjadi ruang silaturahmi bagi penerbit mandiri yang tidak bergantung pada modal besar.
Suasana Bandung Zine Fest 2026 di Gedung Tjap Sahabat di Cibadak, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 20:22 WIB

Ramadan Tanpa Petasan, Bermain Lodong dan Belesong pun Jadi

Sejak dahulu petasan dan lodong selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan.
Lodong selalu jadi pertanda datangnya Bulan Ramadan di sejumlah daerah Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 16:22 WIB

Kartu Mati, Pengobatan Terhenti

Penonaktifan jutaan peserta PBI BPJS membuat warga Bandung kehilangan akses berobat. Padahal Islam punya cara pandang yang khas terkait kesehatan masyarakat.
Kartu Indonesia Sehat (KIS) merupakan kartu peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 13:43 WIB

Komunikasi Keluarga dalam Mengatasi Bunuh Diri

Bunuh diri pada anak menandakan terputusnya saluran komunikasi antara anak dan orang tua.
Bunuh diri pada anak menandakan terputusnya saluran komunikasi antara anak dan orang tua. (Sumber: Unsplash | Foto: K. Mitch Hodge)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 11:18 WIB

Tradisi ‘Nglabur’ Rumah saat Ramadan, Filosofi Bersih Diri dan Mencerahkan Suasana Hati

Melabur alias mengecat tembok dengan gamping menciptakan hasil akhir yang artistik, bertekstur, alami, dan ramah lingkungan.
Ilustrasi melabur rumah dengan batu kapur atau gamping. (Sumber: Pexels | Foto: Sergey Meshkov)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 08:49 WIB

3 Jejak Heroik K.H. Anwar Musaddad yang Terlupakan 

Ketua Kokesin di Makkah, Kepala Syuumuka dan Pendiri Hizbullah Priangan menjadi novelty dalam kajian tokoh KH Anwar Musaddad yang membuktikan jasa, kiprah dan perjuangan (pahlawan) kemanusiaan.
Cover buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya, terbitan Lakpesdam PWNU Jawa Barat (2025). (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Mayantara 12 Feb 2026, 07:04 WIB

Keranjingan Info Bites Konten Religi 

Jelang Ramadan, salah satu fenomena yang terus menguat adalah keranjingan scrolling video pendek religi.
Ilustrasi muslimah sedang memandang smartphone. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ayo Netizen 11 Feb 2026, 21:40 WIB

Ngabuburit di Bandung Tahun 1980-an

Tentang awal Ramadan dan ngabuburit warga Kota Bandung tahun 1980-an.
Gedung de Majestic, salah satu bioskop tertua di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 11 Feb 2026, 20:08 WIB

Rahasia Putu Ayu Simpang Dago Bertahan 18 Tahun di Tengah Gempuran Dessert Kekinian

Lapak kaki lima yang menjual putu ayu ini berhasil bertahan dengan pakem kualitas rasa yang mengembalikan memori sejak kecil pada indera perasa para konsumennya.
Lapak kaki lima yang menjual putu ayu ini berhasil bertahan dengan pakem kualitas rasa yang mengembalikan memori sejak kecil pada indera perasa para konsumennya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)