24 Jam Versi Risky Aly: Gaya Hidup Sang Peraih Double Degree dalam Satu Waktu

4 menit baca
Tantia  Nurwina
Ditulis oleh Tantia Nurwina diterbitkan
Foto Risky Aly ketika wisuda double degree. (Sumber: Dari Risky Aly setelah sesi wawancara selesai)
Foto Risky Aly ketika wisuda double degree. (Sumber: Dari Risky Aly setelah sesi wawancara selesai)

Pukul tiga dini hari, ketika mayoritas orang masih tenggelam dalam mimpi, Risky Aly justru telah terjaga. Pemuda asal Bondowoso kelahiran 2001 itu memulai harinya dengan ibadah di tengah kesunyian, menunaikan salat tahajud, lalu bersiap mengikuti salat Subuh berjamaah. Setelahnya, barulah ia membuka mushaf dan mengaji. Kedisiplinan ini tidak hadir begitu saja.

Sedari kecil, ia telah dibiasakan oleh orang tuanya untuk bangun lebih awal, menjaga ibadah dan mengatur waktu dengan baik. Ketika lulus SD dan masuk pondok pesantren, kebiasaan itu justru menemukan ruang yang lebih teratur. Pesantren memperkuat pola hidup disiplin yang sejak lama tertanam, membuat ritme bangun dini hari bukan lagi kewajiban, melainkan bagian dari dirinya hingga kini. 

Kebiasaan itulah yang menjadi fondasi kuat ketika ia memasuki masa kuliah S1. Saat banyak mahasiswa masih beradaptasi dengan satu program studi, ia justru memilih jalur yang jarang ditempuh, yakni menjalani double degree. Siang hari ia belajar di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Nurul Jadid, sementara malamnya ia menekuni Fikih wa Ushuluhu di Mahad Aly Nurul Jadid. Dua disiplin ilmu yang berbeda, tapi berjalan berdampingan dalam satu ritme hidup yang ia tata sendiri. 

Hari-harinya berjalan padat, tetapi teratur. Setelah salat tahajud dan mengaji, ia bersiap kuliah hingga sore. Ketika ada waktu luang, ia tidak menghabiskannya dengan menggulir layar ponsel. Justru sebaliknya, ia memanfaatkan jeda singkat itu untuk tidur sejenak di kelas sebelum dosen masuk, di masjid yang lengang, atau di sudut asrama yang tenang.

Kalau ada waktu luang saya gunakan untuk istirahat sebentar, entah itu di masjid atau di kelas.

Namun, kesibukannya tidak berhenti pada lingkup akademik. Ia aktif di berbagai organisasi, seperti PMII, BEM Fakultas Universitas Nurul Jadid dan BEM Mahad Aly. Di bidang bela diri, ia juga dipercaya menjadi Ketua Perguruan Pencak Silat. Baginya, silat bukan hanya latihan fisik, melainkan cara untuk menjaga kesehatan mental dari hiruk pikuk duniawi. 

Memasuki semester lima hingga tujuh, tanggung jawabnya semakin bertambah. Ia mulai mengajar kitab untuk santri putri di MTS Nurul Jadid, sembari menjalankan amanah sebagai musyrif. Tugas membangunkan santri pukul tiga dini hari sering kali membuatnya hanya tidur tiga jam setiap malam. Ada kalanya ia baru tidur pukul dua belas malam, tetapi beberapa jam kemudian sudah kembali berjalan di lorong pondok untuk memastikan semua santri bangun.

Capek tentu ada, tapi kalau niatnya baik, dijalani saja.

Tantangan terbesar datang ketika ia harus menyusun dua tugas akhir sekaligus: skripsi kampus dan syarah kitab untuk Mahad Aly. Namun, alih-alih kewalahan, ia telah menyiapkan strateginya. Ia membagi pekerjaan menjadi target harian. Pagi hingga sore ia fokus menyelesaikan satu bab skripsi kampus, sementara malam hari ia menulis syarah kitab. Bahkan ketika berada di masjid dan menemukan waktu luang, ia tak ragu membuka laptop dan melanjutkan mengetik rangkaian kata untuk tugas-tugasnya.

Lebih cepat selesai akan lebih baik, kalau ditunda-tunda, nanti menumpuk.

Kemampuannya menggunakan dan mengatur waktu dengan baik mengantarnya menyelesaikan dua gelar dalam waktu 3,5 tahun dan lulus pada tahun 2024. Selepas wisuda, ia tidak langsung pulang. Ia merantau ke Pare, Kediri, untuk mengikuti kursus intensif Bahasa Inggris. Dari Pare, ia langsung menuju Bandung untuk mengikuti seleksi pascasarjana dan kini ia resmi menjadi mahasiswa S2 Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Bandung. 

Baca Juga: Tes Kemampuan Akademik sebagai Perbaikan Mutu Pembelajaran

Meski kini tinggal di kota berbeda dan ritme kuliahnya lebih longgar, gaya hidupnya nyaris tidak berubah. Ia tetap bangun lebih awal, tetap mengaji sebelum memulai aktivitas dan tetap menyicil tugas sedikit demi sedikit. Kebiasaan yang terbangun sejak kecil dan teruji selama masa double degree membuat proses studi S2 terasa jauh lebih ringan. Bukan karena bebannya kecil, tetapi karena ia sudah terbiasa hidup berdampingan dengan waktu. 

Ketika ditanya apa makna “menaklukkan waktu”, ia tersenyum kecil. Baginya, waktu bukan musuh yang harus dilawan, melainkan sahabat yang ritmenya perlu dipahami. Filosofi hidupnya pun sederhana, tapi kuat dan bermakna.

Jalanin aja jalannya, lakonin aja lakonnya. Jangan jalani jalan orang lain.

Ia meyakini bahwa setiap orang memiliki ritme hidup masing-masing dan tidak perlu memaksakan diri mengikuti langkah orang lain hanya karena merasa tertinggal. Kepada mahasiswa yang sering merasa 24 jam tidak cukup, pesannya tegas, waktu cukup, asal fokusnya jelas.

Kalau mau santai-santai, jangan kuliah. Tidak untuk menghakimi, tapi untuk mengingatkan bahwa keseriusan menuntut komitmen dan kedisiplinan. Bukan waktu yang tidak cukup, tapi distraksi digital seperti main game, scroll medsos, hingga kebiasaan menunda yang sering kali menjadi hambatan utama. Oleh karena itu, manfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Jangan sampai menyesal diakhir.

Melalui perjalanan akademik yang ia jalani, harapannya sederhana, ia ingin ilmunya memberi manfaat bagi banyak orang, bukan sekadar menjadi tiket menuju pekerjaan.

Kalau belajar cuma buat kerja, hina sekali ilmu saya. Saya ingin ilmu yang saya pelajari seperti air yang memberi kehidupan di mana pun ia mengalir.

Dari rutinitas dini hari hingga perjalanan akademik yang penuh liku, ia menunjukkan bahwa disiplin bukan soal bekerja tanpa henti, melainkan kemampuan memahami diri, menghargai waktu dan berjalan dengan tujuan yang ia pegang teguh. Kebiasaan yang ia rawat sejak kecil, bangun sebelum fajar, salah tahajud, mengaji dalam sunyi, membagi tugas sedikit demi sedikit, hingga menjaga ritme hidup yang konsisten menjadi fondasi kokoh yang membentuk caranya menjalani hidup.

Dalam 24 jam versinya, tidak ada detik yang terbuang, setiap momen ia isi dengan kesadaran bahwa pertumbuhan dan keberhasilan sering kali lahir dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang dengan penuh kesungguhan. Hidupnya menjadi pengingat bahwa kedisiplinan bukan beban, melainkan bentuk cinta, tanggung jawab dan penghargaan terhadap diri sendiri dalam menata masa depan yang ia harapkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)