'Doom Spending' dan Generasi yang Menyerah Membeli Masa Depan

Desy Windayani
Ditulis oleh Desy Windayani diterbitkan Selasa 13 Jan 2026, 14:34 WIB
Ilustrasi dompet kosong. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)

Ilustrasi dompet kosong. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)

Narasi tentang anak muda yang "susah diatur keuangannya" kembali membanjiri lini masa kita. Mulai dari sindiran tentang mereka yang rela antre berjam-jam demi boneka Labubu, berburu tiket konser seharga UMR Jakarta, hingga kebiasaan membeli kopi susu setiap hari yang dianggap sebagai biang kerok ketidakmampuan membeli rumah.

Para perencana keuangan sibuk berteriak tentang latte factor. Para orang tua sibuk membandingkan zaman mereka menabung emas dengan zaman sekarang yang menabung "pengalaman". Namun, ada satu diagnosis yang luput dari percakapan ini bahwa perilaku konsumtif ini mungkin bukan tanda hedonisme, melainkan tanda keputusasaan.

Fenomena ini di dunia barat dikenal dengan istilah Doom Spending. Secara sederhana, ini adalah perilaku membelanjakan uang untuk kesenangan sesaat karena keyakinan bahwa masa depan membeli rumah, pensiun nyaman, atau stabilitas ekonomi sudah menjadi mimpi yang mustahil dicapai.

Mari kita bicara jujur. Bagi seorang pekerja muda di Jakarta dengan gaji Rp6-7 juta, menabung untuk Down Payment (DP) rumah seharga Rp800 juta di pinggiran kota terasa seperti mendaki Himalaya dengan sandal jepit. Inflasi harga properti dan kebutuhan pokok tidak lagi berkejaran dengan kenaikan upah; ia sudah lama meninggalkan upah di garis start.

Ketika tujuan besar (rumah, tanah, dana pensiun) terasa mustahil, otak manusia secara alami akan mencari kompensasi. Ini adalah mekanisme pertahanan diri. Self-reward yang sering dicibir itu sejatinya adalah anestesi. Ia adalah obat bius untuk melupakan sejenak bahwa kita terjebak dalam sistem kerja yang menuntut performa tinggi dengan jaminan keamanan yang rendah.

Ilusi Kelas Menengah

Mata uang rupiah dan emas. (Sumber: Pexels | Foto: Robert Lens)
Mata uang rupiah dan emas. (Sumber: Pexels | Foto: Robert Lens)

Di sinilah letak ironinya. Kita melihat kedai kopi penuh dan mal ramai, lalu menyimpulkan ekonomi sedang baik-baik saja atau masyarakat kita konsumtif. Padahal, keramaian itu semu. Yang terjadi adalah perputaran uang receh untuk kepuasan instan, sementara uang besar (investasi aset riil) macet.

Ini menciptakan apa yang saya sebut sebagai "Ilusi Kelas Menengah". Secara gaya hidup pakaian, gawai, tontonan banyak anak muda terlihat seperti kelas menengah mapan. Namun secara fundamental ekonomi, mereka sangat rentan. Satu kali PHK, satu kali sakit keras tanpa asuransi yang memadai, gaya hidup itu akan runtuh seketika karena tidak ada fondasi aset yang menopang.

Baca Juga: Bandung Makin Macet, Transportasi Umum Bisakah Jadi Penolong?

Menyalahkan individu atas doom spending adalah jalan pintas yang malas. Seminar literasi keuangan memang penting, tapi itu tidak akan menyelesaikan masalah jika struktur ekonominya tidak diperbaiki.

Kita tidak bisa terus-menerus menuntut anak muda untuk "hidup prihatin" tanpa memberikan mereka harapan yang realistis bahwa keprihatinan itu akan berbuah manis di masa depan. Jika harga rumah naik 10% per tahun sementara gaji naik 2% (atau tidak naik sama sekali), matematika penghematan model apa pun akan sulit bekerja.

Sebagai penutup, mari berhenti memandang sinis pada mereka yang membeli "kebahagiaan kecil" yang mahal. Mungkin, itu satu-satunya kendali yang mereka miliki atas hidup mereka saat ini. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Desy Windayani
Communication Student

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 13 Jan 2026, 16:18 WIB

Penyairan Masa Kini: Bahasa yang Mencari Rumah Baru

Penyair masa kini menjaga kedalaman di tengah riuh digital, merawat bahasa, melampaui klise, dan menghadirkan ruang hening saat dunia bergerak terlalu cepat.
Puisi mencari napas baru, sementara penyair menjaga jantung bahasanya. (Sumber: Pixnio/Bicanski)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 16:06 WIB

Gen Z dari Scrolling ke Running, Gaya Hidup Baru yang Menggerakkan Pasar Kebugaran

Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru.
Ilustrasi. Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 14:34 WIB

'Doom Spending' dan Generasi yang Menyerah Membeli Masa Depan

Mengapa anak muda memilih "kebahagiaan kecil" yang mahal saat impian besar seperti rumah makin mustahil dicapai gaji UMR.
Ilustrasi dompet kosong. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 13:13 WIB

Bandung Makin Macet, Transportasi Umum Bisakah Jadi Penolong?

Kesenjangan Pusat Kota yang Diperhatikan dan Pinggiran Kota yang Terlupakan
Halte Cicaheum, Kota Bandung, yang sudah mulai usang dan banyak tumpukan sampah di belakang bangku, (3/12/25). (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Putriana Basar)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 11:37 WIB

Chopper: Sejarah dan Makna Desain Mesin Kebebasan Roda Dua

Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an.
Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an. (Sumber: Pexels | Foto: Rachel Claire)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 10:19 WIB

Tren Coffee Shop Jadi Markas Mahasiswa Bandung 'Ngebut Tugas' Menjelang UAS

Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 09:34 WIB

Menjadi Mahasiswa IKIP Bandung (Bagian Dua)

Di sekitar kampus IKIP Bandung (UPI), Jalan Setiabudhi dulu berjajar penjual pisang Lembang.
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 07:50 WIB

Ngopi, Duduk, dan Biarkan Pikiran Bernapas

Bagi Kopi menawarkan ruang sederhana dan hangat di tengah malam yang tenang.
Sederhana saja, secangkir kopi dan ketenangan di Bagi Kopi. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 20:01 WIB

Pentingnya Pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai Upaya Memperkuat Sistem Tata Kelola Pemerintahan

RUU Perampasan Aset hadir sebagai instrumen yang dapat menutup celah tindak korupsi.
Ilustrasi kriminalitas. (Sumber: Pexels | Foto: Kindel Media)
Ayo Jelajah 12 Jan 2026, 19:17 WIB

Hikayat Perburuan Komplotan Komunis Bandung, Priangan dalam Kepungan Polisi Kolonial

Operasi besar polisi kolonial memburu komplotan komunis di Bandung dan Priangan pada 1927 yang membuat kota hidup dalam kecurigaan.
Berita tentang dugaan plot komunis di Bandung di koran De Avondpost edisi 19 Oktober 1927.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 18:47 WIB

Menyelami Riuhnya Ekspresi Seniman Bandung: Dari Ruang Kreatif Hingga Panggung Kontemporer

Di balik hiruk-pikuk jalan dan lalu lintasnya, Bandung tak pernah kehabisan nada, warna, dan kisah. Kota ini bukan sekadar pusat kuliner dan fashion, tetapi juga menjadi ruang ekspresi generasi seni.
Suasana pembukaan Pasar Seni ITB. (Sumber: fsrd,itb)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 18:27 WIB

Rumah Pertama Jadi Mimpi Jauh, 65 Pesimis Gen Z Pesimis Mampu Membeli

Memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z.
Ilustrasi memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 17:26 WIB

Tumbler Dan Gejala Sosial Baru

gejala sosial tentang gaya hidup membeli tumbler
Tumbler. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:49 WIB

Hafal Daftar Cicilan, tapi Lupa Impian

Gen Z sering dianggap generasi manja, padahal banyak dari mereka yang memikul beban finansial keluarga di pundaknya.
Ilustrasi cicilan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Shvets)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 16:38 WIB

Saat Angka Pengangguran Masih Tinggi, Keterampilan Jadi Harapan Baru

Salah satu penyebab utama tingginya pengangguran adalah ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan pasar.
Pelatihan perbaikan AC dan handphone Ini ditujukan bagi masyarakat tidak mampu agar mereka memiliki keterampilan praktis yang bisa langsung diaplikasikan. (Sumber: Dok BSI Maslahat)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:07 WIB

Es Pisang Ijo Saparua: Perpaduan Sederhana Rasa Luar Biasa

Rekomendasi es viral yang enak di Kota Bandung sambil olahraga pagi menjelang siang.
Foto diambil langsung di Saparua Sport sambil menikmati indahnya pemandangan. (Foto: Rizki Hidayat)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 15:47 WIB

‘Kojo’ Persib Beckham Putra Kembali jadi Pahlawan dan Ulangi Selebrasi ‘Ngahodhod Katirisan’

Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23.
Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 15:06 WIB

Kang Deddy, Yeuh … KBU dan KBS Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Perizinan tidak boleh dipandang sebagai instrumen pemasukan atau sumber pendapatan daerah semata—sebuah cara “menjual” ruang kepada investor—karena logika ini sangat rentan menyimpang.
Satu sudut Bandung Utara, Bojong Koneng Atas. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 13:28 WIB

Algoritma, FOMO, dan Rapuhnya Nalar Publik di Ruang Digital

Kebutuhan akan algoritma adalah keniscayaan dengan literasi numerasi sebagai fondasinya untuk memaknai angka di balik fenomena sosial
Media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)