Potret Pocong QRIS, Potret Kreativitas Jalanan di Tengah Sulitnya Lapangan Kerja

3 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Cosplayer pocong di Lembang memanfaatkan QRIS untuk menerima uang dari warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Cosplayer pocong di Lembang memanfaatkan QRIS untuk menerima uang dari warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Kabut tipis mulai menyelimuti kawasan Ledeng menuju Lembang ketika jarum jam menunjukkan pukul enam sore. Di tepi jalan yang riuh oleh deru mesin angkot dan kendaraan pribadi, sesosok putih berdiri tegak di antara temaram lampu jalan.

Kain kafannya tampak tak lagi bersih. Noda coretan, tanah, dan debu jalanan melekat di permukaannya. Namun, ada satu hal yang membuat “hantu” ini tampak berbeda. Di dadanya tergantung selembar kertas kecil berlapis laminasi, bertuliskan kode batang statis: QRIS “Pocong Lembang, Hiburan”.

Inilah “Pocong Digital” yang belakangan menarik perhatian pengguna jalan di jalur Ledeng–UPI hingga Borma Lembang. Di balik lapisan kain kafan itu, terdapat Toni (40), seorang pria yang berusaha beradaptasi dengan perkembangan zaman demi mempertahankan hidupnya.

Baca Juga: Hantu Asia-Afrika: Antara Daya Tarik Wisata dan Kerentanan Sosial

Pocong ‘Zaman Now’

Toni bukanlah pendatang baru dalam dunia “pocong-pocongan” di Bandung. Sejak 2023, ia telah menekuni profesi ini setelah pekerjaan serabutan di proyek bangunan tak lagi memberikan kepastian. Namun, baru sekitar tiga bulan terakhir ia memutuskan untuk menyediakan alternatif pembayaran nontunai bagi para pengendara.

“Sekarang, kan, serba digital. Ya, mengikuti zaman lah,” ujar Toni saat ditemui di sisi jalan kawasan Ledeng.

Alasannya sederhana. Ia kerap melihat pengendara mobil atau motor yang ingin memberi, tetapi ragu karena tidak membawa uang kecil. Dengan QRIS yang tergantung di dadanya, persoalan itu bisa teratasi. Siapa pun dapat memindai kode tersebut tanpa perlu membuka jendela kendaraan terlalu lama.

Meski telah beralih ke sistem digital, penghasilan Toni tetap tidak menentu. Dalam sehari, ia rata-rata memperoleh sekitar Rp100.000, dengan separuhnya biasanya berasal dari uang tunai.

“Tunai paling Rp50.000, sisanya dari sini (QRIS),” tambahnya.

Bagi para pengguna jalan, sosok Toni kerap tampak unik, bahkan mengundang senyum. Tak jarang, mobil-mobil mewah berhenti sejenak hanya untuk berfoto atau mencoba memindai kode di dadanya.

Pocong QRIS bisa ditemukan wisatawan di jalur Bandung-Lembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Pocong QRIS bisa ditemukan wisatawan di jalur Bandung-Lembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Kafan yang Terpaksa Disandang

Di balik inovasinya memanfaatkan QRIS dan menjadikan dirinya berbeda dari pocong-pocongan lain, tersimpan beban berat dalam setiap perkataan Toni. Menjadi “pocong” bukanlah impiannya, melainkan jalan terakhir ketika peluang kerja formal terasa semakin tertutup bagi pria seusianya.

Sebelum berdiri di pinggir jalan dari siang hingga petang, Toni bekerja sebagai tukang bangunan di berbagai proyek.

“Kerjaannya, kan, serabutan. Kadang bangunan, kadang enggak, tergantung ada proyek atau tidak,” katanya, dengan wajah tertutup topeng hantu dan hidung disumbat kapas, seperti gambaran pocong dalam imajinasi banyak orang.

Meski tampak menikmati perannya sebagai “Pocong Digital”, Toni tak mampu menyembunyikan keinginannya untuk menjalani kehidupan yang lebih normal. Ia menyimpan harapan agar akses terhadap pekerjaan lebih terbuka, sehingga ia tak perlu lagi berdiri di pinggir jalan dengan kostum hantu.

“Sebenarnya enggak mau lah, kayak gini-ginian. Harapannya kalau bisa, kerjaan dipermudah,” ungkapnya jujur.

Suka Duka di Bawah Lampu Jalan

Dua tahun menghabiskan waktu di jalan memberi Toni banyak pengalaman. Ia menyadari semakin banyak orang yang tertarik mendekat karena menganggapnya berbeda.

Namun, di balik perhatian itu, ia juga harus menghadapi cuaca yang tak menentu serta penghasilan yang sulit diprediksi. Ada hari-hari ketika ia menerima pemberian yang cukup layak, tetapi tak jarang pula hanya mendapat nominal sangat kecil.

“Rata-rata ada yang kasih Rp2.000, malah pernah juga ada yang kasih Rp100.000,” tuturnya sambil terkekeh pelan.

Ia menanggung sendiri suka duka sebagai “pocong” jalanan. Bagi Toni dan rekan-rekannya sesama pekerja “hantu-hantuan”, yang terpenting adalah ada hasil yang bisa dibawa pulang—entah berupa koin di dalam kotak kayu atau notifikasi saldo masuk di ponsel.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)