Hantu Asia-Afrika: Antara Daya Tarik Wisata dan Kerentanan Sosial

4 menit baca
Nisrina Nuraini
Ditulis oleh Nisrina Nuraini diterbitkan
Cosplayer hantu menambah daya tarik kawasan Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Cosplayer hantu menambah daya tarik kawasan Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

AYOBANDUNG.ID - Menjelang malam, Jalan Asia-Afrika menjelma menjadi panggung wisata terbuka paling hidup di Kota Bandung. Deretan bangunan bersejarah bernuansa tempo dulu menjadi latar foto estetik bagi para wisatawan yang memadati kawasan tersebut. Suara cekrek kamera ponsel nyaris tak pernah berhenti terdengar di setiap sudut jalan, menandai denyut malam yang kian ramai.

Salah satu titik paling strategis—sekaligus menguntungkan bagi sebagian pencari nafkah—berada tepat di depan Gedung Konferensi Asia-Afrika. Di sanalah komunitas cosplayer hantu berkumpul, bertengger, dan menanti pengunjung yang ingin berpose atau sekadar merasakan sensasi ditakut-takuti. Dengan atribut kostum lengkap dan tata rias seram, keberadaan mereka kerap menjadi magnet tersendiri yang menghidupkan kawasan wisata tersebut.

Namun, di balik antusiasme dan hiruk-pikuk itu, tersimpan cerita lain yang jarang diketahui para pengunjung.

Salah satunya dialami Agung (45). Ia enggan menyebut dirinya sebagai pekerja lokal kawasan Asia-Afrika dan Braga. “Saya cuma pengin menghibur orang yang lewat aja,” ujarnya singkat.

Sejak resmi bergabung sebagai cosplayer hantu di pusat Kota Bandung, Agung mengaku tak pernah mematok harga atau memaksa pengunjung untuk memberi bayaran tertentu. “Sistemnya seikhlasnya aja. Dikasih berapa pun saya enggak apa-apa,” katanya.

Realitas di lapangan membuat profesi ini berada di wilayah yang serba abu-abu. Mereka bukan pengamen, bukan pedagang, bukan pula pekerja seni yang memiliki payung perlindungan atau jaminan resmi dari pemerintah. Posisi yang tak jelas ini kerap memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap mereka.

Meski tanpa kepastian penghasilan, Agung dan rekan-rekannya tetap datang setiap hari, menanggung risiko dari pekerjaan yang mereka jalani.

“Kalau pagi sampai siang, saya jualan sayuran, ikan, sama ayam di pasar. Sore ke malam baru mulai berdandan dan cosplay jadi pocong di sini,” tuturnya, menjelaskan rutinitas harian yang jauh dari kesan glamor.

Kondisi berbeda dialami Martin (37). Ia sepenuhnya menggantungkan harapan pada profesi cosplayer hantu di sekitar Alun-alun Bandung. Bahkan, pernah suatu hari ia pulang hanya membawa uang sekitar dua ribu rupiah. “Buat beli rokok aja enggak cukup,” ucapnya sambil tersenyum getir.

Cuaca dan jumlah pengunjung menjadi faktor utama fluktuasi pendapatan mereka. Hujan lebat sering kali memupus harapan mendapatkan penghasilan. Bukan hanya soal upah minimum, tetapi kondisi alam dan situasi pengunjung dapat membuat pendapatan mereka nihil dalam satu malam.

Agung dan Martin, cosplayer hantu di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Agung dan Martin, cosplayer hantu di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Tak semua pengunjung memiliki kepekaan yang sama. Agung dan Martin sepakat bahwa banyak orang yang berfoto tanpa merasa perlu memberi imbalan. Mereka pernah menghadapi rombongan besar—sekitar 10 hingga 12 orang—yang meminta foto berkali-kali, masing-masing ingin berpose sendiri. Namun, semua itu berakhir hanya dengan ucapan terima kasih.

Mereka kerap diperlakukan layaknya properti gratis, bukan pekerja yang mengandalkan tenaga dan waktu untuk menghibur. Hidup mereka pun terombang-ambing antara menjadikan profesi ini sebagai mata pencaharian utama dan rendahnya kesadaran sebagian pengunjung akan nilai kerja seni di ruang publik.

Padahal, jika ditinjau lebih luas, kehadiran cosplayer hantu menjadi nilai tambah bagi daya tarik wisata kawasan Asia-Afrika. Sayangnya, nilai ekonomi dari kontribusi tersebut belum sepenuhnya kembali kepada mereka.

Risiko pekerjaan pun tak berhenti di situ. Interaksi dengan pengunjung sering kali memicu insiden tak terduga. “Sudah pasti dapat perlakuan enggak enak. Ada yang refleks mukul karena kaget, ada yang iseng, bahkan ada yang pingsan lihat kita dari jauh,” kata Agung, mengenang berbagai pengalaman pahit.

Cerita lain datang dari Martin. Ia menuturkan kejadian pelecehan yang dialami rekan perempuannya, seorang cosplayer yang biasa mengenakan kostum Nyi Roro Kidul. “Ada bapak-bapak yang minta foto dengan pose vulgar dan melecehkan,” ujarnya.

Beruntung, rekan tersebut berani melapor. Martin pun langsung menegur pengunjung itu. “Saya bilang, maaf, kami jual seni di sini, bukan tubuh,” tegasnya. Kejadian tersebut menegaskan bahwa ruang publik belum sepenuhnya aman, terlebih bagi cosplayer perempuan.

Di tengah ketiadaan perlindungan resmi, solidaritas antaranggota komunitas menjadi satu-satunya sandaran. Mereka saling menjaga dan melindungi, bukan karena regulasi, melainkan karena rasa senasib. Ironisnya, profesi yang memperkaya ruang publik justru menyisakan persoalan keselamatan sebagai urusan personal.

Keberadaan mereka turut memengaruhi dinamika kawasan wisata. Menurut Agung, ketika hari Senin ditetapkan sebagai hari libur cosplayer, pedagang di sekitar pun ikut tutup. Alhasil, kawasan Asia-Afrika menjadi lebih sepi.

Kini, aktivitas mereka mulai diatur oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, mulai dari hari mangkal, area kerja, hingga pembatasan jumlah cosplayer—sebanyak 15 orang per hari. “Dulu sering kena razia Satpol PP. Sekarang sudah diatur sama Disbudpar. Jadi lebih tenang, walau belum sepenuhnya senang,” ujar Martin.

Agung dan Martin mengakui, sebelum dan sesudah pandemi COVID-19, sempat ada perhatian dari sejumlah pejabat publik, termasuk bantuan sosial. Namun, seiring waktu, atensi tersebut kian memudar.

Keduanya berharap Pemerintah Kota Bandung lebih merangkul komunitas cosplayer hantu sebagai bagian dari ekosistem seni dan pariwisata kota. Bukan hanya pengakuan, tetapi juga jaminan keamanan bagi profesi yang mereka jalani dengan ikhlas—tanpa patokan harga.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 07 Agu 2026, 15:20

Jelajah Sungai Cigerendong, Surga Tersembunyi di Dusun Cukanggaleuh Pangandaran

Jelajahi Sungai Cigerendong di Desa Parakanmanggu dengan air jernih berwarna toska, pepohonan rindang, dan suasana yang masih alami.

Sungai Cigerendong Pangandaran. (Sumber: TikTok @cigerendongpangandaran)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 13:53

Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

Apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 11:58

Cipatat dan Krisis Kesehatan yang Tak Terlihat

Negara wajib memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas kesehatan dan penderitaan masyarakat. 

Beberapa truk bayawak pengangkut batu kapur terparkir di wilayah Cipatat Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda)
Ikon 07 Agu 2026, 11:15

Alun-alun Kota Cimahi, Pusat Pertemuan antara Warga dengan Ojol

Alun-alun Kota Cimahi menjadi pusat aktivitas warga, tempat bersantai, berolahraga, hingga titik berkumpul para driver ojol.

Rindang, strategis, dan nyaman, Alun-alun Kota Cimahi menjadi ruang publik sekaligus titik berkumpul para driver ojol setiap hari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 08:40

Saat Pohon Tumbang dan Rasa Aman Dipertaruhkan

Bandung sedang menghadapi ujian besar. Ujian yang menuntut respons yang tegas, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 20:09

Menyambut Hari Kemerdekaan 2026, Deretan Ide Tulisan dari Semangat Kemerdekaan hingga Dinamika Kota Bandung

Tema tulisan tetap tidak dibatasi. Selama relevan dengan isu yang berkembang, setiap penulis bebas menentukan sudut pandang yang ingin diangkat.

Warga Kampung Pengkolan Pasang Bendera Merah Putih Sepanjang 540 Meter pada tahun 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 18:33

Rahasia Komunikasi Digital yang Bikin Sebuah Merek Kecantikan Mudah Diingat

Menganalisis komunikasi iklan melalui website resmi dan media sosial Instagram yang menunjukkan adanya upaya perusahaan dalam membangun komunikasi yang saling terhubung.

Ilustrasi komunikasi digital merek kecantikan.
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 18:07

Jelajah Gunung Salak Bogor: Pendakian, Kawah Ratu, Harga Tiket, dan Cara Booking Online

Panduan lengkap Gunung Salak mulai jalur pendakian, Kawah Ratu, harga tiket, booking online, hingga cara menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Gunung Salak Bogor. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 16:17

Berita Yudha: Potret Sejarah dari Lembaran Surat Kabar Lawas

Kini, setelah 56 tahun berlalu, Berita Yudha tetap memiliki daya tarik yang kuat sebagai sumber sejarah.

Surat kabar Berita Yudha, salah satu harian berpengaruh pada era Orde Baru yang diterbitkan oleh TNI Angkatan Darat. (Sumber: Koleksi: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 15:59

Curug Panetean Tasikmalaya, Surga Tersembunyi dengan Leuwi Jernih

Temukan pesona Curug Panetean yang terkenal dengan kolam batu alami, air sejernih kaca, dan pengalaman berendam di tengah alam.

Curug Panetean Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @r_dony26)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 15:27

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (bagian 1)

Hal-hal yang jarang diketahui khalayak menjelang proklamasi kemerdekaan pada 1945 di Kota Bandung.

Menjelang masa agresi militer di Bandung 1945- 1946. (Sumber: Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 14:43

Pabrik Boleh Berpindah, tetapi Kehidupan Buruh Tidak Semudah Itu Dipindahkan

Kala terjadi PHK, opsi untuk beralih profesi tidak selalu terbuka luas. Ini membuat ketergantungan pada industri garmen semakin kuat, sekaligus mempersempit ruang negosiasi buruh.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Agu 2026, 11:40

Jelajah Cigondewah, Pusat Perdagangan Kain Kerakyatan di Bandung

Cigondewah menjadi pusat kain di Bandung sejak 1980-an. Ketahui sejarah, daya tarik, dan perkembangan bisnis tekstilnya.

Cigondewah Bandung, pusat belanja kain eceran hingga grosir yang legendaris. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 11:26

Mahalnya Ongkos Kemerdekaan

Negeri kita memiliki sejarah yang wajib diproklamirkan tidak hanya di bulan kemerdekaan. Sejatinya mesti dijaga dan dirawat dengan sangat baik di pikiran bukan sekadar di buku pelajaran.

Beragam bendera merah putih yang dijual para pedagang selama bulan Agustus. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 08:33

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 2): Kesegaran Tradisi dan Kekayaan Cita Rasa

Berikut adalah 5 hidangan berikutnya dari daftar 10 kuliner Jawa Barat terbaik versi Taste Atlas.

Karedok (salad sunda) di Indonesia. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)