Hantu Asia-Afrika: Antara Daya Tarik Wisata dan Kerentanan Sosial

Nisrina Nuraini
Ditulis oleh Nisrina Nuraini diterbitkan Selasa 27 Jan 2026, 04:45 WIB
Cosplayer hantu menambah daya tarik kawasan Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Cosplayer hantu menambah daya tarik kawasan Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

AYOBANDUNG.ID - Menjelang malam, Jalan Asia-Afrika menjelma menjadi panggung wisata terbuka paling hidup di Kota Bandung. Deretan bangunan bersejarah bernuansa tempo dulu menjadi latar foto estetik bagi para wisatawan yang memadati kawasan tersebut. Suara cekrek kamera ponsel nyaris tak pernah berhenti terdengar di setiap sudut jalan, menandai denyut malam yang kian ramai.

Salah satu titik paling strategis—sekaligus menguntungkan bagi sebagian pencari nafkah—berada tepat di depan Gedung Konferensi Asia-Afrika. Di sanalah komunitas cosplayer hantu berkumpul, bertengger, dan menanti pengunjung yang ingin berpose atau sekadar merasakan sensasi ditakut-takuti. Dengan atribut kostum lengkap dan tata rias seram, keberadaan mereka kerap menjadi magnet tersendiri yang menghidupkan kawasan wisata tersebut.

Namun, di balik antusiasme dan hiruk-pikuk itu, tersimpan cerita lain yang jarang diketahui para pengunjung.

Salah satunya dialami Agung (45). Ia enggan menyebut dirinya sebagai pekerja lokal kawasan Asia-Afrika dan Braga. “Saya cuma pengin menghibur orang yang lewat aja,” ujarnya singkat.

Sejak resmi bergabung sebagai cosplayer hantu di pusat Kota Bandung, Agung mengaku tak pernah mematok harga atau memaksa pengunjung untuk memberi bayaran tertentu. “Sistemnya seikhlasnya aja. Dikasih berapa pun saya enggak apa-apa,” katanya.

Realitas di lapangan membuat profesi ini berada di wilayah yang serba abu-abu. Mereka bukan pengamen, bukan pedagang, bukan pula pekerja seni yang memiliki payung perlindungan atau jaminan resmi dari pemerintah. Posisi yang tak jelas ini kerap memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap mereka.

Meski tanpa kepastian penghasilan, Agung dan rekan-rekannya tetap datang setiap hari, menanggung risiko dari pekerjaan yang mereka jalani.

“Kalau pagi sampai siang, saya jualan sayuran, ikan, sama ayam di pasar. Sore ke malam baru mulai berdandan dan cosplay jadi pocong di sini,” tuturnya, menjelaskan rutinitas harian yang jauh dari kesan glamor.

Kondisi berbeda dialami Martin (37). Ia sepenuhnya menggantungkan harapan pada profesi cosplayer hantu di sekitar Alun-alun Bandung. Bahkan, pernah suatu hari ia pulang hanya membawa uang sekitar dua ribu rupiah. “Buat beli rokok aja enggak cukup,” ucapnya sambil tersenyum getir.

Cuaca dan jumlah pengunjung menjadi faktor utama fluktuasi pendapatan mereka. Hujan lebat sering kali memupus harapan mendapatkan penghasilan. Bukan hanya soal upah minimum, tetapi kondisi alam dan situasi pengunjung dapat membuat pendapatan mereka nihil dalam satu malam.

Agung dan Martin, cosplayer hantu di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Agung dan Martin, cosplayer hantu di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

Tak semua pengunjung memiliki kepekaan yang sama. Agung dan Martin sepakat bahwa banyak orang yang berfoto tanpa merasa perlu memberi imbalan. Mereka pernah menghadapi rombongan besar—sekitar 10 hingga 12 orang—yang meminta foto berkali-kali, masing-masing ingin berpose sendiri. Namun, semua itu berakhir hanya dengan ucapan terima kasih.

Mereka kerap diperlakukan layaknya properti gratis, bukan pekerja yang mengandalkan tenaga dan waktu untuk menghibur. Hidup mereka pun terombang-ambing antara menjadikan profesi ini sebagai mata pencaharian utama dan rendahnya kesadaran sebagian pengunjung akan nilai kerja seni di ruang publik.

Padahal, jika ditinjau lebih luas, kehadiran cosplayer hantu menjadi nilai tambah bagi daya tarik wisata kawasan Asia-Afrika. Sayangnya, nilai ekonomi dari kontribusi tersebut belum sepenuhnya kembali kepada mereka.

Risiko pekerjaan pun tak berhenti di situ. Interaksi dengan pengunjung sering kali memicu insiden tak terduga. “Sudah pasti dapat perlakuan enggak enak. Ada yang refleks mukul karena kaget, ada yang iseng, bahkan ada yang pingsan lihat kita dari jauh,” kata Agung, mengenang berbagai pengalaman pahit.

Cerita lain datang dari Martin. Ia menuturkan kejadian pelecehan yang dialami rekan perempuannya, seorang cosplayer yang biasa mengenakan kostum Nyi Roro Kidul. “Ada bapak-bapak yang minta foto dengan pose vulgar dan melecehkan,” ujarnya.

Beruntung, rekan tersebut berani melapor. Martin pun langsung menegur pengunjung itu. “Saya bilang, maaf, kami jual seni di sini, bukan tubuh,” tegasnya. Kejadian tersebut menegaskan bahwa ruang publik belum sepenuhnya aman, terlebih bagi cosplayer perempuan.

Di tengah ketiadaan perlindungan resmi, solidaritas antaranggota komunitas menjadi satu-satunya sandaran. Mereka saling menjaga dan melindungi, bukan karena regulasi, melainkan karena rasa senasib. Ironisnya, profesi yang memperkaya ruang publik justru menyisakan persoalan keselamatan sebagai urusan personal.

Keberadaan mereka turut memengaruhi dinamika kawasan wisata. Menurut Agung, ketika hari Senin ditetapkan sebagai hari libur cosplayer, pedagang di sekitar pun ikut tutup. Alhasil, kawasan Asia-Afrika menjadi lebih sepi.

Kini, aktivitas mereka mulai diatur oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, mulai dari hari mangkal, area kerja, hingga pembatasan jumlah cosplayer—sebanyak 15 orang per hari. “Dulu sering kena razia Satpol PP. Sekarang sudah diatur sama Disbudpar. Jadi lebih tenang, walau belum sepenuhnya senang,” ujar Martin.

Agung dan Martin mengakui, sebelum dan sesudah pandemi COVID-19, sempat ada perhatian dari sejumlah pejabat publik, termasuk bantuan sosial. Namun, seiring waktu, atensi tersebut kian memudar.

Keduanya berharap Pemerintah Kota Bandung lebih merangkul komunitas cosplayer hantu sebagai bagian dari ekosistem seni dan pariwisata kota. Bukan hanya pengakuan, tetapi juga jaminan keamanan bagi profesi yang mereka jalani dengan ikhlas—tanpa patokan harga.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)