Hantu Perempuan di Indonesia adalah Refleksi dari Diskriminasi

3 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Perempuan dihidupkan kembali dalam cerita tapi bukan sebagai pahlawan melainkan sebagai teror. (Sumber: Freepik)
Perempuan dihidupkan kembali dalam cerita tapi bukan sebagai pahlawan melainkan sebagai teror. (Sumber: Freepik)

Sejak hidup perempuan memiliki permasalahan yang pelik dalam society. Dalam banyak adat dan tradisi perempuan seringkali diposisikan sebagai pihak yang rentan. Baik rentan terhadap kekerasan fisik dan seksual, rentan terhadap diskriminasi sosial dan rentan secara ekonomi dan hukum.

Perempuan seringkali memegang peran dan beban ganda dalam society perihal permasalahan dalam ranah domestik (mengerjakan perkerjaan rumah) maupun ranah publik (mencari nafkah). Sebetulnya menjadi perempuan amatlah sulit. Menjadi perempuan yang hanya mengabdi kepada suami, membuat perempuan tidak memiliki kemandirian finansial dan akan kelimpungan jika suami meninggal atau berselingkuh.

Sementara perempuan yang punya karir juga tidak lepas dari peran domestik yang melekat pada dirinya. Bahkan perempuan yang memiliki karir masih disalahkan jika terjadi sesuatu terhadap anaknya. Padahal pernikahan bukan hanya tentang peran perempuan tapi juga tentang peran laki-laki yang seharusnya menjadi tim yang solid untuk membangun keluarga yang berkualitas.

Bahkan sejak bayi dan balita perempuan sangat rentan terhadap kekerasan dan pelecehan seksual. Sebuah kejadian di Sumatera Utara menunjukkan bahwa bayi perempuan berusia 3.5 bulan yang secara seksual belum nampak apapun dalam dirinya masih juga rentan mendapat pelecehan dari orang terdekatnya.

Menuju sekolah dasar anak perempuan juga rawan mendapat perlakuan kekerasan dan pelecehan seksual. Baru-baru ini di Jakarta ditemukan remaja laki-laki berusia 16 tahun telah melakukan pelecehan seksual terhadap anak perempuan yang masih duduk di sekolah dasar. Tidak hanya meruda paksa bahkan anak perempuan tersebut tewas di tangannya.

Menjelang fase subur perempuan di usia 17 tahun ke atas juga tak kalah rentan mengalami kehamilan di luar pernikahan. Meski dilakukan atas dasar suka sama suka, tetap saja yang dirugikan tetap remaja perempuan. Bagaimana stigma masyarakat menghinakan perempuan yang berbuat demikian. Sementara anak laki-laki masih tetap bisa bersekolah dan kesalahannya hanya dianggap angin lalu di masyarakat.

Bahkan setelah mengalami kehidupan yang berat dan penuh dengan ketidakadilan. Setelah meninggal perempuan tetap menjalani stigma yang tidak mudah di masyarakat. Perempuan terlahir kembali dalam sebuah cerita tapi bukan sebagai pahlawan melainkan sebagai teror.

Cerita hantu menyimpan kode trauma dan harapan rakyat, mengingatkan bahwa luka sosial belum sembuh. (Sumber: Pexels/Monstera Production)
Cerita hantu menyimpan kode trauma dan harapan rakyat, mengingatkan bahwa luka sosial belum sembuh. (Sumber: Pexels/Monstera Production)

Berapa banyak cerita yang tersebar di masyarakat perihal hantu perempuan yang tak pernah mendapat keadilan bahkan dalam hidup dan matinya. Kuntilanak meninggal saat melahirkan, sundel bolong korban pelecehan seksual dan suster ngesot hasil dari penyiksaan.

Berapa banyak perempuan hebat yang mampu bertahan dalam garis kemiskinan karena pasangannya tidak memberikan tanggung jawab yang besar terhadap keluarganya. Berapa banyak perempuan hebat yang mampu mengandung dan melahirkan hingga mempertaruhkan nyawa tapi masyarakat menganggap bahwa itu adalah hal biasa. Berapa banyak perempuan yang hidup dalam hubungan toxic dan mendapat kekerasan dalam rumah tangga tapi tetap bertahan atas nama kasih sayang dan keberlangsungan hidup anak.

Namun semua perjuangan tersebut nyatanya tidak pernah nampak dalam society. Bahkan setelah kematiannya perempuan tidak lebih terlahir kembali menjadi cerita horor di masyarakat. Dengan demikian horor yang selama ini diwariskan menjadi bentuk cerita adalah refleksi dari diskriminasi. Perempuan tetap hidup dengan penderitaan yang sama, luka yang sama dan selalu mengulang diskriminasi yang sama sebagai korban bahkan setelah menjadi hantu.

Dalam sebuah jurnal yang ditulis oleh Adi Prasetyo (2023) yang berjudul Decontrusting fear in Indonesia cinema: Diachronic analysis of antagonist representationt in half a century of Indonesia horror films 1970-2020 mengatakan sejak tahun 2010 banyak film yang menggunakan tokoh kuntilanak atau hantu feminim sebagai pemeran antagonis dan penjahat. Bahkan tren ini sudah berlangsung selama lima dekade.

Sementara menurut jurnal berjudul Hantu-hantu Perempuan Indonesia: Mewujudkan ketakutan wanita dalam Mitos dan Media Horor lewat Komik Arwah yang ditulis oleh M. Reza Rahman Lazuardi dkk menyatakan bahwa fenomena hantu perempuan mengulang pola naratif negatif yang mengalami ketidakadilan dalam bentuk kekerasan seksual serta diskriminasi berdasarkan gender dan tokoh dihidupkan kembali dengan membawa dendam.

Berhenti menjadikan perempuan sebagai objek seksualitas semata. Berhenti melakukan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan. Berhenti melakukan eksploitasi terhadap perempuan bahkan setelah meninggal dunia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)