Bandung untuk Mobil Pribadi atau Bandung untuk Warga?

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Warga bersepeda di kawasan Alun-alun Bandung. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: Djoko Subinarto)
Warga bersepeda di kawasan Alun-alun Bandung. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: Djoko Subinarto)

JALAN tol dalam kota digadang-gadang bakal segera dibangun guna mengatasi kemacetan yang kerap merundung Bandung. Pertanyaannya adalah: apakah langkah ini sejalan pula dengan upaya menahan laju krisis iklim yang kian genting?

Pembangunan infrastruktur jalan memang kerap dianggap sebagai obat mujarab untuk mengurai kemacetan. Setiap kali sebuah kota macet, resep instan yang keluar hampir selalu sama, yakni tambah jalan, bangun flyover, perluas akses kendaraan. 

Bandung tidak luput dari pola pikir tersebut. Tol dalam kota pun muncul sebagai jawaban kilat yang dirasa paling masuk akal dalam mengatasi kemacetan di Kota Kembang ini.

Namun, di balik rencana pembangunan tol dalam kota itu, barangkali kita perlu mengambil jeda sejenak dan bertanya ihwal apakah benar kalu kita menambah jalan, maka bisa mengurai kemacetan? Ataukah justru memperpanjang siklus kemacetan? 

Sejumlah studi menunjukkan fenomena yang sudah lama diketahui para ahli transportasi, yakni  induced demand. Begitu jalan dilebarkan atau diperpanjang, jumlah kendaraan malah turut bertambah.

Mobil dan motor yang tadinya hoream keluar karena macet, begitu ada tol dalam kota, dan jalanan lebih lega, justru berlomba keluar dari garasi masing-masing. Maka, dalam beberapa bulan saja, ruang-ruang kota kembali disesaki kendaraan. Kemacetan datang lagi. Cuma, kali ini ia hadir di atas jalanan yang lebih lebar dan lebih mahal.

Problem besar seperti itu kiwari bersinggungan pula dengan masalah kian genting, yakni krisis iklim. Oleh karenanya, setiap keputusan pembangunan seharusnya ditimbang dua kali, bukan hanya soal kemanfaatannya hari ini, tetapi juga soal bebannya terhadap Bumi di kemudian hari.

Dalam konteks pembangunan jalan tol, ia bukan cuma perkara aspal dan beton. Ia juga terkait dengan emisi. Ketika jalan tol hadir, kendaraan bertambah, bahan bakar terbakar lebih banyak, dan udara kota menanggung konsekuensinya. Bukankah Bandung selama ini juga bergelut dengan polusi yang semakin pekat?

Belum lagi proses pembangunannya sendiri. Produksi semen—bahan utama konstruksi—adalah salah satu penyumbang emisi terbesar di sektor industri. Setiap tiang pancang yang berdiri membawa jejak karbon yang tak seuprit. Maka, membangun tol dalam kota sebetulnya bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun emisi.

Mampu beradaptasi

Kemacetan bukan sekadar gangguan lalu lintas, tapi cerminan tata kelola kota yang belum sepenuhnya adaptif terhadap lonjakan urbanisasi dan perubahan perilaku mobilitas warganya. (Sumber: Ayobandung.id)
Kemacetan bukan sekadar gangguan lalu lintas, tapi cerminan tata kelola kota yang belum sepenuhnya adaptif terhadap lonjakan urbanisasi dan perubahan perilaku mobilitas warganya. (Sumber: Ayobandung.id)

Kota yang baik seharusnya mampu beradaptasi, bukan cuma bertumbuh. Adaptasi ini membutuhkan imajinasi baru antara lain dalam memandang transportasi, di mana kita bukan melulu bagaimana mempercepat aliran kendaraan, tetapi bagaimana memastikan warga bisa bergerak dengan lebih efisien tanpa memperbesar jejak karbon di atmosfer.

Bandung sebenarnya punya potensi besar dalam hal mengurangi jejak karbon warganya. Kota ini tidak terlalu luas. Pusat aktivitas relatif dekat, yang sebenarnya bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau bersepeda. Cuaca di Bandung juga relatif lebih adem ketimbang kota-kota besar lainnya. Jalan kaki atau bersepeda tak akan begitu menyiksa. 

Andai pula muncul keberanian untuk membenahi transportasi publik, sehingga sistem transportasi yang murah, aman, nyaman, dan andal  hadir, mungkin banyak pula warga Bandung yang  tidak keberatan meninggalkan motor atau mobil mereka di garasi.

Sayang seribu sayang, transportasi publik di Bandung masih jauh dari memadai. Bus tersedia, tetapi jangkauannya masih terbatas. Jalur pedestrian hadir, tapi tak semuanya nyaman. Sementara layanan kereta cepat antar-kota tidak otomatis menjawab persoalan mobilitas di dalam kota.

Dalam kondisi seperti ini, membangun tol dalam kota terasa seperti memilih jalan pintas potong kompas yang paling mudah ditawarkan kepada publik. 

Akan tetapi, apakah pilihan itu benar-benar akan menyelesaikan masalah kemacetan? Atau hanya menunda persoalan sambil menambah beban lingkungan?

Barangkali tak ada salahnya kita menengok dan belajar dari banyak kota di luar negeri yang pernah mengambil langkah serupa. Houston, Los Angeles, Beijing, semuanya sudah mencoba membangun jalan lebih lebar dan lebih panjang demi mengatasi macet.

Hasilnya podo wae, macet kembali, bahkan lebih parah. Setelah itu, barulah para pengelola kota -kota itu sadar bahwa menambah jalan atau memperlebar jalan bukan resep cespleng mengobati kemacetan. Pada titik inilah, para pengelola kota-kota itu mulai menata transportasi publik, dan di sanalah perubahan pun mulai terlihat.

Sementara itu, jika kita berpaling ke Eropa, alih-alih membangun jalan baru atau memperlebar jalan, beberapa kota Eropa justru menutup akses kendaraan pribadi dari pusat kota. Ruang yang tadinya dikuasai mobil, dikembalikan untuk kepentingan pejalan kaki, pesepeda, dan transportasi umum.

Buntutnya, polusi menurun, ekonomi lokal tumbuh, dan kualitas hidup membaik. Sebuah paradoks yang menarik, di mana semakin sedikit ruang untuk mobil, justru semakin lancar aktivitas kota.

Bandung mungkin belum siap untuk melangkah sejauh itu, tetapi bukan berarti tidak bisa bergerak ke arah yang sama. Kota ini punya modal sosial yang kuat. Warganya kreatif, terbiasa beradaptasi, dan punya kecintaan pada ruang-ruang publik yang hidup.

Mengalirkan kehidupan

Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jembatan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Kota Bandung, Jumat 19 September 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jembatan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Kota Bandung, Jumat 19 September 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Tol dalam kota mungkin akan mengalirkan kendaraan dengan lancar, tetapi ia tidak selalu mengalirkan kehidupan.

Di sisi lain, kita juga perlu jujur bahwa perubahan memang tidak pernah gampang. Membangun sistem transportasi yang terintegrasi membutuhkan investasi besar, waktu panjang, dan keberanian politik untuk mengambil keputusan yang tidak selalu populer.

Tetapi, keberanian itu niscaya pada akhirnya bakal menelurkan kota yang lebih tangguh menghadapi krisis iklim, kota yang mengutamakan mobilitas warganya, bukan mobilitas kendaraannya, kota yang memberikan ruang bagi udara bersih untuk kembali mengalir di antara bangunan-bangunan tua nan ikonik.

Jika krisis iklim benar-benar ingin dihadapi, kota seperti Bandung harus mulai menggeser cara pandangnya, yakni dari kota yang mengikuti arus kendaraan, menjadi kota yang memandu arus kehidupan. Pembangunan di kota ini harus dirancang bukan sebatas sebagai proyek fisik, tetapi juga sebagai investasi lingkungan.

Bagaimanapun, pada akhirnya, kota yang terlalu banyak bergantung pada kendaraan adalah kota yang rentan. Ia rentan terhadap polusi, rentan terhadap banjir, rentan terhadap panas ekstrem. Sementara kota yang memberi ruang bagi mobilitas rendah emisi akan lebih siap menanggung masa depan yang tidak pasti.

Tentu saja, akan menjadi sia-sia jika kita memerangi krisis iklim dengan pidato berbusa-busa, sementara kebijakan pembangunan justru memperbesar sumber masalahnya. Di era krisis iklim, kota yang konsisten menjaga lingkungannya akan lebih dihormati dibanding kota yang hanya mengejar kecepatan perjalanan.

Pada titik inilah, barangkali sudah waktunya pula kita menimbang kembali ihwal apa yang dimaksud dengan kelancaran. Apakah kelancaran itu soal kendaraan pribadi bergerak cepat, atau warga bisa bergerak dengan nyaman tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi.

Baca Juga: BIUTR sebagai Solusi Kemacetan atau Sekadar Menambah Mobil di Jalanan Bandung?

Jika kelancaran dimaknai sebagai kemudahan warga bergerak, maka jawabannya tidak selalu harus jalan tol. Ia bisa berupa bus yang datang tepat waktu, jalur sepeda yang aman, atau trotoar yang ramah warga.

Sudah barang tentu, ada banyak pilihan. Dan pilihan itu boleh jadi tidak secepat jalan tol, tetapi kemungkinan bisa jauh lebih berkelanjutan.

Rencana pembangunan tol dalam kota akhirnya menuntun kita pada sebuah pertanyaan paling mendasar, yakni Bandung seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi mendatang? Apakah Bandung yang berlari mengejar kendaraan pribadi, atau Bandung yang berjalan lebih pelan, namun nyaman, dan berpikir jauh ke masa depan?

Jawaban atas pertanyaan itu bakal sangat menentukan paras Bandung untuk puluhan tahun ke depan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)