Memiliki Kendaraan Pribadi di Bandung Bukan Sebuah Pilihan, Ini Kewajiban!

Yaser Fahrizal Damar Utama , S.I.Kom
Ditulis oleh Yaser Fahrizal Damar Utama , S.I.Kom diterbitkan Selasa 30 Des 2025, 19:35 WIB
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jembatan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Kota Bandung, Jumat 19 September 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jembatan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Kota Bandung, Jumat 19 September 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pemandangan jalanan Bandung yang dipenuhi motor bukan tanpa alasan. Di balik tingginya angka kepemilikan kendaraan pribadi, tersimpan masalah sistemik transportasi publik yang belum terselesaikan hingga kini.

Sejak saya pindah ke Jakarta, saya menyadari ada pola unik dari kawan-kawan perantau asal Bandung. Dibanding perantau daerah lain, anak Bandung itu paling keras kepala soal kendaraan pribadi.

Kami memiliki semacam "trauma psikis" tiap kali mendengar kata transportasi umum. Bayangan yang muncul di kepala adalah ngetem nggak jelas, rute yang ribet, sampai fasilitas yang jauh dari kata layak. Padahal kondisinya jauh berbeda.

Jakarta memiliki sistem transportasi massal terintegrasi, warga Bandung masih bergantung pada moda konvensional dengan keterbatasan signifikan. Data terbaru menunjukkan kesenjangan yang sangat besar antara kedua kota dalam hal anggaran, armada, dan kualitas layanan transportasi publik.

Berdasarkan data APBD 2025, DKI Jakarta memiliki total anggaran sebesar Rp 91,14 triliun, sedangkan Kota Bandung hanya Rp 7,8 triliun, ada selisih 11 kali lipat. Yang lebih mengejutkan, anggaran Dinas Perhubungan Jakarta sendirian mencapai Rp 7,61 triliun, hampir setara dengan total APBD Kota Bandung untuk semua sektor.

Perbedaan kapasitas fiskal ini berdampak langsung pada kualitas layanan. Jakarta mampu mengalokasikan subsidi Public Service Obligation (PSO) sebesar Rp 4-6 triliun per tahun untuk menjaga tarif TransJakarta tetap terjangkau di Rp 3.500 sejak 2005. Sementara itu, Bandung memiliki subsidi PSO yang sangat minimal atau bahkan tidak ada sama sekali.

Disparitas anggaran ini menjelaskan mengapa Bandung tidak mampu menyediakan layanan transportasi massal secara mandiri dan sangat bergantung pada bantuan dari pemerintah pusat.

Data operasional menunjukkan jurang yang menganga antara Jakarta dan Bandung Raya. Saat ini, TransJakarta mengoperasikan antara 4.388 hingga 5.200 unit bus untuk melayani kebutuhan mobilitas warga ibu kota.

Sebaliknya, layanan transportasi di Bandung masih sangat terbatas, Trans Metro Bandung (TMB) hanya memiliki sekitar 42 unit yang aktif beroperasi, yang kemudian dibantu oleh kehadiran Metro Jabar Trans (sebelumnya Trans Metro Pasundan) dengan kekuatan sekitar 127 hingga 136 unit armada. Jumlah ini sudah termasuk bus utama dan mikrobus pengumpan (feeder).

Gabungan seluruh armada bus di Bandung Raya belum menembus angka 200. Rasio ini menciptakan masalah interval kedatangan bus (headway) yang terlalu lama sehingga masyarakat masih sulit mengandalkannya untuk mobilitas harian yang efisien.

Kondisi ini memicu lingkaran setan. Karena armadanya sedikit, otomatis interval bus juga menjadi semakin lama. Akibatnya, masyarakat enggan menggunakannya. Di sisi lain, Load factor (tingkat okupansi) yang rendah kemudian dijadikan alasan oleh pemerintah untuk tidak menambah armada. Seolah-olah pemerintah bilang “Gimana mau ditambah armada kalau penggunanya sedikit?” Jika begini proses berpikirnya, wajar saja jika terus berputar di situ tanpa solusi konkret.

Di Jakarta, frekuensi bus yang tinggi mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum. Bahkan segmen menengah atas tidak segan menggunakan TransJakarta atau MRT untuk aktivitas sehari-hari.

Faktor lain yang biasanya dijadikan alasan adalah struktur jalan di pusat kota yang mayoritas merupakan warisan era kolonial Belanda cenderung sempit. Jalan-jalan seperti Otista, ABC, dan Sukajadi tidak dirancang untuk menampung jalur khusus bus.

Pembuatan jalur khusus bus seperti jalur busway TransJakarta akan memerlukan 30-50% dari lebar jalan yang ada, yang berpotensi memperparah kemacetan bagi kendaraan lain jika diterapkan di Bandung. Akibatnya, TMB terpaksa berbagi jalan dengan kendaraan pribadi dalam kondisi mixed traffic, yang membuat efisiensi waktu tempuh tidak jauh berbeda dengan kendaraan pribadi.

Topografi Bandung yang berbentuk cekungan dengan wilayah utara (Lembang/Dago) dan selatan yang berbukit juga menjadi tantangan teknis. Pembangunan transportasi berbasis rel seperti LRT atau kereta konvensional membutuhkan gradien landai yang sulit diwujudkan tanpa biaya konstruksi yang sangat besar.

Sebenarnya, Bandung memiliki catatan panjang rencana transportasi modern yang tidak terealisasi. Salah satu wacana yang paling persisten adalah LRT Bandung Raya, sebuah proyek ambisius yang telah digadang-gadang sejak tahun 2012. Meski telah melewati lebih dari satu dekade dan merencanakan rute strategis yang menghubungkan Tegalluar, Leuwipanjang, hingga Babakan Siliwangi, proyek ini seolah berjalan di tempat. Hingga memasuki tahun 2025, realisasinya masih berkutat pada tahap penawaran investasi tanpa adanya progres fisik yang signifikan di lapangan.

Bus Damri di halte Jalan Elang Raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Bus Damri di halte Jalan Elang Raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Tahun 2015, publik Bandung sempat dihangatkan dengan gagasan Cable Car atau kereta gantung saat era Ridwan Kamil. Proyek ini dirancang sebagai solusi untuk menaklukkan topografi berbukit di kawasan Dago hingga Cihampelas. Antusiasme warga sempat memuncak saat prototipe kabinnya dipamerkan secara megah di Balai Kota Bandung. Sayangnya, harapan tersebut pupus sebelum berkembang karena terbentur kerumitan regulasi terkait penggunaan ruang udara di atas properti warga, serta rendahnya minat investor akibat perhitungan Internal Rate of Return (IRR) yang dianggap tidak menguntungkan secara bisnis.

Nasib serupa juga menimpa Metro Kapsul pada tahun 2017, inovasi angkutan rel ringan karya anak bangsa yang sempat mencuri perhatian di Alun-alun Bandung. Meskipun digadang-gadang sebagai alternatif yang lebih ekonomis dan efisien, unit yang dipamerkan tersebut hanya berakhir sebagai pajangan tanpa pernah menyentuh tahap implementasi. Kabar kelanjutannya pun perlahan menghilang ditelan waktu, serupa dengan wacana Monorel yang sempat mencuat di awal 2010-an. Proyek monorel tersebut akhirnya tenggelam karena biaya pembangunan infrastruktur rel layang yang terlampau tinggi, melampaui kapasitas APBD yang dimiliki Kota Bandung.

Modernisasi transportasi di Bandung juga menghadapi resistensi dari sektor transportasi tradisional. Setiap ada penambahan moda baru seperti TMB atau TMP, begitu juga awal kemunculan ojek daring, terjadi demonstrasi dari pengemudi angkot yang merasa "lahannya" diambil. Pada 2022, terjadi aksi penolakan operasional Bus Trans Metro Pasundan di area Soreang-Leuwipanjang. Bahkan ada insiden di mana bus TMP diberhentikan paksa atau diintimidasi oleh oknum pengurus jalur angkot.

Kondisi ini berbeda dengan Jakarta, di mana angkot (mikrolet) berhasil ditransformasi menjadi Mikrotrans dalam sistem JakLingko dengan pengemudi yang digaji per kilometer. Di Bandung, transformasi serupa terkendala keterbatasan anggaran untuk menggaji ribuan pengemudi.

Meski demikian, ada secercah harapan. Pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan berencana memulai konstruksi fisik proyek BRT Bandung Raya pada 2026 dengan dukungan pendanaan dari Bank Dunia dan APBN.

Proyek ini akan menggunakan dedicated lane di jalan-jalan lebar dan mixed traffic di jalan sempit. Namun, implementasinya akan menghadapi tantangan baru yaitu penghapusan parkir di pinggir jalan yang diprediksi akan memicu konflik dengan juru parkir dan pedagang.

Pembangunan BRT Bandung Raya akan menjadi semacam tes dari warga untuk pemerintah, apakah pemerintah benar-benar serius dalam modernisasi transportasi umum atau hanya sekadar wacana seperti proyek-proyek sebelumnya.

Baca Juga: Hikayat Judi Rancaekek Zaman Kolonial, Warga Eropa dan Pribumi Kabur saat Digerebek Polisi

Data dan fakta di atas menunjukkan bahwa tingginya kepemilikan kendaraan pribadi di Bandung bukanlah semata-mata cerminan gaya hidup konsumtif, ini adalah respons rasional warga terhadap sistem transportasi publik yang belum memadai.

Dengan anggaran yang terbatas, armada bus yang minim, dan tantangan geografis serta sosial yang kompleks, warga Bandung tidak memiliki pilihan selain memilih kendaraan pribadi terutama sepeda motor untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari.

Solusi jangka panjang memerlukan komitmen fiskal yang besar, baik dari APBD maupun APBN, serta political will yang kuat. Tanpa intervensi serius, kesenjangan antara Jakarta dan Bandung dalam hal kualitas transportasi publik akan terus melebar. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yaser Fahrizal Damar Utama , S.I.Kom
Pemerhati Budaya | Alumnus Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Beranda 21 Jan 2026, 07:10 WIB

Tamu Tembus 4.000 Orang, Kampung Takakura Sukamiskin Jadi Pusat Edukasi Sampah Lintas Pulau dan Negara

Upaya warga Kampung Takakura ini mendapat perhatian pemerintah. Sejumlah dinas turut memberikan dukungan berupa fasilitas penunjang.
Sejumlah penghargaan yang diraih Kampung Takakura antara tahun 2018-2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 21 Jan 2026, 06:54 WIB

Di Malam yang Tidak Pernah Sama, Pasar Lilin Astana Anyar Tetap Ada

Suasana terasa hangat. Antar pedagang saling menyapa, berbagi cerita, dan sesekali diselingi gelak tawa di sela menunggu pembeli.
Pasar Lilin kini lebih terang setelah menggunakan cahaya dari lampu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 20 Jan 2026, 21:30 WIB

Menggenggam Harapan Bandung Lewat Wajib Belajar Pra Sekolah

PAUD bukan sekadar tempat bermain, di balik aktivitas sederhana seperti bernyanyi atau menggambar, tersimpan proses pembentukan karakter.
Ilustrasi. PAUD bukan sekadar tempat bermain, di balik aktivitas sederhana seperti bernyanyi atau menggambar, tersimpan proses pembentukan karakter. (Sumber: Freepik)
Ayo Jelajah 20 Jan 2026, 20:43 WIB

Hikayat Kelam Kasus Herry Wirawan, Kekerasan Seksual terhadap Santriwati di Bandung

Perkara Herry Wirawan, pemilk salahsatu peantren di Bandung, menjadi salah satu kasus kekerasan seksual anak terberat dalam sejarah hukum Indonesia.
Herry Wirawan.
Ayo Jelajah 20 Jan 2026, 20:26 WIB

Sejarah Longsor Cigembong Garut Zaman Kolonial, Warga Satu Kampung Lenyap Tanpa Jejak

Longsor besar Juni 1924 menghapus Kampung Cigembong di selatan Garut. Arsip kolonial mencatat retakan gunung, pergerakan tanah, ratusan korban jiwa, serta sawah dan rumah yang lenyap dalam sekejap.
Ilustrasi longsor Cigembong Garut 1924.
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 19:35 WIB

Menelaah Kaitan Penerangan Jalan dan Potensi Aksi Kejahatan

Warga Margahayu Raya berharap Walikota M. Farhan segera mengatasi masalah lampu jalan yang minim.
Kondisi jalan di Komplek Margahayu Raya yang hanya diterangi oleh rumah warga akibat minimnya lampu penerangan jalan umum pada malam hari, 1 Desember 2025. (Sumber : Dokumentasi Penulis | Foto : Nur Azizah) (Foto : Nur Azizah) (Foto: Nur Azizah)
Ayo Biz 20 Jan 2026, 19:25 WIB

Mimpi Swasembada Energi: Jalan Terjal Transisi di Era Prabowo

Keberhasilan PP Nomor 40/2025 sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menggeser dominasi sistem energi dari energi fosil menuju energi bersih melalui instrumen kebijakan yang tepat sasaran.
Analis kebijakan dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bonti Wiradinata saat diskusi Ikatan Wartawan Ekonomi Bisnis (IWEB) di Bandung, Selasa (20/1/2026). (Sumber: Dok IWEB)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 18:37 WIB

Antara Warga, Amanah, dan Ketenangan

Sebuah potret tentang tokoh yang menjadi pusat diskusi warga dan organisasi lokal.
Firman adalah putra asli Bandung yang tumbuh di Kiara Condong, sebuah lingkungan yang menurutnya menjadi “sekolah kehidupan” pertama. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 17:35 WIB

Susahnya Memberantas Parkir Liar yang Merajalela di Kota Bandung

Di Kota Bandung, parkir liar sangat mudah ditemukan di berbagai macam tempat.
Potret juru parkir liar di salah satu titik Kota Bandung (04/12/25) (Foto: Salsafira Farelya)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 17:00 WIB

Belajar dari Artis, Seni Mengelola Circle Pertemanan Menjadi Aset Masa Depan

Nggak cuma lucu-lucuan, Prediksi dan Bedain jadi bukti kalau tongkrongan bisa menghasilkan cuan.
Prediksi dan Bedain. (Instagram/Prediksi)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 16:17 WIB

Efisiensi Fiskal dan Era Pariwisata Virtual

Efisiensi fiskal menuntut inovasi pemerintah. Bandung perlu cara baru untuk tetap bisa meningkatkan sumber PAD melalui promosi wisata dengan jangkauan luas, tanpa membebani anggaran.
Gunung Putri Lembang, Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Dwinanda Nurhanif Mujito)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 16:00 WIB

Antara Janji Meritokrasi atau Realitas Politik Koalisi: Pembentukan Kabinet Merah Putih

Mengapa idealisme meritokrasi Prabowo luntur demi mengakomodasi kepentingan koalisi, melahirkan 'Kabinet Gemuk' yang lebih mengutamakan stabilitas politik daripada kompetensi ahli.
Masa Retreat Kabinet Merah Putih di Magelang. (Sumber: menpan.go.id)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 15:00 WIB

Ini Sosok John Herdman Pelatih Baru Timnas: Adakah Pemain Persib yang Dipanggil?

John Herdman akan didampingi Cesar Meylan, yang akan bertugas sebagai pelatih fisik Tim Garuda.
John Herdman, lahir 19 Juli 1975, mulai melatih sepak bola pada usia muda di Inggris, saat ia masih menjadi mahasiswa dan dosen universitas paruh waktu di Northumbria University. (Sumber: Kemenpora)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 12:21 WIB

Merawat Imajinasi

Aktivitas mendongeng (membacakan) cerita bukan semata soal hiburan, melainkan ikhtiar bersama dalam menanamkan benih pengetahuan, menumbuhkan rasa ingin tahu, sekaligus mengikat cinta.
Seseorang sedang asyik membaca. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 11:25 WIB

CSR di Bandung: Dari Kegiatan Simbolik Menuju Dampak Sosial Nyata

CSR di Bandung sering dipandang hanya sebagai agenda formal yang belum sepenuhnya menangani kebutuhan sosial secara mendalam.
Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Aditya Enggar Perdana)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 10:03 WIB

Nestapa Gaza, Akankah Dunia Islam Bisa Baik-Baik Saja?

Warga Gaza masih berduka, di tengah hujan musim dingin dan camp darurat.
Krisis Gaza masih berlanjut, semakin kritis di tengah cuaca dingin dan hujan yang semakin intens. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanul Haque Z)
Beranda 20 Jan 2026, 08:33 WIB

Tidak Dipilah Pasti Tidak Diangkut: Gaya Hidup Kampung Takakura dalam Mengatasi Krisis Sampah Bandung

Selama hidup, manusia pasti memproduksi sampah. Sampai kapan pun itu tidak akan hilang. Karena itu kita harus berteman dengan sampah dengan menjadikannya sesuatu yang bernilai.
Hasil dari pengolahan sampah organik salah satunya dijadikan eco enzyme yang kaya enzim ramah lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Jelajah 19 Jan 2026, 20:24 WIB

Sejarah Universitas Islam Bandung, Kampus Biru di Tamansari

Unisba lahir dari kegelisahan tokoh Islam Jawa Barat tentang pendidikan iman dan ilmu hingga tumbuh di Tamansari Bandung.
Kampus Unisba di tamansari. (Sumber: unisba.ac.id)
Ayo Netizen 19 Jan 2026, 18:26 WIB

Walau Lebih Mahal, Ada Alasan Gen-Z Lebih Suka Bus AKAP Fasilitas Lengkap

Ada nih Bus AKAP Luxury yang bisa dilirik oleh kalangan Anak Muda di Bandung cuy
Interior dari Cititrans Super Executive Busline 28S (CTB-102) saat malam hari pada 30 Oktober 2025. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Dean 'Izzan Rahmani)
Ayo Biz 19 Jan 2026, 18:21 WIB

Kontroversi Susu UHT dalam Program Makan Bergizi Gratis Menguji Kualitas Gizi Anak Sekolah

Kontroversi susu UHT dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memantik perdebatan publik.
Ilustrasi. Susu adalah simbol asupan protein, kalsium, dan vitamin yang esensial bagi pertumbuhan ana. (Sumber: Freepik)