Memiliki Kendaraan Pribadi di Bandung Bukan Sebuah Pilihan, Ini Kewajiban!

6 menit baca
Yaser Fahrizal Damar Utama , S.I.Kom
Ditulis oleh Yaser Fahrizal Damar Utama , S.I.Kom diterbitkan
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jembatan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Kota Bandung, Jumat 19 September 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jembatan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Kota Bandung, Jumat 19 September 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pemandangan jalanan Bandung yang dipenuhi motor bukan tanpa alasan. Di balik tingginya angka kepemilikan kendaraan pribadi, tersimpan masalah sistemik transportasi publik yang belum terselesaikan hingga kini.

Sejak saya pindah ke Jakarta, saya menyadari ada pola unik dari kawan-kawan perantau asal Bandung. Dibanding perantau daerah lain, anak Bandung itu paling keras kepala soal kendaraan pribadi.

Kami memiliki semacam "trauma psikis" tiap kali mendengar kata transportasi umum. Bayangan yang muncul di kepala adalah ngetem nggak jelas, rute yang ribet, sampai fasilitas yang jauh dari kata layak. Padahal kondisinya jauh berbeda.

Jakarta memiliki sistem transportasi massal terintegrasi, warga Bandung masih bergantung pada moda konvensional dengan keterbatasan signifikan. Data terbaru menunjukkan kesenjangan yang sangat besar antara kedua kota dalam hal anggaran, armada, dan kualitas layanan transportasi publik.

Berdasarkan data APBD 2025, DKI Jakarta memiliki total anggaran sebesar Rp 91,14 triliun, sedangkan Kota Bandung hanya Rp 7,8 triliun, ada selisih 11 kali lipat. Yang lebih mengejutkan, anggaran Dinas Perhubungan Jakarta sendirian mencapai Rp 7,61 triliun, hampir setara dengan total APBD Kota Bandung untuk semua sektor.

Perbedaan kapasitas fiskal ini berdampak langsung pada kualitas layanan. Jakarta mampu mengalokasikan subsidi Public Service Obligation (PSO) sebesar Rp 4-6 triliun per tahun untuk menjaga tarif TransJakarta tetap terjangkau di Rp 3.500 sejak 2005. Sementara itu, Bandung memiliki subsidi PSO yang sangat minimal atau bahkan tidak ada sama sekali.

Disparitas anggaran ini menjelaskan mengapa Bandung tidak mampu menyediakan layanan transportasi massal secara mandiri dan sangat bergantung pada bantuan dari pemerintah pusat.

Data operasional menunjukkan jurang yang menganga antara Jakarta dan Bandung Raya. Saat ini, TransJakarta mengoperasikan antara 4.388 hingga 5.200 unit bus untuk melayani kebutuhan mobilitas warga ibu kota.

Sebaliknya, layanan transportasi di Bandung masih sangat terbatas, Trans Metro Bandung (TMB) hanya memiliki sekitar 42 unit yang aktif beroperasi, yang kemudian dibantu oleh kehadiran Metro Jabar Trans (sebelumnya Trans Metro Pasundan) dengan kekuatan sekitar 127 hingga 136 unit armada. Jumlah ini sudah termasuk bus utama dan mikrobus pengumpan (feeder).

Gabungan seluruh armada bus di Bandung Raya belum menembus angka 200. Rasio ini menciptakan masalah interval kedatangan bus (headway) yang terlalu lama sehingga masyarakat masih sulit mengandalkannya untuk mobilitas harian yang efisien.

Kondisi ini memicu lingkaran setan. Karena armadanya sedikit, otomatis interval bus juga menjadi semakin lama. Akibatnya, masyarakat enggan menggunakannya. Di sisi lain, Load factor (tingkat okupansi) yang rendah kemudian dijadikan alasan oleh pemerintah untuk tidak menambah armada. Seolah-olah pemerintah bilang “Gimana mau ditambah armada kalau penggunanya sedikit?” Jika begini proses berpikirnya, wajar saja jika terus berputar di situ tanpa solusi konkret.

Di Jakarta, frekuensi bus yang tinggi mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum. Bahkan segmen menengah atas tidak segan menggunakan TransJakarta atau MRT untuk aktivitas sehari-hari.

Faktor lain yang biasanya dijadikan alasan adalah struktur jalan di pusat kota yang mayoritas merupakan warisan era kolonial Belanda cenderung sempit. Jalan-jalan seperti Otista, ABC, dan Sukajadi tidak dirancang untuk menampung jalur khusus bus.

Pembuatan jalur khusus bus seperti jalur busway TransJakarta akan memerlukan 30-50% dari lebar jalan yang ada, yang berpotensi memperparah kemacetan bagi kendaraan lain jika diterapkan di Bandung. Akibatnya, TMB terpaksa berbagi jalan dengan kendaraan pribadi dalam kondisi mixed traffic, yang membuat efisiensi waktu tempuh tidak jauh berbeda dengan kendaraan pribadi.

Topografi Bandung yang berbentuk cekungan dengan wilayah utara (Lembang/Dago) dan selatan yang berbukit juga menjadi tantangan teknis. Pembangunan transportasi berbasis rel seperti LRT atau kereta konvensional membutuhkan gradien landai yang sulit diwujudkan tanpa biaya konstruksi yang sangat besar.

Sebenarnya, Bandung memiliki catatan panjang rencana transportasi modern yang tidak terealisasi. Salah satu wacana yang paling persisten adalah LRT Bandung Raya, sebuah proyek ambisius yang telah digadang-gadang sejak tahun 2012. Meski telah melewati lebih dari satu dekade dan merencanakan rute strategis yang menghubungkan Tegalluar, Leuwipanjang, hingga Babakan Siliwangi, proyek ini seolah berjalan di tempat. Hingga memasuki tahun 2025, realisasinya masih berkutat pada tahap penawaran investasi tanpa adanya progres fisik yang signifikan di lapangan.

Bus Damri di halte Jalan Elang Raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Bus Damri di halte Jalan Elang Raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Tahun 2015, publik Bandung sempat dihangatkan dengan gagasan Cable Car atau kereta gantung saat era Ridwan Kamil. Proyek ini dirancang sebagai solusi untuk menaklukkan topografi berbukit di kawasan Dago hingga Cihampelas. Antusiasme warga sempat memuncak saat prototipe kabinnya dipamerkan secara megah di Balai Kota Bandung. Sayangnya, harapan tersebut pupus sebelum berkembang karena terbentur kerumitan regulasi terkait penggunaan ruang udara di atas properti warga, serta rendahnya minat investor akibat perhitungan Internal Rate of Return (IRR) yang dianggap tidak menguntungkan secara bisnis.

Nasib serupa juga menimpa Metro Kapsul pada tahun 2017, inovasi angkutan rel ringan karya anak bangsa yang sempat mencuri perhatian di Alun-alun Bandung. Meskipun digadang-gadang sebagai alternatif yang lebih ekonomis dan efisien, unit yang dipamerkan tersebut hanya berakhir sebagai pajangan tanpa pernah menyentuh tahap implementasi. Kabar kelanjutannya pun perlahan menghilang ditelan waktu, serupa dengan wacana Monorel yang sempat mencuat di awal 2010-an. Proyek monorel tersebut akhirnya tenggelam karena biaya pembangunan infrastruktur rel layang yang terlampau tinggi, melampaui kapasitas APBD yang dimiliki Kota Bandung.

Modernisasi transportasi di Bandung juga menghadapi resistensi dari sektor transportasi tradisional. Setiap ada penambahan moda baru seperti TMB atau TMP, begitu juga awal kemunculan ojek daring, terjadi demonstrasi dari pengemudi angkot yang merasa "lahannya" diambil. Pada 2022, terjadi aksi penolakan operasional Bus Trans Metro Pasundan di area Soreang-Leuwipanjang. Bahkan ada insiden di mana bus TMP diberhentikan paksa atau diintimidasi oleh oknum pengurus jalur angkot.

Kondisi ini berbeda dengan Jakarta, di mana angkot (mikrolet) berhasil ditransformasi menjadi Mikrotrans dalam sistem JakLingko dengan pengemudi yang digaji per kilometer. Di Bandung, transformasi serupa terkendala keterbatasan anggaran untuk menggaji ribuan pengemudi.

Meski demikian, ada secercah harapan. Pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan berencana memulai konstruksi fisik proyek BRT Bandung Raya pada 2026 dengan dukungan pendanaan dari Bank Dunia dan APBN.

Proyek ini akan menggunakan dedicated lane di jalan-jalan lebar dan mixed traffic di jalan sempit. Namun, implementasinya akan menghadapi tantangan baru yaitu penghapusan parkir di pinggir jalan yang diprediksi akan memicu konflik dengan juru parkir dan pedagang.

Pembangunan BRT Bandung Raya akan menjadi semacam tes dari warga untuk pemerintah, apakah pemerintah benar-benar serius dalam modernisasi transportasi umum atau hanya sekadar wacana seperti proyek-proyek sebelumnya.

Baca Juga: Hikayat Judi Rancaekek Zaman Kolonial, Warga Eropa dan Pribumi Kabur saat Digerebek Polisi

Data dan fakta di atas menunjukkan bahwa tingginya kepemilikan kendaraan pribadi di Bandung bukanlah semata-mata cerminan gaya hidup konsumtif, ini adalah respons rasional warga terhadap sistem transportasi publik yang belum memadai.

Dengan anggaran yang terbatas, armada bus yang minim, dan tantangan geografis serta sosial yang kompleks, warga Bandung tidak memiliki pilihan selain memilih kendaraan pribadi terutama sepeda motor untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari.

Solusi jangka panjang memerlukan komitmen fiskal yang besar, baik dari APBD maupun APBN, serta political will yang kuat. Tanpa intervensi serius, kesenjangan antara Jakarta dan Bandung dalam hal kualitas transportasi publik akan terus melebar. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)