Bandung saat akhir pekan rasanya sudah tidak lagi nyaman untuk sekadar jalan-jalan atau belanja santai. Mata kita hanya akan kenyang melihat antrean kendaraan yang macet parah di hampir semua jalan utama. Suara klakson yang berisik dan asap knalpot kini menggantikan udara sejuk yang dulu selalu kita cari.
Perjalanan yang harusnya cuma butuh beberapa menit, sekarang bisa molor jadi berjam-jam yang bikin emosi di jalan. Kemacetan ini sepertinya sudah jadi hal mingguan yang pasti terjadi setiap hari Sabtu dan Minggu. Baik warga asli maupun turis sama-sama dibuat lelah fisik dan pikiran gara-gara kondisi jalanan ini.
Situasi lalu lintas yang kacau ini bikin banyak orang bertanya-tanya dengan penuh rasa kesal. Apakah ini murni salah Pemkot yang lambat memperbaiki jalan raya yang memang sudah tua dan sempit? Atau jangan-jangan ada hal lain di luar kuasa pemerintah yang bikin macet ini makin ruwet?
Kita harus jujur mengakui kalau jalanan di Bandung memang sudah tidak muat menampung kendaraan. Orang yang beli motor dan mobil baru jauh lebih cepat nambahnya daripada pembangunan jalan baru. Pemerintah seperti kalah cepat, sementara serbuan kendaraan terus membanjiri kota ini setiap harinya tanpa henti.
Jujur saja, siapa sih warga Bandung yang sekarang bangga dan nyaman naik angkot? Selain hobi ngetem lama yang bikin tua di jalan, rute bus juga belum masuk sampai ke gang-gang perumahan. Jangan salahkan warga kalau mereka lebih betah duduk manis di mobil pribadi yang ber-AC daripada harus desak-desakan.
Tengok sedikit ke arah Dago atau jalan naik ke Lembang, isinya dominan mobil pelat B semua. Bandung seolah jadi "rumah kedua" warga ibu kota buat buang penat di akhir pekan. Sayangnya, jalanan Bandung yang sempit warisan Belanda ini dipaksa menelan volume kendaraan yang gila-gilaan, sampai akhirnya lumpuh tak bergerak.

Kelakuan pengendara yang mau menang sendiri juga ikut andil bikin jalanan makin semrawut dan macet. Masih banyak orang parkir seenaknya di bahu jalan sempit yang bikin jalan makin ciut. Rasa tidak sabaran dan kurangnya disiplin lalu lintas jadi bumbu pelengkap kemacetan parah di lapangan.
Kini, beban berat ada di pundak Walikota Bandung M. Farhan untuk membereskan masalah menahun ini. Warga Bandung menaruh harapan sangat tinggi pada kepemimpinan Walikota M. Farhan agar ada solusi yang benar-benar terasa. Orang nomor satu di Bandung ini ditunggu gebrakan beraninya untuk menyelamatkan wajah kota dari kemacetan.
Orang nomor 1 di Kota Bandung itu harus berani memprioritaskan perbaikan angkutan umum agar nyaman dan murah bagi semua kalangan. Tim kerja Walikota M. Farhan perlu merancang ulang rute angkutan agar nyambung satu sama lain dengan rapi. Tanpa angkutan umum yang layak, mustahil warga mau meninggalkan kunci motor atau mobil mereka di rumah.
Selain itu, mantan penyiar tersebut perlu memutar otak agar tempat wisata tidak tumplek di tengah kota saja. Beliau bisa mempromosikan wisata di pinggiran kota untuk memecah keramaian orang dan kendaraan. Cara ini bakal sangat membantu mengurangi beban jalan pusat kota yang sudah "lampu merah" kondisinya.
Warga juga menunggu ketegasan Pria yang akrab dipanggil Kang Farhan tersebut dalam menindak parkir liar yang makan badan jalan. Beliau harus tegas menyuruh petugasnya untuk menertibkan mobil atau motor yang parkir sembarangan. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu agar jalan raya kembali berfungsi untuk lewat, bukan untuk parkir.
Mungkin, Pria kelahiran Bogor, 25 Febuari 1970 itu perlu memikirkan aturan "pahit" seperti ganjil-genap yang lebih ketat atau pembatasan mobil. Keberanian Walikota M. Farhan benar-benar diuji untuk mengambil keputusan sulit demi kebaikan kota jangka panjang. Meski mungkin diprotes di awal, langkah ini perlu diambil demi menyelamatkan nafas lalu lintas Bandung.
Sebagai Walikota juga, Kang Farhan tidak boleh bosan mengajak warganya untuk mengubah kebiasaan bertransportasi sehari-hari. Beliau bisa memberi contoh untuk jalan kaki atau bersepeda jika jarak tujuannya dekat. Jika pemimpinnya memberi contoh nyata, warga pasti akan lebih mudah tergerak untuk ikut berubah.
Kita semua tentu ingin melihat Pemerintahan Farhan sukses membawa perubahan nyata di jalanan kota ini. Macet bukan takdir, tapi PR besar yang harus diselesaikan Walikota Bandung bareng sama warganya. Ayo kita dukung terus usaha Kang Farhan biar Bandung bisa nyaman lagi buat ditinggali. (*)
