Bandung 'Lautan Kendaraan': Salah Pemkot atau Memang Takdir Kota Wisata?

Iwan Fauzi
Ditulis oleh Iwan Fauzi diterbitkan Minggu 28 Des 2025, 15:57 WIB
Kemacetan di jalan Soekarno Hatta. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Iwan Fauzi))

Kemacetan di jalan Soekarno Hatta. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Iwan Fauzi))

Bandung saat akhir pekan rasanya sudah tidak lagi nyaman untuk sekadar jalan-jalan atau belanja santai. Mata kita hanya akan kenyang melihat antrean kendaraan yang macet parah di hampir semua jalan utama. Suara klakson yang berisik dan asap knalpot kini menggantikan udara sejuk yang dulu selalu kita cari.

Perjalanan yang harusnya cuma butuh beberapa menit, sekarang bisa molor jadi berjam-jam yang bikin emosi di jalan. Kemacetan ini sepertinya sudah jadi hal mingguan yang pasti terjadi setiap hari Sabtu dan Minggu. Baik warga asli maupun turis sama-sama dibuat lelah fisik dan pikiran gara-gara kondisi jalanan ini.

Situasi lalu lintas yang kacau ini bikin banyak orang bertanya-tanya dengan penuh rasa kesal. Apakah ini murni salah Pemkot yang lambat memperbaiki jalan raya yang memang sudah tua dan sempit? Atau jangan-jangan ada hal lain di luar kuasa pemerintah yang bikin macet ini makin ruwet?

Kita harus jujur mengakui kalau jalanan di Bandung memang sudah tidak muat menampung kendaraan. Orang yang beli motor dan mobil baru jauh lebih cepat nambahnya daripada pembangunan jalan baru. Pemerintah seperti kalah cepat, sementara serbuan kendaraan terus membanjiri kota ini setiap harinya tanpa henti.

Jujur saja, siapa sih warga Bandung yang sekarang bangga dan nyaman naik angkot? Selain hobi ngetem lama yang bikin tua di jalan, rute bus juga belum masuk sampai ke gang-gang perumahan. Jangan salahkan warga kalau mereka lebih betah duduk manis di mobil pribadi yang ber-AC daripada harus desak-desakan.

Tengok sedikit ke arah Dago atau jalan naik ke Lembang, isinya dominan mobil pelat B semua. Bandung seolah jadi "rumah kedua" warga ibu kota buat buang penat di akhir pekan. Sayangnya, jalanan Bandung yang sempit warisan Belanda ini dipaksa menelan volume kendaraan yang gila-gilaan, sampai akhirnya lumpuh tak bergerak.

Kemacetan di jalan Buah Batu pada Weekend yang didominasi kendaraan luar Kota Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Iwan Fauzi)
Kemacetan di jalan Buah Batu pada Weekend yang didominasi kendaraan luar Kota Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Iwan Fauzi)


Kelakuan pengendara yang mau menang sendiri juga ikut andil bikin jalanan makin semrawut dan macet. Masih banyak orang parkir seenaknya di bahu jalan sempit yang bikin jalan makin ciut. Rasa tidak sabaran dan kurangnya disiplin lalu lintas jadi bumbu pelengkap kemacetan parah di lapangan.

Kini, beban berat ada di pundak Walikota Bandung M. Farhan untuk membereskan masalah menahun ini. Warga Bandung menaruh harapan sangat tinggi pada kepemimpinan Walikota M. Farhan agar ada solusi yang benar-benar terasa. Orang nomor satu di Bandung ini ditunggu gebrakan beraninya untuk menyelamatkan wajah kota dari kemacetan.


Orang nomor 1 di Kota Bandung itu harus berani memprioritaskan perbaikan angkutan umum agar nyaman dan murah bagi semua kalangan. Tim kerja Walikota M. Farhan perlu merancang ulang rute angkutan agar nyambung satu sama lain dengan rapi. Tanpa angkutan umum yang layak, mustahil warga mau meninggalkan kunci motor atau mobil mereka di rumah.

Selain itu, mantan penyiar tersebut perlu memutar otak agar tempat wisata tidak tumplek di tengah kota saja. Beliau bisa mempromosikan wisata di pinggiran kota untuk memecah keramaian orang dan kendaraan. Cara ini bakal sangat membantu mengurangi beban jalan pusat kota yang sudah "lampu merah" kondisinya.

Warga juga menunggu ketegasan Pria yang akrab dipanggil Kang Farhan tersebut dalam menindak parkir liar yang makan badan jalan. Beliau harus tegas menyuruh petugasnya untuk menertibkan mobil atau motor yang parkir sembarangan. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu agar jalan raya kembali berfungsi untuk lewat, bukan untuk parkir.

Mungkin, Pria kelahiran Bogor, 25 Febuari 1970 itu perlu memikirkan aturan "pahit" seperti ganjil-genap yang lebih ketat atau pembatasan mobil. Keberanian Walikota M. Farhan benar-benar diuji untuk mengambil keputusan sulit demi kebaikan kota jangka panjang. Meski mungkin diprotes di awal, langkah ini perlu diambil demi menyelamatkan nafas lalu lintas Bandung.

Sebagai Walikota juga, Kang Farhan tidak boleh bosan mengajak warganya untuk mengubah kebiasaan bertransportasi sehari-hari. Beliau bisa memberi contoh untuk jalan kaki atau bersepeda jika jarak tujuannya dekat. Jika pemimpinnya memberi contoh nyata, warga pasti akan lebih mudah tergerak untuk ikut berubah.

Kita semua tentu ingin melihat Pemerintahan Farhan sukses membawa perubahan nyata di jalanan kota ini. Macet bukan takdir, tapi PR besar yang harus diselesaikan Walikota Bandung bareng sama warganya. Ayo kita dukung terus usaha Kang Farhan biar Bandung bisa nyaman lagi buat ditinggali. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Iwan Fauzi
Tentang Iwan Fauzi
Digital Public Relation Student at Telkom University and Head of Digital Strategy & Development at DIG Indonesia

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Jan 2026, 13:38 WIB

Gali Potensi, Raih Prestasi

Pengalaman LDKB menjadi bekal berharga bagi kita untuk terus menggali potensi diri, memperbaiki diri, meraih prestasi
Sejumlah siswa SD Cirendeu saat bermain permainan tradisional. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Jan 2026, 11:05 WIB

Interior Bus Listrik Metro sebagai Pengalaman Ruang Bergerak di Kota Bandung

Transportasi publik dalam konteks ini, dipahami sebagai ruang interior bergerak yang dialami secara nyata oleh pengguna/penumpang.
Bus listrik metro. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Biz 24 Jan 2026, 21:30 WIB

Menyelami Dinamika Properti Indonesia: Antara Regulasi, Pasar, dan Integritas Developer

Industri properti kini bukan lagi sekadar urusan semen dan baja, melainkan pertarungan kecerdasan dalam menafsirkan naskah regulasi yang terus berganti.
Industri properti kini bukan lagi sekadar urusan semen dan baja, melainkan pertarungan kecerdasan dalam menafsirkan naskah regulasi yang terus berganti. (Sumber: Freepik)
Beranda 24 Jan 2026, 09:15 WIB

Memaknai Filosofi Warna Wayang Golek sebagai Cermin Karakter dan Arti Kehidupan

Tak hanya posisi mahkota, warna pada wajah wayang juga menjadi kunci untuk memahami filosofi karakter.
Tatang Ruhiana dan koleksi wayan goleknya yang dijual di galeri Alan Ruchiat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 22:10 WIB

Normalisasi Sungai Mandiri: Kepemimpinan RT/RW Menjawab Tantangan Banjir

Kabupaten Bandung termasuk wilayah yang hampir setiap musim penghujan mengalami banjir di sejumlah titik.
Ketua RT 02 dan warga membersihkan tumbuhan liar dan semak semak di aliran sungai. (Foto: Jumali indrayanto)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 20:43 WIB

Kualitas Perjalanan Warga Bandung Menurun, Evaluasi Infrastruktur Transportasi Mengemuka

Kemacetan di Bandung membuat perjalanan harian warga lebih lama, menurunkan produktivitas, dan menurunkan kenyamanan mobilitas. Perlu pengaturan lalu-lintas lebih baik.
Pengendara terjebak macet di Buah Batu Ketika hujan turun, Senin (01/12/2025). (Foto: Nabila Khairunnisa P)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 19:47 WIB

Lisa Blackpink di Bandung Barat: Antara Gengsi Global dan Ujian Tatakrama Kita

Lisa Blackpink syuting di Bandung Barat? Intip alasan Netflix memilih Citatah dan bagaimana warga menyikapi bocornya lokasi syuting tersebut.
Salah satu tebing karst yang terus dijaga bersama adalah Tebing Citatah 125 karena di sinilah sejarah panjat tebing Indonesia bermula. (Sumber: Eiger)
Ayo Biz 23 Jan 2026, 17:24 WIB

Industri Sepak Bola Putri Indonesia Sedang Bertumbuh di Tengah Kekosongan Liga Resmi

Dari Bandung, Tangerang hingga Samarinda, gairah sepak bola putri tumbuh dengan cepat, menghadirkan pemandangan baru yang beberapa tahun lalu masih jarang terlihat.
Dari Bandung, Tangerang hingga Samarinda, gairah sepak bola putri tumbuh dengan cepat, menghadirkan pemandangan baru yang beberapa tahun lalu masih jarang terlihat. (Sumber: MilkLife Soccer Challenge)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 16:58 WIB

Menata Ulang Wajah Transportasi Bandung

Lalu lintas Bandung yang terbilang sangat padat telah menjadi masalah bagi warga sejak tahun 2024.
Kemacetan Bandung Pada malam hari (21.52 WIB) di Jln. Terusan Buah Batu. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Muhammad Airell Fairuzia)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 16:24 WIB

Kota Wisata dengan Beban Mobilitas Tinggi: Tantangan Tata Transportasi Bandung

Pemerintah sudah mencoba menerapkan berbagai cara untuk mengatasi permasalahan kemacetan, namun masih tak kunjung menemukan solusi yang tepat.
Kemacetan arus lalu lintas di ruas jalan Buah Batu, Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, menjadi pemandangan sehari hari bagi warga yang melintas (03/12/2025). (Sumber: Ramadhan Dwiadya Nugraha)
Ayo Biz 23 Jan 2026, 15:58 WIB

Menjaga Pertumbuhan di Tengah Krisis Fiskal: Strategi Obligasi dan Sukuk Jawa Barat

Ekonomi Jawa Barat pada Triwulan II 2025 tumbuh solid sebesar 5,23% year-on-year. Namun, di balik angka yang tampak menjanjikan itu, terdapat bayangan tantangan fiskal yang semakin nyata.
Ilustrasi obligasi dan sukuk daerah memperluas inklusi keuangan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 15:01 WIB

Ketika Mobilitas Tersendat, Kepercayaan Publik Ikut Tergerus

Kemacetan yang terus menerus terjadi membuat masyarakat Bandung semakin resah.
Pengendara mobil dan motor yang menunggu macet di malam hari (02/11/2025). (Foto: Sherina Khairunisa)
Ayo Jelajah 23 Jan 2026, 14:03 WIB

Kisah Para Warga Bandung yang Terjerat Tipu Daya Judi Online Kamboja

Judi online jaringan Kamboja menjalar hingga Bandung lewat iklan kerja digital. Anak muda direkrut sebagai operator dari rumah kontrakan atau luar negeri dengan janji gaji bulanan yang terlihat wajar.
Ilustrasi judi Kamboja.
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 13:38 WIB

Dana Indonesiana Tertunda, Pelestari Budaya Ngada Alami Tekanan Mental

Dana Indonesiana belum cair, program budaya Ngada tertunda, pelakunya menghadapi tekanan sosial dan mental di kampungnya sendiri.
Desa Adat Bena. (Sumber: Arsip pribadi narasumber)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 12:08 WIB

Catatan Awal Tahun dari Wargi Bandung

Januari 2026 tiba, udara Bandung terasa berbeda.
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di dekat Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 10:07 WIB

Semestinya Kita Berefleksi dari Bencana Sumatra

Peristiwa ini bukan sekadar kabar duka dari satu wilayah, melainkan cermin rapuhnya kesiapsiagaan kita menghadapi bencana yang berulang.
Sisa banjir di Sumatra Barat pada awal Desember 2025. (Sumber: pkp.go.id)
Beranda 23 Jan 2026, 06:49 WIB

Konsistensi infoantapani Menyapa Warga Antapani Selama 12 Tahun, Bukan Cuma Urusan Algoritma dan Engagement

Akun ini tidak ingin dipandang sebagai media yang semata-mata mengutamakan kecepatan, namun juga tidak memilih gaya bahasa yang saklek, kaku, atau terlalu formal.
Owner dan founder @infoantapani, Venda Setya Nugraha. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 06:33 WIB

Bunderan Cibiru dan Tumpukan Kendaraan

Bunderan Cibiru menjadi salah satu titik macet yang ada di Bandung.
Macet menjelang Malam Natal dan Tahun Baru. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 22 Jan 2026, 21:00 WIB

Hanya 'Keajaiban' yang Bisa Menuntaskan Masalah Kemacetan di Kota Bandung

Macetnya Kota Bandung kerap menjadi sorotan, bagaimana cara mengatasinya?
Padatnya Kota Bandung pada sore hari, Rabu (3/12/2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Venecia Fiantika)
Ayo Biz 22 Jan 2026, 18:39 WIB

Industri Belajar Bernapas Hijau: Ketika Sustainability Jadi Nafas Baru

Dengan mengintegrasikan prinsip keberlanjutan, industri dapat menekan dampak negatif melalui efisiensi energi, pengelolaan limbah, dan pemanfaatan bahan baku ramah lingkungan.
Dengan mengintegrasikan prinsip keberlanjutan, industri dapat menekan dampak negatif melalui efisiensi energi, pengelolaan limbah, dan pemanfaatan bahan baku ramah lingkungan. (Sumber: Freepik)