Menata Parkir Braga, Menata Masa Depan Pariwisata Bandung

3 menit baca
Muhammad Naufal
Ditulis oleh Muhammad Naufal diterbitkan
Suasana Braga yang selalu ramai, tapi parkir pinggir jalan masih jadi pemandangan sehari-hari. (Foto: Muhammad Naufal)
Suasana Braga yang selalu ramai, tapi parkir pinggir jalan masih jadi pemandangan sehari-hari. (Foto: Muhammad Naufal)

Braga adalah salah satu tujuan wisata populer di kota Bandung. Namun, dibalik citranya sebagai kawasan wisata, Braga terus berjuang dengan masalah lama yang sama yaitu parkir di pinggir jalan maupun trotoar yang tidak teratur. Masalah parkir di Braga telah terdokumentasikan sejak 1953.

Situasi ini terasa semakin ramai saat jumlah pengunjung meningkat. Pada kasus ini dapat dibuktikan bahwa pengunjung terpaksa mencari tempat parkir yang mudah diakses dan dijangkau.

Selain memicu kemacetan, parkir liar juga mengganggu aktivitas pejalan kaki yang berjalan di trotoar pada kenyataannya menjadi tempat mobilisasi bagi pejalan kaki. Esensi kawasan heritage seperti Braga adalah mengutamakan pedestrian sebagai pusat perbelanjaan, namun kenyataan di lapangan menunjukkan di samping trotoar masih ada beberapa kendaraan yang parkir sembarangan . Kondisi ini dapat merugikan pengunjung, menurunkan kualitas kunjungan, serta mengurangi daya tarik kawasan secara keseluruhan.

Orang-orang pasti lebih memilih tempat parkir yang aman dan resmi jika jumlahnya cukup . Namun kenyataannya, banyak wisatawan kesulitan menemukan tempat parkir resmi di sekitar Braga. Karena kapasitasnya yang terbatas,atau jarak yang dianggap jauh, pada akhirnya pengunjung lebih memilih untuk parkir di pinggir jalan.

Hal ini sudah dinormalisasikan masyarakat dalam memarkir kendaraan juga mempengaruhi situasi ini. Banyak yang merasa kalau parkir di pinggir jalan hal yang wajar dan tidak merugikan mobilisasi pejalan kaki.

Kebutuhan yang paling mendesak, menurut saya, adalah pembangunan fasilitas parkir vertikal di dekat Braga. Jalan keluar terbaik adalah solusi gedung parkir bertingkat karena tidak banyak area horizontal yang tersedia. Lahan parkir di badan jalan dapat digantikan oleh puluhan atau ratusan lahan hanya dengan satu struktur.

Selain itu, kolaborasi dengan sektor komersial perlu diterapkan. Ada beberapa hotel, restoran, dan tempat kerja memiliki lahan parkir yang luas hanya digunakan oleh staf maupun pengunjung. Kapasitas parkir dapat ditingkatkan tanpa pembangunan baru jika Walikota menyetujui dalam membangun kemitraan parkir.

Digitalisasi saat ini juga perlu diterapkan di era modern sekarang. Jika diberlakukan dapat memudahkan akses parkir pengunjung yang mau ke braga selain itu mayoritas pengunjung juga menggunakan pembayaran sistem digital. Contoh dari digitalisasi yang mengikuti era saat ini yaitu sistem reservasi parkir lewat aplikasi dan pembayaran lewat non-tunai berupa Qris, hal ini dapat memudahkan pengunjung.

Di sisi lain , edukasi kepada masyarakat juga penting . Karena mereka percaya bahwa parkir di pinggir jalan lebih dekat dan cepat, banyak pengemudi terbiasa parkir di pinggir jalan. Namun perilaku ini harus diubah melalui himbauan, papan informasi, dan pemantauan rutin oleh Satpol PP dan Dishub.

Saya melihat bahwa penertiban sesekali tidak cukup efektif dalam menyelesaikan masalah yang sudah bertahun-tahun terjadi. Hal ini perlu diadakan pengawasan secara rutin dan konsisten agar masyarakat memahami bahwa parkir pinggir jalan dan trotoar dapat menghambat mobilitas pengunjung.

Baca Juga: Membaca Ulang Pasar Travel Bandung–Jakarta, Antara Mobilitas Tinggi dan Strategi Layanan Premium

Saya pikir Braga dapat kembali menjadi wisata yang tertata rapi dan menyenangkan jika Walikota Bandung menyediakan tempat parkir yang memadai, sistem digital terkini, dan pengawasan secara rutin. Citra yang ditampilkan Bandung kepada wisatawan dipengaruhi oleh kelengkapan fasilitas, karena komponen penting yang memengaruhi citra kota maupun kenyamanan wisatawan.

Solusi jangka panjang menurut saya paling rasional adalah pembangunan gedung parkir bertingkat di kawasan sekitar Braga. Dengan adanya fasilitas ini dapat mengurangi ketergantungan pengunjung terhadap parkir pinggir jalan. Selain itu, kapasitasnya lebih banyak dibandingkan parkir pinggir jalan.

Saran tambahan dari saya untuk Bapak M.Farhan sebagai pemimpin warga bandung, saya menyarankan orang nomor satu Bandung untuk memprioritaskan pembangunan gedung parkir bertingkat di kawasan Braga, meningkatkan kerjasama parkir dengan sektor swasta, mengoptimalkan layanan parkir. Langkah-langkah ini menjadi investasi jangka panjang untuk salah satu ikon bandung atau braga agar mengurangi kemacetan, parkir pinggir jalan, dan menyalahgunakan trotoar. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)