Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Jumat 26 Des 2025, 11:33 WIB
Jalan Braga zaman baheula. (Sumber: KITLV)

Jalan Braga zaman baheula. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Jalan Braga sering diperlakukan seperti kartu pos. Ia difoto, dipoles, dikenang, lalu dijual sebagai nostalgia. Padahal, kalau ditelusuri dengan sedikit niat membongkar, Braga tidak lahir dari romantisme, apalagi estetika. Ia tumbuh dari kebutuhan yang jauh lebih dingin dan praktis: keamanan, uang, dan kepentingan orang Eropa di tanah koloni. Kongkow, kopi, dan obrolan santai baru datang belakangan, setelah fondasi kekuasaan ekonomi dan rasa aman tertanam kuat. Bahkan, penanda awal modernisasi Braga justru berupa toko senapan.

Untuk memahami Braga, waktu perlu ditarik mundur ke akhir abad ke-19, ketika Bandung belum pantas disebut kota. Ia lebih sering disebut bergdessa, desa pegunungan. Udara sejuk memang jadi nilai jual, tetapi secara sosial dan ekonomi, Bandung masih berjalan lambat. Penduduk Eropa hanya ratusan orang. Namun situasi itu berubah drastis memasuki abad ke-20. Hindia Belanda memasuki fase pembangunan agresif yang oleh sezamannya disebut revolutiebouw. Teknologi transportasi membaik, ekonomi diliberalisasi, dan arus migrasi orang Eropa meningkat tajam.

Jumlahnya tidak kecil. Dalam kurun sekitar 1900–1925, jumlah penduduk Bandung melonjak hingga 325%. Bandingkan dengan Batavia yang “hanya” 130%, atau Surabaya 80%. Bandung tumbuh bukan perlahan, tapi meledak. Ledakan penduduk ini bukan semata urusan statistik, melainkan perubahan wajah kota. Orang-orang Eropa yang datang membawa serta selera, kebiasaan, dan bayangan tentang kota ideal. Kota harus terang, tertata, bersih, punya taman, bank, tempat hiburan, dan ruang pergaulan yang memisahkan mereka dari hiruk-pikuk bumiputra.

Baca Juga: Hikayat Jejak Kopi Jawa di Balik Bahasa Pemrograman Java

Dalam konteks itulah Bragaweg mulai memainkan peran, sebagaimana tercatat dalam risalah Peneliti Sejarah BRIN, Hary Ganjar Budiman yang terbit di Jurnal Patanjala (2017). Letaknya strategis, dekat Jalan Raya Pos dan tak jauh dari stasiun kereta api yang dibuka pada 1884. Jalur kereta Cianjur–Bandung bukan sekadar sarana transportasi, melainkan mesin perubahan sosial. Ia mempercepat mobilitas orang Eropa, barang, dan modal. Area di sekitarnya, termasuk Braga, otomatis ikut terdorong menjadi ruang hidup ala Eropa.

Tetapi menariknya, modernisasi Braga tidak diawali oleh restoran atau butik mode. Tahun 1894, seorang pengusaha bernama C.A. Hellermann mendirikan N.V. Hellermann, toko penjual senjata dan amunisi. Ini adalah salah satu toko paling awal di Bragaweg. Fakta ini penting, karena menunjukkan bahwa kebutuhan pertama orang Eropa di Bandung bukan hiburan, melainkan rasa aman. Senjata menjadi simbol kehadiran kekuasaan, sekaligus penegasan bahwa ruang kota ini dibangun untuk kepentingan mereka.

Setelah toko senapan berdiri, Braga perlahan berubah fungsi. Kehidupan sosial elit Eropa mulai mencari wadah, dan Societeit Concordia menjawabnya. Perkumpulan ini menjadi pusat pergaulan kelas atas. Di sinilah para pejabat kolonial, pengusaha perkebunan, dan tokoh masyarakat Eropa berkumpul, bertukar kabar, membangun jaringan, dan tentu saja menikmati waktu luang. Kehadiran Concordia menandai pergeseran Braga dari ruang utilitarian menjadi ruang sosial.

Baca Juga: Hikayat Jalan Braga yang Konon Pernah Dijuluki Jalan Culik

Prasasti Toko N.V. Hellermann. (Sumber: Facebook Rita Kusriastuti)
Prasasti Toko N.V. Hellermann. (Sumber: Facebook Rita Kusriastuti)

Perubahan itu berjalan seiring dengan menguatnya fungsi ekonomi Braga. Bank-bank mulai berdiri. Bank Escompto hadir pada 1900, disusul De Javasche Bank dan kemudian DENIS. Braga menjadi tempat uang berputar. Ungkapan “naar beneden geld halen!”—turun ke bawah untuk mengambil uang—menggambarkan rutinitas para planter yang tinggal di dataran tinggi Bandung. Rumah mereka boleh jauh, tapi uang mereka ada di Braga. Jalan ini menjadi magnet ekonomi.

Dari bank, efek domino pun terjadi. Toko-toko kebutuhan primer bermunculan. Salah satunya Toko De Vries, yang menjual hampir segala keperluan sehari-hari orang Eropa. Dari makanan, minuman, peralatan dapur, hingga obat-obatan. Namun seperti lazimnya perkembangan kota, fase ini tidak bertahan lama. Spesialisasi datang. Toko obat Rathkamp berdiri, toko rokok Dunlop membuka lapak, disusul toko perhiasan, arloji, dan alat musik. Braga bergerak dari kebutuhan dasar menuju gaya hidup.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Perubahan fisik kota ikut mengiringi. Awal 1900-an, Bragaweg diperbaiki. Jalan diaspal, trotoar dirapikan, lampu penerangan dipasang, pohon peneduh ditanam. Braga tidak lagi sekadar bisa dilewati, tapi nyaman untuk disusuri. Mutu jalan yang membaik memungkinkan mobil mulai digunakan. Kantor akuntan berdiri, klub otomotif muncul di koran. Mobil bukan lagi barang eksotis, melainkan bagian dari lanskap kota.

Ketika Bandung ditetapkan sebagai gemeente pada 1906, Braga semakin dikukuhkan sebagai kawasan elit. Kebijakan penataan kota berada di tangan segelintir orang Eropa: pejabat kolonial dan preangerplanter. Dalam konteks ini, Braga diposisikan sebagai wajah kota. Apa yang tampak di Braga dianggap mewakili citra Bandung. Maka tak heran jika perhatian terhadap kawasan ini begitu besar.

Memasuki 1910-an, Braga makin ramai. Restoran dibuka, pasar bunga muncul menggantikan gudang garam yang terbakar, toko busana mulai menjual mode dari Amsterdam. Meskipun begitu, suasana Braga masih relatif asri. Pekarangan toko luas, pepohonan rimbun, dan ritme kota belum sepadat dekade berikutnya. Namun fondasi sudah kokoh. Tinggal menunggu momentum.

Momentum itu datang pada 1920-an, ketika wali kota Bandung, B. Coops, menetapkan kebijakan yang kelak sangat menentukan wajah Braga. Ia mengatur bahwa semua bangunan di Bragaweg harus bergaya arsitektur Eropa. Kebijakan ini bukan sekadar soal selera pribadi, tetapi strategi membangun citra kota kolonial modern. Konon, Coops terinspirasi oleh pertokoan Paris yang ia saksikan lewat film. Braga harus menjadi etalase Eropa di Priangan.

Baca Juga: Sejarah Gelap KAA Bandung, Konspirasi CIA Bunuh Zhou Enlai via Bom Kashmir Princess

Hasilnya terlihat jelas. Pada dekade ini, Braga dipenuhi bangunan art deco dan Indis. Toko busana seperti Kellers Kleiding Modemagazijn berdiri, salon kecantikan dibuka, studio foto bermunculan, restoran elite seperti Maison Bogerijen menjadi tempat favorit pejabat tinggi kolonial. Braga tidak lagi sekadar pusat belanja, melainkan ruang pamer status sosial.

Di sinilah fungsi kongkow Braga mencapai bentuk paling utuh. Kongkow bukan sekadar duduk santai, melainkan praktik sosial. Orang Eropa datang untuk melihat dan dilihat. Untuk makan, menonton film di bioskop Concordia, membaca buku di Toko Van Dorp, atau sekadar berjalan di trotoar yang rapi. Braga menjadi ruang di mana identitas Eropa dipertahankan di tengah iklim tropis.

Setelah memasuki 1930-an, Braga sudah hampir lengkap. Bank DENIS berdiri megah dengan gaya art deco rancangan A.F. Aalbers. Perusahaan gas dan minyak membuka kantor. Showroom mobil menjual Harley Davidson, Peugeot, dan Renault. Pom bensin berdiri di ujung jalan. Braga menjadi simpul ekonomi, budaya, dan teknologi. Dari sisi perencanaan kota, kawasan ini masuk dalam skema besar yang menghubungkannya dengan jalan-jalan lain, meski harus mengorbankan kampung-kampung bumiputra.

Dalam pada itu, Bragaweg di Bandung menjadi pusat kehidupan elit Eropa yang merepresentasikan modernitas bergaya Paris. Julukan Parijs van Java lahir dari kuatnya hubungan kultural dengan Eropa, terutama Paris, yang tercermin dalam arsitektur, penamaan toko, mode busana, hingga gaya hidup. Toko-toko di Bragaweg cepat mengadopsi tren Paris, didukung iklan koran, etalase mewah, serta kemajuan teknologi seperti listrik, telepon, dan jalan beraspal.

Baca Juga: Sejarah Julukan Bandung Parijs van Java, dari Sindiran Jadi Kebanggaan

Bragaweg juga menjadi ruang sosial elit Eropa melalui hiburan, restoran, bioskop, dan pusat budaya seperti Societeit Concordia, tempat pesta dansa, konser, teater, dan pergaulan kelas atas berlangsung. Namun, ruang ini bersifat eksklusif dan menegaskan batas kelas serta ras, dengan kaum bumiputra berada di pinggiran. Memasuki akhir kekuasaan Hindia Belanda dan masa revolusi (1945–1949), kegemerlapan Bragaweg meredup. Aktivitas militer, perubahan kepemilikan toko, serta konflik kemerdekaan menggeser fungsi kawasan ini, menandai berakhirnya dominasi gaya hidup elit Eropa di Bragaweg sebelum kemudian dibangkitkan kembali lewat citra pariwisata Bandung zaman kiwari.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

News Update

Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)
Beranda 09 Jan 2026, 11:20 WIB

PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:27 WIB

Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia

Suasana akrab dan inspiratif menyelimuti acara "Weekend Retreat" yang diselenggarakan oleh Bright Scholarship Regional Bandung.
Membangun Visi dan Networking: Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung Bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:01 WIB

Optimalisasi Keterampilan Pemrograman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya?
Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya? (Sumber: Pexels | Foto: hitesh choudhary)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 07:53 WIB

Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Kesadaran toleransi sedang ramai digaungkan, namun terkadang hanya dirasakan oleh penganut agama resmi versi pemerintah.
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:16 WIB

Kenapa Stoikisme Lebih Ampuh daripada Terjerat Pinjol? Seni Menghadapi Quarter Life Crisis

Jangan sampai salah langkah demi gengsi! Kenali cara hadapi Quarter Life Crisis dengan Stoikisme agar terhindar dari jeratan Pinjol.
Ilustrasi perasaan tersesat dan lelah mental saat menghadapi Quarter Life Crisis. (Sumber: unplash | Foto: Mehran Biabani)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 19:19 WIB

Kota Bandung dan Krisis Sampah

Kota Bandung kembali berada dalam sorotan publik akibat persoalan sampah yang tak kunjung teratasi.
Gunung"sampah di daerah warga jl. buanasari II no.1 , Kota Bandung pada Selasa, 2 Desember 2025. (Foto:Muhammad Fiqri A.)