Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Jalan Braga zaman baheula. (Sumber: KITLV)
Jalan Braga zaman baheula. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Jalan Braga sering diperlakukan seperti kartu pos. Ia difoto, dipoles, dikenang, lalu dijual sebagai nostalgia. Padahal, kalau ditelusuri dengan sedikit niat membongkar, Braga tidak lahir dari romantisme, apalagi estetika. Ia tumbuh dari kebutuhan yang jauh lebih dingin dan praktis: keamanan, uang, dan kepentingan orang Eropa di tanah koloni. Kongkow, kopi, dan obrolan santai baru datang belakangan, setelah fondasi kekuasaan ekonomi dan rasa aman tertanam kuat. Bahkan, penanda awal modernisasi Braga justru berupa toko senapan.

Untuk memahami Braga, waktu perlu ditarik mundur ke akhir abad ke-19, ketika Bandung belum pantas disebut kota. Ia lebih sering disebut bergdessa, desa pegunungan. Udara sejuk memang jadi nilai jual, tetapi secara sosial dan ekonomi, Bandung masih berjalan lambat. Penduduk Eropa hanya ratusan orang. Namun situasi itu berubah drastis memasuki abad ke-20. Hindia Belanda memasuki fase pembangunan agresif yang oleh sezamannya disebut revolutiebouw. Teknologi transportasi membaik, ekonomi diliberalisasi, dan arus migrasi orang Eropa meningkat tajam.

Jumlahnya tidak kecil. Dalam kurun sekitar 1900–1925, jumlah penduduk Bandung melonjak hingga 325%. Bandingkan dengan Batavia yang “hanya” 130%, atau Surabaya 80%. Bandung tumbuh bukan perlahan, tapi meledak. Ledakan penduduk ini bukan semata urusan statistik, melainkan perubahan wajah kota. Orang-orang Eropa yang datang membawa serta selera, kebiasaan, dan bayangan tentang kota ideal. Kota harus terang, tertata, bersih, punya taman, bank, tempat hiburan, dan ruang pergaulan yang memisahkan mereka dari hiruk-pikuk bumiputra.

Baca Juga: Hikayat Jejak Kopi Jawa di Balik Bahasa Pemrograman Java

Dalam konteks itulah Bragaweg mulai memainkan peran, sebagaimana tercatat dalam risalah Peneliti Sejarah BRIN, Hary Ganjar Budiman yang terbit di Jurnal Patanjala (2017). Letaknya strategis, dekat Jalan Raya Pos dan tak jauh dari stasiun kereta api yang dibuka pada 1884. Jalur kereta Cianjur–Bandung bukan sekadar sarana transportasi, melainkan mesin perubahan sosial. Ia mempercepat mobilitas orang Eropa, barang, dan modal. Area di sekitarnya, termasuk Braga, otomatis ikut terdorong menjadi ruang hidup ala Eropa.

Tetapi menariknya, modernisasi Braga tidak diawali oleh restoran atau butik mode. Tahun 1894, seorang pengusaha bernama C.A. Hellermann mendirikan N.V. Hellermann, toko penjual senjata dan amunisi. Ini adalah salah satu toko paling awal di Bragaweg. Fakta ini penting, karena menunjukkan bahwa kebutuhan pertama orang Eropa di Bandung bukan hiburan, melainkan rasa aman. Senjata menjadi simbol kehadiran kekuasaan, sekaligus penegasan bahwa ruang kota ini dibangun untuk kepentingan mereka.

Setelah toko senapan berdiri, Braga perlahan berubah fungsi. Kehidupan sosial elit Eropa mulai mencari wadah, dan Societeit Concordia menjawabnya. Perkumpulan ini menjadi pusat pergaulan kelas atas. Di sinilah para pejabat kolonial, pengusaha perkebunan, dan tokoh masyarakat Eropa berkumpul, bertukar kabar, membangun jaringan, dan tentu saja menikmati waktu luang. Kehadiran Concordia menandai pergeseran Braga dari ruang utilitarian menjadi ruang sosial.

Baca Juga: Hikayat Jalan Braga yang Konon Pernah Dijuluki Jalan Culik

Prasasti Toko N.V. Hellermann. (Sumber: Facebook Rita Kusriastuti)
Prasasti Toko N.V. Hellermann. (Sumber: Facebook Rita Kusriastuti)

Perubahan itu berjalan seiring dengan menguatnya fungsi ekonomi Braga. Bank-bank mulai berdiri. Bank Escompto hadir pada 1900, disusul De Javasche Bank dan kemudian DENIS. Braga menjadi tempat uang berputar. Ungkapan “naar beneden geld halen!”—turun ke bawah untuk mengambil uang—menggambarkan rutinitas para planter yang tinggal di dataran tinggi Bandung. Rumah mereka boleh jauh, tapi uang mereka ada di Braga. Jalan ini menjadi magnet ekonomi.

Dari bank, efek domino pun terjadi. Toko-toko kebutuhan primer bermunculan. Salah satunya Toko De Vries, yang menjual hampir segala keperluan sehari-hari orang Eropa. Dari makanan, minuman, peralatan dapur, hingga obat-obatan. Namun seperti lazimnya perkembangan kota, fase ini tidak bertahan lama. Spesialisasi datang. Toko obat Rathkamp berdiri, toko rokok Dunlop membuka lapak, disusul toko perhiasan, arloji, dan alat musik. Braga bergerak dari kebutuhan dasar menuju gaya hidup.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Perubahan fisik kota ikut mengiringi. Awal 1900-an, Bragaweg diperbaiki. Jalan diaspal, trotoar dirapikan, lampu penerangan dipasang, pohon peneduh ditanam. Braga tidak lagi sekadar bisa dilewati, tapi nyaman untuk disusuri. Mutu jalan yang membaik memungkinkan mobil mulai digunakan. Kantor akuntan berdiri, klub otomotif muncul di koran. Mobil bukan lagi barang eksotis, melainkan bagian dari lanskap kota.

Ketika Bandung ditetapkan sebagai gemeente pada 1906, Braga semakin dikukuhkan sebagai kawasan elit. Kebijakan penataan kota berada di tangan segelintir orang Eropa: pejabat kolonial dan preangerplanter. Dalam konteks ini, Braga diposisikan sebagai wajah kota. Apa yang tampak di Braga dianggap mewakili citra Bandung. Maka tak heran jika perhatian terhadap kawasan ini begitu besar.

Pada 1910-an, Braga makin ramai. Restoran dibuka, pasar bunga muncul menggantikan gudang garam yang terbakar, toko busana mulai menjual mode dari Amsterdam. Meskipun begitu, suasana Braga masih relatif asri. Pekarangan toko luas, pepohonan rimbun, dan ritme kota belum sepadat dekade berikutnya. Namun fondasi sudah kokoh. Tinggal menunggu momentum.

Kemudian momentum itu datang pada 1920-an, ketika wali kota Bandung, B. Coops, menetapkan kebijakan yang kelak sangat menentukan wajah Braga. Ia mengatur bahwa semua bangunan di Bragaweg harus bergaya arsitektur Eropa. Kebijakan ini bukan sekadar soal selera pribadi, tetapi strategi membangun citra kota kolonial modern. Konon, Coops terinspirasi oleh pertokoan Paris yang ia saksikan lewat film. Braga harus menjadi etalase Eropa di Priangan.

Baca Juga: Sejarah Gelap KAA Bandung, Konspirasi CIA Bunuh Zhou Enlai via Bom Kashmir Princess

Hasilnya terlihat jelas. Pada dekade ini, Braga dipenuhi bangunan art deco dan Indis. Toko busana seperti Kellers Kleiding Modemagazijn berdiri, salon kecantikan dibuka, studio foto bermunculan, restoran elite seperti Maison Bogerijen menjadi tempat favorit pejabat tinggi kolonial. Braga tidak lagi sekadar pusat belanja, melainkan ruang pamer status sosial.

Di sinilah fungsi kongkow Braga mencapai bentuk paling utuh. Kongkow bukan sekadar duduk santai, melainkan praktik sosial. Orang Eropa datang untuk melihat dan dilihat. Untuk makan, menonton film di bioskop Concordia, membaca buku di Toko Van Dorp, atau sekadar berjalan di trotoar yang rapi. Braga menjadi ruang di mana identitas Eropa dipertahankan di tengah iklim tropis.

Setelah memasuki 1930-an, Braga sudah hampir lengkap. Bank DENIS berdiri megah dengan gaya art deco rancangan A.F. Aalbers. Perusahaan gas dan minyak membuka kantor. Showroom mobil menjual Harley Davidson, Peugeot, dan Renault. Pom bensin berdiri di ujung jalan. Braga menjadi simpul ekonomi, budaya, dan teknologi. Dari sisi perencanaan kota, kawasan ini masuk dalam skema besar yang menghubungkannya dengan jalan-jalan lain, meski harus mengorbankan kampung-kampung bumiputra.

Dalam pada itu, Bragaweg di Bandung menjadi pusat kehidupan elit Eropa yang merepresentasikan modernitas bergaya Paris. Julukan Parijs van Java lahir dari kuatnya hubungan kultural dengan Eropa, terutama Paris, yang tercermin dalam arsitektur, penamaan toko, mode busana, hingga gaya hidup. Toko-toko di Bragaweg cepat mengadopsi tren Paris, didukung iklan koran, etalase mewah, serta kemajuan teknologi seperti listrik, telepon, dan jalan beraspal.

Baca Juga: Sejarah Julukan Bandung Parijs van Java, dari Sindiran Jadi Kebanggaan

Bragaweg juga menjadi ruang sosial elit Eropa melalui hiburan, restoran, bioskop, dan pusat budaya seperti Societeit Concordia, tempat pesta dansa, konser, teater, dan pergaulan kelas atas berlangsung. Namun, ruang ini bersifat eksklusif dan menegaskan batas kelas serta ras, dengan kaum bumiputra berada di pinggiran. Memasuki akhir kekuasaan Hindia Belanda dan masa revolusi (1945–1949), kegemerlapan Bragaweg meredup. Aktivitas militer, perubahan kepemilikan toko, serta konflik kemerdekaan menggeser fungsi kawasan ini, menandai berakhirnya dominasi gaya hidup elit Eropa di Bragaweg sebelum kemudian dibangkitkan kembali lewat citra pariwisata Bandung zaman kiwari.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Tag Terkait

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)