AYOBANDUNG.ID - Jalan Braga sering diperlakukan seperti kartu pos. Ia difoto, dipoles, dikenang, lalu dijual sebagai nostalgia. Padahal, kalau ditelusuri dengan sedikit niat membongkar, Braga tidak lahir dari romantisme, apalagi estetika. Ia tumbuh dari kebutuhan yang jauh lebih dingin dan praktis: keamanan, uang, dan kepentingan orang Eropa di tanah koloni. Kongkow, kopi, dan obrolan santai baru datang belakangan, setelah fondasi kekuasaan ekonomi dan rasa aman tertanam kuat. Bahkan, penanda awal modernisasi Braga justru berupa toko senapan.
Untuk memahami Braga, waktu perlu ditarik mundur ke akhir abad ke-19, ketika Bandung belum pantas disebut kota. Ia lebih sering disebut bergdessa, desa pegunungan. Udara sejuk memang jadi nilai jual, tetapi secara sosial dan ekonomi, Bandung masih berjalan lambat. Penduduk Eropa hanya ratusan orang. Namun situasi itu berubah drastis memasuki abad ke-20. Hindia Belanda memasuki fase pembangunan agresif yang oleh sezamannya disebut revolutiebouw. Teknologi transportasi membaik, ekonomi diliberalisasi, dan arus migrasi orang Eropa meningkat tajam.
Jumlahnya tidak kecil. Dalam kurun sekitar 1900–1925, jumlah penduduk Bandung melonjak hingga 325%. Bandingkan dengan Batavia yang “hanya” 130%, atau Surabaya 80%. Bandung tumbuh bukan perlahan, tapi meledak. Ledakan penduduk ini bukan semata urusan statistik, melainkan perubahan wajah kota. Orang-orang Eropa yang datang membawa serta selera, kebiasaan, dan bayangan tentang kota ideal. Kota harus terang, tertata, bersih, punya taman, bank, tempat hiburan, dan ruang pergaulan yang memisahkan mereka dari hiruk-pikuk bumiputra.
Baca Juga: Hikayat Jejak Kopi Jawa di Balik Bahasa Pemrograman Java
Dalam konteks itulah Bragaweg mulai memainkan peran, sebagaimana tercatat dalam risalah Peneliti Sejarah BRIN, Hary Ganjar Budiman yang terbit di Jurnal Patanjala (2017). Letaknya strategis, dekat Jalan Raya Pos dan tak jauh dari stasiun kereta api yang dibuka pada 1884. Jalur kereta Cianjur–Bandung bukan sekadar sarana transportasi, melainkan mesin perubahan sosial. Ia mempercepat mobilitas orang Eropa, barang, dan modal. Area di sekitarnya, termasuk Braga, otomatis ikut terdorong menjadi ruang hidup ala Eropa.
Tetapi menariknya, modernisasi Braga tidak diawali oleh restoran atau butik mode. Tahun 1894, seorang pengusaha bernama C.A. Hellermann mendirikan N.V. Hellermann, toko penjual senjata dan amunisi. Ini adalah salah satu toko paling awal di Bragaweg. Fakta ini penting, karena menunjukkan bahwa kebutuhan pertama orang Eropa di Bandung bukan hiburan, melainkan rasa aman. Senjata menjadi simbol kehadiran kekuasaan, sekaligus penegasan bahwa ruang kota ini dibangun untuk kepentingan mereka.
Setelah toko senapan berdiri, Braga perlahan berubah fungsi. Kehidupan sosial elit Eropa mulai mencari wadah, dan Societeit Concordia menjawabnya. Perkumpulan ini menjadi pusat pergaulan kelas atas. Di sinilah para pejabat kolonial, pengusaha perkebunan, dan tokoh masyarakat Eropa berkumpul, bertukar kabar, membangun jaringan, dan tentu saja menikmati waktu luang. Kehadiran Concordia menandai pergeseran Braga dari ruang utilitarian menjadi ruang sosial.
Baca Juga: Hikayat Jalan Braga yang Konon Pernah Dijuluki Jalan Culik

Perubahan itu berjalan seiring dengan menguatnya fungsi ekonomi Braga. Bank-bank mulai berdiri. Bank Escompto hadir pada 1900, disusul De Javasche Bank dan kemudian DENIS. Braga menjadi tempat uang berputar. Ungkapan “naar beneden geld halen!”—turun ke bawah untuk mengambil uang—menggambarkan rutinitas para planter yang tinggal di dataran tinggi Bandung. Rumah mereka boleh jauh, tapi uang mereka ada di Braga. Jalan ini menjadi magnet ekonomi.
Dari bank, efek domino pun terjadi. Toko-toko kebutuhan primer bermunculan. Salah satunya Toko De Vries, yang menjual hampir segala keperluan sehari-hari orang Eropa. Dari makanan, minuman, peralatan dapur, hingga obat-obatan. Namun seperti lazimnya perkembangan kota, fase ini tidak bertahan lama. Spesialisasi datang. Toko obat Rathkamp berdiri, toko rokok Dunlop membuka lapak, disusul toko perhiasan, arloji, dan alat musik. Braga bergerak dari kebutuhan dasar menuju gaya hidup.
Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels
Perubahan fisik kota ikut mengiringi. Awal 1900-an, Bragaweg diperbaiki. Jalan diaspal, trotoar dirapikan, lampu penerangan dipasang, pohon peneduh ditanam. Braga tidak lagi sekadar bisa dilewati, tapi nyaman untuk disusuri. Mutu jalan yang membaik memungkinkan mobil mulai digunakan. Kantor akuntan berdiri, klub otomotif muncul di koran. Mobil bukan lagi barang eksotis, melainkan bagian dari lanskap kota.
Ketika Bandung ditetapkan sebagai gemeente pada 1906, Braga semakin dikukuhkan sebagai kawasan elit. Kebijakan penataan kota berada di tangan segelintir orang Eropa: pejabat kolonial dan preangerplanter. Dalam konteks ini, Braga diposisikan sebagai wajah kota. Apa yang tampak di Braga dianggap mewakili citra Bandung. Maka tak heran jika perhatian terhadap kawasan ini begitu besar.
Memasuki 1910-an, Braga makin ramai. Restoran dibuka, pasar bunga muncul menggantikan gudang garam yang terbakar, toko busana mulai menjual mode dari Amsterdam. Meskipun begitu, suasana Braga masih relatif asri. Pekarangan toko luas, pepohonan rimbun, dan ritme kota belum sepadat dekade berikutnya. Namun fondasi sudah kokoh. Tinggal menunggu momentum.
Momentum itu datang pada 1920-an, ketika wali kota Bandung, B. Coops, menetapkan kebijakan yang kelak sangat menentukan wajah Braga. Ia mengatur bahwa semua bangunan di Bragaweg harus bergaya arsitektur Eropa. Kebijakan ini bukan sekadar soal selera pribadi, tetapi strategi membangun citra kota kolonial modern. Konon, Coops terinspirasi oleh pertokoan Paris yang ia saksikan lewat film. Braga harus menjadi etalase Eropa di Priangan.
Baca Juga: Sejarah Gelap KAA Bandung, Konspirasi CIA Bunuh Zhou Enlai via Bom Kashmir Princess
Hasilnya terlihat jelas. Pada dekade ini, Braga dipenuhi bangunan art deco dan Indis. Toko busana seperti Kellers Kleiding Modemagazijn berdiri, salon kecantikan dibuka, studio foto bermunculan, restoran elite seperti Maison Bogerijen menjadi tempat favorit pejabat tinggi kolonial. Braga tidak lagi sekadar pusat belanja, melainkan ruang pamer status sosial.
Di sinilah fungsi kongkow Braga mencapai bentuk paling utuh. Kongkow bukan sekadar duduk santai, melainkan praktik sosial. Orang Eropa datang untuk melihat dan dilihat. Untuk makan, menonton film di bioskop Concordia, membaca buku di Toko Van Dorp, atau sekadar berjalan di trotoar yang rapi. Braga menjadi ruang di mana identitas Eropa dipertahankan di tengah iklim tropis.
Setelah memasuki 1930-an, Braga sudah hampir lengkap. Bank DENIS berdiri megah dengan gaya art deco rancangan A.F. Aalbers. Perusahaan gas dan minyak membuka kantor. Showroom mobil menjual Harley Davidson, Peugeot, dan Renault. Pom bensin berdiri di ujung jalan. Braga menjadi simpul ekonomi, budaya, dan teknologi. Dari sisi perencanaan kota, kawasan ini masuk dalam skema besar yang menghubungkannya dengan jalan-jalan lain, meski harus mengorbankan kampung-kampung bumiputra.
Dalam pada itu, Bragaweg di Bandung menjadi pusat kehidupan elit Eropa yang merepresentasikan modernitas bergaya Paris. Julukan Parijs van Java lahir dari kuatnya hubungan kultural dengan Eropa, terutama Paris, yang tercermin dalam arsitektur, penamaan toko, mode busana, hingga gaya hidup. Toko-toko di Bragaweg cepat mengadopsi tren Paris, didukung iklan koran, etalase mewah, serta kemajuan teknologi seperti listrik, telepon, dan jalan beraspal.
Baca Juga: Sejarah Julukan Bandung Parijs van Java, dari Sindiran Jadi Kebanggaan
Bragaweg juga menjadi ruang sosial elit Eropa melalui hiburan, restoran, bioskop, dan pusat budaya seperti Societeit Concordia, tempat pesta dansa, konser, teater, dan pergaulan kelas atas berlangsung. Namun, ruang ini bersifat eksklusif dan menegaskan batas kelas serta ras, dengan kaum bumiputra berada di pinggiran. Memasuki akhir kekuasaan Hindia Belanda dan masa revolusi (1945–1949), kegemerlapan Bragaweg meredup. Aktivitas militer, perubahan kepemilikan toko, serta konflik kemerdekaan menggeser fungsi kawasan ini, menandai berakhirnya dominasi gaya hidup elit Eropa di Bragaweg sebelum kemudian dibangkitkan kembali lewat citra pariwisata Bandung zaman kiwari.
