Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

3 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)

Deklarasi Masyarakat Pagerwangi Bersatu (MAPAS) di Punclut bukan sekadar peristiwa organisasi. Ia adalah kritik terbuka terhadap negara yang selama 27 tahun Reformasi belum juga menuntaskan persoalan paling mendasar: ketimpangan penguasaan tanah.

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding. Mereka menanam, merawat, dan menggantungkan hidup di atas tanah tersebut. Namun dalam logika pembangunan yang semakin dikuasai modal, keberadaan mereka kerap diposisikan sebagai penghalang, bukan sebagai subjek yang sah.

Inilah paradoks Reformasi: demokrasi prosedural tumbuh, tetapi struktur agraria nyaris tak berubah.

Reforma agraria selama ini lebih sering dipertontonkan sebagai agenda administratif—pembagian sertifikat, seremoni redistribusi, angka-angka capaian program. Padahal mandat Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dan spirit Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) menuntut jauh lebih radikal dari itu: penataan ulang struktur penguasaan tanah yang timpang sejak era kolonial.

Tanpa keberanian membongkar ketimpangan struktural, reforma agraria akan berhenti sebagai kosmetik kebijakan.

Kasus Punclut memperlihatkan bagaimana relasi kuasa bekerja. Di satu sisi, warga penggarap dengan legitimasi sosial-historis; di sisi lain, klaim legal formal yang kerap dimiliki pihak berkantong tebal dan berjejaring kuat dengan kekuasaan. Dalam situasi seperti ini, netralitas negara sering kali semu. Ketika negara lamban mengaudit klaim, lamban membuka dokumen historis, dan lamban menghadirkan mediasi substantif, yang terjadi sebenarnya adalah keberpihakan diam-diam pada yang kuat.

Lebih jauh lagi, konflik ini tidak berdiri di ruang hampa ekologis. Punclut adalah bagian vital dari sistem resapan air Bandung Raya. Alih fungsi lahan di kawasan sensitif seperti ini bukan sekadar soal investasi dan tata ruang; ia menyangkut risiko banjir, longsor, dan krisis air yang dampaknya ditanggung jutaan orang.

Ironisnya, yang sering dituduh merusak justru warga kecil. Sementara pembangunan skala besar dengan betonisasi masif kerap diberi legitimasi atas nama pertumbuhan ekonomi. Ini logika yang terbalik.

Pembentukan koperasi agraria oleh MAPAS menunjukkan bahwa warga tidak sekadar menuntut redistribusi lahan. Mereka berbicara tentang access reform—akses pada modal, pasar, dan penguatan kelembagaan ekonomi kolektif. Artinya, mereka memahami bahwa tanah tanpa daya dukung ekonomi hanya akan melahirkan kemiskinan baru. Namun sebaliknya, tanah yang dikelola secara kolektif dan berkelanjutan dapat menjadi model ekonomi alternatif yang tidak eksploitatif.

Negara seharusnya melihat inisiatif ini sebagai mitra, bukan ancaman.

Momentum 27 tahun Reformasi seharusnya menjadi cermin keras. Jika konflik agraria terus berulang dari desa ke desa, dari lereng ke pesisir, maka ada kegagalan struktural yang belum diselesaikan. Reforma politik tanpa reforma agraria hanya menghasilkan demokrasi yang rapuh—mudah dikooptasi oleh kepentingan modal dan oligarki lokal.

Baca Juga: Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Pertanyaannya kini sederhana: apakah negara berani menegakkan UUPA secara konsekuen? Apakah berani meninjau ulang klaim-klaim lahan yang sarat kepentingan? Atau justru terus membiarkan ketimpangan sebagai fondasi tak terlihat dari pertumbuhan ekonomi?

Punclut bukan hanya tentang tanah. Ia tentang arah pembangunan Bandung Raya dan tentang makna Reformasi itu sendiri. Jika tanah di kawasan resapan air lebih mudah berpindah tangan kepada yang kuat dibanding dipastikan keberlanjutannya bersama warga, maka yang kita saksikan bukan sekadar konflik agraria—melainkan krisis keberpihakan.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa banyak seremoni redistribusi yang pernah digelar. Ia akan mencatat apakah negara sungguh berdiri di sisi rakyat ketika ketimpangan diuji.

Punclut telah bertanya. Tinggal negara yang menjawab. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)