Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan Senin 23 Feb 2026, 20:20 WIB
Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)

Deklarasi Masyarakat Pagerwangi Bersatu (MAPAS) di Punclut bukan sekadar peristiwa organisasi. Ia adalah kritik terbuka terhadap negara yang selama 27 tahun Reformasi belum juga menuntaskan persoalan paling mendasar: ketimpangan penguasaan tanah.

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding. Mereka menanam, merawat, dan menggantungkan hidup di atas tanah tersebut. Namun dalam logika pembangunan yang semakin dikuasai modal, keberadaan mereka kerap diposisikan sebagai penghalang, bukan sebagai subjek yang sah.

Inilah paradoks Reformasi: demokrasi prosedural tumbuh, tetapi struktur agraria nyaris tak berubah.

Reforma agraria selama ini lebih sering dipertontonkan sebagai agenda administratif—pembagian sertifikat, seremoni redistribusi, angka-angka capaian program. Padahal mandat Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dan spirit Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) menuntut jauh lebih radikal dari itu: penataan ulang struktur penguasaan tanah yang timpang sejak era kolonial.

Tanpa keberanian membongkar ketimpangan struktural, reforma agraria akan berhenti sebagai kosmetik kebijakan.

Kasus Punclut memperlihatkan bagaimana relasi kuasa bekerja. Di satu sisi, warga penggarap dengan legitimasi sosial-historis; di sisi lain, klaim legal formal yang kerap dimiliki pihak berkantong tebal dan berjejaring kuat dengan kekuasaan. Dalam situasi seperti ini, netralitas negara sering kali semu. Ketika negara lamban mengaudit klaim, lamban membuka dokumen historis, dan lamban menghadirkan mediasi substantif, yang terjadi sebenarnya adalah keberpihakan diam-diam pada yang kuat.

Lebih jauh lagi, konflik ini tidak berdiri di ruang hampa ekologis. Punclut adalah bagian vital dari sistem resapan air Bandung Raya. Alih fungsi lahan di kawasan sensitif seperti ini bukan sekadar soal investasi dan tata ruang; ia menyangkut risiko banjir, longsor, dan krisis air yang dampaknya ditanggung jutaan orang.

Ironisnya, yang sering dituduh merusak justru warga kecil. Sementara pembangunan skala besar dengan betonisasi masif kerap diberi legitimasi atas nama pertumbuhan ekonomi. Ini logika yang terbalik.

Pembentukan koperasi agraria oleh MAPAS menunjukkan bahwa warga tidak sekadar menuntut redistribusi lahan. Mereka berbicara tentang access reform—akses pada modal, pasar, dan penguatan kelembagaan ekonomi kolektif. Artinya, mereka memahami bahwa tanah tanpa daya dukung ekonomi hanya akan melahirkan kemiskinan baru. Namun sebaliknya, tanah yang dikelola secara kolektif dan berkelanjutan dapat menjadi model ekonomi alternatif yang tidak eksploitatif.

Negara seharusnya melihat inisiatif ini sebagai mitra, bukan ancaman.

Momentum 27 tahun Reformasi seharusnya menjadi cermin keras. Jika konflik agraria terus berulang dari desa ke desa, dari lereng ke pesisir, maka ada kegagalan struktural yang belum diselesaikan. Reforma politik tanpa reforma agraria hanya menghasilkan demokrasi yang rapuh—mudah dikooptasi oleh kepentingan modal dan oligarki lokal.

Baca Juga: Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Pertanyaannya kini sederhana: apakah negara berani menegakkan UUPA secara konsekuen? Apakah berani meninjau ulang klaim-klaim lahan yang sarat kepentingan? Atau justru terus membiarkan ketimpangan sebagai fondasi tak terlihat dari pertumbuhan ekonomi?

Punclut bukan hanya tentang tanah. Ia tentang arah pembangunan Bandung Raya dan tentang makna Reformasi itu sendiri. Jika tanah di kawasan resapan air lebih mudah berpindah tangan kepada yang kuat dibanding dipastikan keberlanjutannya bersama warga, maka yang kita saksikan bukan sekadar konflik agraria—melainkan krisis keberpihakan.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa banyak seremoni redistribusi yang pernah digelar. Ia akan mencatat apakah negara sungguh berdiri di sisi rakyat ketika ketimpangan diuji.

Punclut telah bertanya. Tinggal negara yang menjawab. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)