Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

4 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan Selasa 26 Mei 2026, 18:26 WIB
Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Belum lama masyarakat Indonesia merayakan hari besar keagamaan umat Kristiani yang dimaknai dengan refleksi, pengorbanan, serta kasih terhadap sesama. Kini, masyarakat kembali menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 H, sebuah momentum penting bagi umat Islam yang sarat akan nilai keikhlasan dan ketulusan dalam berkorban. Di tengah Indonesia yang berdiri di atas keberagaman agama dan budaya, pergantian perayaan keagamaan seperti ini selalu menghadirkan warna tersendiri. Keberagaman tersebut justru membuat kehidupan sosial di Indonesia terasa lebih hidup, hangat, dan penuh warna.

Tahun ini, Idul Adha 1447 H yang jatuh pada 27 Mei hadir di tengah kondisi masyarakat yang masih menghadapi berbagai tekanan ekonomi dan sosial, mulai dari biaya hidup yang meningkat hingga ketidakpastian pekerjaan.

Idul Adha sendiri selama ini lebih dikenal sebagai hari raya kurban. Suara takbir, penyembelihan hewan, hingga pembagian daging menjadi pemandangan yang setiap tahun hadir di berbagai daerah, termasuk di Kota Bandung. Namun, di balik tradisi tersebut, Idul Adha sejatinya menyimpan nilai keikhlasan dan pengorbanan yang jauh lebih mendalam. Makna Idul Adha tidak lepas dari perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Perintah tersebut menjadi ujian atas keimanan dan ketakwaan Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT. Ketika Nabi Ibrahim AS menunjukkan keikhlasan dan kepatuhannya, Allah SWT kemudian mengganti Nabi Ismail AS dengan seekor domba untuk disembelih.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi simbol mengenai arti keikhlasan, ketaatan, dan kesediaan manusia untuk mengorbankan sesuatu yang dicintainya demi menjalankan perintah Tuhan. Karena itu, Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual berupa penyembelihan hewan kurban, tetapi juga pengingat bahwa pengorbanan sering kali hadir dalam bentuk melepaskan kepentingan pribadi demi orang lain maupun demi tujuan yang lebih besar.

Makna berkurban juga tidak hanya dimaknai melalui penyembelihan hewan saja, tetapi juga melalui kesediaan manusia untuk mengalah, berbagi, dan mendahulukan orang lain di tengah hidup yang semakin sulit.

Di tengah kehidupan masyarakat saat ini, terutama di kota besar seperti Bandung, makna pengorbanan sebenarnya hadir begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada orang tua yang menjual tanah di kampung demi anaknya dapat mengenyam pendidikan di kota. Ada perantau yang menyisihkan sebagian besar gajinya untuk keluarga di rumah meski hidupnya sendiri serba pas-pasan. Ada pula pasangan muda yang menunda banyak impian karena harus mendahulukan kebutuhan keluarga. Pengorbanan seperti itu mungkin tidak terlihat di layar televisi atau media sosial, tetapi justru menjadi bentuk berkurban yang paling nyata dalam kehidupan masyarakat hari ini.

Pengorbanan yang Kerap Terlupakan

Pedagang menjajakan hewan kurban di Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Pedagang menjajakan hewan kurban di Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Sayangnya, pengorbanan seperti itu justru sering dianggap biasa oleh masyarakat. Di tengah kehidupan yang semakin dipengaruhi media sosial dan budaya pencitraan, pengorbanan lebih mudah dinilai dari sesuatu yang terlihat besar dan dapat dipamerkan. Idul Adha misalnya, tidak jarang lebih menonjol pada sisi simbolik dan pencitraannya melalui dokumentasi penyembelihan hewan kurban, unggahan pembagian daging, hingga kebiasaan memamerkan kepedulian sosial di ruang digital. Padahal, makna utama dari berkurban seharusnya tidak berhenti pada apa yang terlihat di depan mata.

Tidak semua orang mampu membeli sapi atau kambing untuk dikurbankan, tetapi banyak orang justru sedang berkurban dalam bentuk yang tidak pernah disadari. Seorang ayah mungkin harus bekerja dari pagi hingga malam dan kehilangan banyak waktu bersama keluarganya demi memenuhi kebutuhan rumah tangga. Seorang ibu rela menahan keinginannya sendiri agar pendidikan anak-anaknya tetap berjalan. Bahkan tidak sedikit anak muda yang perlahan mengubur impiannya karena keadaan ekonomi memaksa mereka untuk lebih memikirkan kebutuhan keluarga dibanding keinginan pribadi.

Kondisi tersebut semakin terasa di kota-kota besar seperti Bandung. Biaya hidup yang terus meningkat membuat banyak orang hidup dalam situasi serba pas-pasan. Harga rumah semakin sulit dijangkau, lapangan pekerjaan tidak selalu memberi kepastian, sementara tuntutan sosial terus berjalan tanpa kompromi. Di tengah situasi seperti itu, bertahan hidup saja sering kali sudah menjadi bentuk pengorbanan yang tidak sederhana. Banyak orang harus rela mengurangi kebutuhan dirinya sendiri agar keluarganya tetap dapat hidup dengan layak.

Ironisnya, pengorbanan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari justru jarang dianggap sebagai sesuatu yang bernilai. Masyarakat lebih mudah memberi perhatian pada sesuatu yang bersifat simbolik dibanding perjuangan yang berlangsung diam-diam. Ada perantau yang setiap bulan mengirim sebagian besar gajinya ke kampung halaman meski hidupnya sendiri serba kekurangan. Ada orang tua yang menjual harta satu-satunya demi pendidikan anak. Namun cerita seperti itu sering kali tenggelam karena tidak dianggap menarik atau tidak cukup “viral” untuk dibicarakan.

Oleh karena itu, hari raya kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, melainkan juga memahami arti keikhlasan, kepedulian, dan kesediaan untuk mengurangi ego demi orang lain. Tidak semua pengorbanan terdengar oleh suara takbir atau terlihat dalam pembagian daging kurban. Namun, banyak keluarga tetap bertahan hari ini bukan karena kemewahan, melainkan karena ada seseorang yang diam-diam memilih berkorban untuk orang lain. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)