Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

4 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan
Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Belum lama masyarakat Indonesia merayakan hari besar keagamaan umat Kristiani yang dimaknai dengan refleksi, pengorbanan, serta kasih terhadap sesama. Kini, masyarakat kembali menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 H, sebuah momentum penting bagi umat Islam yang sarat akan nilai keikhlasan dan ketulusan dalam berkorban. Di tengah Indonesia yang berdiri di atas keberagaman agama dan budaya, pergantian perayaan keagamaan seperti ini selalu menghadirkan warna tersendiri. Keberagaman tersebut justru membuat kehidupan sosial di Indonesia terasa lebih hidup, hangat, dan penuh warna.

Tahun ini, Idul Adha 1447 H yang jatuh pada 27 Mei hadir di tengah kondisi masyarakat yang masih menghadapi berbagai tekanan ekonomi dan sosial, mulai dari biaya hidup yang meningkat hingga ketidakpastian pekerjaan.

Idul Adha sendiri selama ini lebih dikenal sebagai hari raya kurban. Suara takbir, penyembelihan hewan, hingga pembagian daging menjadi pemandangan yang setiap tahun hadir di berbagai daerah, termasuk di Kota Bandung. Namun, di balik tradisi tersebut, Idul Adha sejatinya menyimpan nilai keikhlasan dan pengorbanan yang jauh lebih mendalam. Makna Idul Adha tidak lepas dari perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Perintah tersebut menjadi ujian atas keimanan dan ketakwaan Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT. Ketika Nabi Ibrahim AS menunjukkan keikhlasan dan kepatuhannya, Allah SWT kemudian mengganti Nabi Ismail AS dengan seekor domba untuk disembelih.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi simbol mengenai arti keikhlasan, ketaatan, dan kesediaan manusia untuk mengorbankan sesuatu yang dicintainya demi menjalankan perintah Tuhan. Karena itu, Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual berupa penyembelihan hewan kurban, tetapi juga pengingat bahwa pengorbanan sering kali hadir dalam bentuk melepaskan kepentingan pribadi demi orang lain maupun demi tujuan yang lebih besar.

Makna berkurban juga tidak hanya dimaknai melalui penyembelihan hewan saja, tetapi juga melalui kesediaan manusia untuk mengalah, berbagi, dan mendahulukan orang lain di tengah hidup yang semakin sulit.

Di tengah kehidupan masyarakat saat ini, terutama di kota besar seperti Bandung, makna pengorbanan sebenarnya hadir begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada orang tua yang menjual tanah di kampung demi anaknya dapat mengenyam pendidikan di kota. Ada perantau yang menyisihkan sebagian besar gajinya untuk keluarga di rumah meski hidupnya sendiri serba pas-pasan. Ada pula pasangan muda yang menunda banyak impian karena harus mendahulukan kebutuhan keluarga. Pengorbanan seperti itu mungkin tidak terlihat di layar televisi atau media sosial, tetapi justru menjadi bentuk berkurban yang paling nyata dalam kehidupan masyarakat hari ini.

Pengorbanan yang Kerap Terlupakan

Pedagang menjajakan hewan kurban di Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Pedagang menjajakan hewan kurban di Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Sayangnya, pengorbanan seperti itu justru sering dianggap biasa oleh masyarakat. Di tengah kehidupan yang semakin dipengaruhi media sosial dan budaya pencitraan, pengorbanan lebih mudah dinilai dari sesuatu yang terlihat besar dan dapat dipamerkan. Idul Adha misalnya, tidak jarang lebih menonjol pada sisi simbolik dan pencitraannya melalui dokumentasi penyembelihan hewan kurban, unggahan pembagian daging, hingga kebiasaan memamerkan kepedulian sosial di ruang digital. Padahal, makna utama dari berkurban seharusnya tidak berhenti pada apa yang terlihat di depan mata.

Tidak semua orang mampu membeli sapi atau kambing untuk dikurbankan, tetapi banyak orang justru sedang berkurban dalam bentuk yang tidak pernah disadari. Seorang ayah mungkin harus bekerja dari pagi hingga malam dan kehilangan banyak waktu bersama keluarganya demi memenuhi kebutuhan rumah tangga. Seorang ibu rela menahan keinginannya sendiri agar pendidikan anak-anaknya tetap berjalan. Bahkan tidak sedikit anak muda yang perlahan mengubur impiannya karena keadaan ekonomi memaksa mereka untuk lebih memikirkan kebutuhan keluarga dibanding keinginan pribadi.

Kondisi tersebut semakin terasa di kota-kota besar seperti Bandung. Biaya hidup yang terus meningkat membuat banyak orang hidup dalam situasi serba pas-pasan. Harga rumah semakin sulit dijangkau, lapangan pekerjaan tidak selalu memberi kepastian, sementara tuntutan sosial terus berjalan tanpa kompromi. Di tengah situasi seperti itu, bertahan hidup saja sering kali sudah menjadi bentuk pengorbanan yang tidak sederhana. Banyak orang harus rela mengurangi kebutuhan dirinya sendiri agar keluarganya tetap dapat hidup dengan layak.

Ironisnya, pengorbanan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari justru jarang dianggap sebagai sesuatu yang bernilai. Masyarakat lebih mudah memberi perhatian pada sesuatu yang bersifat simbolik dibanding perjuangan yang berlangsung diam-diam. Ada perantau yang setiap bulan mengirim sebagian besar gajinya ke kampung halaman meski hidupnya sendiri serba kekurangan. Ada orang tua yang menjual harta satu-satunya demi pendidikan anak. Namun cerita seperti itu sering kali tenggelam karena tidak dianggap menarik atau tidak cukup “viral” untuk dibicarakan.

Oleh karena itu, hari raya kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, melainkan juga memahami arti keikhlasan, kepedulian, dan kesediaan untuk mengurangi ego demi orang lain. Tidak semua pengorbanan terdengar oleh suara takbir atau terlihat dalam pembagian daging kurban. Namun, banyak keluarga tetap bertahan hari ini bukan karena kemewahan, melainkan karena ada seseorang yang diam-diam memilih berkorban untuk orang lain. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)