Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Marcos Soares da Silva
Ditulis oleh Marcos Soares da Silva diterbitkan Selasa 24 Feb 2026, 15:01 WIB
Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)

Angka kemiskinan boleh turun, tapi di balik statistik itu, warga miskin justru hidup di ruang yang makin rusak. Sungai tercemar, lereng longsor, dan pesisir yang tererosi menjadi tetangga tetap mereka. Krisis ekologis ini bukan kebetulan alamiah, melainkan akibat ketidakadilan struktural yang menempatkan kelompok rentan paling dekat dengan bencana dan paling jauh dari layanan dasar.

Fenomena ini mencerminkan logika Bread and Circus, politik hiburan dan bantuan sesaat yang menutupi ketimpangan struktural, ketika bansos sementara (bread) dan euforia nasional (circus) mengalihkan perhatian dari ketimpangan ruang yang semakin melebar. Inilah yang dapat disebut sebagai politik kemiskinan ekologis, warga miskin didorong tinggal di ruang yang rusak, lalu dibuat bergantung pada bantuan negara yang hanya sementara.

Untuk melihat bagaimana politik ini bekerja dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu menengok di mana dan bagaimana warga miskin dipaksa tinggal.

Ketika Warga Miskin Tinggal di Ruang Rusak

Dalam perspektif ekologi sosial, kemiskinan ekologis lahir dari pertemuan antara kelas sosial, kebijakan tata ruang, dan eksploitasi kapitalis yang memprioritaskan akumulasi modal dibanding kelayakan hidup warga. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan penurunan angka kemiskinan, tetapi realitas lapangan menggambarkannya sebaliknya, komunitas miskin terperangkap di bantaran sungai hitam seperti Citarum (Jawa Barat) atau Kali Code (Jogja), lereng rawan longsor di Bandung, serta pesisir Jakarta yang tenggelam akibat kenaikan permukaan air laut.

Akumulasi guncangan ekologis – banjir tahunan yang merusak rumah dan alat produksi, polusi udara yang memicu penyakit pernapasan kronis – memaksa rumah tangga miskin mengambil langkah putus asa seperti menjual aset atau menarik anak dari sekolah. Keputusan-keputusan terpaksa inilah yang memperkuat siklus kemiskinan antargenerasi.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan terlihat jelas di kota-kota besar di Indonesia, ketika urbanisasi tak terkendali mendorong warga kelas bawah ke lahan marginal. Beberapa penelitian telah mencatat bahwa kebijakan zonasi selalu memihak pada pengembang properti mewah atau dengan kata lain dominasi logika ekonomi sehingga meninggalkan kampung yang kumuh sebagai buffer banjir dan limbah industri.

Di Bandung, misalnya, permukiman di daerah Bandung Timur seperti Dayeuh Kolot atau pinggiran Cisangkuy menanggung polusi tekstil dan juga minim akses air bersih. Kasus-kasus ini menunjukkan bagaimana warga miskin didorong ke ruang yang makin berisiko, sementara keuntungan ruang aman dinikmati oleh kelompok yang berada. Krisis ini tidak netral gender, perempuan miskin menanggung beban yang paling berat – mulai dari mencari air dengan jarak yang jauh, merawat diri sendiri hingga anggota keluarga yang sakit akibat lingkungan yang toxic. Jika pola-pola tersebut dibaca secara struktural, maka jelas bahwa kemiskinan ekologis bukan kegagalan individu, melainkan rancangan kebijakan sosial yang dirancang untuk mereproduksi ketimpangan.

Situasi ini menunjukkan bahwa kemiskinan di Indonesia bukanlah akibat pilihan hidup, melainkan hasil dari kebijakan yang menyingkirkan warga miskin dari ruang hidup yang layak. Jika krisis ekologis memperlihatkan dampak ketimpangan ruang, maka kegagalan kebijakan memperjelas bagaimana negara justru memperkuat ketimpangan itu. Dalam konteks inilah, kehadiran negara sering kali hanya muncul dalam bentuk bantuan sosial jangka pendek. Alih-alih membongkar desain ruang yang tidak adil, kebijakan justru menormalisasikan kemiskinan ekologis melalui skema perlindungan sosial yang parsial.

Bansos sebagai Politik Roti dan Sirkus

Di tengah warga miskin yang terjebak di ruang yang rusak, negara kerap hadir melalui program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Bantuan Langsung Tunai (BLT), namun kebijakan ini gagal menyentuh akar persoalan. Ketimpangan ruang dan kerentanan ekologis terus berulang. Program-program seperti ini, meskipun memberi bantuan sesaat, namun sering kali justru mengabaikan akar permasalahan seperti tata ruang yang bias kelas dan pengelolaan lingkungan yang berpihak pada kepentingan korporasi.

Pendekatan residual yang hanya mencari solusi setelah masalah muncul terbukti tidak cukup. Kita membutuhkan pendekatan institusional yang mencegah kerentanan sejak awal, karena skema seperti ini kerap menciptakan ketergantungan, stigmatisasi penerima, dan exclusion error ketika banyak kemiskinan struktural justru lolos sasaran akibat birokrasi yang rumit. Di Indonesia, BLT pasca Covid-19 dapat diibaratkan sebagai kebijakan tambal sulam (Patchwork) tanpa diikuti reformasi zonasi yang mencegah penggusuran ekologis. Pola ini menunjukkan bagaimana politik kemiskinan ekologis bekerja, negara hadir dengan bantuan sesaat, namun membiarkan tata ruang dan kebijakan lingkungan tetap dikuasai kepentingan modal.

Logika tambal sulam ini tidak hanya terlihat dalam kebijakan sosial, tetapi juga dalam proyek pembangunan berskala besar. Di titik ini, proyek seperti reklamasi Teluk Jakarta atau Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi contoh paling telanjang.

Sumber sampah di Kota Bandung didominasi oleh rumah tangga sebanyak 60 persen atau setara 897 ton per hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Sumber sampah di Kota Bandung didominasi oleh rumah tangga sebanyak 60 persen atau setara 897 ton per hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Lebih jauh lagi, kebijakan sektoral seperti reklamasi Teluk Jakarta atau proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) mengabaikan dampak pada komunitas dan masyarakat pesisir miskin seperti Kelurahan Kamal Muara dan Muara Angke di pesisir Jakarta Utara dan Masyarakat adat Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur yang menjadi korban atau terkena dampak relokasi paksa ke lahan yang lebih berisiko.

Di sinilah politik kemiskinan ekologis tampak telanjang, warga miskin dipindahkan dari satu ruang berisiko ke ruang berisiko lainnya, sementara pusat keputusan tetap berada jauh dari pengalaman mereka. Praktik seperti ini mencerminkan logika neoliberal, yakni cara pandang yang selalu mendahulukan pertumbuhan ekonomi dibandingkan dengan keadilan ruang, dan warga miskin dibiarkan menjadi korban yang tak terlihat.

Ketimpangan ini semakin terasa ketika perlindungan sosial justru tertinggal dibanding kebijakan yang menguntungkan korporasi dan kelas menengah ke atas. Perlindungan sosial lemah – anggaran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) minim dibanding dengan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) – semakin memperkuat lingkaran setan (vicious cycle), anak miskin lahir di zona polusi, sekolah rendah kualitas, dan peluang kerja tersegmentasi. Tanpa menyentuh permasalahan struktural yang paling mendasar seperti pajak progresif atau moratorium tambang, bansos hanya menjadi peredam gejolak sosial, bukan katalis transformasi.

Tanpa kebijakan yang berpihak pada ruang hidup warga miskin, solusi yang dihadirkan akan selalu sementara. Selama kebijakan sosial hanya berfungsi meredam gejolak dan bukan mengubah struktur ruang, kemiskinan ekologis akan terus diwariskan. Kegagalan berbagai kebijakan sektoral tersebut menegaskan perlunya pendekatan baru yang menyatukan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis dalam satu kerangka politik. Karena itu, diperlukan kerangka politik baru yang tidak sekadar membagi bantuan, tetapi mengubah cara negara memproduksi, mengatur, dan mendistribusikan ruang hidup.

Membangun Politik Sosial-Ekologis dari Bawah

Di tengah rangkaian kegagalan itu, yang dibutuhkan bukan lagi tambal sulam, tetapi arah baru yang berani mengubah struktur yang melahirkan kemiskinan ekologis. Untuk keluar dari kemiskinan ekologis dibutuhkan paradigma yang baru, seperti politik sosial-ekologis yang mengintegrasikan aspek-aspek redistribusi, keadilan lingkungan, dan partisipasi substantif.

Pertama, perlu mengadopsi perlindungan sosial universal seperti Universal Basic Income (UBI) yang adaptif, menjamin standar hidup minimum yang sensitif risiko ekologis – seperti program kesejahteraan sosial (Bolsa da Família) yang diterapkan oleh pemerintah Brazil sebagai strategi kebijakan yang menggabungkan pemindahan penduduk (relokasi) dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.

Kedua, reformasi tata ruang dengan memprioritaskan kawasan miskin, mewajibkan green infrastructure di permukiman kumuh, moratorium zonasi berisiko, dan integrasi SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) nasional.

Ketiga, mendorong partisipasi komunitas melalui forum-forum yang sifatnya deliberatif seperti participatory budgeting (anggaran partisipatif) yang di Porto Alegre, Brasil, di mana warga miskin berpartisipasi aktif dalam menentukan alokasi anggaran kota, termasuk prioritas lingkungan, melalui majelis regional dan dewan anggaran municipal.

Di Indonesia, model Asset-Based Community Development (ABCD) bisa diadaptasi untuk mengidentifikasi aset-aset lokal (sungai bersih melalui aksi gotong royong) sambil menuntut akuntabilitas dari pemerintah. Pengalaman internasional ini menunjukkan bahwa kemiskinan ekologis bukanlah keniscayaan, melainkan hasil pilihan politik.

Baca Juga: Refleksi Ekologis, ke Mana Perginya Jurig?

Solusi pendekatan yang tegas namun realistis yang dibutuhkan adalah mengintegrasikan regulasi ketat emisi karbon untuk menekan dominasi konglomerasi industri, yang sering kali menjadi aktor utama dalam mengeksploitasi sumber daya alam dan degradasi lingkungan. Relokasi industri dari zona rentan bencana seperti daerah rawan longsor atau banjir–harus dirancang dengan prinsip yang berkelanjutan, memastikan meminimalisasi dampak sosial-ekonomi bagi komunitas lokal.

Strategi seperti ini harus diperkuat melalui pembangunan koalisi transformatif antara gerakan buruh dan masyarakat sipil, yang memungkinkan advokasi agenda ekologis secara kolektif dan deliberatif. Koalisi semacam ini tidak hanya meningkatkan legitimasi kebijakan, tetapi juga mendorong akuntabilitas pemerintah terhadap kesejahteraan yang mendalam dan struktural, menghindari pendekatan reaktif dan residual (tambal sulam) atau dengan kata lain sebagai alternatif antisipatif untuk menghindari jebakan roti dan sirkus. Pada akhirnya, kerangka radikal realistis ini akan selaras dengan paradigma sosial-ekologis, di mana transformasi struktural menjadi prasyarat bagi pencapaian pembangunan berkelanjutan yang inklusif.

Tanpa perubahan seperti itu, ruang hidup akan terus diproduksi sebagai komoditas, bukan sebagai hak warga yang harus dilindungi. Selama politik ruang dikuasai logika kapital, warga miskin akan terus hidup di ruang yang rusak. Menggugat politik kemiskinan ekologis bukan sekadar ajakan moral, tetapi tuntutan agar negara mengembalikan ruang hidup kepada mereka yang paling berhak. Mungkin kemiskinan tak akan hilang secepat itu, tetapi ruang hidup yang lebih adil tetap bisa kita rebut kembali bersama-sama. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Marcos Soares da Silva
"To be a winner appreciate defeat"

Berita Terkait

News Update

Linimasa 05 Mar 2026, 21:19

UIN Bandung Sebelum dan Sesudah Magrib Saat Ramadan

Setiap Ramadan, kawasan UIN Sunan Gunung Djati Bandung berubah ramai oleh mahasiswa yang ngabuburit dan berburu takjil.

Suasana menjelang magrib saat Ramadan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 19:20

10 Netizen Terpilih Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Pameran Al-Qur’an Mushaf Sundawi berhias motif khas budaya Jawa Barat di Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 05 Mar 2026, 14:47

Sejarah Bandung Dijuluki Twente van Indonesië, Kota Kembang Diproyeksikan jadi Pusat Industri

Catatan koran 1949 menggambarkan Bandung dipenuhi pabrik tekstil yang membuatnya dibandingkan dengan Twente di Belanda.

Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Bandung tahun 1950-an (Sumber: Wikimedia)
Mayantara 05 Mar 2026, 14:05

Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Beberapa hari terakhir ini, linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 12:06

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga.

Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 11:53

Night Walk di Bulan Ramadan, Kaki Besi Perkuat Tren Komunitas Jalan Kaki di Bandung

Meski digelar pada bulan Ramadan, antusiasme peserta tidak surut. Dengan dress code serba hitam yang telah ditentukan panitia, para peserta memadati trotoar dengan tambahan aksesori khas.

Salah satu event komunitas Kaki Besi. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Seni Budaya 05 Mar 2026, 10:03

Sejarah Tari Saman, Jejak Warisan Syeikh di Dataran Tinggi Gayo

Jejak nama Saman dikaitkan dengan ulama abad ke-14 dan pengaruh Islam di Aceh, membentuk tarian komunal yang sarat syair moral.

Pagelaran Tari Saman terbesar di dunia dengan 12.262 penari. Acara kolosal ini diadakan pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 09:25

Renungan Ramadan dan Jadwal Puasa Bandung 1969 dalam Koran Lawas

Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik.

Surat kabar Berdikari terbitan Bandung, 28 November 1969, bertepatan dengan 18 Ramadan 1389 Hijriah (57 tahun silam). (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 06:55

Berawal dari Konten Viral, Kaki Besi Menjadi Komunitas Jalan Kaki Terbesar di Bandung

Berawal dari konten viral di media sosial, Komunitas Kaki Besi berkembang menjadi komunitas jalan kaki terbesar di Bandung. Didirikan oleh Insan Buana, Kaki Besi kini memiliki puluhan ribu pengikut.

Salah satu event Komunitas Kaki Besi. Dalam waktu kurang dari satu tahun, komunitas ini mencatat ribuan anggota aktif. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Bandung 04 Mar 2026, 21:33

Menilik Eksistensi Kue Balok Kang Didin, Kuliner Legendaris Bandung sejak 1950 yang Melawan Arus Zaman

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya.

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 16:42

Kisah Ramadan dalam Lagu ‘Lebaran Sebentar Lagi’

Lagu Lebaran Sebentar Lagi merupakan salah satu lagu remake dari band Gigi yang sebelumnya dinyanyikan pertama kali oleh Bimbo. 

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 04 Mar 2026, 15:22

Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor.

Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 15:04

Cikalintu, Tempat yang Keliru Dipilih

Dalam nama Cikalintu, kata 'Kalintu' berarti keliru atau ditukar.

Toponim Cikalintu dalam Peta Topografi Lembar Bandoeng Tahun 1905 (diperbaiki dari peta tahun 1904). Dipetakan oleh Topographisch Bureau, Batavia. (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Sejarah 04 Mar 2026, 14:46

Misteri Danau Cipanas Rancaekek, Tempat Pemandian Bupati Bandung Zaman Dulu

Warga menyebut penambangan bukit Gunung Cipanas memicu lenyapnya sumber panas yang dulu jadi tempat rekreasi elite Bandung.

Danau Cipanas Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 13:30

Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

Musisi rock asal Bandung, Benny Soebardja, dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step.

Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)
Ikon 04 Mar 2026, 13:15

Jejak Pitalka, Roti Pipih Ramadan dari Kosovo yang Bertahan Sejak Era Ottoman

anya muncul setahun sekali di Kosovo, pitalka menjadi warisan kuliner sejak masa Ottoman yang tetap hidup di meja iftar Prizren.

Pitalka, roti khas Kosovo yang jadi iftar Ramadan.
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 11:09

Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Siwok cante, merupakan salah satu hal yang harus dihindari oleh mereka yang sedang mengemban tugas negara.

Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 09:38

Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib.

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 03 Mar 2026, 20:40

Sentuhan Estetika di Balik The Edit, Titik Temu Kurasi Fashion Muslim Premium di Bandung

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia.

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 19:24

Rumah Tumbuh, Akses Menguat: Ujian Transformasi BTN di Tengah Rekor Pembiayaan

Di tengah lanskap itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) tampil sebagai aktor sentral.

Pekerja merampungkan proyek rumah subsidi di El Hago Residence, Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang (3/12/2020). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Deni Suhendar/Magang)