Ironi keberagamaan di Indonesia. Masyarakat Indonesia memiliki minat berhaji sangat tinggi. Melihat pendaftar masyarakat Indonesia untuk pergi berhaji sampai mengalami masa tunggu 10-15 tahun. Dengan biaya haji setiap tahun mengalami kenaikan. Antusiasme pergi beribadah ke tanah suci juga pada ibadah umrah, yang hampir setiap minggu ada jemaah pergi dan pulang berumrah, kecuali pada musim haji. Banyaknya jemaah haji dan umrah ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara pengirim jemaah umrah dan haji terbanyak di dunia.
Meskipun tingginya peminat untuk berhaji, dan pulang pergi berumrah, namun kondisi bangsa ini masih memprihatinkan. Orang berangkat haji dan umrah adalah orang yang tergolong mapan secara ekonomi. Secara spiritual pun orang yang sudah berhaji dan umrah adalah orang yang sudah memiliki level tinggi dalam ibadah. Namun nyatanya masih ada masyarakat yang hidup memprihatinkan. Praktik korupsi masih terus berjalan. Kekerasan seksual dan kriminalitas semakin merajalela.
Peningkatan haji dan umrah ini adalah modal sosial-spiritual untuk melakukan perbaikan bangsa. Namun perbaikan tidak pernah terwujud hanya sekedar jemaah ini menginjakkan kaki di tanah suci, dan sekembalinya ke tanah air tidak pernah mengkomunikasikan pengalaman spiritual, spirit spiritual, pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Perbaikan akan terasa kalau nilai-nilai spiritual dikomunikasikan, diwariskan, dan diwujudkan dalam tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Namun sayangnya hal ini yang tidak terasa dampaknya. Khawatir jemaah haji dan umrah hanya mengejar status sosial. Mereka berangkat sekedar gengsi sehingga bisa masuk pada lingkaran tertentu, atau demi meningkatkan derajat keluarga agar lebih terhormat. Tidak heran kalau selama 40 hari beribadah tidak berdampak sama sekali pada lingkungan di tanah air.
Dalam ilmu komunikasi, setiap pengalaman yang didapatkan akan bersifat transformatif dan bisa berdampak pada diri sendiri dan orang-orang sekitarnya. Dalam ibadah haji dan umrah, secara teologis para jemaah akan mendapatkan pengalaman spiritual yang begitu menyentuh dan bisa menjadi pelajaran berharga untuk menjadi bahan introspeksi, sehingga kedepannya menjadi lebih baik lagi dalam menjalani kehidupan.
Para jemaah tanah suci mengalami peningkatan kesadaran spiritual, dan mengalami perubahan perilaku positif, seperti bertambahnya kesabaran, kejujuran, frekuensi dan kualitas beribadah yang meningkat. Namun masalahnya, nilai-nilai itu berhenti bahkan lenyap ketika menginjakkan kembali ke tanah kelahiran. Pengalaman spiritual selama berhaji dan umrah tidak berdampak besar setelah meletakkan koper, yang ada euforia dan cerita keseruan selama beribadah haji dan umrah. Foto dan dokumentasi seremonial selama beribadah haji dan umrah di Tanah Suci disebar di media sosial, dalam rangka publikasi diri dan personal branding.
Tidak kalah juga prosesi pemberangkatan penyambutan dengan biaya fantasitis untuk memeriahkan, agar semua orang mengetahui juga menjadi agenda penting lainnya. Namun itu semua menjadi sepi setelah beberapa hari tiba di tanah air. Nilai-nilai kebersamaan selama berhaji, kejujuran, toleransi, dan kesederhanaan selama wukuf dan thawaf tidak terekspresikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Penyebutan gelar haji dan hajjah untuk mereka yang sudah pergi berhaji tidak ubahnya sebagai status sosial, tidak mencerminkan perubahan perilaku beragama yang legih baik. Haji dan hajjah lebih banyak berperan sebagai simbol keagamaan, daripada sebagai amanah yang harus diprakktikan dalam beribadah antar manusia ataupun dengan Tuhan yang lebih pada substansi.
Padahal di era serba media sosial, mempermudah dalam menyebarkan nilai-nilai haji dan umrah. Bukan sebaliknya membangun citra diri dengan banyak menyebarkan foto-foto estetis di depan Ka'bah dan aktivitas sekunder di Tanah Suci. Dengan harapan ada apresiasi dan persepsi bagus dari orang lain. Sementara itu, pesan inti haji dan umrah nyaris tidak tersampaikan di media sosial.

Begitu banyak nilai-nilai yang bisa menjadi muatan pesan dalam media sosial yang dipakai para jemaah haji dan umrah. Mulai dari wukuf di Arafah yang memberikan kesadaran pada kita mengenai kesetaraan tanpa ada status sosial atau jabatan di negara asal. Sa'i mengajarkan kita untuk bersemangat dan tekun dalam meraih impian. Pakaian ihram mengajarkan egalitarianisme di antara sesama manusia. Semua nilai itu menjadi bekal yang bisa disebarkan setelah kepulangan berhaji, bukan disimpan sebagai bahan untuk status.
Perlu adanya perubahan dalam manasik haji dan umrah, yaitu dengan memperkaya peran dan tugas jemaah setelah selesai berhaji dan umrah, sebagai agen perubahan di dalam lingkungannya. Perlu untuk mengubah cara pandang dalam penyelenggaraan haji dan umrah, terutama bukan melihat pada seberapa banyak yang berangkat ke Tanah Suci, akan tetapi seberapa besar perubahan dampak dari kepulangan jemaah haji dan umrah. (*)
