Komunikasi Perubahan Pasca Haji dan Umrah

4 menit baca
Encep Dulwahab
Ditulis oleh Encep Dulwahab diterbitkan Senin 01 Jun 2026, 17:23 WIB
Puncak Arafah di Makkah, Arab Saudi. (Sumber: Unsplash | Foto: ekrem osmanoglu)

Puncak Arafah di Makkah, Arab Saudi. (Sumber: Unsplash | Foto: ekrem osmanoglu)

Ironi keberagamaan di Indonesia. Masyarakat Indonesia memiliki minat berhaji sangat tinggi. Melihat pendaftar masyarakat Indonesia untuk pergi berhaji sampai mengalami masa tunggu 10-15 tahun. Dengan biaya haji setiap tahun mengalami kenaikan. Antusiasme pergi beribadah ke tanah suci juga pada ibadah umrah, yang hampir setiap minggu ada jemaah pergi dan pulang berumrah, kecuali pada musim haji. Banyaknya jemaah haji dan umrah ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara pengirim jemaah umrah dan haji terbanyak di dunia.

Meskipun tingginya peminat untuk berhaji, dan pulang pergi berumrah, namun kondisi bangsa ini masih memprihatinkan. Orang berangkat haji dan umrah adalah orang yang tergolong mapan secara ekonomi. Secara spiritual pun orang yang sudah berhaji dan umrah adalah orang yang sudah memiliki level tinggi dalam ibadah. Namun nyatanya masih ada masyarakat yang hidup memprihatinkan. Praktik korupsi masih terus berjalan. Kekerasan seksual dan kriminalitas semakin merajalela. 

Peningkatan haji dan umrah ini adalah modal sosial-spiritual untuk melakukan perbaikan bangsa. Namun perbaikan tidak pernah terwujud hanya sekedar jemaah ini menginjakkan kaki di tanah suci, dan sekembalinya ke tanah air tidak pernah mengkomunikasikan pengalaman spiritual, spirit spiritual, pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Perbaikan akan terasa kalau nilai-nilai spiritual dikomunikasikan, diwariskan, dan diwujudkan dalam tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. 

Namun sayangnya hal ini yang tidak terasa dampaknya. Khawatir jemaah haji dan umrah hanya mengejar status sosial. Mereka berangkat sekedar gengsi sehingga bisa masuk pada lingkaran tertentu, atau demi meningkatkan derajat keluarga agar lebih terhormat. Tidak heran kalau selama 40 hari beribadah tidak berdampak sama sekali pada lingkungan di tanah air. 

Dalam ilmu komunikasi, setiap pengalaman yang didapatkan akan bersifat transformatif dan bisa berdampak pada diri sendiri dan orang-orang sekitarnya. Dalam ibadah haji dan umrah, secara teologis para jemaah akan mendapatkan pengalaman spiritual yang begitu menyentuh dan bisa menjadi pelajaran berharga untuk menjadi bahan introspeksi, sehingga kedepannya menjadi lebih baik lagi dalam menjalani kehidupan.

Para jemaah tanah suci mengalami peningkatan kesadaran spiritual, dan mengalami perubahan perilaku positif, seperti bertambahnya kesabaran, kejujuran, frekuensi dan kualitas beribadah yang meningkat. Namun masalahnya, nilai-nilai itu berhenti bahkan lenyap ketika menginjakkan kembali ke tanah kelahiran. Pengalaman spiritual selama berhaji dan umrah tidak berdampak besar setelah meletakkan koper, yang ada euforia dan cerita keseruan selama beribadah haji dan umrah. Foto dan dokumentasi seremonial selama beribadah haji dan umrah di Tanah Suci disebar di media sosial, dalam rangka publikasi diri dan personal branding. 

Tidak kalah juga prosesi pemberangkatan penyambutan dengan biaya fantasitis untuk memeriahkan, agar semua orang mengetahui juga menjadi agenda penting lainnya. Namun itu semua menjadi sepi setelah beberapa hari tiba di tanah air. Nilai-nilai kebersamaan selama berhaji, kejujuran, toleransi, dan kesederhanaan selama wukuf dan thawaf tidak terekspresikan secara  nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Bimbingan manasik haji di Pusdai. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Bimbingan manasik haji di Pusdai. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Penyebutan gelar haji dan hajjah untuk mereka yang sudah pergi berhaji tidak ubahnya sebagai status sosial, tidak mencerminkan perubahan perilaku beragama yang legih baik. Haji dan hajjah lebih banyak berperan sebagai simbol keagamaan, daripada sebagai amanah yang harus diprakktikan dalam beribadah antar manusia ataupun dengan Tuhan yang lebih pada substansi. 

Padahal di era serba media sosial, mempermudah dalam menyebarkan nilai-nilai haji dan umrah. Bukan sebaliknya membangun citra diri dengan banyak menyebarkan foto-foto estetis di depan Ka'bah dan aktivitas sekunder di Tanah Suci. Dengan harapan ada apresiasi dan persepsi bagus dari orang lain. Sementara itu, pesan inti haji dan umrah nyaris tidak tersampaikan di media sosial.

Begitu banyak nilai-nilai yang bisa menjadi muatan pesan dalam media sosial yang dipakai para jemaah haji dan umrah. Mulai dari wukuf di Arafah yang memberikan kesadaran pada kita mengenai kesetaraan tanpa  ada status sosial atau jabatan di negara asal. Sa'i mengajarkan kita untuk bersemangat dan tekun dalam meraih impian. Pakaian ihram mengajarkan egalitarianisme di antara sesama manusia. Semua nilai itu menjadi bekal yang bisa disebarkan setelah kepulangan berhaji, bukan disimpan sebagai bahan untuk status.

Perlu adanya perubahan dalam manasik haji dan umrah, yaitu dengan memperkaya peran dan tugas jemaah setelah selesai berhaji dan umrah, sebagai agen perubahan di dalam lingkungannya. Perlu untuk mengubah cara pandang dalam penyelenggaraan haji dan umrah, terutama bukan melihat pada seberapa banyak yang berangkat ke Tanah Suci, akan tetapi seberapa besar perubahan dampak dari kepulangan jemaah haji dan umrah. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Encep Dulwahab
Dosen Ilmu Komunikasi UIN Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 01 Jun 2026, 18:48

Potret Federico Barba: Pemain Persib yang Pure Profesional Tanpa Ikatan Emosional

Dalam kultur sepakbola Bandung, ada sebuah prinsip tak tertulis "Pemain yang bermain tanpa sepenuh hati, lebih baik pergi".

Foto Federico Barba ACL 2. (Sumber: Ileague)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 17:23

Komunikasi Perubahan Pasca Haji dan Umrah

Secara spiritual pun orang yang sudah berhaji dan umrah adalah orang yang sudah memiliki level tinggi dalam ibadah.

Puncak Arafah di Makkah, Arab Saudi. (Sumber: Unsplash | Foto: ekrem osmanoglu)
Wisata & Kuliner 01 Jun 2026, 16:35

Kuliner Pindang Gunung, Sup Ikan Khas Pangandaran dengan Wangi Honje yang Kuat

Kuah kuning segar, aroma honje, dan ikan laut segar menjadikan pindang gunung sebagai salah satu kuliner tradisional paling khas di Pangandaran.

Kuliner Pindnang Gunung khas Pangandaran. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 15:28

Koperasi Merah Putih: Pemborosan Atau Strategi Tingkatkan Nilai Tawar Ekonomi Rakyat

Koperasi Merah Putih memunculkan banyak pro-kontra bagi masyarakat.

Koperasi Merah Putih Bentangan Klaten. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: BiographyWriter45)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 12:55

Adventure Tourism Berbasis Kendaraan: Antara Daya Tarik dan Risiko Kecelakaan

Adventure tourism berbasis kendaraan menawarkan pengalaman perjalanan yang unik. Di balik daya tariknya, keselamatan kendaraan, pengemudi, dan wisatawan perlu menjadi prioritas bersama.

Lava Tour Merapi, wisata jeep Jogja paling populer. (Sumber: labirutour.com)
Ikon 01 Jun 2026, 11:24

Pasar Malam, Hiburan Rakyat yang Membuat Waktu Seolah Berputar Mundur

Pasar malam tetap menjadi pilihan masyarakat karena murah, meriah, dan mampu membangkitkan memori masa lalu.

Pasar Malam di Desa Cigintung, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 10:53

Psikologi di Balik Viralnya “Mas Bahlil Ganteng”

Tapi kita sebagai individu yang melek media, tampaknya harus waspada saat hiburan menggantikan, bukan melengkapi diskusi substansial.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Sumber: BMPI Sekretariat Presiden)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 10:05

Eksistensi Koran dan Bapak Loper di Penghujung Era Digital

Koran dan bapak loper sama-sama berjuang di dunia yang semakin dinamis. Yang satu untuk literasi dan satunya bertahan hidup.

Koran sepertinya menolak hilang di telan sejarah. Bersama dengan mereka yang menyebarkan literasi lewat penjual koran. Begitu juga mereka bertahan hidup di Kota Metropolitan (Sumber: Generated AI dari foto asli | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 18:21

Kehidupan yang Terburu-buru Tidak Layak Dinikmati: Pesan Waisak untuk Bandung

Waisak mengingatkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari tergesa-gesa.

Hari Raya Waisak mengajarkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari kehidupan yang serba cepat, melainkan dari kesabaran dalam menjalani setiap proses kehidupan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 15:42

Empat Single D'Renced Menjadi Napas Pergerakan

Mereka tidak menjanjikan apapun, meraka hanya memastikan suara-suara ini tak pernah mati.

Band lokal D'Renced. (Foto: Sinan)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 12:28

Apoteker Bertahan Melawan Penyalahgunaan Obat di Bandung tapi Tidak dengan Regulasinya

Terlalu banyak lahan basah yang bisa disalahgunakan dalam dunia kesehatan.

Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)
Wisata & Kuliner 31 Mei 2026, 10:27

5 Pilihan Restoran dan Kafe Bandung Favorit Wisatawan Luar Daerah

Bandung punya banyak kafe baru, tapi lima tempat ini tetap jadi favorit wisatawan karena suasana nyaman, makanan enak, dan lokasi strategis.

Lebak Caring, Dago. Salah satu restoran favorit di Bandung.
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 09:54

Identifikasi Toponimi ‘Wangi’ di Zona Sesar Lembang

Literasi toponimi sangat dibutuhkan oleh masyarakat, salah satunya adalah toponimi dengan nama spesifik "wangi" di sepanjang zona Sesar Lembang.

Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 22 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ikon 30 Mei 2026, 15:27

Bunga Rawa Rancaupas, Tanaman Langka Penjaga Ekosistem Rawa Dataran Tinggi

Bunga rawa di Rancaupas dikenal sebagai bunga abadi yang tidak mudah layu dan hanya ditemukan di lokasi tertentu di Indonesia.

Bunga rawa di Rancaupas. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 30 Mei 2026, 10:48

Kekerasan terhadap Perempuan Tak Selalu Berdarah, Kadang Hadir dalam Bentuk yang Dianggap Biasa

Pameran NeoFemisida di Bandung mengajak publik melihat kekerasan terhadap perempuan yang tak selalu berupa luka fisik, tetapi juga pembungkaman, stigma, dan penghi

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 30 Mei 2026, 10:06

Menelusuri Sejarah, Filosofi, dan Kehidupan Baru Karinding di Tangan Generasi Muda

Buku “Sejarah Karinding Priangan” dan “Dangiang Karinding” terpampang di antara jajaran karinding tersebut.

Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 18:02

Terima Kasih untuk yang Berkurban

Adanya orang-orang yang bekurban adalah bukti masih ada yang mau memberi dan membuat bahagia masyarakat yang tidak mampu berkurban

Panitia bersiap melakukan penyembelihan hewan kurban berupa sapi dan domba di halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung pada Rabu, 27 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 29 Mei 2026, 17:57

Kafe ACD Taraju, Tempat Healing dengan Rumah Pohon di Tengah Kebun Teh

Kafe ACD di Taraju Tasikmalaya menawarkan suasana ngopi di tengah perkebunan teh dan rumah pohon estetik.

Kafe ACD Taraju. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 16:30

Tentang Makna Do'a Pernikahan

Pernikahan memang menjadi momen bahagia dan bersejarah bagi setiap orang.

Ilustrasi pernikahan. (Sumber: Pexels | Foto: fadhil wy_)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 15:34

KLCBS, Gelombang Jazz dari Bandung yang Tak Pernah Padam

Salah satu siaran yang tetap hidup dalam ingatan itu adalah Radio KLCBS Bandung.

Ruang siaran dan studio KLCBS yang asri dan nyaman. (Sumber: KLCBS Official | Foto: Yanti Rangkuti)