Identifikasi Toponimi ‘Wangi’ di Zona Sesar Lembang

6 menit baca
Anna Joestiana
Ditulis oleh Anna Joestiana diterbitkan
Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 22 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 22 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Kenapa di sekitar zona Sesar Lembang banyak terdapat nama-nama tempat yang dibelakangnya kata "wangi"? misalnya Pasirwangi, Pagerwangi, Mekarwangi, dan Buniwangi. Pertanyaam tersebut muncul dari rasa penasaran beberapa orang anggota Relawan Penanggulangan Bencana Lembang (RPBL).

Jika dilihat dari unsurnya, nama-nama tempat terdiri atas unsur generik dan unsur spesifik. Unsur generik itu merupakan unsur yang mengandung makna umum berupa kenampakan alam, seperti daratan, perairan, serta kawasan khusus, buatan dan administratif. Sedangkan nama spesifik adalah nama yang membatasi unsur generiknya. Unsur spesifik muncul dari penamaan masyarakat yang tidak lepas dari unsur generiknya. Masing-masing memiliki aspek historisnya (Abdul Gaffar Ruskhan, 2011).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "wangi" merupakan kata sifat (adjektiva) yang berarti beraroma sedap, harum dan enak dicium. Kata ini umumnya digunakan untuk mendeskripsikan aroma dari bunga, parfum, makanan atau tubuh. Sedangkan dalam Kamus Bahasa Sunda, terbitan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1985, kata "wangi" tidak ditemukan.

Sampai saat ini belum ditemukan hasil penelitian yang dapat menjelaskan tentang unsur spesifik dari kata "wangi" tersebut, sehingga belum diketahui secara pasti sejarah dan latarbelakangnya.

Secara harfiah, kata "wangi" yang berasal dari bahasa Indonesia apabila diterjemahkan kedalam bahasa Sunda berarti "seungit". Kata ini menggambarkan suasana yang menyenangkan penuh aroma harum dan sedap yang berasal dari bunga seperti bunga Melati, Mawar, Kemuning, Sedap Malam, dan Tanjung. Atau dari daun seperti daun Pandan, Kemangi, Sereh, dan Salam. Atau dari akar seperti Akar Wangi (vetiver).

Selain menggambarkan aroma sedap, berdasarkan sejarah, kata "wangi" juga dipakai untuk nama seorang raja atau keluarga raja. Misalnya Prabu Wangi, SIliwangi, Mundingwangi, Gantanganwangi, dan yang lainnya. Menurut Danasasmita (2003), nama resmi raja dalam bahasa Sunda sering disebut "wawangi", yang secara harfiah disebut "seuseungit". Nama resmi tersebut mencerminkan kepopuleran (sohor) seorang raja.

Dalam Babad Siliwangi, disebutkan bahwa "Siliwangi" berarti asilih wawangi (mengganti nama) sesaui dengan tulisan yang terdapat dalam Prasasti Batutulis, yaitu sebagai berikut: "Ini sasakala, Prebu Ratu purane pun diwastu diya wi ngaran Prebu Guru Dewataprana diwastu diya di ngaran Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata" ("Ini tanda peringatan, Prabu Ratu almarhum, beliau dilantik menggunakan nama Prabu Guru Dewataprana, dilantik lagi dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata").

Nama atau gelar baru ini sangat indah dan enak didengar, karena itu dalam Carita Parahyangan (CP) disebut "Sriman Sri Wacana" (yang terkenal dan indah). Karena perubahan nama atau pergantian gelar tersebut, Sri Baduga Maharaja dikenal luas dengan julukan "Siliwangi". Istilah tersebut digunakan seorang raja yang memiliki pengaruh besar dan mempunyai reputasi yang luar biasa serta mencerminkan kepopuleran seorang raja (Danasasmita, 2003).

Namun ada juga yang berpendapat bahwa "Siliwangi" merupakan gelar raja-raja Sunda yang beroleh kepopuleran karena menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Berarti yang disebut "Siliwangi" itu lebih dari satu orang. Para sejarawan yang berpendapat demikian adalah Ayatrohaedi, Undang A. Darsa, Elis Suryani dan Agus Aris Munandar.

Mengutip pendapat Nurkalakalisada (2022), kata bahwa kata "Siliwangi" tertulis juga dalam Pantun Bogor episode Pakujajar Beukah Kembang. Dikatakan bahwa "Siliwangi" merupakan gelar pemberian Resi Handeulawangi, yaitu seorang pendeta dari Balay Pamujaan Mandalawangi-Talaga Wana, bunyinya sebagai berikut:

"Dengekeun.....!

Isuka jaganing pageto dia jadi raja ngegantian rama parabu,

Pake ku dia ieu ngaran, bawa eyang ti Kahiyangan!

Nyaeta: Siliwangi.....!

Lain silih wangi..... komo sirih wangi mah!

Lantaran di urang mah, euweuh sirih.....;

Aya ge ngan seureuh eujeung sereh.....;

terjemahan:

"dengarkan.....!

besok lusa pada satnya nanti kamu jadi raja menggantikan ayahanda raja,

pakai olehmu nama ini, bawaan eyang dari Kahiyangan!

yaitu: Siliwangi.....!

bukan silih wangi.....apalagi sirih wangi!

karena di kita mah, tidak ada sirih.....;

adanya juga hanya seureuh dan sereh.....;

Kemudian dalam Pantun Bogor episode Ngahiyangna Pajajaran disebutkan bahwa arti "Siliwangi" adalah "kesucian yang sejati, bunyinya sebagai berikut:

Ari ngaran gusti mah apanan Siliwangi.....!

Lain wawangi anu kasilih! tapi sili dina harti basa urang

Basa Urang Pajajaran!

Harti sili dina basa urang nyaeta langgeng!

Ari wangi mudu dihartikeun ku basa urang

Ulah dihartikeun ku sejen basa

Najan saruwa dina Sundana.....!

Sabab wangi basa Pajajaran hartina teh kasucian anu sajati!

terjemahan:

sebab nama paduka itu kan Siliwangi.....!

bukan wewangian yang kesilih (tertukar)! tapi arti sili dalam bahasa kita

bahasa rakyat Pajajaran

arti sili dalam bahasa kita adalah langgeng!

dan wanginya harus diartikan oleh bahasa kita

tidak boleh diartikan oleh bahasa lain

meskipun sama dalam bahasa Sunda nya.....!

sebab wangi bahasa Pajajaran artinya adalah kesucian yang sejati!

Wisatawan lokal berwisata ke Tebing Keraton yang berada di Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan berada di atas permukaan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisatawan lokal berwisata ke Tebing Keraton yang berada di Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan berada di atas permukaan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Jadi kata spesifik "wangi" mempunyai dua pengertian, yang pertama mengandung arti "aroma sedap harum mewangi" dan yang kedua mengandung arti "kesucian sejati" atau "leluhur yang jasanya abadi sepanjang masa". Dua pengertan ini akan sangat memudahkan kita dalam upaya mengidentifikasi nama-nama tempat yang memiliki nama spesifik "wangi".

Adapun penjelasan tentang arti toponimi Pasirwangi, Pagerwangi, Mekarwangi dan Buniwangi adalah sebagai berikut:

Pertama, toponimi Pasirwangi termasuk kedalam aspek fisikal dengan latar sejarah dikarenakan ditempat tersebut terdapat peninggalan leluhur berupa Makam Panjang yang oleh penduduk setempat dikenal dengan makam Eyang Suryakencana. Jadi toponimi Pasirwangi mengandung arti sebuah bukit (pasir) yang diatasnya terdapat makam leluhur yang berjasa (wangi).

Kedua, toponimi Pagerwangi termasuk kedalam aspek fisikal dengan latar biologis. Hal ini dikarenakan mempunyai geomorfologis Sesar Lembang yang menyerupai pagar pembatas (pager) yang dikelilingi tanaman bunga dan buah-buahan yang menebarkan aroma harum (wangi).

Ketiga, toponimi Mekarwangi termasuk kedalam aspek sosial dengan latar sebuah harapan. Desa yang dibentuk dari hasil pemekaran, mempunyai masyarakat yang menyimpan harapan ingin berkembang (mekar) lebih maju dari desa lainnya serta dikenal (wangi) menjadi lebih baik.

Keempat, toponimi Buniwangi termasuk kedalam aspek kultural dengan latar sejarah dikarenakan ditempat tersebut terdapat peninggalan leluhur. Peninggalannya berupa situs yang terdiri dari patilasan, makam, paseban, dan mata air Pancuran Tujuh.

Berdasarkan catatan sejarah pada sekitar abad ke 13 M, Prabu Siliwangi mendirikan sebuah tatanan bernegara dalam bentuk kecil dengan nama lembur di Buniwangi. Lembur tersebut berupa kesatuan pemukiman antara sepuluh sampai duapuluh rumah (Purnama et al., 2020).

Pendapat lainnya dari Haryoto Kunto dalam bukunya Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986), dilembur tersebut terdapat paseban (tempat berkumpulnya para raja dimasa kejayaan Sunda atau disebut Nista Utama), sehingga wilayah ini termasuk Karamaan. Menurut Kuncen Buniwangi, lokasi makam keramat tersebut dimiliki oleh Kentringmanik atau Nyi Ken Buniwangi, yaitu penguasa mata air (Bron-godin) Sungai Citarum dan merupakan permaisuri Prabu Siliwangi (W. H. Hoogland, Mooi Bandoeng, 1937).

Jadi toponimi Buniwangi mengandung arti sebuah tempat tersembunyi (buni) yang didalamnya terdapat makam dan patilasan leluhur (wangi). (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Anna Joestiana
Tentang Anna Joestiana
Ketua Relawan Penanggulangan Bencana Lembang (RPBL)

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)