Identifikasi Toponimi ‘Wangi’ di Zona Sesar Lembang

6 menit baca
Anna Joestiana
Ditulis oleh Anna Joestiana diterbitkan Minggu 31 Mei 2026, 09:54 WIB
Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 22 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 22 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Kenapa di sekitar zona Sesar Lembang banyak terdapat nama-nama tempat yang dibelakangnya kata "wangi"? misalnya Pasirwangi, Pagerwangi, Mekarwangi, dan Buniwangi. Pertanyaam tersebut muncul dari rasa penasaran beberapa orang anggota Relawan Penanggulangan Bencana Lembang (RPBL).

Jika dilihat dari unsurnya, nama-nama tempat terdiri atas unsur generik dan unsur spesifik. Unsur generik itu merupakan unsur yang mengandung makna umum berupa kenampakan alam, seperti daratan, perairan, serta kawasan khusus, buatan dan administratif. Sedangkan nama spesifik adalah nama yang membatasi unsur generiknya. Unsur spesifik muncul dari penamaan masyarakat yang tidak lepas dari unsur generiknya. Masing-masing memiliki aspek historisnya (Abdul Gaffar Ruskhan, 2011).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "wangi" merupakan kata sifat (adjektiva) yang berarti beraroma sedap, harum dan enak dicium. Kata ini umumnya digunakan untuk mendeskripsikan aroma dari bunga, parfum, makanan atau tubuh. Sedangkan dalam Kamus Bahasa Sunda, terbitan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1985, kata "wangi" tidak ditemukan.

Sampai saat ini belum ditemukan hasil penelitian yang dapat menjelaskan tentang unsur spesifik dari kata "wangi" tersebut, sehingga belum diketahui secara pasti sejarah dan latarbelakangnya.

Secara harfiah, kata "wangi" yang berasal dari bahasa Indonesia apabila diterjemahkan kedalam bahasa Sunda berarti "seungit". Kata ini menggambarkan suasana yang menyenangkan penuh aroma harum dan sedap yang berasal dari bunga seperti bunga Melati, Mawar, Kemuning, Sedap Malam, dan Tanjung. Atau dari daun seperti daun Pandan, Kemangi, Sereh, dan Salam. Atau dari akar seperti Akar Wangi (vetiver).

Selain menggambarkan aroma sedap, berdasarkan sejarah, kata "wangi" juga dipakai untuk nama seorang raja atau keluarga raja. Misalnya Prabu Wangi, SIliwangi, Mundingwangi, Gantanganwangi, dan yang lainnya. Menurut Danasasmita (2003), nama resmi raja dalam bahasa Sunda sering disebut "wawangi", yang secara harfiah disebut "seuseungit". Nama resmi tersebut mencerminkan kepopuleran (sohor) seorang raja.

Dalam Babad Siliwangi, disebutkan bahwa "Siliwangi" berarti asilih wawangi (mengganti nama) sesaui dengan tulisan yang terdapat dalam Prasasti Batutulis, yaitu sebagai berikut: "Ini sasakala, Prebu Ratu purane pun diwastu diya wi ngaran Prebu Guru Dewataprana diwastu diya di ngaran Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata" ("Ini tanda peringatan, Prabu Ratu almarhum, beliau dilantik menggunakan nama Prabu Guru Dewataprana, dilantik lagi dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata").

Nama atau gelar baru ini sangat indah dan enak didengar, karena itu dalam Carita Parahyangan (CP) disebut "Sriman Sri Wacana" (yang terkenal dan indah). Karena perubahan nama atau pergantian gelar tersebut, Sri Baduga Maharaja dikenal luas dengan julukan "Siliwangi". Istilah tersebut digunakan seorang raja yang memiliki pengaruh besar dan mempunyai reputasi yang luar biasa serta mencerminkan kepopuleran seorang raja (Danasasmita, 2003).

Namun ada juga yang berpendapat bahwa "Siliwangi" merupakan gelar raja-raja Sunda yang beroleh kepopuleran karena menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Berarti yang disebut "Siliwangi" itu lebih dari satu orang. Para sejarawan yang berpendapat demikian adalah Ayatrohaedi, Undang A. Darsa, Elis Suryani dan Agus Aris Munandar.

Mengutip pendapat Nurkalakalisada (2022), kata bahwa kata "Siliwangi" tertulis juga dalam Pantun Bogor episode Pakujajar Beukah Kembang. Dikatakan bahwa "Siliwangi" merupakan gelar pemberian Resi Handeulawangi, yaitu seorang pendeta dari Balay Pamujaan Mandalawangi-Talaga Wana, bunyinya sebagai berikut:

"Dengekeun.....!

Isuka jaganing pageto dia jadi raja ngegantian rama parabu,

Pake ku dia ieu ngaran, bawa eyang ti Kahiyangan!

Nyaeta: Siliwangi.....!

Lain silih wangi..... komo sirih wangi mah!

Lantaran di urang mah, euweuh sirih.....;

Aya ge ngan seureuh eujeung sereh.....;

terjemahan:

"dengarkan.....!

besok lusa pada satnya nanti kamu jadi raja menggantikan ayahanda raja,

pakai olehmu nama ini, bawaan eyang dari Kahiyangan!

yaitu: Siliwangi.....!

bukan silih wangi.....apalagi sirih wangi!

karena di kita mah, tidak ada sirih.....;

adanya juga hanya seureuh dan sereh.....;

Kemudian dalam Pantun Bogor episode Ngahiyangna Pajajaran disebutkan bahwa arti "Siliwangi" adalah "kesucian yang sejati, bunyinya sebagai berikut:

Ari ngaran gusti mah apanan Siliwangi.....!

Lain wawangi anu kasilih! tapi sili dina harti basa urang

Basa Urang Pajajaran!

Harti sili dina basa urang nyaeta langgeng!

Ari wangi mudu dihartikeun ku basa urang

Ulah dihartikeun ku sejen basa

Najan saruwa dina Sundana.....!

Sabab wangi basa Pajajaran hartina teh kasucian anu sajati!

terjemahan:

sebab nama paduka itu kan Siliwangi.....!

bukan wewangian yang kesilih (tertukar)! tapi arti sili dalam bahasa kita

bahasa rakyat Pajajaran

arti sili dalam bahasa kita adalah langgeng!

dan wanginya harus diartikan oleh bahasa kita

tidak boleh diartikan oleh bahasa lain

meskipun sama dalam bahasa Sunda nya.....!

sebab wangi bahasa Pajajaran artinya adalah kesucian yang sejati!

Wisatawan lokal berwisata ke Tebing Keraton yang berada di Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan berada di atas permukaan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisatawan lokal berwisata ke Tebing Keraton yang berada di Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan berada di atas permukaan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Jadi kata spesifik "wangi" mempunyai dua pengertian, yang pertama mengandung arti "aroma sedap harum mewangi" dan yang kedua mengandung arti "kesucian sejati" atau "leluhur yang jasanya abadi sepanjang masa". Dua pengertan ini akan sangat memudahkan kita dalam upaya mengidentifikasi nama-nama tempat yang memiliki nama spesifik "wangi".

Adapun penjelasan tentang arti toponimi Pasirwangi, Pagerwangi, Mekarwangi dan Buniwangi adalah sebagai berikut:

Pertama, toponimi Pasirwangi termasuk kedalam aspek fisikal dengan latar sejarah dikarenakan ditempat tersebut terdapat peninggalan leluhur berupa Makam Panjang yang oleh penduduk setempat dikenal dengan makam Eyang Suryakencana. Jadi toponimi Pasirwangi mengandung arti sebuah bukit (pasir) yang diatasnya terdapat makam leluhur yang berjasa (wangi).

Kedua, toponimi Pagerwangi termasuk kedalam aspek fisikal dengan latar biologis. Hal ini dikarenakan mempunyai geomorfologis Sesar Lembang yang menyerupai pagar pembatas (pager) yang dikelilingi tanaman bunga dan buah-buahan yang menebarkan aroma harum (wangi).

Ketiga, toponimi Mekarwangi termasuk kedalam aspek sosial dengan latar sebuah harapan. Desa yang dibentuk dari hasil pemekaran, mempunyai masyarakat yang menyimpan harapan ingin berkembang (mekar) lebih maju dari desa lainnya serta dikenal (wangi) menjadi lebih baik.

Keempat, toponimi Buniwangi termasuk kedalam aspek kultural dengan latar sejarah dikarenakan ditempat tersebut terdapat peninggalan leluhur. Peninggalannya berupa situs yang terdiri dari patilasan, makam, paseban, dan mata air Pancuran Tujuh.

Berdasarkan catatan sejarah pada sekitar abad ke 13 M, Prabu Siliwangi mendirikan sebuah tatanan bernegara dalam bentuk kecil dengan nama lembur di Buniwangi. Lembur tersebut berupa kesatuan pemukiman antara sepuluh sampai duapuluh rumah (Purnama et al., 2020).

Pendapat lainnya dari Haryoto Kunto dalam bukunya Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986), dilembur tersebut terdapat paseban (tempat berkumpulnya para raja dimasa kejayaan Sunda atau disebut Nista Utama), sehingga wilayah ini termasuk Karamaan. Menurut Kuncen Buniwangi, lokasi makam keramat tersebut dimiliki oleh Kentringmanik atau Nyi Ken Buniwangi, yaitu penguasa mata air (Bron-godin) Sungai Citarum dan merupakan permaisuri Prabu Siliwangi (W. H. Hoogland, Mooi Bandoeng, 1937).

Jadi toponimi Buniwangi mengandung arti sebuah tempat tersembunyi (buni) yang didalamnya terdapat makam dan patilasan leluhur (wangi). (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Anna Joestiana
Ketua Relawan Penanggulangan Bencana Lembang (RPBL)

Berita Terkait

News Update

Bandung 08 Jun 2026, 19:34

Menilik Eksistensi Dawa Rempah, Racikan Minuman Herbal Tradisional dengan Sentuhan Modern

Gaya hidup sehat turut menjadi tren kekinian yang santer digandrungi oleh masyarakat di masa kini. Salah satu caranya lewat menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dawa Rempah (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:31

Hari Laut Sedunia, Masih Adakah Prospek Galangan Kapal di Jabar?

Masih sedikit industri galangan kapal di Jabar. Padahal provinsi ini memiliki sebelas pelabuhan yang bisa digunakan sebagai prasarana galangan kapal.

Ilustrasi Hari Laut Sedunia 2026, pemandangan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muhammad Ikhsan)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:01

Polemik Penggusuran Perumahan Warga di Anyer Dalam akibat Pembangunan oleh KAI

Perumahan Warga di Anyer Dalam digusur untuk pembangunan yang dilakukan oleh oleh KAI merupakan kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Foto Grafiti Bekas 2021 di Tembok Menyusuri di Jalan Serang menyusuri Jalan Anyer Dalam, 17 April 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hikmat Nur Hidayat)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 17:29

Polemik SPPG Sukabumi: Antara Harapan Gizi dan Alarm Nyata bagi Gen Z

Tercatat sudah tiga kali gelombang unjuk rasa terjadi di pertengahan tahun ini.

Dokumentasi demo SPPG Sukabumi
Beranda 08 Jun 2026, 17:04

Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

Bandung pernah menjadi salah satu pusat musik independen Indonesia. Melalui Bandung Music Indie, para musisi kini berupaya membangun kembali ruang bersama dan semangat kolektif yang mulai memudar.

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 16:53

Gedung BAT Cirebon, Pusat Industri yang Kini Hidup sebagai Cagar Budaya Kota

Bukan hanya bangunan kosong, Gedung BAT Cirebon merupakan saksi bisu kejayaan industri kolonial di Kota Cirebon.

Potret Gedung BAT Cirebon saat ini (Sumber: siceppot.cirebonkota.go.id)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)