Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Kurban dan Masakan Ibu Saat Tahun 1980-an

4 menit baca
bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan Kamis 28 Mei 2026, 15:10 WIB
Ilustrasi salat Idul Adha. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ilustrasi salat Idul Adha. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pada tahun 1980-an, di Tengah Kota Bandung, hidup seorang ibu sederhana bersama tujuh orang anaknya, empat putra dan tiga putri. Suaminya bekerja dengan penghasilan yang pas-pasan. Untuk makan sehari-hari saja harus berhemat. Rumah mereka kecil dan sederhana. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang mulai lapuk di beberapa bagian. Di ruang depan hanya ada sebuah seperangkat kursi kayu sederhana, meja kayu kecil, dan lemari tua serta televisi kecil.

Ketika pagi tiba dan setelah salat Iduladha selesai, anak-anak ibu tersebut berlarian ke halaman masjid. Mereka melihat sapi dan kambing yang akan disembelih. Dengan mata berbinar, wajah mereka penuh rasa penasaran dan harapan keluarga mereka akan mendapat bagian daging dari panitia masjid. Setiap tibanya waktu Hari Raya Iduladha, ke tujuh anak itu selalu menunggu dengan penuh harapan.

Pada masa tahun 1980-an, orang yang mampu berkurban masih sedikit. Mereka yang mampu berkurban biasanya hanyalah tokoh masyarakat, pedagang besar, atau orang yang dianggap berkecukupan. Sehingga setiap warga yang menerima daging kurban takarannya tidak banyak, namun tidak menghilangkan rasa bersyukur dan kebahagiaan.

Waktu pembagian daging kurban menjadi sesuatu yang sangat dinanti masyarakat kecil. Seketika itu pun aroma masakan daging sapi atau kambing pada Hari Raya Iduladha terasa begitu istimewa sebab tidak setiap hari orang bisa menikmatinya. Bahkan sebagian keluarga hanya merasakan makan daging waktu-waktu tertentu saja, karena harga daging lebih melambung dibandingkan harga daging ayam atau ikan.

Menjelang siang, pak RT datang membawa kantong plastik hitam kecil berisi pembagian daging kurban. Isinya tidak banyak hanya beberapa potong daging bercampur lemak sapi, tetapi bagi keluarga sederhana itu, pemberian kecil tersebut terasa seperti hadiah besar. Anak-anaknya mengerubungi kantong itu dengan mata penuh kegembiraan. Mereka membayangkan lezatnya makan daging setelah sekian lama hanya makan tempe, tahu, atau sayur bening sesekali daging ayam atau ikan.

Saat itupun, ibu segera masuk ke dapur kecilnya. Di dapur itu ada kompor minyak tanah yang tren waktu tahun 1980-an. Ia duduk di bangku pendek sambil mulai mengolah daging pemberian pak RT tadi. Ia tahu jumlah daging itu sangat sedikit untuk dimakan tujuh anaknya. Namun ibu tersebut yang piawai dalam memasak ini, selalu punya cara agar makanan sederhana terasa cukup untuk semua.

Ia mengambil beberapa butir kelapa tua, lalu memarutnya dengan perlahan agar kelapanya terasa gurih. Kelapa parut itu kemudian dicampur dengan bumbu sederhana yang terdiri bawang merah, bawang putih, ketumbar, lengkuas, asam jawa, garam, merica, sereh, kemiri dan sedikit gula merah. Setelah itu, daging dan lemak dipotong kecil-kecil lalu dicampurkan ke dalam parutan kelapa berbumbu bahan-bahan tadi yang sudah dihaluskan.

Masakan itu dikenal dengan sebutan dendeng ragi. Aroma kelapa sangrai bercampur lemak sapi perlahan memenuhi rumah kecil itu. Sementara anak-anak duduk menunggu dengan tidak sabar. Ibu sengaja menambahkan banyak kelapa parut agar masakan terlihat lebih banyak. Ia ingin ke tujuh anaknya bisa makan dengan puas walaupun dagingnya hanya sedikit. Tangannya terus mengaduk dendeng ragi tersebut dengan hati-hati agar parutan kelapa tidak gosong.

Sesekali ia menatap anak-anaknya yang tertawa di ruang depan. Ada kebahagiaan sederhana di matanya. Baginya, kebahagiaan terbesar bukanlah memiliki harta atau rumah mewah, melainkan melihat anak-anaknya makan dengan lahap dan tersenyum gembira.

Ketika masakan matang, ia membaginya ke atas piring-piring seng yang sudah mulai kusam. Nasi putih hangat ditemani dendeng ragi terasa begitu nikmat. Anak-anak makan dengan lahap sambil sesekali memuji masakan ibu mereka tersayang. Ibunya pandai memasak ditambah juga untuk menghemat keuangan keluarga, maka ibu setiap hari mengolah sendiri berbagai menu makanan untuk keluarga.

“Enak sekali, masakan ini Bu.” kata anak nomor dua seusai merasakan suapan pertama. Ibu tersenyum bahagia. Ia dan suaminya hanya makan sedikit. Potongan daging lebih banyak diberikan kepada anak-anaknya. Bahkan kadang mereka pura-pura kenyang agar anak-anaknya tidak merasa bersalah mengambil bagian lebih banyak.

Suasana Hari Raya Kurban terasa hangat meskipun hidup dalam keterbatasan. Berbeda dengan sekarang, saat hewan kurban jumlahnya melimpah dan pembagian daging bisa mencapai 1 kilogram untuk satu keluarga. Masa tahun 1980-an sedikit daging saja sudah mampu menghadirkan kebahagiaan besar. Kini banyak orang yang mampu berkurban setiap tahunnya. Begitupun dengan Jamaah haji meningkat sangat pesat hingga antrean keberangkatan menjadi panjang.

di tengah kesederhanaan dan keterbatasan masa lalu itulah nilai pengorbanan terasa sangat dalam. Seorang ibu rela menahan lapar demi anak-anaknya. Ia mengubah sedikit daging menjadi hidangan yang cukup untuk semua. Ia menyamarkan kekurangan dengan kasih sayang dan ketulusan.

Pengorbanan seorang ibu sering kali tidak terlihat besar di mata dunia. Tidak tercatat dalam sejarah, tidak pula diviralkan orang. Tetapi di balik dapur sederhana itu ada cinta luar biasa yang tidak dapat diukur dengan harta. Bagi ke tujuh anaknya, aroma dendeng ragi bercampur kelapa itu mungkin akan terus tinggal dalam ingatan sepanjang hidup mereka. Bukan semata karena rasanya yang lezat, melainkan karena di dalamnya terdapat kasih sayang seorang ibu dan bapak yang rela memberikan segalanya demi kebahagiaan anak-anaknya.

Waktu terus berjalan. Anak-anak itu sekarang telah tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing. Namun kenangan tentang Hari Raya Iduladha di tahun 1980-an tetap hidup di hati mereka yaitu tentang sedikit daging pemberian masjid, tentang dapur kecil yang selalu penuh asap, dan tentang seorang ibu sederhana tetapi piawai dalam menjadikan kekurangan terasa penuh cinta, Karena sesungguhnya, berkurban yang terindah bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban saja, melainkan juga tentang ketulusan hati dan selalu bersyukur melintasi terjalnya kehidupan ini. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

bram herdiana
Tentang bram herdiana
GURU SMK PARIWISATA TELKOM BANDUNG

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Mei 2026, 15:10

Kurban dan Masakan Ibu Saat Tahun 1980-an

Suasana Hari Raya Iduladha tahun 1980-an tentang bagaimana seorang Ibu mengolah daging kurban diolah menjadi masakan yang digemari anak-anaknya

Ilustrasi salat Idul Adha. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 28 Mei 2026, 12:20

Laksa Bogor, Kuliner Peranakan Legendaris di Kota Hujan

Laksa Bogor dikenal dengan teknik penyajian unik “dikocok” yang membuat bihun dan tauge menyatu sempurna dengan kuah santan kuning berbumbu.

Laksa Bogor. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 12:03

Mengapa Nabi Mengajarkan 'Baarakallahu Laka' dan 'Baaraka Alaika' dalam Doa Pernikahan?

Mengapa Nabi menggunakan lafazh “laka” dan “‘alaika” dalam doa pernikahan? Ternyata tersimpan pesan mendalam tentang sakinah, cinta, ujian hidup, syukur, dan kesabaran rumah tangga.

Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)
Beranda 28 Mei 2026, 09:45

Idul Adha 1447 H, PLN NP UP Cirata Tebar Kepedulian lewat Bantuan Hewan Kurban

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan hewan kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan 5 sapi dan 21 kambing kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 09:34

Harga Mahal Sebuah Piala: Saat Euforia Juara Persib Bandung Harus Dibayar dengan Nyawa

Merayakan Persib boleh menggila, tetapi logika dan kemanusiaan jangan sampai ikut mati.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 28 Mei 2026, 00:27

Kelola Belanja Keluarga lewat HP, Ibu Rumah Tangga Perlu Paham Ancaman Digital Perbankan

Era digital yang sudah serba canggih telah memberikan kemudahan untuk pelbagai sektor, termasuk perbankan.

Aplikasi BRImo dari Bank BRI. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 18:04

Wajah Ganda Kota Kembang: Ramah Wisatawan, Menantang bagi Pekerja

Bandung memikat jutaan wisatawan, tetapi pekerjanya menghadapi tekanan biaya hidup.

Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 27 Mei 2026, 15:17

Ketika BUMDes dan BRILink Jadi Duet Andalan untuk Tingkatkan Ekonomi Desa Margamukti

BRILink di Margamukti adalah cermin dari cara berpikir BUMDes Marga Makmur secara keseluruhan.

Agen BRILink BUMDes Marga Makmur, di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 13:19

Ibadah Qurban atau Ibadah Udhiyyah? Yuk Kenali Istilah yang benar dalam Islam

Seringkali terdengar ibadah qurban pada momentum Idul Adha, apa arti sebenarnya?

Hewan udhiyyah di Indonesia adalah sapi, kambing, domba, kerbau (Sumber: Pixeabay | Foto: Paskvi)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 12:31

Menolak Lupa: Surat Samantha untuk Perdamaian Dunia

Kisah seorang anak yang memberi pesan bahwa perdamaian dunia adalah hak mutlak setiap umat manusia

Samantha Smith (Sumber: Kennebec Journal)
Beranda 27 Mei 2026, 10:59

Sambut Idul Adha, PLN Nusantara Power Pastikan PLTA Cirata Beroperasi Prima

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.
Beranda 27 Mei 2026, 10:38

Kalau Tidak Ada Ketupat, Rasanya Bukan Lebaran

Lapak-lapak kecil di Jalan Gurame memperlihatkan satu hal sederhana beberapa tradisi ternyata masih bertahan.

Rio penjual ketupat musiman di Jalan Gurame, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 10:06

Cicaheum Purna, Mampukah Leuwipanjang Menanggung Bebannya?

Pemusatan terminal ke Leuwipanjang patut diapresiasi karena membawa janji modernisasi.

Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)