Pada tahun 1980-an, di Tengah Kota Bandung, hidup seorang ibu sederhana bersama tujuh orang anaknya, empat putra dan tiga putri. Suaminya bekerja dengan penghasilan yang pas-pasan. Untuk makan sehari-hari saja harus berhemat. Rumah mereka kecil dan sederhana. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang mulai lapuk di beberapa bagian. Di ruang depan hanya ada sebuah seperangkat kursi kayu sederhana, meja kayu kecil, dan lemari tua serta televisi kecil.
Ketika pagi tiba dan setelah salat Iduladha selesai, anak-anak ibu tersebut berlarian ke halaman masjid. Mereka melihat sapi dan kambing yang akan disembelih. Dengan mata berbinar, wajah mereka penuh rasa penasaran dan harapan keluarga mereka akan mendapat bagian daging dari panitia masjid. Setiap tibanya waktu Hari Raya Iduladha, ke tujuh anak itu selalu menunggu dengan penuh harapan.
Pada masa tahun 1980-an, orang yang mampu berkurban masih sedikit. Mereka yang mampu berkurban biasanya hanyalah tokoh masyarakat, pedagang besar, atau orang yang dianggap berkecukupan. Sehingga setiap warga yang menerima daging kurban takarannya tidak banyak, namun tidak menghilangkan rasa bersyukur dan kebahagiaan.
Waktu pembagian daging kurban menjadi sesuatu yang sangat dinanti masyarakat kecil. Seketika itu pun aroma masakan daging sapi atau kambing pada Hari Raya Iduladha terasa begitu istimewa sebab tidak setiap hari orang bisa menikmatinya. Bahkan sebagian keluarga hanya merasakan makan daging waktu-waktu tertentu saja, karena harga daging lebih melambung dibandingkan harga daging ayam atau ikan.
Menjelang siang, pak RT datang membawa kantong plastik hitam kecil berisi pembagian daging kurban. Isinya tidak banyak hanya beberapa potong daging bercampur lemak sapi, tetapi bagi keluarga sederhana itu, pemberian kecil tersebut terasa seperti hadiah besar. Anak-anaknya mengerubungi kantong itu dengan mata penuh kegembiraan. Mereka membayangkan lezatnya makan daging setelah sekian lama hanya makan tempe, tahu, atau sayur bening sesekali daging ayam atau ikan.
Saat itupun, ibu segera masuk ke dapur kecilnya. Di dapur itu ada kompor minyak tanah yang tren waktu tahun 1980-an. Ia duduk di bangku pendek sambil mulai mengolah daging pemberian pak RT tadi. Ia tahu jumlah daging itu sangat sedikit untuk dimakan tujuh anaknya. Namun ibu tersebut yang piawai dalam memasak ini, selalu punya cara agar makanan sederhana terasa cukup untuk semua.
Ia mengambil beberapa butir kelapa tua, lalu memarutnya dengan perlahan agar kelapanya terasa gurih. Kelapa parut itu kemudian dicampur dengan bumbu sederhana yang terdiri bawang merah, bawang putih, ketumbar, lengkuas, asam jawa, garam, merica, sereh, kemiri dan sedikit gula merah. Setelah itu, daging dan lemak dipotong kecil-kecil lalu dicampurkan ke dalam parutan kelapa berbumbu bahan-bahan tadi yang sudah dihaluskan.
Masakan itu dikenal dengan sebutan dendeng ragi. Aroma kelapa sangrai bercampur lemak sapi perlahan memenuhi rumah kecil itu. Sementara anak-anak duduk menunggu dengan tidak sabar. Ibu sengaja menambahkan banyak kelapa parut agar masakan terlihat lebih banyak. Ia ingin ke tujuh anaknya bisa makan dengan puas walaupun dagingnya hanya sedikit. Tangannya terus mengaduk dendeng ragi tersebut dengan hati-hati agar parutan kelapa tidak gosong.
Sesekali ia menatap anak-anaknya yang tertawa di ruang depan. Ada kebahagiaan sederhana di matanya. Baginya, kebahagiaan terbesar bukanlah memiliki harta atau rumah mewah, melainkan melihat anak-anaknya makan dengan lahap dan tersenyum gembira.
Ketika masakan matang, ia membaginya ke atas piring-piring seng yang sudah mulai kusam. Nasi putih hangat ditemani dendeng ragi terasa begitu nikmat. Anak-anak makan dengan lahap sambil sesekali memuji masakan ibu mereka tersayang. Ibunya pandai memasak ditambah juga untuk menghemat keuangan keluarga, maka ibu setiap hari mengolah sendiri berbagai menu makanan untuk keluarga.
“Enak sekali, masakan ini Bu.” kata anak nomor dua seusai merasakan suapan pertama. Ibu tersenyum bahagia. Ia dan suaminya hanya makan sedikit. Potongan daging lebih banyak diberikan kepada anak-anaknya. Bahkan kadang mereka pura-pura kenyang agar anak-anaknya tidak merasa bersalah mengambil bagian lebih banyak.
Suasana Hari Raya Kurban terasa hangat meskipun hidup dalam keterbatasan. Berbeda dengan sekarang, saat hewan kurban jumlahnya melimpah dan pembagian daging bisa mencapai 1 kilogram untuk satu keluarga. Masa tahun 1980-an sedikit daging saja sudah mampu menghadirkan kebahagiaan besar. Kini banyak orang yang mampu berkurban setiap tahunnya. Begitupun dengan Jamaah haji meningkat sangat pesat hingga antrean keberangkatan menjadi panjang.
di tengah kesederhanaan dan keterbatasan masa lalu itulah nilai pengorbanan terasa sangat dalam. Seorang ibu rela menahan lapar demi anak-anaknya. Ia mengubah sedikit daging menjadi hidangan yang cukup untuk semua. Ia menyamarkan kekurangan dengan kasih sayang dan ketulusan.

Pengorbanan seorang ibu sering kali tidak terlihat besar di mata dunia. Tidak tercatat dalam sejarah, tidak pula diviralkan orang. Tetapi di balik dapur sederhana itu ada cinta luar biasa yang tidak dapat diukur dengan harta. Bagi ke tujuh anaknya, aroma dendeng ragi bercampur kelapa itu mungkin akan terus tinggal dalam ingatan sepanjang hidup mereka. Bukan semata karena rasanya yang lezat, melainkan karena di dalamnya terdapat kasih sayang seorang ibu dan bapak yang rela memberikan segalanya demi kebahagiaan anak-anaknya.
Waktu terus berjalan. Anak-anak itu sekarang telah tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing. Namun kenangan tentang Hari Raya Iduladha di tahun 1980-an tetap hidup di hati mereka yaitu tentang sedikit daging pemberian masjid, tentang dapur kecil yang selalu penuh asap, dan tentang seorang ibu sederhana tetapi piawai dalam menjadikan kekurangan terasa penuh cinta, Karena sesungguhnya, berkurban yang terindah bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban saja, melainkan juga tentang ketulusan hati dan selalu bersyukur melintasi terjalnya kehidupan ini. (*)
