Selebrasi Ikonik Piala Dunia

6 menit baca
bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan
Selebrasi khas Brian Laudrup di Piala Dunia 1998. (Sumber: Istimewa)
Selebrasi khas Brian Laudrup di Piala Dunia 1998. (Sumber: Istimewa)

Kejuaraan Piala Dunia sepakbola menjadi panggung teater terbesar tempat dimana tumpah air mata kesedihan, keharuan, kejayaan, serta kebanggaan berpadu menjadi satu. Dalam banyak momen yang tercipta sepanjang sejarah turnamen sepak bola terbesar di semesta ini, momen selebrasi gol para pemain atau kemenangan ternyata pesonanya mampu memikat hati para pemuja sepakbola.

Pada Piala Dunia 2026, ada selebarasi unik yang memikat perhatian adalah "Viking Row" milik para pemain dan pendukung Timnas Norwegia. Selebrasi tersebut melambung jauh keluar melintasi stadion tempat pertandingan berlangsung. Viking Row muncul di pusat-pusat kota, kantor-kantor, para anggota militer hingga gedung parlemen Norwegia selama turnamen berlangsung.

Lantas, apa sih Viking Row itu ? Viking Row merupakan nyanyian dan gerakan yang dilakukan secara serempak oleh sekelompok suporter untuk meniru aktivitas mendayung kapal panjang atau longship Bangsa Viking. Gerakan ini diawali dengan para pendukung yang duduk bersama. Mereka kemudian melantunkan kata Ro yang dalam bahasa Norwegia berarti mendayung. Seiring nyanyian makin keras, suporter mulai menggerakkan tangan ke depan dan ke belakang secara bersamaan seperti sedang mengayuh dayung. gerakan ini juga menjadi simbol keakraban antara para pemain dengan suporter Norwegia.

Membahas tentang selebrasi yang paling unik, elegan, sekaligus tak terlupakan atau ikonik maka ingatan pencinta sepak bola pasti akan tertuju pada satu nama yakni Brian Laudrup asal negeri Denmark. Seperti yang dikutip dari berbagai sumber, selebrasi ala Brian Laudrup memang sangat berbeda dengan kebiasaan selebrasi para pemain yang rata-rata berlari, merentangkan tangan, meloncat atau berpelukan.

Pada perempat final Piala Dunia 1998 yang berlangsung di Prancis, penyerang legendaris tim nasional Denmark ini menciptakan sebuah gestur ikonik yang terus dibicarakan hingga puluhan tahun berikutnya. Di tengah tensi tinggi pertandingan hidup-mati melawan raksasa dunia, Brasil, Laudrup justru memilih untuk "merebahkan diri" dengan santai di atas rumput hijau.

Pertandingan antara Brasil dan Denmark langsung berjalan dengan intensitas luar biasa sejak peluit pertama dibunyikan. Denmark mengejutkan dunia ketika Martin Jorgensen mencetak gol cepat pada menit ke-2. Namun, mental juara Brasil berbicara. Bebeto menyamakan kedudukan pada menit ke-11, diikuti oleh gol Rivaldo pada menit ke-27 yang membalikkan keadaan menjadi 2-1 untuk Brasil hingga babak pertama usai.

Memasuki babak kedua, Denmark menolak untuk menyerah. Mereka terus menekan pertahanan Brasil yang dikawal oleh Junior Baiano dan Aldair. Tepat pada menit ke-50, momen magis itu tiba. Berawal dari sebuah kesalahan antisipasi dari bek kiri Brasil, Roberto Carlos, yang berniat melakukan tendangan salto untuk membuang bola di dalam kotak penalti, bola justru bergulir liar ke arah tiang jauh. Di sana, Brian Laudrup berdiri tanpa terkawal. Dengan ketenangan seorang predator, penyerang tersebut langsung melepaskan tendangan voli keras menggunakan kaki kanannya.

Bola meluncur deras menghujam jejaring gawang Taffarel. Kedudukan berubah menjadi 2-2. Stadion bergemuruh, dan seketika itu juga, lahirlah salah satu selebrasi paling terkenal dalam sejarah sepak bola. Alih-alih berlari mengitari lapangan, melepas baju, atau meluncur dengan lututnya seperti yang biasa dilakukan pemain lain, Brian Laudrup memilih cara yang benar-benar berbeda. Setelah mencetak gol, ia berlari kecil menuju pinggir lapangan. Tiba-tiba, ia menjatuhkan badannya ke atas rumput dengan posisi menyamping. Ia menopang kepalanya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya diletakkan di atas pinggang. Kakinya menyilang dengan santai.

Pose tersebut terlihat sangat santui, seolah-olah Laudrup tidak sedang bertanding di perempat final Piala Dunia yang menegangkan, melainkan sedang berjemur di pantai atau bersantai di sofa depan televisi pada akhir pekan. Ekspresi wajahnya menunjukkan kombinasi antara kebanggaan, ketenangan, dan sedikit bumbu keangkuhan yang elegan. Selebrasi ini langsung menjadi perhatian kamera global dan melekat di benak jutaan penonton yang menyaksikannya secara langsung.

Bertahun-tahun setelah Piala Dunia 1998 berakhir, Brian Laudrup akhirnya mengungkapkan cerita unik dan menggelitik di balik inspirasi selebrasi ikonik tersebut. Ternyata, pencetus ide dari gaya bertiarap santai itu bukanlah dirinya sendiri, melainkan putra kecilnya yang baru berusia sembilan tahun saat itu, Nicolai. Malam sebelum pertandingan besar melawan Brasil, Nicolai berbincang dengan sang ayah. Sang anak memberikan kritik yang cukup jujur dan tajam mengenai gaya bermain ayahnya ketika merayakan gol.

Selebrasi khas Bebeto di Piala Dunia 1994. (Sumber: FIFA)
Selebrasi khas Bebeto di Piala Dunia 1994. (Sumber: FIFA)

"Ayah, kamu sangat membosankan kalau sedang merayakan gol. Tolong, buatlah sesuatu yang berbeda dan keren," kenang Brian menirukan ucapan putranya dalam sebuah wawancara dengan Goal.

Matahari Dallas sore itu, 9 Juli 1994, bersinar begitu terik, membakar rumput Stadion Cotton Bowl. Babak perempat final Piala Dunia mempertemukan dua raksasa yaitu Brasil dan Belanda. Di tribun, puluhan ribu pasang mata menahan napas. Di lapangan, tensi berada di titik didih. Babak kedua berjalan menegangkan, skor masih kacamata, hingga menit ke-63 tiba. Sebuah umpan silang akurat membelah pertahanan Belanda. Bebeto, sang striker Brasil berwajah sendu namun mematikan, berlari mengejar bola dengan insting seorang predator. Dengan satu sentuhan magis, ia melewati kiper Ed de Goey dan menceploskan bola ke gawang yang kosong. Stadion bergemuruh. Brasil jadi unggul 2-0 setelah gol yang pertama dibuat oleh Romario pada menit ke 53.

Namun, bukan gol itu yang akhirnya dicatat sejarah dengan tinta emas. Melainkan apa yang terjadi beberapa detik setelahnya. Bebeto tidak berlari menuju bendera sudut untuk pamer kekuatan. Ia tidak menjatuhkan diri ke tanah dengan keangkuhan. Sebaliknya, ia berlari ke tepi lapangan dengan air mata yang hampir tumpah. Pikirannya melayang ribuan mil jauhnya, ke sebuah ruang bersalin di Rio de Janeiro, tempat putranya, Mattheus, baru saja lahir ke dunia dua hari sebelum laga.

Dalam luapan emosi yang murni, Bebeto menyatukan kedua tangannya di depan dada. Ia mulai mengayunkannya ke kiri dan ke kanan, meniru gerakan seorang ayah yang sedang menimang bayi dengan penuh kelembutan.

"Itu benar-benar spontan," tegas Bebeto bertahun-tahun kemudian, mengenang momen sakral tersebut. "Saya mulai melakukan gerakan menggendong bayi. Saya melihat ke kanan dan Mazinho melakukannya. Saya melihat ke kiri dan Romario melakukannya. Itu sangat indah. Itu gerakan sederhana, tetapi dengan semua cinta dan kasih sayang saya."

Tanpa komando, tanpa latihan di sesi strategi, Romario dan Mazinho berlari mendekat. Mereka tidak menghentikan selebrasi Bebeto; mereka justru bergabung. Ketiga bintang lapangan itu berdiri sejajar, bergerak dalam ritme yang sama, mengayunkan tangan mereka secara sinkron di hadapan kilatan kamera seluruh dunia.

Di tengah turnamen yang penuh tekanan, ego, dan tekel-tekel keras, pemandangan itu terasa begitu kontras. Itu adalah oase kemanusiaan di dalam teater perang sepak bola. Tiga pria perkasa, yang ditakuti oleh bek-bek terbaik dunia, bertransformasi menjadi sosok ayah yang rapuh namun penuh cinta di hadapan miliaran pasang mata.

Brian Laudrup gagal membawa pulang trofi Piala Dunia ke Kopenhagen, namun lewat satu gol indah dan selebrasi "santai di pantai"-nya, ia berhasil mengamankan tempat abadi dalam sejarah dan hati para pencinta sepak bola di seluruh dunia. Momen itu membuktikan bahwa sepak bola bukan hanya tentang hasil akhir di papan skor, melainkan juga tentang keindahan, hiburan, dan kenangan yang ditinggalkan di atas lapangan hijau. begitupun juga dengan selebrasi gendong bayi dari Trio Brasil yang menciptakan selebrasi ikonik tidak lekang oleh waktu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)