Hari Koperasi diperingati setiap 12 Juli. Tahun ini mengedepankan tema "Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya". Kelahiran Koperasi di Indonesia tak bisa lepas dari Kota Tasikmalaya.
Ekonomi kerakyatan merupakan topik utama dalam Kongres Koperasi Pertama di Tasikmalaya pada 12 Juli 1947. Waktu itu, di tengah Agresi Militer Belanda, sebanyak 500 utusan dari seluruh penjuru tanah air sepakat membentuk SOKRI, menegaskan asas gotong royong, dan mengukuhkan Mohammad Hatta sebagai Bapak Koperasi atas jasanya membangun ekonomi rakyat.
Momentum peringatan Hari Koperasi tahun ini lebih afdol jika menguatkan eksistensi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Untuk kedepan kita berharap agar KDMP tidak hanya menjadi jenis koperasi untuk belanja kebutuhan sehari-hari. KDMP mestinya tumbuh menjadi koperasi yang mendukung peningkatan produksi pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan dalam bentuk penyediaan jasa dan produksi alat mesin pertanian (alsintan ) dan aktivitas mekanisasi pertanian.
Antara lain jika pada saat ini para petani membutuhkan volume air yang cukup untuk mengairi sawahnya saat musim kering, maka KDMP juga menyediakan jasa untuk menyewakan pompa air dengan harga yang murah.
Saat ini adalah momentum koperasi untuk ikut menggiatkan inovasi mekanisasi pertanian demi menggenjot produktivitas. Peningkatan produktivitas dihadang oleh kekeringan dan masalah usangnya mekanisasi pertanian. Antisipasi kekeringan telah diantisipasi oleh pemerintah. Pemerintah terus menggencarkan sistem pompanisasi demi mencegah kekeringan.
Kita mestinya mencontoh manajemen air tanah di luar negeri yang tidak mudah menyerah untuk terus berinovasi mengupayakan teknologi baru agar dapat memenuhi kebutuhan air yang bersumber dari air tanah. Di negara maju, pengelolaan air tanah yang hanya berbasis sumur produksi (seperti saat ini di Indonesia) telah lama ditinggalkan bergeser ke paradigma baru yaitu pengelolaan secara terintegrasi air tanah dan cekungannya dengan tajuk groundwater basin management.
Saatnya menggalakkan teknologi tepat guna untuk mengeksploitasi dan mendistribusikan sumber daya air untuk kebutuhan pertanian. Teknologi itu bersifat ramah lingkungan, murah dan hemat energi. Seperti misalnya kincir angin, yakni alat yang mengubah energi angin menjadi energi kinetik rotasi. Kincir angin telah digunakan di berbagai negara, namun di Indonesia penggunaan kincir angin belum optimal. Dan belum digunakan secara massal dengan berbagai proses inovasi teknologi.
Inovasi kincir angin mesti dilakukan terus menerus sesuai penggunaan dan karakteristik tempatnya. Untuk daerah yang bertiup angin kecepatan rendah lebih cocok dikembangkan kincir angin untuk pompanisasi untuk irigasi tanaman palawija.
Selama ini mekanisasi pertanian yang dikembangkan di pedesaan berorientasi untuk pengolahan tanah. Belum diintegrasikan dengan teknologi mekanisasi untuk pra tanam, perawatan, dan pascapanen. Kondisi tersebut mengakibatkan produktivitas dan efek nilai tambah penerapan teknologi mekanisasi belum bisa optimal.
Perlu mendefinisikan kembali sistem mekanisasi pertanian dan kegiatan inovasi di pedesaan sebagai sistem agribisnis yang relevan dengan pasar komoditas. Yakni sistem yang terpadu dari hulu ke hilir, mulai dari penyediaan sarana produksi, proses budidaya, aktivitas pasca panen, hingga pemasaran yang efektif dalam sistem informasi online dengan pasar komoditas dan pasar induk.
Program peningkatan produktivitas pertanian berbasis inovasi mekanisasi pertanian yang melibatkan peran aktif koperasi merupakan jawaban untuk mengatasi masalah impor produk pangan.
Mekanisasi juga menyangkut komoditas perkebunan dan dibidang peternakan terutama untuk pengolahan pakan ternak dan ikan. Untuk komoditas hortikultura, mekanisasi mulai dari irigasi sampai dengan peralatan dan mesin pasca panen seperti mesin grader buah, penggoreng vakum, perajang dan pengering.
Inovasi mekanisasi pertanian juga menyangkut sistem irigasi suplemen untuk tanaman, yakni teknologi yang diperlukan sebagai pelengkap apabila curah hujan tidak mencukupi untuk mengkompensasikan kehilangan air tanaman yang disebabkan oleh evapotranspirasi. Irigasi suplemen bertujuan untuk memberikan air yang dibutuhkan tanaman pada waktu, volume dan interval yang tepat.
Masalah pakan ternak yang selama ini mendera karena sebagian bahan bakunya masih impor bisa dipenuhi di daerah. Dengan catatan perlunya Koperasi di desa membangun pabrik mini untuk memproduksi pakan ternak. Pabrik pakan ternak mini itu sebagai usaha bersama.
Ongkos produksi pakan ternak dengan pabrik mini yang dioperasikan oleh Koperasi lebih murah dibanding dengan pakan ternak pabrikan. Pemerintah perlu memberi bantuan permodalan untuk membangun pabrik pakan ternak skala kecil. Terutama untuk daerah yang merupakan sentra produksi bahan baku pakan seperti jagung dan kelapa sawit. Infrastruktur dan permesinan pabrik bisa dirancang bangun dengan komponen lokal.
Alsintan sangat penting untuk pengolahan tanah, pengendalian hama, panen dan perontokan khususnya di daerah intensifikasi. Namun demikian, hingga kini jumlah alsintan masih sangat sedikit dibanding dengan luas lahan yang ada. Ditinjau dari jumlah alat dan mesin yang digunakan, level atau indeks mekanisasi pertanian di negeri masih sekitar 30 persen. Celakanya, utilitas atau pemakaiannya juga belum bisa optimal karena masalah perawatan dan biaya operasional.

Untuk komoditas perkebunan, mekanisasi telah digunakan terutama untuk pengolahannya. Sekitar 65 % komoditas hasil perkebunan masih kesulitan dalam pengolahan. Hal ini merupakan peluang pengembangan produk dan desain alsintan. Begitu juga dengan sektor peternakan terutama untuk pengolahan pakan, penyediaan bibit dan pengolahan produk, namun jumlahnya masih jauh dari kebutuhannya.
Kondisi industri dalam negeri alsintan yang sering stagnan perlu insentif dan bantuan teknis. Impor alistan harus dikurangi secara signifikan dengan mengembangkan secara progresif industri dalam negeri. Salah satunya adalah industri traktor yang sudah penuh menggunakan komponen lokal. Kapasitas terpasang dari industri traktor lokal sebenarnya bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri. Namun kebijakan makro dan bunga bank belum mendukung bagi industri maupun pengguna alsintan.
Dibutuhkan strategi baru pengembangan alsintan untuk tanaman pangan seperti hand traktor, transplanter, weeder, pompa air, hand sprayer, reaper (pemanen), thresher dryer dan mesin penggilingan padi. Untuk komoditas hortikultura, pengembangan mekanisasi sebaiknya diarahkan untuk mesin grader dan pemeras jeruk, perajang multiguna dan penggoreng vakum untuk pisang serta traktor dan pompa air untuk tanaman bawang merah. Sedangkan untuk tanaman perkebunan diarahkan pada pengembangan mesin untuk pengolahan. Pengolahan pakan ternak, baik untuk unggas maupun ruminansia sebaiknya juga menjadi prioritas. (*)