Di sudut Kota Tasikmalaya, tepatnya di Jalan Dr. Moch. Hatta No. 63, berdiri sebuah tugu yang tak sekadar menjadi hiasan kota. Tugu Koperasi Tasikmalaya adalah saksi bisu dari sebuah momen bersejarah yang mengubah wajah perekonomian Indonesia,sebuah kongres yang melahirkan semangat kebersamaan dan gotong royong dalam dunia usaha. Keberadaan tugu ini bukan hanya sekadar penanda lokasi, melainkan simbol perjuangan panjang para pendiri bangsa dalam membangun sistem ekonomi yang adil,mandiri, dan berpihak kepada rakyat.Kisah koperasi di Indonesia sebenarnya telah dimulai jauh sebelum kemerdekaan.
Dikutip dari jurnal Sejarah perkembangan koperasi di Indonesia:Dari Masa Kolonial Hingga Era Modern Karya Fidia Amelliyah dkk.(2025). Perkembangan koperasi di Indonesia memiliki sejarah panjang yang dipengaruhi oleh berbagai periode, mulai dari masa kolonial hingga era modern.Masa Kolonial Belanda, pada awal abad ke-20, inisiatif pendirian koperasi di Indonesia mulai muncul sebagai respons terhadap dominasi ekonomi kolonial. Tokoh seperti Raden Aria Wiriatmaja mendirikan lembaga keuangan berbasis koperasi untuk membantu masyarakat yang terjerat utang oleh rentenir.
Namun, perkembangan koperasi saat itu terhambat oleh kebijakan pemerintah kolonial yang kurang mendukung gerakan ekonomi rakyat.Masa Pendudukan Jepang, selama pendudukan Jepang (1942-1945), koperasi digunakan sebagai alat untuk mengendalikan distribusi bahan pokok. Meskipun demikian, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya koperasi mulai tumbuh, meskipun koperasi pada masa ini lebih menguntungkan kepentingan Jepang daripada rakyat Indonesia.
Masa Kemerdekaan dan Orde Lama, setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, koperasi mendapat perhatian serius dari pemerintah sebagai pilar utama ekonomi nasional. Presiden Soekarno menekankan pentingnya koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia.Gagasan sederhana namun revolusioner itu menjadi benih pertama gerakan koperasi di Nusantara.Namun perjalanan koperasi tidak selalu mulus.
Di masa penjajahan Belanda dan Jepang, koperasi menghadapi berbagai hambatan regulasi yang cukup berat. Pemerintah kolonial khawatir bahwa koperasi dapat berkembang menjadi wadah perlawanan rakyat yang terorganisir. Berbagai pembatasan pun diberlakukan untuk mempersempit ruang gerak gerakan ini. Meski begitu, semangat berkoperasi tidak pernah benar-benar padam di tengah masyarakat.Ia terus membara dalam diam, menunggu waktu yang tepat untuk kembali bangkit.
Dikutip dari FreeServers.com MENJELANG penyelenggaraan Kongres Koperasi I di Tasikmalaya tanggal 11-14 Juli 1947, para pemimpin Gerakan Koperasi di Jawa Barat(Priangan) menetapkan untuk mengirim utusan ke Yogyakarta (ibukota RI). Waktu itu mereka bermaksud untuk menemui Bung Hatta, yang bukan saja dihormati sebagai Wakil Presiden, tetapi juga sebagai ahli ekonomi dan penganjur Gerakan Koperasi.Utusan terdiri atas Niti Soemantri, Kastura, Much. Muchtar dan Kyai Lukman Hakim. Dalam pertemuan tersebut dibicarakan tentang berbagai masalah yang dihadapi gerakan dalam mengembangkan koperasi, khususnya di daerah Jawa Barat. Pada umumnya, usaha yang telah dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan Bung Hatta.
Selain bertemu dengan Bung Hatta, utusan Gerakan Koperasi Priangan juga menemui R.S. Soeria Atmadja (Kepala Jawatan Koperasi Pusat) yang berkedudukan di Magelang,dan R.M. Margono Djojohadikusumo (Presiden Direktur Bank Negara Indonesia).Dengan R.M. Margono, utusan Gerakan Kopeasi Priangan sependapat, bahwa untuk kepentingan Gerakan Koperasi Indonesia, sebelum gerakan dapat mewujudkan usaha-usahanya sendiri, pada Bank Negara Indonesia akan diadakan ”Kamar Koperasi”,yang bertugas untuk menyelenggarakan kredit bagi gerakan koperasi di seluruh Indonesia.
Melalui persiapan tersebut, maka Pusat Koperasi Priangan mengambil prakarsa untuk menyelenggarakan kongres koperasi pertama di Tasikmalaya. Dengan pertimbangan, karena kota tersebut termasuk daerah yang paling aman. Pengurus Pusat Koperasi Priangan yang sebenarnya berkedudukan di Bandung juga mengungsi ke Tasikmalaya,yang pada waktu itu merupakan ibukota Provinsi Jawa Barat untuk sementara.
Kongres berlangsung di Gedung pabrik tenun Perintis milik Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya, yang terletak di Jalan Ciamis No.40. Peserta kongres berjumlah sekira 500 orang, yang merupakan utusan koperasi-koperasi di Jawa-Madura, Kalimantan,Sumatera, dan Sulawesi.Pelaksanaan kongres dipercayakan kepada Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (PKKT). Pada Kongres Koperasi I tersebut, pagi harinya diletakkan batu pertama Tugu Koperasi, (pembangunannya dilaksanakan awal tahun 1950 dan diresmikan 12 Juli 1950). Dilanjutkan siang harinya diadakan pameran hasil kerajinan koperasi Kabupaten Tasikmalaya di ruangan Kongres.
Situasi tanah air setelah Kongres Koperasi I, masih tetap diwarnai pertempuran dibeberapa daerah melawan Belanda. Bahkan beberapa hari setelah kongres, Tasikmalaya mengalami pemboman Belanda. Sehingga keputusan kongres praktis tidak bisa dilaksanakan.Meski begitu, kepada para pemimpin/calon pemimpin koperasi desa keresidenan-karesidenan Jawa, masih sempat diberikan kursus koperasi oleh Jawatan Koperasi. Menurut catatan, jumlah koperasi pada saat itu ada 2.160. Tetapi kegiatan ini juga berhenti dengan adanya aksi militer II oleh Belanda pada 19 Desember 1948,menyusul peristiwa Madiun pada September 1948.
Masa setelah pemulihan kedaulatan dan terbentuknya Negara Kesatuan (1950), ditandai dengan upaya Gerakan Koperasi untuk bangkit kembali dari kehancurannya, akibat peperangan yang terus menerus. Situasi tanah air pada saat itu dapat dikatakan sudah aman, sehingga memungkinkan pengembangan koperasi secara lebih luas. Selain situasi keamanan dan landasan yuridis, yang juga mendorong perkembangan perkoperasian pada saat itu, adalah sikap pemerintah memberi iklim yang diperlukan.
Bagi masyarakat Tasikmalaya dan Indonesia pada umumnya, Tugu Koperasi bukan sekedar monumen batu dan semen. Desainnya yang menyerupai padi dan jagung melambangkan kemakmuran dan hasil bumi Nusantara sebagai sumber Kehidupan.Dibagikan bawahnya,ornamen roda bergerigi menggambarkan roda perekonomian yang terus berputar dan bergerak maju tanpa henti. Setiap detail arsitekturnya mengandung filosofi mendalam tentang cita-cita bangsa.Tugu ini juga menjadi pengingat abadi bahwa kemajuan ekonomi tidak harus ditempuh secara individualistis. Melalui koperasi,masyarakat diajak untuk bersama-sama,saling menopang, dan membangun kesejahteraan secara kolektif.

Nilai-nilai luhur inilah yang diwariskan dari para pendiri koperasi kepada generasi penerus bangsa, sebuah warisan yang tidak ternilai harganya.Tak heran jika keberadaan tugu ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Tasikmalaya. Kota ini tidak hanya dikenal dengan kerajinan dan kuliner khasnya, tetapi juga sebagai kota yang pernah menjadi panggung utama dalam sejarah kebangkitan ekonomi rakyat Indonesia. Sebuah kehormatan yang layak untuk terus dikenang dan dirayakan.
Tugu Koperasi Tasikmalaya adalah pengingat hidup tentang perjuangan para pendahulu yang bermimpi akan Indonesia yang mandiri secara ekonomi. Melalui peristiwa Kongres Koperasi 1947, terbukti bahwa bangsa ini mampu bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat penjajahan dengan satu senjata yang paling ampuh, yaitu semangat kebersamaan dan gotong royong.Kini, tugas kita sebagai generasi penerus adalah meneruskan semangat itu.
Bukan hanya dengan mengingat sejarah, tetapi juga dengan aktif berkontribusi dalam membangun ekonomi kerakyatan yang kuat, inklusif, dan berdaya saing tinggi. Karena sejatinya,koperasi bukan hanya soal simpan pinjam. Ia adalah cerminan dari jiwa gotong royong yang menjadi jati diri dan kekuatan terbesar bangsa Indonesia sepanjang masa. (*)
