Tugu Koperasi Tasikmalaya, Bukti Nyata Lahirnya Semangat Koperasi Indonesia

5 menit baca
Nabila  Imania
Ditulis oleh Nabila Imania diterbitkan
Depan Tugu koperasi Tasikmalaya saat ini (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nabila imania)
Depan Tugu koperasi Tasikmalaya saat ini (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nabila imania)

Di sudut Kota Tasikmalaya, tepatnya di Jalan Dr. Moch. Hatta No. 63, berdiri sebuah tugu yang tak sekadar menjadi hiasan kota. Tugu Koperasi Tasikmalaya adalah saksi bisu dari sebuah momen bersejarah yang mengubah wajah perekonomian Indonesia,sebuah kongres yang melahirkan semangat kebersamaan dan gotong royong dalam dunia usaha. Keberadaan tugu ini bukan hanya sekadar penanda lokasi, melainkan simbol perjuangan panjang para pendiri bangsa dalam membangun sistem ekonomi yang adil,mandiri, dan berpihak kepada rakyat.Kisah koperasi di Indonesia sebenarnya telah dimulai jauh sebelum kemerdekaan.

Dikutip dari jurnal Sejarah perkembangan koperasi di Indonesia:Dari Masa Kolonial Hingga Era Modern Karya Fidia Amelliyah dkk.(2025). Perkembangan koperasi di Indonesia memiliki sejarah panjang yang dipengaruhi oleh berbagai periode, mulai dari masa kolonial hingga era modern.Masa Kolonial Belanda, pada awal abad ke-20, inisiatif pendirian koperasi di Indonesia mulai muncul sebagai respons terhadap dominasi ekonomi kolonial. Tokoh seperti Raden Aria Wiriatmaja mendirikan lembaga keuangan berbasis koperasi untuk membantu masyarakat yang terjerat utang oleh rentenir.

Namun, perkembangan koperasi saat itu terhambat oleh kebijakan pemerintah kolonial yang kurang mendukung gerakan ekonomi rakyat.Masa Pendudukan Jepang, selama pendudukan Jepang (1942-1945), koperasi digunakan sebagai alat untuk mengendalikan distribusi bahan pokok. Meskipun demikian, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya koperasi mulai tumbuh, meskipun koperasi pada masa ini lebih menguntungkan kepentingan Jepang daripada rakyat Indonesia.

Masa Kemerdekaan dan Orde Lama, setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, koperasi mendapat perhatian serius dari pemerintah sebagai pilar utama ekonomi nasional. Presiden Soekarno menekankan pentingnya koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia.Gagasan sederhana namun revolusioner itu menjadi benih pertama gerakan koperasi di Nusantara.Namun perjalanan koperasi tidak selalu mulus.

Di masa penjajahan Belanda dan Jepang, koperasi menghadapi berbagai hambatan regulasi yang cukup berat. Pemerintah kolonial khawatir bahwa koperasi dapat berkembang menjadi wadah perlawanan rakyat yang terorganisir. Berbagai pembatasan pun diberlakukan untuk mempersempit ruang gerak gerakan ini. Meski begitu, semangat berkoperasi tidak pernah benar-benar padam di tengah masyarakat.Ia terus membara dalam diam, menunggu waktu yang tepat untuk kembali bangkit.

Dikutip dari FreeServers.com MENJELANG penyelenggaraan Kongres Koperasi I di Tasikmalaya tanggal 11-14 Juli 1947, para pemimpin Gerakan Koperasi di Jawa Barat(Priangan) menetapkan untuk mengirim utusan ke Yogyakarta (ibukota RI). Waktu itu mereka bermaksud untuk menemui Bung Hatta, yang bukan saja dihormati sebagai Wakil Presiden, tetapi juga sebagai ahli ekonomi dan penganjur Gerakan Koperasi.Utusan terdiri atas Niti Soemantri, Kastura, Much. Muchtar dan Kyai Lukman Hakim. Dalam pertemuan tersebut dibicarakan tentang berbagai masalah yang dihadapi gerakan dalam mengembangkan koperasi, khususnya di daerah Jawa Barat. Pada umumnya, usaha yang telah dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan Bung Hatta.

Selain bertemu dengan Bung Hatta, utusan Gerakan Koperasi Priangan juga menemui R.S. Soeria Atmadja (Kepala Jawatan Koperasi Pusat) yang berkedudukan di Magelang,dan R.M. Margono Djojohadikusumo (Presiden Direktur Bank Negara Indonesia).Dengan R.M. Margono, utusan Gerakan Kopeasi Priangan sependapat, bahwa untuk kepentingan Gerakan Koperasi Indonesia, sebelum gerakan dapat mewujudkan usaha-usahanya sendiri, pada Bank Negara Indonesia akan diadakan ”Kamar Koperasi”,yang bertugas untuk menyelenggarakan kredit bagi gerakan koperasi di seluruh Indonesia.

Melalui persiapan tersebut, maka Pusat Koperasi Priangan mengambil prakarsa untuk menyelenggarakan kongres koperasi pertama di Tasikmalaya. Dengan pertimbangan, karena kota tersebut termasuk daerah yang paling aman. Pengurus Pusat Koperasi Priangan yang sebenarnya berkedudukan di Bandung juga mengungsi ke Tasikmalaya,yang pada waktu itu merupakan ibukota Provinsi Jawa Barat untuk sementara.

Kongres berlangsung di Gedung pabrik tenun Perintis milik Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya, yang terletak di Jalan Ciamis No.40. Peserta kongres berjumlah sekira 500 orang, yang merupakan utusan koperasi-koperasi di Jawa-Madura, Kalimantan,Sumatera, dan Sulawesi.Pelaksanaan kongres dipercayakan kepada Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (PKKT). Pada Kongres Koperasi I tersebut, pagi harinya diletakkan batu pertama Tugu Koperasi, (pembangunannya dilaksanakan awal tahun 1950 dan diresmikan 12 Juli 1950). Dilanjutkan siang harinya diadakan pameran hasil kerajinan koperasi Kabupaten Tasikmalaya di ruangan Kongres.

Situasi tanah air setelah Kongres Koperasi I, masih tetap diwarnai pertempuran dibeberapa daerah melawan Belanda. Bahkan beberapa hari setelah kongres, Tasikmalaya mengalami pemboman Belanda. Sehingga keputusan kongres praktis tidak bisa dilaksanakan.Meski begitu, kepada para pemimpin/calon pemimpin koperasi desa keresidenan-karesidenan Jawa, masih sempat diberikan kursus koperasi oleh Jawatan Koperasi. Menurut catatan, jumlah koperasi pada saat itu ada 2.160. Tetapi kegiatan ini juga berhenti dengan adanya aksi militer II oleh Belanda pada 19 Desember 1948,menyusul peristiwa Madiun pada September 1948.

Masa setelah pemulihan kedaulatan dan terbentuknya Negara Kesatuan (1950), ditandai dengan upaya Gerakan Koperasi untuk bangkit kembali dari kehancurannya, akibat peperangan yang terus menerus. Situasi tanah air pada saat itu dapat dikatakan sudah aman, sehingga memungkinkan pengembangan koperasi secara lebih luas. Selain situasi keamanan dan landasan yuridis, yang juga mendorong perkembangan perkoperasian pada saat itu, adalah sikap pemerintah memberi iklim yang diperlukan.

Bagi masyarakat Tasikmalaya dan Indonesia pada umumnya, Tugu Koperasi bukan sekedar monumen batu dan semen. Desainnya yang menyerupai padi dan jagung melambangkan kemakmuran dan hasil bumi Nusantara sebagai sumber Kehidupan.Dibagikan bawahnya,ornamen roda bergerigi menggambarkan roda perekonomian yang terus berputar dan bergerak maju tanpa henti. Setiap detail arsitekturnya mengandung filosofi mendalam tentang cita-cita bangsa.Tugu ini juga menjadi pengingat abadi bahwa kemajuan ekonomi tidak harus ditempuh secara individualistis. Melalui koperasi,masyarakat diajak untuk bersama-sama,saling menopang, dan membangun kesejahteraan secara kolektif.

Nilai-nilai luhur inilah yang diwariskan dari para pendiri koperasi kepada generasi penerus bangsa, sebuah warisan yang tidak ternilai harganya.Tak heran jika keberadaan tugu ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Tasikmalaya. Kota ini tidak hanya dikenal dengan kerajinan dan kuliner khasnya, tetapi juga sebagai kota yang pernah menjadi panggung utama dalam sejarah kebangkitan ekonomi rakyat Indonesia. Sebuah kehormatan yang layak untuk terus dikenang dan dirayakan.

Tugu Koperasi Tasikmalaya adalah pengingat hidup tentang perjuangan para pendahulu yang bermimpi akan Indonesia yang mandiri secara ekonomi. Melalui peristiwa Kongres Koperasi 1947, terbukti bahwa bangsa ini mampu bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat penjajahan dengan satu senjata yang paling ampuh, yaitu semangat kebersamaan dan gotong royong.Kini, tugas kita sebagai generasi penerus adalah meneruskan semangat itu.

Bukan hanya dengan mengingat sejarah, tetapi juga dengan aktif berkontribusi dalam membangun ekonomi kerakyatan yang kuat, inklusif, dan berdaya saing tinggi. Karena sejatinya,koperasi bukan hanya soal simpan pinjam. Ia adalah cerminan dari jiwa gotong royong yang menjadi jati diri dan kekuatan terbesar bangsa Indonesia sepanjang masa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nabila  Imania
Tentang Nabila Imania
Mahasiswa S1

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Jul 2026, 17:00

Pendidikan di Bandung pada Masa Pendudukan Jepang

Pendidikan dalam masa penjajahan Jepang diawali dengan dibukanya kembali sebagian dari sekolah-sekolah yang dahulu pernah berdiri.

Museum Geologi saat Masa Pendudukan Jepang. (Sumber: Koleksi Museum Geologi Bandung)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 11:42

Gernas RANA: Menepis Cemas dan Menanam Senyum di Hari Pertama Sekolah

Lewat Permendikdasmen 12/2026 & Gernas RANA, sekolah kini jadi ruang aman bebas cemas. Saatnya sambut masa depan anak dengan kasih sayang!

Pengenalan sekolah bagi para siswa-siswi baru. (Foto: Oleh : bkhmvidio@gmail.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 09:09

Bedah Publikasi Pesan Program Pendampingan Gizi dalam Pencegahan Stunting

Nestle Indonesia mempublikasikan program pendampingan gizi di berbagai platform komunikasi dengan menyesuaikan karakteristik tiap platform.

Ilustrasi penulis sedang membedah narasi iklan. (Dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 08:39

Sudah Sehatkah Demokrasi Kita?

Apakah demokrasi bisa tumbuh secara sehat tanpa partisipasi masyarakat? Bagaimana pandangan pakar tentang ini?

Bendera negara Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Rizky Rahmat Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 07:55

SPMB Jalur Domisili Belum Cukup Mengurangi Ketergantungan Pelajar pada Sepeda Motor

SPMB jalur domisili mendekatkan jarak antara rumah dan sekolah, tetapi belum cukup mengurangi ketergantungan pelajar pada sepeda motor dan risiko keselamatan di jalan raya.

Sejumlah sepeda motor milik siswa sebuah SMA di Kota Bandung diparkir di badan jalan. (Istimewa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 07:50

Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)