Tugu Koperasi Tasikmalaya, Bukti Nyata Lahirnya Semangat Koperasi Indonesia

5 menit baca
Nabila  Imania
Ditulis oleh Nabila Imania diterbitkan Rabu 10 Jun 2026, 20:24 WIB
Depan Tugu koperasi Tasikmalaya saat ini (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nabila imania)

Depan Tugu koperasi Tasikmalaya saat ini (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nabila imania)

Di sudut Kota Tasikmalaya, tepatnya di Jalan Dr. Moch. Hatta No. 63, berdiri sebuah tugu yang tak sekadar menjadi hiasan kota. Tugu Koperasi Tasikmalaya adalah saksi bisu dari sebuah momen bersejarah yang mengubah wajah perekonomian Indonesia,sebuah kongres yang melahirkan semangat kebersamaan dan gotong royong dalam dunia usaha. Keberadaan tugu ini bukan hanya sekadar penanda lokasi, melainkan simbol perjuangan panjang para pendiri bangsa dalam membangun sistem ekonomi yang adil,mandiri, dan berpihak kepada rakyat.Kisah koperasi di Indonesia sebenarnya telah dimulai jauh sebelum kemerdekaan.

Dikutip dari jurnal Sejarah perkembangan koperasi di Indonesia:Dari Masa Kolonial Hingga Era Modern Karya Fidia Amelliyah dkk.(2025). Perkembangan koperasi di Indonesia memiliki sejarah panjang yang dipengaruhi oleh berbagai periode, mulai dari masa kolonial hingga era modern.Masa Kolonial Belanda, pada awal abad ke-20, inisiatif pendirian koperasi di Indonesia mulai muncul sebagai respons terhadap dominasi ekonomi kolonial. Tokoh seperti Raden Aria Wiriatmaja mendirikan lembaga keuangan berbasis koperasi untuk membantu masyarakat yang terjerat utang oleh rentenir.

Namun, perkembangan koperasi saat itu terhambat oleh kebijakan pemerintah kolonial yang kurang mendukung gerakan ekonomi rakyat.Masa Pendudukan Jepang, selama pendudukan Jepang (1942-1945), koperasi digunakan sebagai alat untuk mengendalikan distribusi bahan pokok. Meskipun demikian, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya koperasi mulai tumbuh, meskipun koperasi pada masa ini lebih menguntungkan kepentingan Jepang daripada rakyat Indonesia.

Masa Kemerdekaan dan Orde Lama, setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, koperasi mendapat perhatian serius dari pemerintah sebagai pilar utama ekonomi nasional. Presiden Soekarno menekankan pentingnya koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia.Gagasan sederhana namun revolusioner itu menjadi benih pertama gerakan koperasi di Nusantara.Namun perjalanan koperasi tidak selalu mulus.

Di masa penjajahan Belanda dan Jepang, koperasi menghadapi berbagai hambatan regulasi yang cukup berat. Pemerintah kolonial khawatir bahwa koperasi dapat berkembang menjadi wadah perlawanan rakyat yang terorganisir. Berbagai pembatasan pun diberlakukan untuk mempersempit ruang gerak gerakan ini. Meski begitu, semangat berkoperasi tidak pernah benar-benar padam di tengah masyarakat.Ia terus membara dalam diam, menunggu waktu yang tepat untuk kembali bangkit.

Dikutip dari FreeServers.com MENJELANG penyelenggaraan Kongres Koperasi I di Tasikmalaya tanggal 11-14 Juli 1947, para pemimpin Gerakan Koperasi di Jawa Barat(Priangan) menetapkan untuk mengirim utusan ke Yogyakarta (ibukota RI). Waktu itu mereka bermaksud untuk menemui Bung Hatta, yang bukan saja dihormati sebagai Wakil Presiden, tetapi juga sebagai ahli ekonomi dan penganjur Gerakan Koperasi.Utusan terdiri atas Niti Soemantri, Kastura, Much. Muchtar dan Kyai Lukman Hakim. Dalam pertemuan tersebut dibicarakan tentang berbagai masalah yang dihadapi gerakan dalam mengembangkan koperasi, khususnya di daerah Jawa Barat. Pada umumnya, usaha yang telah dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan Bung Hatta.

Selain bertemu dengan Bung Hatta, utusan Gerakan Koperasi Priangan juga menemui R.S. Soeria Atmadja (Kepala Jawatan Koperasi Pusat) yang berkedudukan di Magelang,dan R.M. Margono Djojohadikusumo (Presiden Direktur Bank Negara Indonesia).Dengan R.M. Margono, utusan Gerakan Kopeasi Priangan sependapat, bahwa untuk kepentingan Gerakan Koperasi Indonesia, sebelum gerakan dapat mewujudkan usaha-usahanya sendiri, pada Bank Negara Indonesia akan diadakan ”Kamar Koperasi”,yang bertugas untuk menyelenggarakan kredit bagi gerakan koperasi di seluruh Indonesia.

Melalui persiapan tersebut, maka Pusat Koperasi Priangan mengambil prakarsa untuk menyelenggarakan kongres koperasi pertama di Tasikmalaya. Dengan pertimbangan, karena kota tersebut termasuk daerah yang paling aman. Pengurus Pusat Koperasi Priangan yang sebenarnya berkedudukan di Bandung juga mengungsi ke Tasikmalaya,yang pada waktu itu merupakan ibukota Provinsi Jawa Barat untuk sementara.

Kongres berlangsung di Gedung pabrik tenun Perintis milik Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya, yang terletak di Jalan Ciamis No.40. Peserta kongres berjumlah sekira 500 orang, yang merupakan utusan koperasi-koperasi di Jawa-Madura, Kalimantan,Sumatera, dan Sulawesi.Pelaksanaan kongres dipercayakan kepada Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (PKKT). Pada Kongres Koperasi I tersebut, pagi harinya diletakkan batu pertama Tugu Koperasi, (pembangunannya dilaksanakan awal tahun 1950 dan diresmikan 12 Juli 1950). Dilanjutkan siang harinya diadakan pameran hasil kerajinan koperasi Kabupaten Tasikmalaya di ruangan Kongres.

Situasi tanah air setelah Kongres Koperasi I, masih tetap diwarnai pertempuran dibeberapa daerah melawan Belanda. Bahkan beberapa hari setelah kongres, Tasikmalaya mengalami pemboman Belanda. Sehingga keputusan kongres praktis tidak bisa dilaksanakan.Meski begitu, kepada para pemimpin/calon pemimpin koperasi desa keresidenan-karesidenan Jawa, masih sempat diberikan kursus koperasi oleh Jawatan Koperasi. Menurut catatan, jumlah koperasi pada saat itu ada 2.160. Tetapi kegiatan ini juga berhenti dengan adanya aksi militer II oleh Belanda pada 19 Desember 1948,menyusul peristiwa Madiun pada September 1948.

Masa setelah pemulihan kedaulatan dan terbentuknya Negara Kesatuan (1950), ditandai dengan upaya Gerakan Koperasi untuk bangkit kembali dari kehancurannya, akibat peperangan yang terus menerus. Situasi tanah air pada saat itu dapat dikatakan sudah aman, sehingga memungkinkan pengembangan koperasi secara lebih luas. Selain situasi keamanan dan landasan yuridis, yang juga mendorong perkembangan perkoperasian pada saat itu, adalah sikap pemerintah memberi iklim yang diperlukan.

Bagi masyarakat Tasikmalaya dan Indonesia pada umumnya, Tugu Koperasi bukan sekedar monumen batu dan semen. Desainnya yang menyerupai padi dan jagung melambangkan kemakmuran dan hasil bumi Nusantara sebagai sumber Kehidupan.Dibagikan bawahnya,ornamen roda bergerigi menggambarkan roda perekonomian yang terus berputar dan bergerak maju tanpa henti. Setiap detail arsitekturnya mengandung filosofi mendalam tentang cita-cita bangsa.Tugu ini juga menjadi pengingat abadi bahwa kemajuan ekonomi tidak harus ditempuh secara individualistis. Melalui koperasi,masyarakat diajak untuk bersama-sama,saling menopang, dan membangun kesejahteraan secara kolektif.

Nilai-nilai luhur inilah yang diwariskan dari para pendiri koperasi kepada generasi penerus bangsa, sebuah warisan yang tidak ternilai harganya.Tak heran jika keberadaan tugu ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Tasikmalaya. Kota ini tidak hanya dikenal dengan kerajinan dan kuliner khasnya, tetapi juga sebagai kota yang pernah menjadi panggung utama dalam sejarah kebangkitan ekonomi rakyat Indonesia. Sebuah kehormatan yang layak untuk terus dikenang dan dirayakan.

Tugu Koperasi Tasikmalaya adalah pengingat hidup tentang perjuangan para pendahulu yang bermimpi akan Indonesia yang mandiri secara ekonomi. Melalui peristiwa Kongres Koperasi 1947, terbukti bahwa bangsa ini mampu bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat penjajahan dengan satu senjata yang paling ampuh, yaitu semangat kebersamaan dan gotong royong.Kini, tugas kita sebagai generasi penerus adalah meneruskan semangat itu.

Bukan hanya dengan mengingat sejarah, tetapi juga dengan aktif berkontribusi dalam membangun ekonomi kerakyatan yang kuat, inklusif, dan berdaya saing tinggi. Karena sejatinya,koperasi bukan hanya soal simpan pinjam. Ia adalah cerminan dari jiwa gotong royong yang menjadi jati diri dan kekuatan terbesar bangsa Indonesia sepanjang masa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nabila  Imania
Tentang Nabila Imania
Mahasiswa S1

Berita Terkait

News Update

Bandung 10 Jun 2026, 21:21

Menjembatani Komunitas dan Profesional Urban, Strategi Respiro Definisikan Ulang Fashion Berkendara Tropis

Respiro menangkap peluang emas ini dengan merumuskan ulang konsep estetika visual produk agar selaras dengan kebutuhan gaya hidup kaum urban yang serbacepat.

Koleksi perlengkapan berkendara atau riding apparel dari Respiro Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 20:24

Tugu Koperasi Tasikmalaya, Bukti Nyata Lahirnya Semangat Koperasi Indonesia

Artikel ini membahas Tugu Koperasi Tasikmalaya sebagai simbol sejarah lahir dan berkembangnya semangat koperasi di Indonesia.

Depan Tugu koperasi Tasikmalaya saat ini (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nabila imania)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 18:47

Ulos: Kain yang Menjadi Simbol dari Masyarakat Batak

Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan persatuan.

Kain Ulos Ragi Hidup (Sumber: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/19484/1/2010-Booklet-Mengenal%20Ulos.pdf)
Bandung 10 Jun 2026, 17:55

Mengenal Kanemura, Brand Kuliner Jepang yang Mengusung Sistem Manajemen Terpusat dalam Bisnis Waralaba

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise).

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise). (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 10 Jun 2026, 17:29

Denyut Digitalisasi Perbankan yang Menghidupi Perajin Sepatu Kulit Cibaduyut

Sejak 2018, Mochamad Indra Yusuf Wahyudin aktif mengikuti pelatihan di Rumah BUMN Bandung.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik Koku Footwear (produsen sepatu kulit) di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 10 Jun 2026, 16:50

Ibun Bajra, Fenomena Alam Embun Membeku di Kertasari Bandung

Fenomena ibun bajra kembali muncul di Kertasari. Embun membeku jadi lapisan es dan berdampak pada pertanian.

Daun teh membeku di Kertasari saat cuaca dingin menyergap Bandung 2019 silam. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 16:48

Menelusuri Jejak Historis Surabi, Oleh-Oleh Khas Jawa Barat

Surabi adalah salah satu makanan tradisional khas Jawa Barat.

Surabi Cihapit Bandung. (Sumber: Instagram | Foto: Surabi Cihapit)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 15:31

Menyusuri Bukit Plangon: Saat Sejarah dan Kepercayaan Menjaga Alam

Bukit Plangon menjadi contoh bagaimana nilai spiritual dan kearifan lokal berperan dalam menjaga keseimbangan alam.

Sinar matahari menerobos rimbunnya pepohonan di sekitar bangunan makam Bukit Plangon, Cirebon. (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi, 2025)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 14:48

Kesadaran Masyarakat terhadap Penggunaan Kain Wol dengan Fashion Old Money

Penerapan gaya old money dan pemakaian kain wol menjadi strategi yang sangat efektif untuk menekan laju pertumbuhan fashion cepat di Indonesia.

Ilustrasi kain wol. (Sumber: Pexels | Foto: Vlada Karpovich)
Wisata & Kuliner 10 Jun 2026, 14:33

Jelajah TMII, Panduan Lengkap Wisata, Harga Tiket, dan Wahana Terbaru

Panduan lengkap berkunjung ke TMII Jakarta, mulai dari harga tiket, museum, anjungan daerah, Jagat Satwa Nusantara, hingga cara menjelajahi kawasan seluas 150 hektare.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 12:49

Filosofi Kendi, Animo Pemakaian Tumbler dan Mesin Air Minum Gratis

Kendi adalah ikon sosialisme air minum pada zamannya.

Ilustrasi kendi yang merupakan ikon sosialisme air minum warisan budaya bangsa. (Sumber: Pexels | Foto: Eda Yılmaz)
Sejarah 10 Jun 2026, 12:21

Jelajah Candi-candi di Bandung, Jejak Peradaban Kuno yang yang Hampir Terlupakan

Jejak peninggalan Hindu kuno di Bandung masih bertahan, tetapi kondisi situsnya memerlukan perhatian serius.

Situs Candi Bojongemas di Solokanjeruk Kabupaten Bandung memprihatinkan dan tak terawat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 11:29

Toponimi Lembang (Bagian 1)

Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang.

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 10:18

Gedung Juang 45: Transformasi Bangunan Kolonial Menjadi Museum Berbasis Digital

Revitalisasi Gedung Juang 45 Bekasi dari bangunan cagar budaya yang sempat terbengkalai menjadi museum modern berbasis teknologi digital.

Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)
Beranda 10 Jun 2026, 10:12

Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

Di balik janji energi bersih dari proyek geotermal, warga di sejumlah lereng gunung di Jawa Barat menyuarakan kekhawatiran atas ancaman terhadap sumber air, lahan pertanian, dan ma

Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 09:17

Mengenal Peuyeum sebagai Makanan Tradisional Khas Jawa Barat

Peuyeum sebagai makanan tradisional khas Jawa Barat

Peuyeum Bandung. (Foto: Sofi Putri)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 08:38

Taat Rambu Lalu Lintas adalah Hal Sepele tapi Menyelamatkan Nafas Kehidupan

Satu detik yang menurut kita sepele bisa saja jadi harapan kehidupan bagi orang lain.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)