Industri model global selalu bergerak di antara dua kutub yang bertolak belakang seperti; fast fashion dan kemewahan. Di satu sisi, industri fast fashion mendominasi pasar dengan produksi massal, harga terjangkau, dan pergantian tren yang sangat cepat. Di sisi lain, gaya old money—gaya berpakaian yang terinspirasi dari keluarga kaya lama yang mengutamakan keanggunan, kualitas, dan ketahanan waktu—kembali menjadi tren populer yang sangat diminati. Di tengah pertemuan kedua dunia ini, terdapat fakta menarik: penggunaan kain wol, bahan utama yang identik dengan gaya old money, hanya berkisar antara 1% hingga 1,3% dari total bahan baku yang digunakan dalam produksi fast fashion. Angka yang sangat kecil ini bukan sekadar data statistik, melainkan cerminan dari benturan prinsip bisnis, karakteristik bahan, dan makna filosofis di balik desain pakaian. Esai ini akan membahas mengapa persentase tersebut sangat rendah, bagaimana gaya old money memengaruhi industri ini, serta hubungan unik antara keduanya.(Maria L.Auad)
Gaya old money dikenal dengan ciri khasnya yang sederhana namun bernilai tinggi. Tidak ada logo yang mencolok atau warna yang berlebihan; yang ada adalah potongan pakaian yang pas di badan, detail yang rapi, dan bahan yang terasa mewah. Kain wol merupakan bahan utama dan paling ikonik dalam gaya ini. Alasan utamanya adalah sifat alami wol yang hangat, awet, memiliki tekstur yang halus, dan bentuknya tidak mudah berubah meski dipakai dalam waktu lama. Jaket mantel, jas, celana bahan, atau rok berbahan wol adalah barang klasik yang bisa dipakai selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, tanpa kehilangan kualitas atau keindahannya.
Masyarakat Indonesia kini mulai semakin sadar akan dampak buruk dari industry fashion yang cepat, sehingga banyak dari mereka mulai beralih memilih bahan pakaian yang berkualitas tinggi dan awet seperti kain wol. Kain wol memiliki sifat yang tahan lama, mudah dibentuk, dan nyaman digunakan, maka tidak heran jika bahan ini sering dijadikan pilihan utama bagi mereka yang ingin memiliki barang bernilai jangka panjang. Kesadaran ini muncul karena orang-orang mulai menyadari bahwa membeli barang yang mahal namun awet justru lebih menguntungkan dibandingkan membeli barang murah namun cepat rusak atau tidak tahan lama. Selain itu, kain wol juga dikenal memiliki nilai estetika yang tinggi dan tampilan yang elegan, sehingga pemakaiannya dapat meningkatkan rasa percaya diri serta memberikan kesan yang berkelas bagi penggunanya. Perubahan pola pikir ini menjadi langkah awal yang sangat baik karena tidak hanya mengurangi tumpukan limbah tekstil,walaupun bahan woll hanya menumbang 1% dalam penngelolaan untuk fashion, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya konsumsi yang lebih bijak dan bertanggung jawab pada masyarakat luas. (Maria L.Auad)
Gaya berpakaian old money yang belakangan ini semakin populer di Indonesia sangat identik dengan penggunaan bahan-bahan premium seperti kain wol, sebab gaya ini mengutamakan kesederhanaan, kualitas, dan ketahanan waktu dibandingkan tren yang berubah-ubah. Ciri khas dari gaya ini adalah penggunaan potongan pakaian yang klasik, warna-warna netral, dan bahan yang terasa mewah, sehingga penampilan yang dihasilkan selalu terlihat rapi, berwibawa, dan tidak lekang oleh waktu. Banyak orang mulai meniru gaya ini karena mereka menginginkan penampilan yang tampak berkelas namun tetap sederhana, serta ingin menjauh dari kebiasaan membeli pakaian baru hanya karena mengikuti tren jangka pendek . Hubungan erat antara gaya old money dan kain wol terletak pada filosofi bahwa barang yang berkualitas tinggi akan selalu bernilai, maka pemakaiannya dianggap sebagai bentuk gaya yang cerdas dan elegan dalam berbusana. Tren ini juga mengajarkan kita untuk lebih menghargai setiap helai pakaian yang kita miliki, sehingga kita akan lebih berhati-hati dalam memilih barang dan mengurangi untuk membeli produk-produk yang kualitasnya lebih rendah.(Alizadeh,samira 2025)

Penerapan gaya old money dan pemakaian kain wol menjadi strategi yang sangat efektif untuk menekan laju pertumbuhan fashion cepat di Indonesia, karena kedua hal tersebut sama-sama mengajarkan kita untuk mengurangi frekuensi pembelian pakaian yang berlebihan. Industri fashion yang cepat sangat bergantung pada produksi massal dan perputaran barang yang sangat cepat, namun gaya yang mengutamakan kualitas seperti ini justru membuat kita untuk memilih menggunakan satu barang untuk jangka Panjang atau jangka pendek. Ketika masyarakat mulai lebih menyukai pakaian berbahan wol yang awet dengan model klasik, maka permintaan terhadap barang-barang yang lebih murah, kurang awet, dan hanya berlaku sesaat akan perlahan pasti menurun secara signifikan. Hal ini membawa dampak positif bagi lingkungan karena berkurangnya limbah sisa produksi maupun sisa pemakaian, serta berdampak baik bagi perekonomian karena uang yang dikeluarkan akan digunakan untuk barang yang memiliki nilai pakai yang jauh lebih tinggi. Penerapan bahan wol terhadap style old money lebih ramah lingkungan karena diproses dengan sintesis bahan alami melalui kimia fisika dan mikroorganisme biologis dalam pewarnaan sehingga menghasilkan produk yang awet dan bisa diggunakan dalam jangka Panjang.
Penggunaan kain wol dalam industri fast fashion menjadi bukti nyata dari pertentangan antara efisiensi bisniss dan nilai estetika. Wol, sebagai bahan inti dari gaya popular old money dan memegang peran penting kecil karena harganya yang relative mahal dan kurang cock untuk untuk system produksi massal yang bersaing dengan tren global atau tren model. Meski demikian, gaya old money tetap menjadi desain favorit dengan cara dikolaborasikan dengan sintetis alami wol yang meniru gaya fashion tren terkini dengan lebih mewah dan modern namun dengan nuansa classic style, serta penggunaan old money menyumbang kurang lebih 60% di Indonesia sebagai gaya casual yang sederhana dan elegan bagi kalangan anak muda. Old money mampu mereduce fast fashion dan mengurangi limbah tektil akibat pembuatan kain bahan wol yang bervariasi, Dan kini berkembang karena tren berkelanjutan,serta style old money sangat popular dalam perkembangan dunia fashion. Sudah banyak penggemar yang menyukai variasi old money yang lebih modern,sehingga banyak brand local yang berkembang untuk menunjang banyak unit produksi style old money di Indonesia. (*)
Referensi:
Maria L. Auad. criscan studi teknik kimia tekstil di Institut Teknik Tekstil Shanghai, s. . Michaela Dina Stanescu Profesor Emeritus, Universitas AUREL VLAICU Arad. Pengolahan Wol yang Ramah Lingkungan dan Pemanfataan Sumber Daya Hayati Alami ini Secara Berkelanjutan. Penerbit MDPI artikel.
Universitas Presiden Indonesia. Tren fast fashion di Indonesia. Journal of Waste and Sustainable Consumption .
- Alizadeh, Samira,old money style : Kesederhanaan, Keanggunan, dan Ketahanan di Dunia Model. (2025). https://ssrn.com/abstract=5219953
