Gedung Juang 45: Transformasi Bangunan Kolonial Menjadi Museum Berbasis Digital

4 menit baca
Raya Purnama Sari
Ditulis oleh Raya Purnama Sari diterbitkan Rabu 10 Jun 2026, 10:18 WIB
Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)

Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)

Di tengah perkembangan era digital, minat generasi muda terhadap sejarah cenderung menurun karena lebih tertarik pada berbagai bentuk hiburan modern. Hal ini menyebabkan nilai-nilai historis semakin tersisih dan berdampak pada rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga cagar budaya. Akibatnya, banyak bangunan bersejarah menghadapi ancaman kerusakan atau perubahan fungsi tanpa memperhatikan nilai sejarah yang dimilikinya. Oleh sebab itu, diperlukan upaya pelestarian yang tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga menghadirkan inovasi dalam penyampaian edukasi agar sejarah tetap hidup dan relevan bagi generasi sekarang.

Hal ini sangat relevan dengan bangunan Gedung Juang 45 Bekasi yang mengalami banyak perubahan sepanjang tahun seiring pergantian kekuasaan dan fungsinya, hingga kini bangunan itu bertransformasi menjadi Museum Kota Bekasi yang memanfaatkan teknologi digital untuk menghadirkan pengalaman belajar yang interaktif bagi pengunjung, terutama generasi muda.

Dikutip dari website Museum.co.id, Gedung Juang 45 Bekasi merupakan bangunan bersejarah yang berperan penting sejak masa kolonial hingga perjuangan kemerdekaan. Khouw Tjeng Kie membangun Landhuis Tamboen pada 1906–1910 dan melanjutkannya pada 1925. Jepang menyita bangunan ini pada 1942 dan menjadikannya markas militer. Pejuang Indonesia memanfaatkan gedung ini sebagai pusat pertahanan di Tambun dan Cibarusah. Pemerintah RI menggunakan gedung ini sebagai pusat komando pertahanan saat ibu kota berada di Yogyakarta. Para pihak juga memakai gedung ini untuk perundingan pertukaran tawanan antara Indonesia dan Belanda.

Gedung Juang 45 Bekasi juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan perjuangan pasca kemerdekaan. Pemerintah memanfaatkan gedung ini sebagai kantor Kabupaten Jatinegara setelah Jepang mundur. Pejuang Indonesia menggunakan gedung ini sebagai pusat perlawanan terhadap Belanda (NICA). Belanda menguasai gedung ini pada 1947 hingga 1949. Pejuang Indonesia merebut kembali gedung ini pada 1950. Berbagai instansi menggunakan gedung ini, seperti Dinas Pekerjaan Umum, TNI AD, dan lembaga legislatif daerah hingga sekitar 1982.

Seiring berjalannya waktu, bangunan ini menjadi bangunan tua yang terbengkalai, pada saat itulah muncul ide Pemkab Bekasi yang dipimpin Eka Supria Atmaja, Bupati Bekasi untuk merevitalisasi Gedung Juang 45 Bekasi menjadi Museum modern dengan menjunjung digitalisasi, sehingga diharapkan bisa dinikmati oleh para pengunjung.

Kondisi Gedung Juang 45 Bekasi belasan tahun silam bisa dikatakan terancam punah dan cukup memprihatinkan. Setelah beberapa kali beralih fungsi (sempat dijadikan kantor pemerintahan), baik dari segi arsitektur maupun fungsinya sebagai bangunan bersejarah yang tidak memiliki daya tarik bagi masyarakat.

Sekitar awal abad ke-21 bagian dalam bangunan begitu gelap (minim cahaya) ditambah terdapat beberapa kelelawar yang bersarang di sana hingga terdapat kotoran dan suara kelelawar sehingga bagian dalam ruangan terasa seram dan mistis. Hal ini disebabkan minimnya kesadaran pemerintah daerah, dalam memelihara dan melestarikan peninggalan yang sudah ada sejak masa kolonialisme.

Kini, Gedung Juang 45 Bekasi direvitalisasi menjadi museum modern, berbasis teknologi digital dan destinasi wisata sejarah lokal Kota Bekasi. Gagasan ini dikemukakan oleh Bupati Bekasi yang pada saat itu masih menjabat, Eka Supria Atmaja. Bupati Bekasi bersama seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) memantau langsung jalannya proses revitalisasi Gedung Juang (Kholifah; Nurjayanti, 2022).

Peresmian Museum Bekasi (Sumber: prokopim.bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)

Upaya melestarikan Gedung Juang 45 Bekasi ini tidak banyak merubah ciri khas bangunan yang ada dikarenakan bangunan ini ialah Cagar Budaya yang di mana jangan sampai merubah bentuk asli bangunan, tetapi menghidupkan kembali bangunan yang sudah lama terbengkalai dengan membersihkan, memperbaiki tatanan ruangan, mengecat ulang dinding yang usang, menata patung pahlawan, dan membuat tugu di bagian depan gedung (Kholifah; Nurjayanti, 2022).

Dikutip dari Liputan Sindonews, Eka Supria Atmaja, Bupati Bekasi mengatakan untuk merealisasikan program ini ia akan menyiapkan Feasibility Study and Detail Engineering Design, dengan anggaran yang dialokasikan ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) (Surjaya, 2019).

Namun faktanya pada 2017 Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Bekasi sebenarnya sudah mengeluarkan Rp9,7 Miliar untuk membenahi Gedung Juang ini, tetapi setelah dibenahi tidak ada peningkatan fungsi yang maksimal. Eka Supria Atmaja yakin, program revitalisasi kali ini akan dimaksimalkan menjadi pusat kebudayaan demi memajukan Kabupaten Bekasi (Surjaya, 2019).

Dikutip dari website Bekasikab.go.id, Anggaran yang dikeluarkan dari APBD sekitar sebesar Rp36 Miliar telah dialokasikan melalui program revitalisasi Gedung Juang Bekasi ini, ucap Rahmat Atong (Kepala Dinas Budaya, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bekasi) selagi tengah meninjau progres kerja pembenahan bangunan.

Adapun tujuan dari upaya revitalisasi Gedung Juang ini yang diantaranya, dilindunginya Cagar Budaya Nasional sekaligus memberi image baru bagi Kabupaten Bekasi, memberikan edukasi tentang sejarah Bekasi mulai dari masa perjuangan sampai masa kemerdekaan terutama bagi generasi muda.

Kelengkapan isi dari Gedung Juang 45 ini menjadi bukti betapa Pemkab sudah berhasil dalam merealisasikan Museum Kota Bekasi ini dengan adanya replika kerangka manusia buni (manusia purba) berupa peninggalannya, adanya media gambar dan audio berupa narasi yang menceritakan adanya Kerajaan Tarumanegara dan Perang Pasunda Bubat, dan juga berbagai artefak asli yang dipajang di dalam kotak kaca. Bioskop mini juga turut hadir dalam bertransformasinya Gedung Juang ini, yang menayangkan narasi film perjuangan masa kemerdekaan kota Bekasi (Chaniago; Tashandra, 2023; Ismail, 2025)

Revitalisasi bangunan Gedung Juang 45 Bekasi yang mengedepankan teknologi digital menjadi solusi untuk meningkatkan minat generasi muda terhadap sejarah dan melestarikan cagar budaya. Inovasi ini menjaga keutuhan bangunan sekaligus menghadirkan edukasi interaktif. Pemanfaatan teknologi digital untuk menyampaikan nilai sejarah secara modern dan meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap warisan budaya. Dengan demikian, revitalisasi ini menghidupkan kembali fungsi gedung sebagai media pembelajaran yang adaptif. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Raya Purnama Sari
Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jun 2026, 12:49

Filosofi Kendi, Animo Pemakaian Tumbler dan Mesin Air Minum Gratis

Kendi adalah ikon sosialisme air minum pada zamannya.

Ilustrasi kendi yang merupakan ikon sosialisme air minum warisan budaya bangsa. (Sumber: Pexels | Foto: Eda Yılmaz)
Sejarah 10 Jun 2026, 12:21

Jelajah Candi-candi di Bandung, Jejak Peradaban Kuno yang yang Hampir Terlupakan

Jejak peninggalan Hindu kuno di Bandung masih bertahan, tetapi kondisi situsnya memerlukan perhatian serius.

Situs Candi Bojongemas di Solokanjeruk Kabupaten Bandung memprihatinkan dan tak terawat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 11:29

Toponimi Lembang (Bagian 1)

Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang.

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 10:18

Gedung Juang 45: Transformasi Bangunan Kolonial Menjadi Museum Berbasis Digital

Revitalisasi Gedung Juang 45 Bekasi dari bangunan cagar budaya yang sempat terbengkalai menjadi museum modern berbasis teknologi digital.

Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)
Beranda 10 Jun 2026, 10:12

Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

Di balik janji energi bersih dari proyek geotermal, warga di sejumlah lereng gunung di Jawa Barat menyuarakan kekhawatiran atas ancaman terhadap sumber air, lahan pertanian, dan ma

Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 09:17

Mengenal Peuyeum sebagai Makanan Tradisional Khas Jawa Barat

Peuyeum sebagai makanan tradisional khas Jawa Barat

Peuyeum Bandung. (Foto: Sofi Putri)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 08:38

Taat Rambu Lalu Lintas adalah Hal Sepele tapi Menyelamatkan Nafas Kehidupan

Satu detik yang menurut kita sepele bisa saja jadi harapan kehidupan bagi orang lain.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Biz 09 Jun 2026, 16:27

Kisah para Juara 1 BRIncubator, Konsisten Berdayakan Pekerja Lokal

Program inkubasi bergengsi dari BRI itu setiap tahunnya mengangkat segelintir UMKM ke panggung yang lebih besar.

Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Beranda 09 Jun 2026, 16:05

Bandung Raya di Ambang Krisis Sampah, TPA Sarimukti Diperkirakan Penuh Oktober 2026

TPA Sarimukti diperkirakan penuh pada Oktober 2026, memicu ancaman krisis sampah di Bandung Raya yang masih bergantung pada pembuangan akhir dan minim pengolahan dari sumbernya.

Kendaraan pengangkut sampah terparkir di Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu 6 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 15:08

Sesat Logika, Tantangan dalam Berbahasa

Transformasi digital telah membuka ruang publik semakin luas, tetapi membawa dampak pada kerusakan bahasa akibat kesalahan-kesalahan penafsiran masyarakat

Ilustrasi rak buku. (Sumber: Pexels | Foto: Yazid N)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 14:21

Sedia Payung sebelum Perusahaan Melakukan Pengrumahan Sementara hingga Tutup Permanen

Secara hukum lock out merupakan hak pengusaha untuk menolak pekerja masuk dalam rangka perselisihan industrial, namun pelaksanaannya wajib mematuhi aturan hukum yang berlaku.

Ilustrasi penutupan perusahaan atau lock out. (Sumber: Meta AI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 13:28

Dari Tambang ke Kanvas: Jejak Warna Biru dari Timur

Warna biru punya sejarah panjang yang dimulai dari ketiadaan, mari kita lihat perjalanannya.

Lapis Lazuli (Sumber: WikiMedia | Foto: Hannes Grobe)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 13:02

#NowForClimate: Bersepeda sebagai Aksi Nyata untuk Masa Depan yang Lebih Hijau

#NowForClimate mengingatkan bahwa aksi iklim dapat dimulai dari pilihan moda transportasi sehari-hari.

Dampak global jika semua orang di dunia bersepeda sebanyak rata-rata orang Denmark dan Belanda. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 11:03

Mabrur, Kabur, dan Syukur

Boneka unta yang dipeluk kakek bukan sekadar cendera mata. Melainkan bahasa kasih sayang yang sederhana.

Oleh-oleh haji dan umrah di salah satu toko kawasan Pasar Baru Trade Center, Jalan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung, Jumat 29 Mei 2026 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 09 Jun 2026, 10:38

Petisi Warga Empat Lereng Gunung untuk Gubernur Dedi Mulyadi

Kalau beliau mengajak masyarakat menjaga gunung dan lingkungan, maka kami juga mengajak beliau untuk konsisten terhadap apa yang sudah disampaikan

Perwakilan warga lerenng Gunung Ciremai, Gede Pangrango, Tampomas, dan Halimun saat membacakan petisi untuk Gubernur Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 10:32

Gunung Gede Pangrango, Antara Keindahan Alam dan Ancaman Eksploitasi Panas Bumi

Pesona Gunung Gede Pangrango berpadu dengan perdebatan antara kebutuhan listrik dan pelestarian alam.

Puncak Gunung Gede Pangrango. (Sumber: Wikimedia)
Linimasa 09 Jun 2026, 09:53

Jejak Becak, GPS Kota Bandung yang Terpinggirkan

Kisah tukang becak Bandung yang dulu jadi penunjuk jalan, kini bertahan di tengah gempuran transportasi modern.

Becak yang dulu sempat berjaya kini semakin terpinggirkan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)