Pasang Surut Era Trem di Batavia

3 menit baca
SINDI GUSTINI
Ditulis oleh SINDI GUSTINI diterbitkan Selasa 09 Jun 2026, 20:22 WIB
Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)

Jakarta merupakan pusat pemerintahan sekaligus pusat salah satu kota metropolitan di Indonesia. Menurut United Nations Department of Economic and Social Affairs (UN DESA), data urban agglomeration menunjukkan  bahwa kepadatan populasi Jakarta mendekati 42 juta jiwa pada 2025. Hal ini juga berbanding lurus dengan volume kendaraan yang terus meningkat, sehingga menyebabkan kemacetan. Oleh karena itu, untuk memudahkan mobilitas masyarakat,  pemerintah mengintegrasikan MRT, LRT, KRL Commuter Line dan Transjakarta. 

Peristiwa seperti ini sudah terjadi sejak Masa Kolonial dulu yang saat itu Jakarta bernama Batavia. Pada masa itu Batavia menjadi pusat perekonomian dan perdagangan. Agar memudahkan pengangkutan tenaga kerja dan barang pemerintah Kolonial banyak membangun sarana dan prasarana transportasi salah satunya adalah trem. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Trem dapat diartikan kereta yang dijalankan oleh tenaga listrik atau lokomotif kecil, biasanya digunakan sebagai angkutan penumpang dalam kota. Namun  pada masa itu trem tidak hanya bertenagakan listrik tetapi ada juga yang bertenagakan kuda dan uap.

Trem Kuda(Paardentram) (Sumber: KITLV)
Trem Kuda(Paardentram) (Sumber: KITLV)

Jalur trem kuda pertama di Batavia resmi dibuka pada 1869 dan dikelola oleh perusahaan Bataviasche Tramweg Maatschappij (BTM), Berdasarkan catatan koran kolonial Bataviaasch Handelsblad tahun 1869, trem kuda ini dioperasikan oleh BTM dengan membelah rute sibuk mulai dari Pasar Ikan, Harmoni, hingga berakhir di Meester.

Trem ini memiliki 1 gerbong dengan tarif 10 sen. Namun  dikarenakan kemajuan teknologi dan banyaknya  kuda yang buang air besar dan kecil dimana saja menimbulkan bau yang tidak sedap sehingga trem kuda ini digantikan oleh trem uap.

trem uap (stoomtram) (Sumber: KITLV)

Pada tanggal 18 September 1881 trem uap mulai beroperasi untuk menggantikan trem kuda. Trem ini dikelola oleh Nederlands-Indische Tramweg Maatschappij (NITM). Jalur Rel untuk trem ini, yaitu dari batavia hingga Kampung Melayu, relnya berada di kanan jalan dengan dua rel kembar. Untuk tarifnya beragam karena trem ini memiliki tiga gerbong yang membagi tiga kelas sosial, yaitu gerbong depan untuk orang Eropa dengan tarif 25 sen, gerbong tengah untuk timur asing dengan tarif 20 sen, dan gerbong terakhir untuk masyarakat pribumi dengan tarif 15 sen.

Selain itu gerbong ini juga memiliki gerbong pengangkut barang yang di sebut Pikolanwagen. Dalam pengoperasiannya, trem uap dianggap terlalu bising sehingga mengganggu ketenangan masyarakat dan ketika musim hujan trem sering mogok karena  cerobongnya terendam air.

persemian Trem Listrik (elektrische tram) di Batavia (Sumber: KITLV)
persemian Trem Listrik (elektrische tram) di Batavia (Sumber: KITLV)

Trem listrik diresmikan pada 10 april 1899 di rute    kebun binatang-harmoni dan dikelola oleh Batavia Electrische Tram Maatschappij (BETM). Jalurnya dari Harmoni hingga Vrijmetselaarsweg. Trem ini mendapat pasokan listrik dari perusahaan listrik Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM) yang berada di Meester Cornelis. Tarif dari trem listrik ini termasuk lebih terjangkau dari trem uap dengan orang Eropa 15 sen, timur asing 10 sen, dan pribumi 5 sen. Pada tanggal 23 April 1930 pengelola trem ini disatukan dengan pengelola trem uap (NITM) menjadi Batavia Verkeer Maatschappij (BVM).

Pada masa Presiden Soekarno transportasi trem ditutup karena dianggap tidak cocok untuk kota Jakarta atau Batavia. Dalam majalah Star Weekly terbitan 29 Maret 1960 yang dengan judul “Trem yang Siap Digusur” mengungkapkan bahwa penghapusan trem adalah untuk mengurangi kemacetan. Namun menurut menurut arsip dari tim arkeologi yang dirilis CNBC Indonesia, alasanya karena terjadi banyak masalah seperti pemogokan kerja, inflasi tinggi, kondisi politik dalam negeri yang belum stabil, dan penumpang gelap. Pada masa itu jalur rel secara bertahap ditutup oleh aspal setinggi 1 meter dari 1960 hingga 1963.

Sejak masa kolonial Batavia hingga Jakarta modern, pemenuhan kebutuhan mobilitas massal selalu bertransformasi, salah satunya melalui evolusi trem yang mendahului sistem integrasi transportasi masa kini. Bermula dari trem kuda pada tahun 1869 yang digantikan karena masalah kebersihan, teknologi ini berkembang menjadi trem uap pada tahun 1881 yang menerapkan pemisahan kelas sosial, hingga akhirnya beralih ke trem listrik yang lebih modern dan terjangkau pada tahun 1899. Namun, seluruh riwayat trem di ibu kota resmi berakhir pada era Presiden Soekarno (1960–1963) ketika jalur-jalurnya ditutup oleh aspal akibat masalah kemacetan, ketidakstabilan politik, inflasi tinggi, aksi mogok kerja, serta maraknya penumpang gelap. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

SINDI GUSTINI
Tentang SINDI GUSTINI
Mahasiswa Unpad penikmat sejarah populer. Suka mengulik asal-usul hal menarik di dunia dan merangkumnya menjadi artikel seru untuk pembaca

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Biz 09 Jun 2026, 16:27

Kisah para Juara 1 BRIncubator, Konsisten Berdayakan Pekerja Lokal

Program inkubasi bergengsi dari BRI itu setiap tahunnya mengangkat segelintir UMKM ke panggung yang lebih besar.

Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Beranda 09 Jun 2026, 16:05

Bandung Raya di Ambang Krisis Sampah, TPA Sarimukti Diperkirakan Penuh Oktober 2026

TPA Sarimukti diperkirakan penuh pada Oktober 2026, memicu ancaman krisis sampah di Bandung Raya yang masih bergantung pada pembuangan akhir dan minim pengolahan dari sumbernya.

Kendaraan pengangkut sampah terparkir di Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu 6 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 15:08

Sesat Logika, Tantangan dalam Berbahasa

Transformasi digital telah membuka ruang publik semakin luas, tetapi membawa dampak pada kerusakan bahasa akibat kesalahan-kesalahan penafsiran masyarakat

Ilustrasi rak buku. (Sumber: Pexels | Foto: Yazid N)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 14:21

Sedia Payung sebelum Perusahaan Melakukan Pengrumahan Sementara hingga Tutup Permanen

Secara hukum lock out merupakan hak pengusaha untuk menolak pekerja masuk dalam rangka perselisihan industrial, namun pelaksanaannya wajib mematuhi aturan hukum yang berlaku.

Ilustrasi penutupan perusahaan atau lock out. (Sumber: Meta AI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 13:28

Dari Tambang ke Kanvas: Jejak Warna Biru dari Timur

Warna biru punya sejarah panjang yang dimulai dari ketiadaan, mari kita lihat perjalanannya.

Lapis Lazuli (Sumber: WikiMedia | Foto: Hannes Grobe)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 13:02

#NowForClimate: Bersepeda sebagai Aksi Nyata untuk Masa Depan yang Lebih Hijau

#NowForClimate mengingatkan bahwa aksi iklim dapat dimulai dari pilihan moda transportasi sehari-hari.

Dampak global jika semua orang di dunia bersepeda sebanyak rata-rata orang Denmark dan Belanda. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 11:03

Mabrur, Kabur, dan Syukur

Boneka unta yang dipeluk kakek bukan sekadar cendera mata. Melainkan bahasa kasih sayang yang sederhana.

Oleh-oleh haji dan umrah di salah satu toko kawasan Pasar Baru Trade Center, Jalan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung, Jumat 29 Mei 2026 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 09 Jun 2026, 10:38

Petisi Warga Empat Lereng Gunung untuk Gubernur Dedi Mulyadi

Kalau beliau mengajak masyarakat menjaga gunung dan lingkungan, maka kami juga mengajak beliau untuk konsisten terhadap apa yang sudah disampaikan

Perwakilan warga lerenng Gunung Ciremai, Gede Pangrango, Tampomas, dan Halimun saat membacakan petisi untuk Gubernur Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 10:32

Gunung Gede Pangrango, Antara Keindahan Alam dan Ancaman Eksploitasi Panas Bumi

Pesona Gunung Gede Pangrango berpadu dengan perdebatan antara kebutuhan listrik dan pelestarian alam.

Puncak Gunung Gede Pangrango. (Sumber: Wikimedia)
Linimasa 09 Jun 2026, 09:53

Jejak Becak, GPS Kota Bandung yang Terpinggirkan

Kisah tukang becak Bandung yang dulu jadi penunjuk jalan, kini bertahan di tengah gempuran transportasi modern.

Becak yang dulu sempat berjaya kini semakin terpinggirkan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 09:11

Potret Bandung Empat Dekade Silam di Koran Gala Lawas

Salah satu surat kabar yang pernah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Jawa Barat adalah Harian Umum GALA.

Kin Sanubary memperlihatkan surat kabar GALA, salah satu harian yang terbit di Bandung 40 tahun silam. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 08:45

Mengetahui Pelaksanaan Tradisi Nyawen dan Makna Filosofisnya

Desa Bingkeng memiliki salah satu tradisi yang masih dilestarikan yaitu nyawen.

Mengetahui pelaksanaan Tradisi Nyawen. (Sumber: images.pexels.com | Foto: Kevin Yung)
Bandung 08 Jun 2026, 19:34

Menilik Eksistensi Dawa Rempah, Racikan Minuman Herbal Tradisional dengan Sentuhan Modern

Gaya hidup sehat turut menjadi tren kekinian yang santer digandrungi oleh masyarakat di masa kini. Salah satu caranya lewat menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dawa Rempah (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:31

Hari Laut Sedunia, Masih Adakah Prospek Galangan Kapal di Jabar?

Masih sedikit industri galangan kapal di Jabar. Padahal provinsi ini memiliki sebelas pelabuhan yang bisa digunakan sebagai prasarana galangan kapal.

Ilustrasi Hari Laut Sedunia 2026, pemandangan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muhammad Ikhsan)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:01

Polemik Penggusuran Perumahan Warga di Anyer Dalam akibat Pembangunan oleh KAI

Perumahan Warga di Anyer Dalam digusur untuk pembangunan yang dilakukan oleh oleh KAI merupakan kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Foto Grafiti Bekas 2021 di Tembok Menyusuri di Jalan Serang menyusuri Jalan Anyer Dalam, 17 April 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hikmat Nur Hidayat)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 17:29

Polemik SPPG Sukabumi: Antara Harapan Gizi dan Alarm Nyata bagi Gen Z

Tercatat sudah tiga kali gelombang unjuk rasa terjadi di pertengahan tahun ini.

Dokumentasi demo SPPG Sukabumi
Beranda 08 Jun 2026, 17:04

Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

Bandung pernah menjadi salah satu pusat musik independen Indonesia. Melalui Bandung Music Indie, para musisi kini berupaya membangun kembali ruang bersama dan semangat kolektif yang mulai memudar.

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)