Pasang Surut Era Trem di Batavia

3 menit baca
SINDI GUSTINI
Ditulis oleh SINDI GUSTINI diterbitkan
Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)

Jakarta merupakan pusat pemerintahan sekaligus pusat salah satu kota metropolitan di Indonesia. Menurut United Nations Department of Economic and Social Affairs (UN DESA), data urban agglomeration menunjukkan  bahwa kepadatan populasi Jakarta mendekati 42 juta jiwa pada 2025. Hal ini juga berbanding lurus dengan volume kendaraan yang terus meningkat, sehingga menyebabkan kemacetan. Oleh karena itu, untuk memudahkan mobilitas masyarakat,  pemerintah mengintegrasikan MRT, LRT, KRL Commuter Line dan Transjakarta. 

Peristiwa seperti ini sudah terjadi sejak Masa Kolonial dulu yang saat itu Jakarta bernama Batavia. Pada masa itu Batavia menjadi pusat perekonomian dan perdagangan. Agar memudahkan pengangkutan tenaga kerja dan barang pemerintah Kolonial banyak membangun sarana dan prasarana transportasi salah satunya adalah trem. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Trem dapat diartikan kereta yang dijalankan oleh tenaga listrik atau lokomotif kecil, biasanya digunakan sebagai angkutan penumpang dalam kota. Namun  pada masa itu trem tidak hanya bertenagakan listrik tetapi ada juga yang bertenagakan kuda dan uap.

Trem Kuda(Paardentram) (Sumber: KITLV)
Trem Kuda(Paardentram) (Sumber: KITLV)

Jalur trem kuda pertama di Batavia resmi dibuka pada 1869 dan dikelola oleh perusahaan Bataviasche Tramweg Maatschappij (BTM), Berdasarkan catatan koran kolonial Bataviaasch Handelsblad tahun 1869, trem kuda ini dioperasikan oleh BTM dengan membelah rute sibuk mulai dari Pasar Ikan, Harmoni, hingga berakhir di Meester.

Trem ini memiliki 1 gerbong dengan tarif 10 sen. Namun  dikarenakan kemajuan teknologi dan banyaknya  kuda yang buang air besar dan kecil dimana saja menimbulkan bau yang tidak sedap sehingga trem kuda ini digantikan oleh trem uap.

trem uap (stoomtram) (Sumber: KITLV)

Pada tanggal 18 September 1881 trem uap mulai beroperasi untuk menggantikan trem kuda. Trem ini dikelola oleh Nederlands-Indische Tramweg Maatschappij (NITM). Jalur Rel untuk trem ini, yaitu dari batavia hingga Kampung Melayu, relnya berada di kanan jalan dengan dua rel kembar. Untuk tarifnya beragam karena trem ini memiliki tiga gerbong yang membagi tiga kelas sosial, yaitu gerbong depan untuk orang Eropa dengan tarif 25 sen, gerbong tengah untuk timur asing dengan tarif 20 sen, dan gerbong terakhir untuk masyarakat pribumi dengan tarif 15 sen.

Selain itu gerbong ini juga memiliki gerbong pengangkut barang yang di sebut Pikolanwagen. Dalam pengoperasiannya, trem uap dianggap terlalu bising sehingga mengganggu ketenangan masyarakat dan ketika musim hujan trem sering mogok karena  cerobongnya terendam air.

persemian Trem Listrik (elektrische tram) di Batavia (Sumber: KITLV)
persemian Trem Listrik (elektrische tram) di Batavia (Sumber: KITLV)

Trem listrik diresmikan pada 10 april 1899 di rute    kebun binatang-harmoni dan dikelola oleh Batavia Electrische Tram Maatschappij (BETM). Jalurnya dari Harmoni hingga Vrijmetselaarsweg. Trem ini mendapat pasokan listrik dari perusahaan listrik Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM) yang berada di Meester Cornelis. Tarif dari trem listrik ini termasuk lebih terjangkau dari trem uap dengan orang Eropa 15 sen, timur asing 10 sen, dan pribumi 5 sen. Pada tanggal 23 April 1930 pengelola trem ini disatukan dengan pengelola trem uap (NITM) menjadi Batavia Verkeer Maatschappij (BVM).

Pada masa Presiden Soekarno transportasi trem ditutup karena dianggap tidak cocok untuk kota Jakarta atau Batavia. Dalam majalah Star Weekly terbitan 29 Maret 1960 yang dengan judul “Trem yang Siap Digusur” mengungkapkan bahwa penghapusan trem adalah untuk mengurangi kemacetan. Namun menurut menurut arsip dari tim arkeologi yang dirilis CNBC Indonesia, alasanya karena terjadi banyak masalah seperti pemogokan kerja, inflasi tinggi, kondisi politik dalam negeri yang belum stabil, dan penumpang gelap. Pada masa itu jalur rel secara bertahap ditutup oleh aspal setinggi 1 meter dari 1960 hingga 1963.

Sejak masa kolonial Batavia hingga Jakarta modern, pemenuhan kebutuhan mobilitas massal selalu bertransformasi, salah satunya melalui evolusi trem yang mendahului sistem integrasi transportasi masa kini. Bermula dari trem kuda pada tahun 1869 yang digantikan karena masalah kebersihan, teknologi ini berkembang menjadi trem uap pada tahun 1881 yang menerapkan pemisahan kelas sosial, hingga akhirnya beralih ke trem listrik yang lebih modern dan terjangkau pada tahun 1899. Namun, seluruh riwayat trem di ibu kota resmi berakhir pada era Presiden Soekarno (1960–1963) ketika jalur-jalurnya ditutup oleh aspal akibat masalah kemacetan, ketidakstabilan politik, inflasi tinggi, aksi mogok kerja, serta maraknya penumpang gelap. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

SINDI GUSTINI
Tentang SINDI GUSTINI
Mahasiswa Unpad penikmat sejarah populer. Suka mengulik asal-usul hal menarik di dunia dan merangkumnya menjadi artikel seru untuk pembaca

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 07:50

Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)