Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

4 menit baca
Lutfiah bella Nur maulana putri
Ditulis oleh Lutfiah bella Nur maulana putri diterbitkan Jumat 05 Jun 2026, 19:09 WIB
Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)

Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)

Pernahkah kamu menyadari bahwa memakai celana panjang dan jas di tempat umum, dulu bisa menjadi sebuah tindakan perlawanan? Pada masa Hindia Belanda di Batavia, pilihan berpakaian bukan sekedar soal selera melainkan soal identitas sosial, kelas sosial, dan keberanian.Tidak seperti sekarang, pada masa kolonial, pribumi tidak bisa menggunakan pakaian seperti jas atau celana panjang karena larangan menyerupai gaya Eropa (Arnout van der Meer, 2021) Saat itu, penggunaan pakaian, terutama di Batavia, memiliki aturan-aturan yang ketat untuk Pribumi dan Timur asing. Di Batavia, orang-orang pribumi terikat oleh politik segregasi yang dibuat oleh kolonial sebagai batasan antara kelas Eropa, Timur asing, dan Pribumi.

Dalam artikel yang dirilis oleh Republika pada 31 Januari 2021, menyatakan pada akhir abad ke-19, orang-orang Cina sudah mulai memotong rambut dan mengenakan pakaian ala Eropa, begitupun dengan pribumi bangsawan yang menggunakan jas sebagai setelannya. Pada tahun 1920-an, orang-orang pribumi mulai meninggalkan sarung dan menggantinya dengan celana panjang. Awalnya, mereka menggunakan jas yang dipadukan dengan sarung batik; namun, lama-kelamaan hal itu tergantikan dengan keberadaan celana panjang. Faktor-faktor perubahan yang terjadi tak lepas dari pengaruh kaum terdidik atau kalangan elit bangsawan yang membawa pembaharuan serta usaha menyingkirkan aturan-aturan lama yang mendiskriminasi kalangan pribumi. Adapun bentuk adaptasi berpakaian pribumi bisa kita lihat pada sumber-sumber yang diterbitkan pada masa kolonial.

Munculnya perubahan-perubahan ini disebabkan oleh diskriminasi yang dialami para Pribumi. Aturan dalam politik segregasi yang dibuat oleh kolonial menyebabkan terpecahnya kelas sosial, terutama di Batavia. Tidak hanya tempat tinggal saja, tetapi orang-orang di sana tidak diperkenankan untuk memakai pakaian yang bukan milik etnisnya. Masyarakat yang tinggal di Batavia harus menggunakan pakaian yang sesuai dengan etnisnya atau pakaian khas daerah asalnya. Pakaian inilah yang disesuaikan dengan latar belakang ras atau suku dari pemakainya (Nadia Nur Azizah, 2023). Adanya politik ini membuat batasan antarkelas semakin meningkat. Pemerintah kolonial melarang masyarakat pribumi dan timur asing di Batavia untuk memakai pakaian seperti golongan Eropa, sehingga hal ini memunculkan sebuah anggapan bahwa siapa saja yang menggunakan pakaian ala kolonial, dianggap sebagai pendukung atau bagian dari mereka.

Pada akhir abad ke-19, aturan-aturan tersebut mulai mengendur; hal ini berkaitan dengan adanya politik etis. Politik etis tidak hanya melahirkan pribumi berpendidikan, tetapi juga membawa pengaruh dalam perubahan berpakaian. Menurut Rudolf Mrazek (2013, dalam Nadia Nur Azizah, 2023) bahwa politik etis turut menghadirkan golongan elit baru yang memiliki pandangan serta gaya hidup Eropa. Golongan elit terpelajar ini banyak ditemukan pada kota-kota besar seperti Batavia, sebagai kota pusat yang memiliki sekolah-sekolah tinggi di Hindia-Belanda pada tahun 1900-an. Para pelajar yang berasal dari kaum bangsawan itu turut memberikan pengaruh kepada bangsawan lokal lainnya dalam menciptakan tren berpakaian.

Foto para pribumi yang menggunakan jas dan sarung batik (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Foto para pribumi yang menggunakan jas dan sarung batik (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)

Terlihat pada foto di atas, orang-orang pribumi sudah mulai menggunakan jas yang dipadukan dengan blangkon dan sarung khas pribumi. Beberapa orang lainnya bahkan sudah menggunakan setelan jas serta celana panjang, namun blangkon itu digantikan oleh peci sebagai perbedaan antara pribumi dan orang-orang Eropa.

Bentuk-bentuk adaptasi pakaian pribumi dari kurun tahun 1900-1942 sangatlah beragam. Seperti pada pembahasan sebelumnya, pada awal tahun tersebut, pribumi mulai mengadakan modernisasi namun masih mempertahankan jati dirinya dengan memadukan jas, blangkon, dan sarung batik. Pada pertengahan tahun 1900-an penggunaan celana panjang sudah marak digunakan oleh para nasionalis dan pelajar-pelajar di Batavia. Penggunaan blangkon kini tergantikan oleh peci sebagai bentuk perjuangan. Dalam otobiografi Soekarno karya Cindy Adams (2013, dalam artikel Muhammadiyah pada 27 Desember 2021) disebutkan bahwa Indonesia membutuhkan sebuah simbol kepribadian, dan peci merupakan simbol yang paling dekat dengan jati diri Nasional; maka di sinilah peci mulai digunakan sebagai bentuk kemerdekaan diri. Beberapa tokoh nasionalis seperti Soekarno, Hatta, dan H.O.S Tjokroaminoto, turut menggunakannya dan menyebarkan tren penggunaan peci yang dikombinasikan dengan pakaian modern ala Barat tersebut.

Perjuangan dalam modernisasi pakaian mencerminkan perlawanan dalam diskriminasi yang dihadapi oleh para pejuang Indonesia pada masa kolonial, yang membatasi diri bangsa dalam menentukan pilihan, terutama dalam hal berpakaian di ruang publik. Para tokoh nasional pun turut andil dalam perjuangan bangsa melalui revolusi berpakaian, dengan memadukan pakaian tradisional Indonesia dengan pakaian Barat sebagai bentuk resistensi non-kekerasan terhadap hierarki rasial. Saat ini, sudah sepatutnya kita tetap menjaga warisan budaya kita dengan tetap menggunakan pakaian daerah, terutama batik sebagai wujud jati diri bangsa. (*)

Daftar Pustaka

  • Hibatullah, M. I., & Wijaya, D. N. (2023). Gaya hidup masyarakat di kawasan Weltevreden, Batavia tahun 1900–1942. HISTORIA: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah, 6(2), 137–148. https://doi.org/10.17509/historia.v6i2.60668
  • Prasetyo, Y., & Amin, A. F. (2022). From old fashioned to stylish: Perubahan tren busana elite Tionghoa Batavia 1890–1942. Keraton: Journal of History Education and Culture, 4(2), 88–96. https://doi.org/10.32585/keraton.v1i1.xxx
  • Republika. (2021, 31 Januari). Pakaian dan kontrol pemerintah di zaman kolonial. Republika.id. https://www.republika.id/posts/13825/pakaian-dan-kontrol-pemerintah-di-zaman-kolonial
  • Seni Budaya Betawi. (t.t.). Gaya berpakaian masyarakat di Batavia saat kolonialisme. Senibudayabetawi.com. https://www.senibudayabetawi.com/7369/gaya-berpakaian-masyarakat-di-batavia-saat-kolonialisme.html
  • Septiani, A. (2015). Perubahan gaya pakaian perempuan bangsawan pribumi di Jawa tahun 1900–1942. Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah, 1(1), 1–18.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Lutfiah bella Nur maulana putri
Mahasiswa S1 universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Jun 2026, 20:28

Tanara Berarti Tanah Merah

Toponim Tanara merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah.

SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 19:09

Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

Evolusi berpakaian pribumi di Batavia pada tahun 1900-1942.

Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:32

Obsesi Nasi: Hilangnya Diversitas Pangan Pokok Indonesia & Lingkaran Setan Food Estate

Membedah kebijakan penguasa membuat rakyat Indonesia ketergantungan beras dan kehilangan keragaman pangan lokal.

Presiden Soeharto panen padi perdana di Desa Jatimulya, Kec. Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat (8/7/1987). (Sumber: Perpusnas | Foto: Perpusnas)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:05

10 Netizen Terpilih Mei 2026 dan Format Baru untuk Bulan Berikutnya

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 17:04

Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

Sampah dapat berkurang, tapi pencemarannya belum tentu hilang. Inilah sisi lain dari pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang jarang dibahas.

Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 16:46

Panduan Jelajah Dufan: Daftar Wahana Terbaik, Harga Tiket, dan Jam Operasional

Jelajahi Dunia Fantasi Jakarta dengan panduan lengkap berisi daftar wahana, harga tiket Dufan, jam buka, dan fasilitas yang tersedia.

Wisata Dufan. (Sumber: ancol.com)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 15:38

Menelusuri Jejak Stasiun Karees, Penghubung Bandung-Kopo yang Kini Terlupakan

Artikel ini mencoba untuk menelusuri jejak dan sejarah dari Stasiun Karees yang menjadi titik awal penghubung Kota Bandung dengan Kopo atau Soreang.

Jejak rel kereta api di Cibangkong (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Muhammad Saeful Ihsan)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 13:37

5 Kafe dan Resto Viral Terbaru di Bandung yang Wajib Dicoba

Rekomendasi tempat makan dan kafe viral Bandung dengan konsep unik, dessert estetik, hingga menu rumahan yang banyak dibicarakan.

The Deli Bakes, salah satu kafe favorit di Bandung. (Sumber: Taboo)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 12:45

Menilik Awal Pendakian Gunung Gede

Melihat jejak lawas pendakian awal Gunung Gede.

Pemandangan Indah Surya Kencana di Gunung Gede. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Moch Shezar Rachman)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 10:18

ASGAR, dari Desa Banyuresmi sampai Menguasai Pulau Jawa

Mulai dari tahun 1930-an, memotong rambut punya peran sebagai penolong ekonomi bagi warga Garut.

Alat cukur merupakan simbol perjuangan ekonomi dan lahirnya identitas Asgar Garut (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock Project)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 09:48

Geografis-Historis Lembang: Rahasia di Balik Lokasi Wisata Favorit di Bandung

Lembang yang sekarang dikenal sebagai tempat favorit dengan penuh wisata, ternyata disebabkan oleh beberapa faktor.

Foto Rumah Ursone (Piknik Kopi) di Lembang (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hilman)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 08:57

Jejak Gultik: Transformasi Makanan Pekerja Malam Menjadi Identitas Blok M

Bukan hanya enak, ini kisah sejarah di balik Gultik (Gulai Tikungan) Blok M dan awal kemunculannya yang legendaris.

Sajian kuliner legendaris Gultik Blok M (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Ilyasa Salsabila)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 20:23

Dari Tangan ke Kaki: Mimpi Sepatu Cibaduyut yang Tak Boleh Mati

Koku Footwear bukan semata urusan bisnis. Banyak keterkaitan emosi soal kelangsungan sebuah legacy.

Perajin sepatu kulit Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 04 Jun 2026, 19:21

Sop Iga Rp10.000 yang Tak Pernah Sepi, Kuliner Legendaris di Kadungora Garut

Sop iga Rp10 ribu di Kadungora jadi favorit musafir dengan rasa kaldu kuat dan harga yang tetap ramah.

Warung Sop Iga A4 di Kadungora, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 04 Jun 2026, 18:50

Tertarik Bisnis Kuliner? Sistem Waralaba Putus Ini Janjikan Keuntungan Penuh untuk Mitra

Memiliki usaha sendiri kian jadi jalur alternatif yang simple di tengah kebingungan memilih profesi apa yang bisa dijadikan sandaran untuk mencari pundi-pundi rupiah.

Ilustrasi. Industri bisnis waralaba kian ngetren di tengah berkembangnya zaman modern. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 04 Jun 2026, 18:50

Hikayat Kopo, Kawasan Ekonomi Bandung yang jadi Bahan Guyon Warganet

Di balik citra macet dan banjir, Kopo ternyata memiliki sejarah panjang sebagai kawasan ekonomi penting Bandung.

Situasi kemacetan lalu lintas di Kopo. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 18:01

Perjalanan Dua Era Pemerintahan Membuka Mata Indonesia terhadap Aksara

Menilik lembaran historis "Pemberantasan Buta Huruf" di Indonesia.

Pidato Presiden Soekarno pada "Pameran Bebas Buta Huruf" di Gelora Bung Karno, 1964. (Sumber: Instagram Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 17:11

Perjalanan 'Desa yang Biasa Saja' Berhasil Bangun Esensi Ekonomi daripada Sibuk Seremoni

Untuk memahami pencapaian Margamukti hari, perlu kembali ke kondisi beberapa tahun lalu, yang sejujurnya tidak terlalu indah untuk diceritakan.

Kantor Desa Margamukti, Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Komunitas 04 Jun 2026, 16:58

Bertahan 15 Tahun, Komunitas Fingerboard di Kota Bandung Tak Kehilangan Pemain

Di tengah gempuran tren digital, komunitas fingerboard di Kota Bandung tetap bertahan lebih dari 15 tahun, menjadi ruang pertemanan, belajar, dan berbagi lintas generasi.

Anggota Bandung Fingerboard menghabiskan akhir pekan dengan bermain, berdiskusi, dan saling belajar berbagai trik fingerboard. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)