Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

4 menit baca
Lutfiah bella Nur maulana putri
Ditulis oleh Lutfiah bella Nur maulana putri diterbitkan
Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)

Pernahkah kamu menyadari bahwa memakai celana panjang dan jas di tempat umum, dulu bisa menjadi sebuah tindakan perlawanan? Pada masa Hindia Belanda di Batavia, pilihan berpakaian bukan sekedar soal selera melainkan soal identitas sosial, kelas sosial, dan keberanian.Tidak seperti sekarang, pada masa kolonial, pribumi tidak bisa menggunakan pakaian seperti jas atau celana panjang karena larangan menyerupai gaya Eropa (Arnout van der Meer, 2021) Saat itu, penggunaan pakaian, terutama di Batavia, memiliki aturan-aturan yang ketat untuk Pribumi dan Timur asing. Di Batavia, orang-orang pribumi terikat oleh politik segregasi yang dibuat oleh kolonial sebagai batasan antara kelas Eropa, Timur asing, dan Pribumi.

Dalam artikel yang dirilis oleh Republika pada 31 Januari 2021, menyatakan pada akhir abad ke-19, orang-orang Cina sudah mulai memotong rambut dan mengenakan pakaian ala Eropa, begitupun dengan pribumi bangsawan yang menggunakan jas sebagai setelannya. Pada tahun 1920-an, orang-orang pribumi mulai meninggalkan sarung dan menggantinya dengan celana panjang. Awalnya, mereka menggunakan jas yang dipadukan dengan sarung batik; namun, lama-kelamaan hal itu tergantikan dengan keberadaan celana panjang. Faktor-faktor perubahan yang terjadi tak lepas dari pengaruh kaum terdidik atau kalangan elit bangsawan yang membawa pembaharuan serta usaha menyingkirkan aturan-aturan lama yang mendiskriminasi kalangan pribumi. Adapun bentuk adaptasi berpakaian pribumi bisa kita lihat pada sumber-sumber yang diterbitkan pada masa kolonial.

Munculnya perubahan-perubahan ini disebabkan oleh diskriminasi yang dialami para Pribumi. Aturan dalam politik segregasi yang dibuat oleh kolonial menyebabkan terpecahnya kelas sosial, terutama di Batavia. Tidak hanya tempat tinggal saja, tetapi orang-orang di sana tidak diperkenankan untuk memakai pakaian yang bukan milik etnisnya. Masyarakat yang tinggal di Batavia harus menggunakan pakaian yang sesuai dengan etnisnya atau pakaian khas daerah asalnya. Pakaian inilah yang disesuaikan dengan latar belakang ras atau suku dari pemakainya (Nadia Nur Azizah, 2023). Adanya politik ini membuat batasan antarkelas semakin meningkat. Pemerintah kolonial melarang masyarakat pribumi dan timur asing di Batavia untuk memakai pakaian seperti golongan Eropa, sehingga hal ini memunculkan sebuah anggapan bahwa siapa saja yang menggunakan pakaian ala kolonial, dianggap sebagai pendukung atau bagian dari mereka.

Pada akhir abad ke-19, aturan-aturan tersebut mulai mengendur; hal ini berkaitan dengan adanya politik etis. Politik etis tidak hanya melahirkan pribumi berpendidikan, tetapi juga membawa pengaruh dalam perubahan berpakaian. Menurut Rudolf Mrazek (2013, dalam Nadia Nur Azizah, 2023) bahwa politik etis turut menghadirkan golongan elit baru yang memiliki pandangan serta gaya hidup Eropa. Golongan elit terpelajar ini banyak ditemukan pada kota-kota besar seperti Batavia, sebagai kota pusat yang memiliki sekolah-sekolah tinggi di Hindia-Belanda pada tahun 1900-an. Para pelajar yang berasal dari kaum bangsawan itu turut memberikan pengaruh kepada bangsawan lokal lainnya dalam menciptakan tren berpakaian.

Foto para pribumi yang menggunakan jas dan sarung batik (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Foto para pribumi yang menggunakan jas dan sarung batik (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)

Terlihat pada foto di atas, orang-orang pribumi sudah mulai menggunakan jas yang dipadukan dengan blangkon dan sarung khas pribumi. Beberapa orang lainnya bahkan sudah menggunakan setelan jas serta celana panjang, namun blangkon itu digantikan oleh peci sebagai perbedaan antara pribumi dan orang-orang Eropa.

Bentuk-bentuk adaptasi pakaian pribumi dari kurun tahun 1900-1942 sangatlah beragam. Seperti pada pembahasan sebelumnya, pada awal tahun tersebut, pribumi mulai mengadakan modernisasi namun masih mempertahankan jati dirinya dengan memadukan jas, blangkon, dan sarung batik. Pada pertengahan tahun 1900-an penggunaan celana panjang sudah marak digunakan oleh para nasionalis dan pelajar-pelajar di Batavia. Penggunaan blangkon kini tergantikan oleh peci sebagai bentuk perjuangan. Dalam otobiografi Soekarno karya Cindy Adams (2013, dalam artikel Muhammadiyah pada 27 Desember 2021) disebutkan bahwa Indonesia membutuhkan sebuah simbol kepribadian, dan peci merupakan simbol yang paling dekat dengan jati diri Nasional; maka di sinilah peci mulai digunakan sebagai bentuk kemerdekaan diri. Beberapa tokoh nasionalis seperti Soekarno, Hatta, dan H.O.S Tjokroaminoto, turut menggunakannya dan menyebarkan tren penggunaan peci yang dikombinasikan dengan pakaian modern ala Barat tersebut.

Perjuangan dalam modernisasi pakaian mencerminkan perlawanan dalam diskriminasi yang dihadapi oleh para pejuang Indonesia pada masa kolonial, yang membatasi diri bangsa dalam menentukan pilihan, terutama dalam hal berpakaian di ruang publik. Para tokoh nasional pun turut andil dalam perjuangan bangsa melalui revolusi berpakaian, dengan memadukan pakaian tradisional Indonesia dengan pakaian Barat sebagai bentuk resistensi non-kekerasan terhadap hierarki rasial. Saat ini, sudah sepatutnya kita tetap menjaga warisan budaya kita dengan tetap menggunakan pakaian daerah, terutama batik sebagai wujud jati diri bangsa. (*)

Daftar Pustaka

  • Hibatullah, M. I., & Wijaya, D. N. (2023). Gaya hidup masyarakat di kawasan Weltevreden, Batavia tahun 1900–1942. HISTORIA: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah, 6(2), 137–148. https://doi.org/10.17509/historia.v6i2.60668
  • Prasetyo, Y., & Amin, A. F. (2022). From old fashioned to stylish: Perubahan tren busana elite Tionghoa Batavia 1890–1942. Keraton: Journal of History Education and Culture, 4(2), 88–96. https://doi.org/10.32585/keraton.v1i1.xxx
  • Republika. (2021, 31 Januari). Pakaian dan kontrol pemerintah di zaman kolonial. Republika.id. https://www.republika.id/posts/13825/pakaian-dan-kontrol-pemerintah-di-zaman-kolonial
  • Seni Budaya Betawi. (t.t.). Gaya berpakaian masyarakat di Batavia saat kolonialisme. Senibudayabetawi.com. https://www.senibudayabetawi.com/7369/gaya-berpakaian-masyarakat-di-batavia-saat-kolonialisme.html
  • Septiani, A. (2015). Perubahan gaya pakaian perempuan bangsawan pribumi di Jawa tahun 1900–1942. Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah, 1(1), 1–18.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)