Menelusuri Jejak Stasiun Karees, Penghubung Bandung-Kopo yang Kini Terlupakan

3 menit baca
Muhammad Saeful Ihsan
Ditulis oleh Muhammad Saeful Ihsan diterbitkan
Jejak rel kereta api di Cibangkong. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Muhammad Saeful Ihsan)
Jejak rel kereta api di Cibangkong. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Muhammad Saeful Ihsan)

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan Kota Bandung, ada sebuah nama yang perlahan habis termakan waktu. Karees di masa sekarang mungkin hanya dikenal oleh masyarakat sebagai sebuah nama kawasan biasa. Namun, di balik namanya yang terlupakan ini tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana tempat ini pernah menjadi stasiun awal yang menghubungkan Bandung dengan Kopo (Soreang) melalui jalur trem di masa kolonial Belanda. Bagi mereka yang ingin sedikit menoleh ke belakang, di sinilah cerita itu bermula sebelum semuanya berubah dan sebelum arus modernisasi mengikis eksistensi Karees.

Jauh sebelum stasiun ini dibangun, pemerintah kolonial menghadapi suatu masalah yang serius dalam distribusi hasil bumi. Sebelum jalur trem Bandung-Kopo ini dibangun, hasil bumi seperti kopi, kina, dan teh dari Bandung Selatan masih mengandalkan pedati sebagai sarana pendistribusiannya. Pedati sendiri adalah gerobak beroda besar yang ditarik oleh hewan, seperti kuda, sapi, atau kerbau.

Dikutip dari bandungbergerak.id masalah utama dari pendistribusian hasil bumi dengan pedati ini adalah jalur menuju Kota Bandung yang sulit dilewati dengan jarak yang relatif jauh. Keterbatasan inilah yang mendorong pengajuan konsesi pembangunan jalur trem yang dinilai akan jauh lebih efisien dibandingkan cara yang tradisional, dengan Karees dipilih sebagai titik pertama dari Kota Bandung.

Jejak jembatan rel kereta api di Cibangkong (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Muhammad Saeful Ihsan)
Jejak jembatan rel kereta api di Cibangkong (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Muhammad Saeful Ihsan)

Pemilihan Karees sebagai titik pertama ini bukan tanpa alasan. Pada 1883, A.A. Maas Geesteranus selaku administrator perusahaan Malabar mengajukan sebuah konsesi pembangunan jalur trem dari Bandung-Pangalengan, namun gagal karena kurangnya modal. Setelah itu, berbagai pihak silih berganti mengajukan konsesi tersebut hingga pada akhirnya Staatsspoorwegen (SS) mengambil alih konsesi ini.

Setelah mengambil alih konsesi tersebut, SS mendapati masalah baru terkait Preangerlijnen (jalur Priangan) yang ada di Stasiun Bandung. Jalur itu dirasa sudah terlalu padat, hingga akhirnya SS memutuskan untuk membangun stasiun baru dengan nama Stasiun Karees sebagai titik pertamanya. Perencanaan pembangunan jalur ini telah dibuat sejak 1916, dan kemudian diresmikan melalui Staatsblad No. 345 tahun 1918 sebagai dasar hukum pembangunan jalur tersebut.

Dikutip dari artikel Opening Tramlijnen (1921) dalam surat kabar De Preanger-bode, jalur ini resmi dibuka pada 12 Februari 1921 dengan serangkaian seremoni meriah yang dimulai dari Karees. Kereta api pesta (Feesttrein) yang telah dihias berangkat dari Karees pukul 08.15 pagi dan sekitar 09.30 kereta ini sampai di Kopo. Setibanya di sana, masyarakat telah berkumpul dan memeriahkan acara dengan permainan rakyat (Volksspelen), kemeriahan ini ditutup dengan melakukan upacara adat penanaman kepala kerbau di emplasemen Kopo. Staatsspoorwegen kemudian meresmikan jalur Bandung-Ciwidey pada 15 Februari 1925.

Kejayaan Stasiun Karees ini sayangnya tidak berlangsung lama. Di tahun yang sama dengan peresmiannya, Staatsspoorwegen mengusulkan sebuah rencana untuk membangun sebuah stasiun angkutan penumpang di Karees. Namun sayangnya, hal ini berbeda dengan rencana pemerintah kota yang berencana membangun stasiun penumpang di Cikudapateuh. Usulan ini dimenangkan oleh pemerintah kota, karena Karees dinilai terlalu jauh dari pusat kota sehingga menyulitkan penumpang dan barang dalam mobilitasnya. Stasiun ini mulai kehilangan penumpangnya dan pada akhirnya Stasiun Karees ditutup pada tahun 1976. Kemudian disusul dengan penghentian total jalur trem Bandung-Ciwidey di tahun 1982.

Kini nama Karees masih bisa kita temukan, namun dalam peta Kota Bandung hanya sebagai sebuah nama kawasan biasa, jejaknya sebagai stasiun sudah sangat sulit untuk ditemukan. Rel-rel Karees yang dulunya menghubungkan pusat Kota Bandung dengan kota satelitnya, kini tertutupi oleh aspal dan perumahan padat penduduk. Meski begitu, jika kita menyusuri lebih jauh ke arah Cibangkong, masih terdapat sisa-sisa rel tua peninggalan jalur trem. Peninggalan-peninggalan ini adalah saksi bisu sejarah yang tersembunyi di celah-celah gang sempit. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)