Menelusuri Jejak Stasiun Karees, Penghubung Bandung-Kopo yang Kini Terlupakan

3 menit baca
Muhammad Saeful Ihsan
Ditulis oleh Muhammad Saeful Ihsan diterbitkan Jumat 05 Jun 2026, 15:38 WIB
Jejak rel kereta api di Cibangkong (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Muhammad Saeful Ihsan)

Jejak rel kereta api di Cibangkong (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Muhammad Saeful Ihsan)

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan Kota Bandung, ada sebuah nama yang perlahan habis termakan waktu. Karees di masa sekarang mungkin hanya dikenal oleh masyarakat sebagai sebuah nama kawasan biasa. Namun, di balik namanya yang terlupakan ini tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana tempat ini pernah menjadi stasiun awal yang menghubungkan Bandung dengan Kopo (Soreang) melalui jalur trem di masa kolonial Belanda. Bagi mereka yang ingin sedikit menoleh ke belakang, di sinilah cerita itu bermula sebelum semuanya berubah dan sebelum arus modernisasi mengikis eksistensi Karees.

Jauh sebelum stasiun ini dibangun, pemerintah kolonial menghadapi suatu masalah yang serius dalam distribusi hasil bumi. Sebelum jalur trem Bandung-Kopo ini dibangun, hasil bumi seperti kopi, kina, dan teh dari Bandung Selatan masih mengandalkan pedati sebagai sarana pendistribusiannya. Pedati sendiri adalah gerobak beroda besar yang ditarik oleh hewan, seperti kuda, sapi, atau kerbau.

Dikutip dari bandungbergerak.id masalah utama dari pendistribusian hasil bumi dengan pedati ini adalah jalur menuju Kota Bandung yang sulit dilewati dengan jarak yang relatif jauh. Keterbatasan inilah yang mendorong pengajuan konsesi pembangunan jalur trem yang dinilai akan jauh lebih efisien dibandingkan cara yang tradisional, dengan Karees dipilih sebagai titik pertama dari Kota Bandung.

Jejak jembatan rel kereta api di Cibangkong (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Muhammad Saeful Ihsan)
Jejak jembatan rel kereta api di Cibangkong (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Muhammad Saeful Ihsan)

Pemilihan Karees sebagai titik pertama ini bukan tanpa alasan. Pada 1883, A.A. Maas Geesteranus selaku administrator perusahaan Malabar mengajukan sebuah konsesi pembangunan jalur trem dari Bandung-Pangalengan, namun gagal karena kurangnya modal. Setelah itu, berbagai pihak silih berganti mengajukan konsesi tersebut hingga pada akhirnya Staatsspoorwegen (SS) mengambil alih konsesi ini.

Setelah mengambil alih konsesi tersebut, SS mendapati masalah baru terkait Preangerlijnen (jalur Priangan) yang ada di Stasiun Bandung. Jalur itu dirasa sudah terlalu padat, hingga akhirnya SS memutuskan untuk membangun stasiun baru dengan nama Stasiun Karees sebagai titik pertamanya. Perencanaan pembangunan jalur ini telah dibuat sejak 1916, dan kemudian diresmikan melalui Staatsblad No. 345 tahun 1918 sebagai dasar hukum pembangunan jalur tersebut.

Dikutip dari artikel Opening Tramlijnen (1921) dalam surat kabar De Preanger-bode, jalur ini resmi dibuka pada 12 Februari 1921 dengan serangkaian seremoni meriah yang dimulai dari Karees. Kereta api pesta (Feesttrein) yang telah dihias berangkat dari Karees pukul 08.15 pagi dan sekitar 09.30 kereta ini sampai di Kopo. Setibanya di sana, masyarakat telah berkumpul dan memeriahkan acara dengan permainan rakyat (Volksspelen), kemeriahan ini ditutup dengan melakukan upacara adat penanaman kepala kerbau di emplasemen Kopo. Staatsspoorwegen kemudian meresmikan jalur Bandung-Ciwidey pada 15 Februari 1925.

Kejayaan Stasiun Karees ini sayangnya tidak berlangsung lama. Di tahun yang sama dengan peresmiannya, Staatsspoorwegen mengusulkan sebuah rencana untuk membangun sebuah stasiun angkutan penumpang di Karees. Namun sayangnya, hal ini berbeda dengan rencana pemerintah kota yang berencana membangun stasiun penumpang di Cikudapateuh. Usulan ini dimenangkan oleh pemerintah kota, karena Karees dinilai terlalu jauh dari pusat kota sehingga menyulitkan penumpang dan barang dalam mobilitasnya. Stasiun ini mulai kehilangan penumpangnya dan pada akhirnya Stasiun Karees ditutup pada tahun 1976. Kemudian disusul dengan penghentian total jalur trem Bandung-Ciwidey di tahun 1982.

Kini nama Karees masih bisa kita temukan, namun dalam peta Kota Bandung hanya sebagai sebuah nama kawasan biasa, jejaknya sebagai stasiun sudah sangat sulit untuk ditemukan. Rel-rel Karees yang dulunya menghubungkan pusat Kota Bandung dengan kota satelitnya, kini tertutupi oleh aspal dan perumahan padat penduduk. Meski begitu, jika kita menyusuri lebih jauh ke arah Cibangkong, masih terdapat sisa-sisa rel tua peninggalan jalur trem. Peninggalan-peninggalan ini adalah saksi bisu sejarah yang tersembunyi di celah-celah gang sempit. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Saeful Ihsan
Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Jun 2026, 20:28

Tanara Berarti Tanah Merah

Toponim Tanara merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah.

SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 19:09

Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

Evolusi berpakaian pribumi di Batavia pada tahun 1900-1942.

Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:32

Obsesi Nasi: Hilangnya Diversitas Pangan Pokok Indonesia & Lingkaran Setan Food Estate

Membedah kebijakan penguasa membuat rakyat Indonesia ketergantungan beras dan kehilangan keragaman pangan lokal.

Presiden Soeharto panen padi perdana di Desa Jatimulya, Kec. Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat (8/7/1987). (Sumber: Perpusnas | Foto: Perpusnas)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:05

10 Netizen Terpilih Mei 2026 dan Format Baru untuk Bulan Berikutnya

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 17:04

Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

Sampah dapat berkurang, tapi pencemarannya belum tentu hilang. Inilah sisi lain dari pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang jarang dibahas.

Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 16:46

Panduan Jelajah Dufan: Daftar Wahana Terbaik, Harga Tiket, dan Jam Operasional

Jelajahi Dunia Fantasi Jakarta dengan panduan lengkap berisi daftar wahana, harga tiket Dufan, jam buka, dan fasilitas yang tersedia.

Wisata Dufan. (Sumber: ancol.com)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 15:38

Menelusuri Jejak Stasiun Karees, Penghubung Bandung-Kopo yang Kini Terlupakan

Artikel ini mencoba untuk menelusuri jejak dan sejarah dari Stasiun Karees yang menjadi titik awal penghubung Kota Bandung dengan Kopo atau Soreang.

Jejak rel kereta api di Cibangkong (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Muhammad Saeful Ihsan)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 13:37

5 Kafe dan Resto Viral Terbaru di Bandung yang Wajib Dicoba

Rekomendasi tempat makan dan kafe viral Bandung dengan konsep unik, dessert estetik, hingga menu rumahan yang banyak dibicarakan.

The Deli Bakes, salah satu kafe favorit di Bandung. (Sumber: Taboo)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 12:45

Menilik Awal Pendakian Gunung Gede

Melihat jejak lawas pendakian awal Gunung Gede.

Pemandangan Indah Surya Kencana di Gunung Gede. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Moch Shezar Rachman)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 10:18

ASGAR, dari Desa Banyuresmi sampai Menguasai Pulau Jawa

Mulai dari tahun 1930-an, memotong rambut punya peran sebagai penolong ekonomi bagi warga Garut.

Alat cukur merupakan simbol perjuangan ekonomi dan lahirnya identitas Asgar Garut (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock Project)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 09:48

Geografis-Historis Lembang: Rahasia di Balik Lokasi Wisata Favorit di Bandung

Lembang yang sekarang dikenal sebagai tempat favorit dengan penuh wisata, ternyata disebabkan oleh beberapa faktor.

Foto Rumah Ursone (Piknik Kopi) di Lembang (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hilman)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 08:57

Jejak Gultik: Transformasi Makanan Pekerja Malam Menjadi Identitas Blok M

Bukan hanya enak, ini kisah sejarah di balik Gultik (Gulai Tikungan) Blok M dan awal kemunculannya yang legendaris.

Sajian kuliner legendaris Gultik Blok M (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Ilyasa Salsabila)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 20:23

Dari Tangan ke Kaki: Mimpi Sepatu Cibaduyut yang Tak Boleh Mati

Koku Footwear bukan semata urusan bisnis. Banyak keterkaitan emosi soal kelangsungan sebuah legacy.

Perajin sepatu kulit Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 04 Jun 2026, 19:21

Sop Iga Rp10.000 yang Tak Pernah Sepi, Kuliner Legendaris di Kadungora Garut

Sop iga Rp10 ribu di Kadungora jadi favorit musafir dengan rasa kaldu kuat dan harga yang tetap ramah.

Warung Sop Iga A4 di Kadungora, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 04 Jun 2026, 18:50

Tertarik Bisnis Kuliner? Sistem Waralaba Putus Ini Janjikan Keuntungan Penuh untuk Mitra

Memiliki usaha sendiri kian jadi jalur alternatif yang simple di tengah kebingungan memilih profesi apa yang bisa dijadikan sandaran untuk mencari pundi-pundi rupiah.

Ilustrasi. Industri bisnis waralaba kian ngetren di tengah berkembangnya zaman modern. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 04 Jun 2026, 18:50

Hikayat Kopo, Kawasan Ekonomi Bandung yang jadi Bahan Guyon Warganet

Di balik citra macet dan banjir, Kopo ternyata memiliki sejarah panjang sebagai kawasan ekonomi penting Bandung.

Situasi kemacetan lalu lintas di Kopo. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 18:01

Perjalanan Dua Era Pemerintahan Membuka Mata Indonesia terhadap Aksara

Menilik lembaran historis "Pemberantasan Buta Huruf" di Indonesia.

Pidato Presiden Soekarno pada "Pameran Bebas Buta Huruf" di Gelora Bung Karno, 1964. (Sumber: Instagram Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 17:11

Perjalanan 'Desa yang Biasa Saja' Berhasil Bangun Esensi Ekonomi daripada Sibuk Seremoni

Untuk memahami pencapaian Margamukti hari, perlu kembali ke kondisi beberapa tahun lalu, yang sejujurnya tidak terlalu indah untuk diceritakan.

Kantor Desa Margamukti, Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Komunitas 04 Jun 2026, 16:58

Bertahan 15 Tahun, Komunitas Fingerboard di Kota Bandung Tak Kehilangan Pemain

Di tengah gempuran tren digital, komunitas fingerboard di Kota Bandung tetap bertahan lebih dari 15 tahun, menjadi ruang pertemanan, belajar, dan berbagi lintas generasi.

Anggota Bandung Fingerboard menghabiskan akhir pekan dengan bermain, berdiskusi, dan saling belajar berbagai trik fingerboard. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)