ASGAR, dari Desa Banyuresmi sampai Menguasai Pulau Jawa

4 menit baca
Lupipah
Ditulis oleh Lupipah diterbitkan Jumat 05 Jun 2026, 10:18 WIB
Alat cukur merupakan simbol perjuangan ekonomi dan lahirnya identitas Asgar Garut (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock Project)

Alat cukur merupakan simbol perjuangan ekonomi dan lahirnya identitas Asgar Garut (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock Project)

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa identitas tukang cukur "asli Garut" atau yang biasa disebut ASGAR adalah jaminan kualitas pelayanan jasa pangkas rambut. Pangkas rambut Garut memiliki sejarah yang kuat pada era 1930-an. Menurut artikel dari detikjabar, Haji Idi yang berasal dari Banyuresmi disebut sebagai salah satu pelopor, yang melayani pejabat dan warga Belanda di Garut pada masa kolonial.

Keterampilan dalam mencukur kemudian semakin berkembang di Banyuresmi karena profesi ini merupakan profesi yang relatif gampang untuk dilakukan dengan modal kecil saja. Pengembangan ini semakin cepat terjadi di era 1950-an, ketika konflik DI/TII yang melatarbelakangi banyak warga Banyuresmi harus mengungsi ke berbagai tempat di Indonesia. Pada situasi seperti itu, keahlian mencukur menjadi salah satu profesi yang memudahkan orang dalam menghasilkan uang dalam kehidupan perantauan mereka.

Tidak heran, tradisi mencukur mulai berdiri di berbagai kota di Indonesia. Kemudian tradisi tersebut pun turun-temurun sehingga menciptakan identitas “ASGAR” seperti yang kita kenal sekarang.

Menurut Blog Fandy Hutari (Tukang Cukur asli Garut: Eksis karena eksodus konflik DI/TII), penyebaran tukang cukur ASGAR ke berbagai daerah di Indonesia berkaitan dengan konflik politik di daerah asal mereka. Ini khususnya terjadi selama insiden pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia yang terjadi di Indonesia pada tahun 1949-1962, yang diketuai oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.

Pengaruh kelompok ini paling terlihat di wilayah Kabupaten Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Di Kabupaten Garut, kekuatan DI/TII terkonsentrasi di daerah sekitar Gunung Guntur, Limbangan, Cibatu, Malambong, serta Gunung Cikuray. Penduduk desa juga berisiko menjadi korban penculikan oleh pasukan DI/TII sebagai bentuk pembalasan terhadap tindakan yang bertentangan dengan pandangan NII, atau mereka dipaksa untuk bergabung dengan TII, Mereka juga bisa dipaksa ikut dalam gerakan pagar betis yang dijalankan oleh tentara Siliwangi maupun aparat desa.

Dalam blog dijelaskan bahwa berbagai tindakan perampokan, perusakan dan penyerangan yang dilakukan oleh DI/TII membuat warga Garut terpaksa meninggalkan desa mereka atau diungsikan. Dalam catatannya, antara tahun 1955 dan 1962, jumlah penduduk yang mengungsi atau melarikan diri dari sejumlah wilayah yang dikuasai DI/TII rata-rata mencapai 209.355 orang setiap tahun.

Kondisi ini mendorong banyak warga Garut pergi dari kampung halamannya dan merantau ke kota-kota seperti Bandung dan Jakarta. Di perantauan, untuk bertahan hidup, banyak dari mereka kemudian memilih bekerja sebagai tukang cukur. Fenomena ini yang membuat profesi tukang cukur ASGAR menyebar luas ke berbagai daerah di Indonesia.

Mengapa potong rambut menjadi ‘sekoci penyelamat’ bagi warga perantauan ini? Hal ini karena fleksibilitas dan modalnya yang rendah. Seperti yang diulas dalam artikel TribunJabar, bidang usaha ini tidak memerlukan ijazah sekolah ataupun investasi barang-barang yang mahal.

Dalam situasi hidup yang sangat tak pasti, para migran yang berasal dari Banyuresmi cukup menggunakan alat seadanya, yaitu gunting dan sisir, terutama di Kampung Peundeuy yang akhirnya mendapatkan reputasi sebagai tempat pembudidayaan kaum tukang cukur. Kemahiran tersebut dinilai sebagai warisan luhur yang dicampurkan dengan kerja keras dan kesabaran khas orang desa. Sedikit menariknya, bukan dari ruang kelas, tetapi dari empati emosional secara otodidak melalui mekanisme magang lah kemahiran tersebut didapatkan.

Sambut Hari Jadi ke-212 Garut, Barber School Abah Atrox boyong belasan kru untuk layani cukur gratis bagi warga di area CFD. (Sumber: Berita Daerah || Masyarakat Garut Antusias Manfaatkan Cukur Gratis di CFD Spesial HJG ke-212 https://share.google/xSLLf3Nubv0YcLOvN | Foto: Diskominfo Garut)

Para senior dari Peundeuy telah berhasil “mengeruk” kota Jakarta dan Bandung, biasanya akan memanggil kerabat dan tetangga mereka untuk belajar. Itulah Solidaritas yang akhirnya mendirikan jaringan ekonomi ASGAR yang sangat kuat; mereka bukan bersaing dengan tangan, melainkan saling mendukung satu sama lain memburu tempat tinggal serta menggali info lokasi yang strategis untuk membuka lapak baru.

Dari sana, sebuah keterampilan sederhana, dari mencari tempat tinggal sampai menggiring tahu tempat yang tepat untuk membuka lapak baru. Itulah mengapa kemampuan yang tampak biasa ini menjadi suatu identitas kelompok yang merambah dari daerah Banyuresmi. Dari sinilah suatu keahlian sederhana menjadi suatu identitas yang menjadi milik bersama masyarakat dan berkembang dari daerah Banyuresmi sampai seantero Indonesia.

Adanya juru pangkas rambut ASGAR yang banyak ditemukan di berbagai tempat di seluruh penjuru Indonesia adalah suatu wujud nyata bagaimana daya tanggulang suatu komunitas dalam menghadapi perjalanan sejarahnya. Hal ini terjadi karena adanya “periode gelap” saat pemberontakan DI/TII yang membuat masyarakat, terutama warga dari daerah Banyuresmi, harus mengungsi demi mendapatkan ketenangan.

Dalam situasi yang tidak pasti sebagai seorang perantau, mencukur jadi alternatif “kayuh sekoci" karena fleksibilitas tanpa harus memiliki banyak modal atau ijazah formal. Selain itu, teknik tidak hanya digunakan untuk cara bertahan hidup saja, tetapi juga berubah menjadi suatu identitas kolektif dengan cara magang secara autodidak serta solidaritas yang tinggi.

Para senior tidak akan membiarkan saudaranya sendirian; mereka menghasilkan ilmu dan melalui itu membuat jalannya untuk generasi berikutnya, sehingga mereka secara bertahap membuat sebuah jaringan ekonomi yang kuat dan kemudian membangun sebuah identitas ASGAR yang merupakan sebuah jaminan layanan yang berasal dari sejarah panjang berjuang dan bersaudara. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Lupipah
Tentang Lupipah
Lupipah is a History student at Universitas Padjadjaran, focusing on Indonesian historical methodology & academic writing.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Jun 2026, 20:28

Tanara Berarti Tanah Merah

Toponim Tanara merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah.

SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 19:09

Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

Evolusi berpakaian pribumi di Batavia pada tahun 1900-1942.

Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:32

Obsesi Nasi: Hilangnya Diversitas Pangan Pokok Indonesia & Lingkaran Setan Food Estate

Membedah kebijakan penguasa membuat rakyat Indonesia ketergantungan beras dan kehilangan keragaman pangan lokal.

Presiden Soeharto panen padi perdana di Desa Jatimulya, Kec. Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat (8/7/1987). (Sumber: Perpusnas | Foto: Perpusnas)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:05

10 Netizen Terpilih Mei 2026 dan Format Baru untuk Bulan Berikutnya

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 17:04

Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

Sampah dapat berkurang, tapi pencemarannya belum tentu hilang. Inilah sisi lain dari pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang jarang dibahas.

Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 16:46

Panduan Jelajah Dufan: Daftar Wahana Terbaik, Harga Tiket, dan Jam Operasional

Jelajahi Dunia Fantasi Jakarta dengan panduan lengkap berisi daftar wahana, harga tiket Dufan, jam buka, dan fasilitas yang tersedia.

Wisata Dufan. (Sumber: ancol.com)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 15:38

Menelusuri Jejak Stasiun Karees, Penghubung Bandung-Kopo yang Kini Terlupakan

Artikel ini mencoba untuk menelusuri jejak dan sejarah dari Stasiun Karees yang menjadi titik awal penghubung Kota Bandung dengan Kopo atau Soreang.

Jejak rel kereta api di Cibangkong (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Muhammad Saeful Ihsan)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 13:37

5 Kafe dan Resto Viral Terbaru di Bandung yang Wajib Dicoba

Rekomendasi tempat makan dan kafe viral Bandung dengan konsep unik, dessert estetik, hingga menu rumahan yang banyak dibicarakan.

The Deli Bakes, salah satu kafe favorit di Bandung. (Sumber: Taboo)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 12:45

Menilik Awal Pendakian Gunung Gede

Melihat jejak lawas pendakian awal Gunung Gede.

Pemandangan Indah Surya Kencana di Gunung Gede. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Moch Shezar Rachman)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 10:18

ASGAR, dari Desa Banyuresmi sampai Menguasai Pulau Jawa

Mulai dari tahun 1930-an, memotong rambut punya peran sebagai penolong ekonomi bagi warga Garut.

Alat cukur merupakan simbol perjuangan ekonomi dan lahirnya identitas Asgar Garut (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock Project)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 09:48

Geografis-Historis Lembang: Rahasia di Balik Lokasi Wisata Favorit di Bandung

Lembang yang sekarang dikenal sebagai tempat favorit dengan penuh wisata, ternyata disebabkan oleh beberapa faktor.

Foto Rumah Ursone (Piknik Kopi) di Lembang (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hilman)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 08:57

Jejak Gultik: Transformasi Makanan Pekerja Malam Menjadi Identitas Blok M

Bukan hanya enak, ini kisah sejarah di balik Gultik (Gulai Tikungan) Blok M dan awal kemunculannya yang legendaris.

Sajian kuliner legendaris Gultik Blok M (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Ilyasa Salsabila)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 20:23

Dari Tangan ke Kaki: Mimpi Sepatu Cibaduyut yang Tak Boleh Mati

Koku Footwear bukan semata urusan bisnis. Banyak keterkaitan emosi soal kelangsungan sebuah legacy.

Perajin sepatu kulit Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 04 Jun 2026, 19:21

Sop Iga Rp10.000 yang Tak Pernah Sepi, Kuliner Legendaris di Kadungora Garut

Sop iga Rp10 ribu di Kadungora jadi favorit musafir dengan rasa kaldu kuat dan harga yang tetap ramah.

Warung Sop Iga A4 di Kadungora, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 04 Jun 2026, 18:50

Tertarik Bisnis Kuliner? Sistem Waralaba Putus Ini Janjikan Keuntungan Penuh untuk Mitra

Memiliki usaha sendiri kian jadi jalur alternatif yang simple di tengah kebingungan memilih profesi apa yang bisa dijadikan sandaran untuk mencari pundi-pundi rupiah.

Ilustrasi. Industri bisnis waralaba kian ngetren di tengah berkembangnya zaman modern. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 04 Jun 2026, 18:50

Hikayat Kopo, Kawasan Ekonomi Bandung yang jadi Bahan Guyon Warganet

Di balik citra macet dan banjir, Kopo ternyata memiliki sejarah panjang sebagai kawasan ekonomi penting Bandung.

Situasi kemacetan lalu lintas di Kopo. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 18:01

Perjalanan Dua Era Pemerintahan Membuka Mata Indonesia terhadap Aksara

Menilik lembaran historis "Pemberantasan Buta Huruf" di Indonesia.

Pidato Presiden Soekarno pada "Pameran Bebas Buta Huruf" di Gelora Bung Karno, 1964. (Sumber: Instagram Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 17:11

Perjalanan 'Desa yang Biasa Saja' Berhasil Bangun Esensi Ekonomi daripada Sibuk Seremoni

Untuk memahami pencapaian Margamukti hari, perlu kembali ke kondisi beberapa tahun lalu, yang sejujurnya tidak terlalu indah untuk diceritakan.

Kantor Desa Margamukti, Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Komunitas 04 Jun 2026, 16:58

Bertahan 15 Tahun, Komunitas Fingerboard di Kota Bandung Tak Kehilangan Pemain

Di tengah gempuran tren digital, komunitas fingerboard di Kota Bandung tetap bertahan lebih dari 15 tahun, menjadi ruang pertemanan, belajar, dan berbagi lintas generasi.

Anggota Bandung Fingerboard menghabiskan akhir pekan dengan bermain, berdiskusi, dan saling belajar berbagai trik fingerboard. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)