Pendidikan di Bandung pada Masa Pendudukan Jepang

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Museum Geologi saat Masa Pendudukan Jepang. (Sumber: Koleksi Museum Geologi Bandung)
Museum Geologi saat Masa Pendudukan Jepang. (Sumber: Koleksi Museum Geologi Bandung)

Kisah-kisah pendudukan Jepang di Bandung saya dapatkan secara bertahap dalam masa riset tahun 2009 hingga 2022. Selain kisah-kisah masa lalu yang dialami langsung oleh kakek saya dalam masa pendudukan Jepang, saya pun mendapatkan kisah-kisah masa pendudukan Jepang dari dua orang narasumber utama. Yang pertama adalah om Billy Janz, ia adalah cucu dari administratur perkebunan kina Jayagiri dan pak Wibowo, seorang fotografer amatir yang menjalani masa pra remajanya di masa pendudukan Jepang.

Kisah-kisah lisan tersebut saya catat dalam beberapa buku catatan pribadi saya. Tidak berhenti sampai di sana, saya pun terus menggali data-data penunjang lainnya, seperti tulisan-tulisan di beberapa buku, majalah dan arsip, sehingga terlahirlah sebuah kesatuan kisah yang akan saya tuliskan sekarang.

Saya sangat penasaran dengan pendidikan di Bandung yang terjadi di masa pendudukan Jepang, sehingga mungkin yang akan saya angkat sekarang adalah soal pendidikan terlebih dahulu, baru kemudian akan saya angkat pula tentang kisah-kisah propaganda yang terjadi di Bandung dalam masa pendudukan Jepang.

Pendidikan dalam masa penjajahan Jepang diawali dengan dibukanya kembali sebagian dari sekolah-sekolah yang dahulu pernah berdiri. Kendala yang paling sering ditemui pada saat itu adalah soal pengadaan alat-alat pelajaran, khususnya buku-buku yang harus diganti dan disesuaikan dengan keadaan.

Sampai bulan September 1942, jumlah sekolah yang dibuka di kota Bandung hanya 22 buah, termasuk 3 buah sekolah gadis dan sekolah kepandaian putri. Pada bulan Juli 1942, berarti baru genap 4 bulan Jepang menduduki Bandung, sekolah putri dibuka menempati bekas gedung Mulo di jalan Jawa (sekarang SMPN 5 Bandung), kisah ini diceritakan dengan rinci oleh pak Wibowo pada akhir 2017 di rumahnya di bilangan Stiabudhi, Bandung. Beliau masih ingat betul ketika akan memasuki sekolah, para siswa-siswa tersebut harus melakukan salam ala Jepang dengan membungkukkan badan, apabila ada yang kurang membungkuk kepala mereka akan terus diketuk oleh tongkat kayu, hingga salam penghormatan itu bisa sempurna dilakukan para siswa.

Para siswa yang diterima di sana harus melakukan beberapa persyaratan, antara lain adalah berijazah HIS (Hollandsch Inlandsche School), HBS (Hogere Burgerschool), Van Deventer School, HIK (Hogere Lager Kweekschool) dan Volksschool. Pada saat itu siswa di sekolah putri berjumlah 276 orang. Sekolah ini hanya memiliki dua kelas dengan tujuh buah kelas. Lama pendidikan di sekolah ini adalah 3 tahun.

Bagi murid yang lulus menempuh ujian dapat menempuh ujian untuk masuk ke Sekolah Rumah Tangga Menengah. Selain itu pun di waktu yang bersamaan dibuka sekolah pertukangan di kawasan Ciroyom (SMKN 12). Murid-murid yang diterima di sekolah pertukangan ini ialah murid-murid yang harus memiliki ijazah Schakeschool atau sekolah teknik dan Ambachtschool. Murid yang diterima tidak terbatas dari dalam kota Bandung saja, namun mereka pun datang dari kota-kota besar lainnya di Pulau Jawa.

Lalu terdapat juga sekolah menengah yang dibuka di jalan Gelriasstraat no 22 (sekarang Jalan Bahureksa). Sekolah ini menerima siswanya dengan syarat harus memiliki ijazah atau pernah menempuh pendidikan di HBS, Lyseum, HIS dan MULO. Satu yang menggembirakan dalam penerimaan murid sekolah masa pendudukan Jepang di Bandung ialah tidak lagi ada diskriminasi antara anak-anak pribumi dan nonpribumi dan anak-anak golongan menak ataupun rakyat biasa. Demikian juga dengan guru-gurunya yang terdiri dari beberapa lulusan dari macam-macam sekolah pada masa pemerintahan Hindia Belanda, dipersamakan haknya. Semuanya dilakukan untuk mengejar prestasi bagi semua anak-anak dalam semua lapisan.

Semuanya diharapkan meningkatkan semangat belajar dengan dihapuskannya garis pemisah yang selama ini dilakukan oleh pemerintahan kolonial Belanda. Tujuan pemerintah Jepang adalah memanfaatkan sumber daya manusia untuk kebutuhan prajurit. Propaganda-propaganda pun digaungkan di kalangan para guru sehingga dapat menularkan hal tersebut kepada para siswanya. Selain guru, pihak Jepang juga mencekoki propaganda kepada masyarakat melalui para pemuka agama, pemuka masyarakat dan tokoh politik.

Lalu pada 1 Agustus 1943 dibukalah kursus membaca dan berhitung. Dalam hal ini ditunjuklah Sumitro dari Prianganshu, Jayawia dari Bandungshiyakucho, Tjokro Suharto dari putra cabang Prianganshu dan Ki sastra dari redaksi Tjahaja. Pada tanggal 5 Februari 1943 kantor pengajaran Kotapradja Bandung membuka pelajaran bahasa Jepang yang bertempat di:

  • Sekolah Rakyat no 34 di Verlengde Regentsweg 18 (sekarang Jalan Dewi Sartika), untuk guru-guru di kota Bandung, para pekerja Kotsubu Bunsitsu, kantor telepon, pajak, rumah gadai.
  • Sekolah Rakyat no 6, yang berada di Gang Asmi (SD Asmi) untuk pegawai Kogyo Jimusho, Seibu Denki Jigyo Kosha dan campuran.
  • Sekolah Rakyat no 3, di Jalan Lengkong Besar (SD Lengkong), untuk campuran.
  • Sekolah Rakyat no 13, di Nieusstraat (SMP 1 Jl. Kesatriaan), untuk pegawai Rikugun Kinine Seizoso (pabrik kina) dan campuran.
  • Sekolah Rakyat no 8, di Javastraat (SMP 5) untuk para pegawai rumah gadai.
  • Sekolah Rakyat no 32, Schoolweg (SD Banjarsari) untuk campuran.
  • Sekolah Rakyat no 33, di jalan Titimplik untuk campuran.
  • Bekas gedung loji St. Jan, untuk campuran.

Kursus-kursus bahasa Jepang tersebut tidak gratis, semua siswanya harus membayar sebesar f.0,50 untuk pegawai yang berpenghasilan f. 25 dan f. 0,25 untuk para pegawai yang berpenghasilan di bawah f. 25.

Jadi warga Bandung saat itu diwajibkan mengikuti kursus bahasa Jepang, dan mulai dilatih berbahasa dan menulis kanji Jepang dalam keseharian. Sebuah kisah yang jarang sekali kita dengar bahkan jarang dibahas dalam buku sejarah di sekolah. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)