Mengapa Banyak Anak Muda Indonesia Memilih Jepang sebagai Tujuan Karier?

Suhendi Al Wasim
Ditulis oleh Suhendi Al Wasim diterbitkan Minggu 18 Jan 2026, 12:23 WIB
Ilustrasi bekerja di Jepang. (Sumber: Pexels | Foto: Ryan Lee)

Ilustrasi bekerja di Jepang. (Sumber: Pexels | Foto: Ryan Lee)

Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang semakin sering disebut sebagai negara tujuan karier favorit anak muda Indonesia.

Bukan hanya lulusan SMK atau mahasiswa vokasi, tetapi juga lulusan S1 mulai melirik Jepang sebagai tempat bekerja, magang, bahkan membangun karier jangka panjang.

Fenomena ini tentu tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor yang membuat Jepang terasa menarik, realistis, dan menjanjikan bagi generasi muda Indonesia saat ini.

Alasan Anak Muda Indonesia Pilih Jepang sebagai Tujuan Karier

Di bawah ini terdapat beberapa poin mengapa anak muda di negeri ini memilih Jepang sebagai tujuan karier.

1. Peluang Kerja di Jepang yang Terbuka Lebar

Dilansir dari website LPK MKM salah satu alasan utama mengapa Jepang menjadi incaran adalah karena peluang kerjanya yang luas.

Jepang saat ini sedang menghadapi krisis tenaga kerja akibat menurunnya angka kelahiran dan menua-nya populasi.

Kondisi ini membuka kesempatan besar bagi tenaga kerja asing, termasuk dari Indonesia.

Lowongan kerja di Jepang tidak hanya terbatas pada sektor tertentu. Anak muda bisa bekerja di bidang manufaktur, pertanian, perikanan, konstruksi, restoran, hingga perawatan lansia.

Bahkan, beberapa perusahaan Jepang juga mulai membuka peluang bagi lulusan IT dan teknik.

Dengan kata lain, pilihan karier di Jepang cukup beragam dan bisa disesuaikan dengan latar belakang pendidikan maupun keterampilan.

2. Gaji dan Standar Kerja yang Lebih Jelas

Alasan berikutnya yang cukup kuat adalah soal penghasilan. Gaji kerja di Jepang relatif lebih tinggi dibandingkan banyak pekerjaan di dalam negeri, terutama untuk level pemula.

Selain itu, sistem kerja di Jepang terkenal tertib, teratur, dan memiliki aturan yang jelas.

Jam kerja, hak cuti, lembur, hingga asuransi biasanya sudah diatur dengan rinci.

Hal ini membuat anak muda merasa lebih aman dan memiliki kepastian.

Meski budaya kerja Jepang dikenal disiplin, banyak yang justru melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar profesionalisme dan etos kerja yang kuat.

3. Budaya Jepang yang Menarik dan Penuh Nilai

Tidak bisa dipungkiri, daya tarik budaya Jepang juga berperan besar. Banyak anak muda Indonesia sudah akrab dengan budaya Jepang sejak lama, mulai dari anime, manga, musik, hingga kuliner.

Namun, lebih dari itu, budaya Jepang juga dikenal menjunjung tinggi nilai kerja keras, tanggung jawab, dan rasa hormat.

Pelajar di Jepang. (Sumber: Unsplash | Foto: Stephanie Hau)
Pelajar di Jepang. (Sumber: Unsplash | Foto: Stephanie Hau)

Bagi sebagian anak muda, bekerja di Jepang bukan sekadar mencari uang, tetapi juga pengalaman hidup.

Tinggal di negara dengan budaya yang berbeda memberi pelajaran berharga tentang kemandirian, kedisiplinan, dan cara berpikir yang lebih tertata.

4. Jalur Resmi yang Semakin Mudah Diakses

Jika dulu bekerja ke luar negeri terasa rumit dan berisiko, kini kondisinya mulai berubah.

Pemerintah Indonesia dan Jepang telah membuka berbagai jalur resmi, seperti program magang, kerja spesifik (SSW), hingga kerja profesional.

Banyak lembaga pelatihan dan LPK yang membantu proses dari awal, mulai dari belajar bahasa Jepang, persiapan dokumen, hingga keberangkatan.

Dengan adanya jalur resmi ini, anak muda tidak hanya berangkat dengan lebih aman.

Akan tetapi, harus memiliki perlindungan hukum dan kontrak kerja yang jelas. Hal ini tentu meningkatkan kepercayaan diri dan minat generasi muda untuk mencoba peruntungan di Jepang.

5. Kesempatan Mengembangkan Diri dan Karier Jangka Panjang

Bagi sebagian orang, Jepang bukan hanya batu loncatan. Pengalaman kerja di Jepang bisa menjadi modal besar untuk karier ke depan.

Skill teknis, kemampuan bahasa Jepang, serta pengalaman kerja internasional adalah nilai tambah yang sangat dihargai, baik di Jepang maupun saat kembali ke Indonesia.

Beberapa anak muda bahkan berhasil naik posisi, memperpanjang kontrak, atau melanjutkan ke jenjang kerja yang lebih profesional.

Ada juga yang setelah pulang, membuka usaha sendiri atau bekerja di perusahaan Jepang yang ada di Indonesia.

Apakah Jepang Selalu Pilihan Ideal?

Meski terlihat menjanjikan, memilih Jepang sebagai tujuan karier tetap perlu pertimbangan matang.

Tantangan seperti bahasa, adaptasi budaya, dan tekanan kerja tetap ada. Tidak semua orang cocok dengan ritme kerja Jepang yang disiplin dan menuntut.

Namun, bagi anak muda yang siap belajar, beradaptasi, dan bekerja keras, Jepang menawarkan peluang yang cukup realistis.

Bukan jalan instan menuju sukses, tetapi jalur yang jelas bagi mereka yang mau berproses.

Baca Juga: Sejarah Pasar Kosambi, Jejak Perdagangan Seabad Bandung

Pada akhirnya, alasan mengapa banyak anak muda Indonesia memilih Jepang sebagai tujuan karier bukan hanya soal gaji atau tren.

Jepang menawarkan kombinasi antara peluang kerja, pengalaman hidup, dan pengembangan diri.

Dengan persiapan yang tepat dan jalur yang resmi, Jepang bisa menjadi tempat belajar, bekerja, dan tumbuh bagi generasi muda Indonesia yang ingin melangkah lebih jauh. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Suhendi Al Wasim
Mahasiswa Politeknik Siber Cerdika Internasional dan Penulis Seputar Negeri Sakura

Berita Terkait

Komunikasi Anti Macet 

Ayo Netizen 15 Jan 2026, 18:21 WIB
Komunikasi Anti Macet 

News Update

Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 17:43 WIB

Quo Vadis BKKBN dalam Kepungan Patologi Sosial

Jika fenomena YOLO, FOMO, dan FOPO dihubungkan, muncul gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana komunikasi digital mempengaruhi kesehatan mental individu.
Ilustrasi perubahan perilaku generasi milenial dan Z. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)