Sejarah Pasar Kosambi, Jejak Perdagangan Seabad Bandung

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Minggu 18 Jan 2026, 11:34 WIB
Suasana Pasar Kosambi, Bandung, tahun 1981. (Sumber: Pemprov Jabar)

Suasana Pasar Kosambi, Bandung, tahun 1981. (Sumber: Pemprov Jabar)

AYOBANDUNG.ID - Jika pasar bisa bercerita, Pasar Kosambi barangkali akan membuka kisahnya dengan suara riuh pedagang, bau oncom yang khas, dan jejak langkah orang-orang yang silih berganti sejak zaman kolonial. Pasar ini bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah saksi hidup bagaimana Bandung tumbuh, berubah, jatuh bangun, lalu mencoba berdiri lagi dengan wajah yang sedikit berbeda.

Terletak di kawasan Kebon Pisang, Sumur Bandung, Pasar Kosambi sudah ada jauh sebelum kata “mal” menjadi kosakata sehari-hari warga kota. Nama Kosambi sendiri konon berasal dari pohon kesambi yang dulu berdiri mencolok di kawasan ini. Pohon besar dengan daun rimbun itu bukan hanya penanda alam, tapi juga penanda ekonomi. Di sekitarnya, orang-orang berkumpul, berdagang ikan asin, gula aren, dan kebutuhan pokok lain. Dari sanalah denyut awal Pasar Kosambi bermula, jauh sebelum ada bangunan permanen atau papan nama resmi.

Sejumlah catatan menyebutkan Pasar Kosambi diresmikan pada 1915 oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Namun, aktivitas perdagangannya sudah hidup sejak akhir abad ke-19. Ini khas pasar tradisional di Nusantara: berdiri dulu, diresmikan belakangan. Pasar tumbuh karena kebutuhan, bukan karena gunting pita. Lokasinya yang strategis membuat Pasar Kosambi menjadi tumpuan ekonomi, terutama bagi komunitas perantau Jawa yang bermukim di Bandung bagian timur.

Baca Juga: Jalan Dago Tempo Dulu, Belum Padat Tapi Rawan Kecelakaan

Kehadiran para perantau ini tidak bisa dilepaskan dari keputusan kolonial memindahkan pabrik senjata Artillerie Constructie Winkel dari Surabaya ke Kiaracondong pada akhir abad ke-19. Bersama mesin-mesin berat, ikut pula berpindah para pekerja beserta keluarganya. Mereka butuh pasar yang dekat, murah, dan akrab. Pasar Baru terlalu jauh, maka Kosambi menjadi jawaban. Di sini, pasar bukan hanya tempat belanja, tapi juga ruang sosial, tempat bahasa Jawa terdengar akrab, dan hiburan rakyat ikut tumbuh.

Periode awal abad ke-20 menjadi masa penting bagi Pasar Kosambi. Pemerintah kolonial mulai memikirkan pasar sebagai bagian dari tata kota modern. Pada 1914, direncanakan pembangunan ulang beberapa pasar besar di Bandung, termasuk Kosambi. Alasannya klasik: kebersihan dan keteraturan. Pasar tradisional dianggap terlalu becek dan semrawut untuk kota yang sedang dipoles menjadi Parijs van Java. Meski rencana sempat tertunda, pembangunan Pasar Kosambi akhirnya rampung pada pertengahan 1915.

Bangunan baru itu disambut antusias. Meski belum sepenuhnya sempurna, kios-kios sudah terisi. Pasar semakin ramai, meskipun lantainya masih tanah dan hujan tetap menjadikan area pasar sebagai kubangan lumpur musiman. Tapi kenyamanan rupanya bukan syarat utama. Harga terjangkau dan barang lengkap jauh lebih penting bagi pembeli. Pohon kesambi masih berdiri di tengah pasar, menjadi semacam kompas alami bagi siapa pun yang datang.

Baca Juga: Sejarah Rumah Sakit Cicendo Bandung, Lawan Kebutaan Sejak 1909

Seiring berjalannya waktu, memasuki dekade 1930-an, Pasar Kosambi tidak hanya menjadi pusat ekonomi, tapi juga pusat hiburan. Di sekitarnya berdiri bioskop dan gedung pertunjukan. Bioskop Rivoli, yang dibangun di sisi barat pasar, menghadirkan film-film asing dan opera, memberi sentuhan kosmopolitan di tengah hiruk pikuk pasar. Tak jauh dari sana, pertunjukan sandiwara Sunda dan Jawa rutin digelar. Kawasan Kosambi menjadi ruang pertemuan berbagai kelas sosial, budaya, dan selera hiburan.

Suasana Pasar Kosambi, Bandung, tahun 1938. (Sumber: KITLV)
Suasana Pasar Kosambi, Bandung, tahun 1938. (Sumber: KITLV)

Pasang Surut Pasar Kosambi

Setelah Indonesia merdeka, Pasar Kosambi tetap hidup sebagai jantung ekonomi kawasan timur Bandung. Pada 1950–1960-an, suasananya nyaris tak pernah sepi. Kendaraan masih jarang, angkutan umum sederhana menjadi penghubung, dan pasar menjadi tempat orang bertemu, bertukar kabar, bahkan sekadar nongkrong. Kosambi adalah pasar yang hidup sepanjang hari, dari subuh hingga malam.

Perubahan besar datang pada 1980-an. Di atas lahan pasar, berdiri Bandung Theater, sebuah bioskop yang memberi warna baru bagi Kosambi. Berbeda dengan pendahulunya, bioskop ini dikenal memberi ruang besar bagi film Indonesia. Film-film populer pasca-Lebaran, terutama komedi, menjadi magnet penonton. Pasar dan bioskop hidup berdampingan. Siang belanja, malam menonton. Sebuah kombinasi yang terdengar sederhana, tapi efektif.

Baca Juga: Hikayat Macan Cisewu, Senyum Tulus Harimau Siliwangi yang jadi Bahan Tertawaan Internet

Tapi kejayaan itu tidak abadi. Awal 1990-an menjadi masa sulit. Industri film nasional merosot, distribusi film tidak sehat, dan bioskop-bioskop kecil mulai tumbang. Bandung Theater pun akhirnya tutup. Kawasan yang dulu ramai perlahan kehilangan daya tarik hiburannya. Gedung bioskop diubah fungsi, pasar kembali menjadi fokus utama, meski tanpa gegap gempita masa lalu.

Upaya modernisasi muncul lagi di akhir 1990-an. Pemerintah kota berencana menjadikan Pasar Kosambi sebagai pusat perbelanjaan modern bertingkat. Gedung megah dibangun, lantai demi lantai disiapkan. Sayangnya, rencana besar tidak selalu sejalan dengan realitas. Pedagang tradisional merasa terpinggirkan, toko-toko besar sulit menarik pengunjung, dan banyak ruang akhirnya kosong. Modernisasi yang diharapkan mengangkat pasar justru membuatnya kehilangan keseimbangan.

Pukulan terberat datang pada 2019. Kebakaran besar melanda Pasar Kosambi. Api melahap kios, barang dagangan, dan harapan banyak pedagang kecil. Belum selesai luka itu mengering, pandemi COVID-19 datang. Aktivitas pasar menurun drastis, kios-kios tutup, dan denyut ekonomi melemah. Bagi pasar yang telah bertahan lebih dari seabad, ini adalah ujian paling berat.

Tetapi Pasar Kosambi belum selesai. Di tengah keterpurukan, muncul sensasi yang bikin Pasar Kosambi kebali muncl di ingatan warga. Pada September 2020, saat pagebluk mengamuk, muncul sebuah video viral Odading Mang Oleh yang meledak dan viral. Setelahnya, banyak orang berbondong-bondong datang menajajl kios odading yang berada di sayap kanan pasar tersebut.

Belakangan, inisiatif kreatif ada juga yang mencoba menghidupkan kembali ruang-ruang mati. Salah satunya adalah kehadiran ruang kreatif di lantai atas pasar yang menghadirkan konsep berbeda: The Hallway Space yang muncul sejak 2020. Kafe, produk lokal, ruang acara, dan aktivitas anak muda mulai mengisi kembali bangunan yang sempat kosong. Pelan-pelan, pengunjung kembali datang, bukan hanya untuk belanja, tapi juga untuk berkegiatan.

Baca Juga: Hikayat Odading Mang Oleh, Legenda Internet Indonesia di Masa Pandemi

Yang menarik, kebangkitan ini tidak menghapus identitas lama Pasar Kosambi. Warisan kuliner tetap bertahan. Produk-produk lokal yang sudah puluhan tahun eksis masih setia melayani pelanggan. Dari olahan oncom, abon legendaris, hingga bubur ayam yang tak pernah tutup, semuanya menjadi pengingat bahwa pasar ini hidup dari kesinambungan, bukan sekadar perubahan.

Sejarah Pasar Kosambi Bandung adalah sejarah tentang adaptasi. Dari pohon kesambi yang menjadi penanda alam, pasar kolonial yang becek, masa hiburan layar perak, ambisi modernisasi yang tersendat, hingga ruang kreatif yang mencoba menjembatani generasi. Pasar ini mungkin tidak lagi menjadi yang termegah, tapi justru di situlah kekuatannya. Ia bertahan karena mau berubah tanpa sepenuhnya melupakan dirinya sendiri.

Di tengah kota yang terus berlari mengejar yang baru, Pasar Kosambi memilih berjalan dengan langkah panjang sejarah. Kadang tertatih, kadang terseok, tapi tetap bergerak. Dan selama masih ada orang yang datang untuk berbelanja, mengobrol, atau sekadar mengingat masa lalu, Pasar Kosambi akan terus hidup sebagai salah satu nadi tua Kota Bandung.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)