Sejarah Pasar Kosambi, Jejak Perdagangan Seabad Bandung

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Suasana Pasar Kosambi, Bandung, tahun 1981. (Sumber: Pemprov Jabar)
Suasana Pasar Kosambi, Bandung, tahun 1981. (Sumber: Pemprov Jabar)

AYOBANDUNG.ID - Jika pasar bisa bercerita, Pasar Kosambi barangkali akan membuka kisahnya dengan suara riuh pedagang, bau oncom yang khas, dan jejak langkah orang-orang yang silih berganti sejak zaman kolonial. Pasar ini bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah saksi hidup bagaimana Bandung tumbuh, berubah, jatuh bangun, lalu mencoba berdiri lagi dengan wajah yang sedikit berbeda.

Terletak di kawasan Kebon Pisang, Sumur Bandung, Pasar Kosambi sudah ada jauh sebelum kata “mal” menjadi kosakata sehari-hari warga kota. Nama Kosambi sendiri konon berasal dari pohon kesambi yang dulu berdiri mencolok di kawasan ini. Pohon besar dengan daun rimbun itu bukan hanya penanda alam, tapi juga penanda ekonomi. Di sekitarnya, orang-orang berkumpul, berdagang ikan asin, gula aren, dan kebutuhan pokok lain. Dari sanalah denyut awal Pasar Kosambi bermula, jauh sebelum ada bangunan permanen atau papan nama resmi.

Sejumlah catatan menyebutkan Pasar Kosambi diresmikan pada 1915 oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Namun, aktivitas perdagangannya sudah hidup sejak akhir abad ke-19. Ini khas pasar tradisional di Nusantara: berdiri dulu, diresmikan belakangan. Pasar tumbuh karena kebutuhan, bukan karena gunting pita. Lokasinya yang strategis membuat Pasar Kosambi menjadi tumpuan ekonomi, terutama bagi komunitas perantau Jawa yang bermukim di Bandung bagian timur.

Baca Juga: Jalan Dago Tempo Dulu, Belum Padat Tapi Rawan Kecelakaan

Kehadiran para perantau ini tidak bisa dilepaskan dari keputusan kolonial memindahkan pabrik senjata Artillerie Constructie Winkel dari Surabaya ke Kiaracondong pada akhir abad ke-19. Bersama mesin-mesin berat, ikut pula berpindah para pekerja beserta keluarganya. Mereka butuh pasar yang dekat, murah, dan akrab. Pasar Baru terlalu jauh, maka Kosambi menjadi jawaban. Di sini, pasar bukan hanya tempat belanja, tapi juga ruang sosial, tempat bahasa Jawa terdengar akrab, dan hiburan rakyat ikut tumbuh.

Periode awal abad ke-20 menjadi masa penting bagi Pasar Kosambi. Pemerintah kolonial mulai memikirkan pasar sebagai bagian dari tata kota modern. Pada 1914, direncanakan pembangunan ulang beberapa pasar besar di Bandung, termasuk Kosambi. Alasannya klasik: kebersihan dan keteraturan. Pasar tradisional dianggap terlalu becek dan semrawut untuk kota yang sedang dipoles menjadi Parijs van Java. Meski rencana sempat tertunda, pembangunan Pasar Kosambi akhirnya rampung pada pertengahan 1915.

Bangunan baru itu disambut antusias. Meski belum sepenuhnya sempurna, kios-kios sudah terisi. Pasar semakin ramai, meskipun lantainya masih tanah dan hujan tetap menjadikan area pasar sebagai kubangan lumpur musiman. Tapi kenyamanan rupanya bukan syarat utama. Harga terjangkau dan barang lengkap jauh lebih penting bagi pembeli. Pohon kesambi masih berdiri di tengah pasar, menjadi semacam kompas alami bagi siapa pun yang datang.

Baca Juga: Sejarah Rumah Sakit Cicendo Bandung, Lawan Kebutaan Sejak 1909

Seiring berjalannya waktu, memasuki dekade 1930-an, Pasar Kosambi tidak hanya menjadi pusat ekonomi, tapi juga pusat hiburan. Di sekitarnya berdiri bioskop dan gedung pertunjukan. Bioskop Rivoli, yang dibangun di sisi barat pasar, menghadirkan film-film asing dan opera, memberi sentuhan kosmopolitan di tengah hiruk pikuk pasar. Tak jauh dari sana, pertunjukan sandiwara Sunda dan Jawa rutin digelar. Kawasan Kosambi menjadi ruang pertemuan berbagai kelas sosial, budaya, dan selera hiburan.

Suasana Pasar Kosambi, Bandung, tahun 1938. (Sumber: KITLV)
Suasana Pasar Kosambi, Bandung, tahun 1938. (Sumber: KITLV)

Pasang Surut Pasar Kosambi

Setelah Indonesia merdeka, Pasar Kosambi tetap hidup sebagai jantung ekonomi kawasan timur Bandung. Pada 1950–1960-an, suasananya nyaris tak pernah sepi. Kendaraan masih jarang, angkutan umum sederhana menjadi penghubung, dan pasar menjadi tempat orang bertemu, bertukar kabar, bahkan sekadar nongkrong. Kosambi adalah pasar yang hidup sepanjang hari, dari subuh hingga malam.

Perubahan besar datang pada 1980-an. Di atas lahan pasar, berdiri Bandung Theater, sebuah bioskop yang memberi warna baru bagi Kosambi. Berbeda dengan pendahulunya, bioskop ini dikenal memberi ruang besar bagi film Indonesia. Film-film populer pasca-Lebaran, terutama komedi, menjadi magnet penonton. Pasar dan bioskop hidup berdampingan. Siang belanja, malam menonton. Sebuah kombinasi yang terdengar sederhana, tapi efektif.

Baca Juga: Hikayat Macan Cisewu, Senyum Tulus Harimau Siliwangi yang jadi Bahan Tertawaan Internet

Tapi kejayaan itu tidak abadi. Awal 1990-an menjadi masa sulit. Industri film nasional merosot, distribusi film tidak sehat, dan bioskop-bioskop kecil mulai tumbang. Bandung Theater pun akhirnya tutup. Kawasan yang dulu ramai perlahan kehilangan daya tarik hiburannya. Gedung bioskop diubah fungsi, pasar kembali menjadi fokus utama, meski tanpa gegap gempita masa lalu.

Upaya modernisasi muncul lagi di akhir 1990-an. Pemerintah kota berencana menjadikan Pasar Kosambi sebagai pusat perbelanjaan modern bertingkat. Gedung megah dibangun, lantai demi lantai disiapkan. Sayangnya, rencana besar tidak selalu sejalan dengan realitas. Pedagang tradisional merasa terpinggirkan, toko-toko besar sulit menarik pengunjung, dan banyak ruang akhirnya kosong. Modernisasi yang diharapkan mengangkat pasar justru membuatnya kehilangan keseimbangan.

Pukulan terberat datang pada 2019. Kebakaran besar melanda Pasar Kosambi. Api melahap kios, barang dagangan, dan harapan banyak pedagang kecil. Belum selesai luka itu mengering, pandemi COVID-19 datang. Aktivitas pasar menurun drastis, kios-kios tutup, dan denyut ekonomi melemah. Bagi pasar yang telah bertahan lebih dari seabad, ini adalah ujian paling berat.

Tetapi Pasar Kosambi belum selesai. Di tengah keterpurukan, muncul sensasi yang bikin Pasar Kosambi kebali muncl di ingatan warga. Pada September 2020, saat pagebluk mengamuk, muncul sebuah video viral Odading Mang Oleh yang meledak dan viral. Setelahnya, banyak orang berbondong-bondong datang menajajl kios odading yang berada di sayap kanan pasar tersebut.

Belakangan, inisiatif kreatif ada juga yang mencoba menghidupkan kembali ruang-ruang mati. Salah satunya adalah kehadiran ruang kreatif di lantai atas pasar yang menghadirkan konsep berbeda: The Hallway Space yang muncul sejak 2020. Kafe, produk lokal, ruang acara, dan aktivitas anak muda mulai mengisi kembali bangunan yang sempat kosong. Pelan-pelan, pengunjung kembali datang, bukan hanya untuk belanja, tapi juga untuk berkegiatan.

Baca Juga: Hikayat Odading Mang Oleh, Legenda Internet Indonesia di Masa Pandemi

Yang menarik, kebangkitan ini tidak menghapus identitas lama Pasar Kosambi. Warisan kuliner tetap bertahan. Produk-produk lokal yang sudah puluhan tahun eksis masih setia melayani pelanggan. Dari olahan oncom, abon legendaris, hingga bubur ayam yang tak pernah tutup, semuanya menjadi pengingat bahwa pasar ini hidup dari kesinambungan, bukan sekadar perubahan.

Sejarah Pasar Kosambi Bandung adalah sejarah tentang adaptasi. Dari pohon kesambi yang menjadi penanda alam, pasar kolonial yang becek, masa hiburan layar perak, ambisi modernisasi yang tersendat, hingga ruang kreatif yang mencoba menjembatani generasi. Pasar ini mungkin tidak lagi menjadi yang termegah, tapi justru di situlah kekuatannya. Ia bertahan karena mau berubah tanpa sepenuhnya melupakan dirinya sendiri.

Di tengah kota yang terus berlari mengejar yang baru, Pasar Kosambi memilih berjalan dengan langkah panjang sejarah. Kadang tertatih, kadang terseok, tapi tetap bergerak. Dan selama masih ada orang yang datang untuk berbelanja, mengobrol, atau sekadar mengingat masa lalu, Pasar Kosambi akan terus hidup sebagai salah satu nadi tua Kota Bandung.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)