Jalan Dago Tempo Dulu, Belum Padat Tapi Rawan Kecelakaan

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Orang Eropa berjalan di Jalan Dago tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)
Orang Eropa berjalan di Jalan Dago tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Hari ini Jalan Dago dikenal sebagai etalase Bandung. Kafe berderet, sepeda berseliweran, dan trotoar menjadi ruang pamer gaya hidup. Namun jauh sebelum ngopi edgy dan lari pagi menjadi kebiasaan, Jalan Dago punya reputasi lain yang tak kalah terkenal. Ia pernah menjadi salah satu ruas paling rawan kecelakaan di Bandung pada masa kolonial.

Pada awal abad ke-20, Jalan Dago belumlah serapi sekarang. Jalan ini membentang dari pusat kota menuju kawasan utara Bandung yang lebih sejuk, melewati tikungan, tanjakan, dan pertemuan jalan yang kala itu belum dilengkapi rambu memadai. Lalu lintasnya campur aduk. Sepeda, gerobak, truk barang, sepeda motor, hingga mobil pribadi milik pejabat kolonial berbagi ruang tanpa aturan yang benar-benar dipahami semua pihak.

Surat kabar Belanda yang terbit di Hindia Belanda mencatat Jalan Dago bukan sekali dua kali muncul dalam kolom peristiwa. Nama jalannya kerap hadir bersama kata tabrakan, terlindas, atau meninggal dunia. Dari anak pembantu tukang daging hingga pegawai kantor telepon, dari kuli gerobak sampai petugas pos, Jalan Dago menjadi saksi bagaimana modernitas transportasi sering datang lebih cepat daripada kesadaran keselamatan.

Baca Juga: Sejarah Dago, Hutan Bandung yang Berubah jadi Kawasan Elit Belanda Era Kolonial

Koran Het Nieuws van den Dag edisi akhir Januari 1929 melaporkan sebuah kecelakaan yang terjadi pada pagi hari di Jalan Dago. Korbannya seorang anak pribumi yang bekerja sebagai pembantu tukang daging. Anak itu sedang bersepeda bersama temannya dan memilih cara cepat yang lazim kala itu, yakni berpegangan pada truk barang yang sedang melaju. Ketika melihat polisi, mereka panik dan melepaskan pegangan. Salah satunya terjatuh tepat di antara truk dan gandengannya.

"Gandengan itu melindas anak tersebut dan menghancurkan kepalanya. Anak itu meninggal seketika," demikian tulis Het Nieuws van den Dag.

Dalam hitungan detik, gandengan itu melindas tubuh sang anak. Kepalanya hancur, dan nyawanya tak tertolong. Jenazahnya kemudian dibawa ke Rumah Sakit Borromeus yang letaknya tak jauh dari lokasi kejadian.

Dua tahun berselang, De Locomotief mencatat tabrakan lain di Jalan Dago. Kali ini melibatkan mobil dari Semarang yang ditumpangi seorang pejabat kehakiman dan sebuah gerobak yang dikemudikan kuli. Dua kuli terluka, mobil rusak ringan, dan laporan resmi menyimpulkan kesalahan ada sepenuhnya pada pihak kuli.

"Kesalahan sepenuhnya berada di pihak para kuli," tulis De Locomotief.

Baca Juga: Hikayat Banjir Gedebage Zaman Kolonial, Bikin Gagal Panen dan Jalan Rusak

Cara pandang kolonial terhadap lalu lintas saat itu nempaknya memang agak lain. Mobil selalu benar, gerobak selalu salah, dan luka manusia sering kali dianggap efek samping yang bisa ditoleransi.

Pada dekade 1930-an, jumlah kendaraan bermotor di Bandung meningkat pesat. Jalan Dago yang semula dirancang untuk promenade elite berubah menjadi lintasan cepat. Kecepatan menjadi simbol modernitas. Sayangnya, refleks manusia tidak berevolusi secepat mesin.

Pada November 1934, Het Nieuws van den Dag kembali melaporkan sebuah peristiwa penting di persimpangan Jalan Dago dan Jalan Riau. Pemerintah kota memasang alat pengatur lalu lintas otomatis, sebuah teknologi baru yang diyakini mampu menyelesaikan masalah kemacetan dan kecelakaan. Alat ini bekerja dengan sistem tekanan dan lampu berwarna, didampingi polisi yang bertugas menjelaskan cara pakainya kepada warga.

Fakta bahwa polisi harus berjaga hanya untuk menjelaskan lampu lalu lintas menunjukkan satu hal: masyarakat belum siap. Jalan boleh modern, tetapi kebiasaan belum ikut berubah. Lampu merah bukan perintah, melainkan saran. Drempel bukan peringatan, melainkan gangguan.

Baca Juga: Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan

Optimisme bahwa alat otomatis mampu mengatasi masalah lalu lintas rupanya terlalu dini. Setahun kemudian, Maret 1935, De Avondpost melaporkan kecelakaan fatal yang menimpa seorang pegawai telepon Belanda. Ia menabrak gerobak di Jalan Dago, tepat sebelum tikungan dengan laju kecepatan tinggi.

"Pengendara melaju dengan kecepatan tinggi terlihat dari jejak rem yang panjangnya sekitar 30 meter," tulis De Avondpost.

Jejak rem sepanjang puluhan meter menjadi bukti bahwa kendaraan sudah mampu melaju jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia mengantisipasi bahaya. Jalan Dago, dengan tikungan dan turunan alaminya, menjadi arena uji coba yang kejam bagi teknologi baru bernama sepeda motor.

Yang menarik, korban dan pengemudi gerobak sama sama bergerak ke arah utara. Kecelakaan ini dipicu bukan soal saling serobot, melainkan soal keterbatasan pandangan. Jalan Dago saat malam hari masih minim penerangan. Lampu kecil pada sepeda motor tidak cukup untuk mendeteksi gerobak kayu yang melaju tenang di depannya. Dalam kondisi seperti itu, tabrakan hampir tak terhindarkan.

Pada Februari 1939, Het Nieuws van den Dag kembali mencatat tabrakan antara oplet dan pesepeda pribumi di dekat persimpangan Cikapayang. Penyebabnya sederhana dan klasik: pengemudi tidak memberikan hak utama. Pesepeda hanya mengalami luka ringan dan mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Juliana yang kini bernama Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS).

Baca Juga: Sejarah RSHS Bandung, Rumah Sakit Tertua di Jawa Barat Warisan Era Hindia Belanda

Beberapa bulan kemudian, pada November 1939, koran yang sama kembali menurunkan laporan tentang tabrakan di Jalan Dago. Kali ini korbannya seorang petugas pos pribumi yang sedang mengosongkan kotak pos. Ia ditabrak mobil penumpang yang melaju menuruni Jalan Dago. Korban terlempar, tidak sadar, dan mengalami gegar otak berat.

Laju mobil sempat terus berjalan sekitar seratus meter sebelum berhenti. Sejumlah anggota militer yang kebetulan melintas memberikan pertolongan dan memanggil dokter. Polisi menyita surat izin mengemudi pengemudi mobil karena diketahui bukan pertama kalinya ia terlibat kecelakaan.

"Para anggota memanggil seorang dokter yang tinggal di dekat lokasi, yang kemudian mengatur agar petugas pos yang mengalami pendarahan dari hidung dan mulut segera dibawa ke Rumah Sakit Juliana," tulis Het Nieuws van den Dag.

Dari rangkaian laporan ini, terlihat bahwa Jalan Dago pada masa kolonial adalah laboratorium lalu lintas yang penuh risiko. Ia menampung sepeda, gerobak, sepeda motor, mobil pribadi, truk barang, dan pejalan kaki dalam satu ruang tanpa kompromi desain. Jalan ini terlalu percaya diri dengan lebarnya, terlalu optimistis dengan teknologinya, dan terlalu cepat mengubah ritme hidup manusia.

Jika hari ini Jalan Dago masih sering macet atau terjadi kecelakaan, itu bukan sepenuhnya cerita baru. Sejak awal abad ke-20, jalan ini memang sudah menyimpan watak berbahaya. Bedanya, dulu ia memikat dengan janji modernitas, sekarang dengan ilusi kenyamanan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:47

Siapa yang Menceritakan Indonesia? Perpektif dalam 'Semua untuk Hindia' dan 'Indonesia Calling'

Mengupas dilema orang Eropa hingga solidaritas buruh internasional demi melihat kemerdekaan dari sisi kemanusiaan.

Cover buku Kumpulan Carpen Semua Untuk Hindia dan Tangkapan Layar Pribadi Film Indonesia Calling (Sumber: Indonesiana.id dan channel youtube @pcasmilus)