Hikayat Banjir Gedebage Zaman Kolonial, Bikin Gagal Panen dan Jalan Rusak

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Rabu 14 Jan 2026, 15:00 WIB
Ilustrasi banjir zaman baheula.

Ilustrasi banjir zaman baheula.

AYOBANDUNG.ID - Setiap kali hujan turun lama di Bandung Timur, nama Gedebage hampir selalu muncul dalam laporan genangan. Air naik, jalan tergenang, sawah tersisa lumpur. Seolah ini penyakit baru kota modern. Padahal, jika membuka arsip lama, Gedebage sudah lama hidup berdampingan dengan banjir. Jauh sebelum perumahan tumbuh, jauh sebelum jalan beton dibangun, air sudah lebih dulu berkuasa di kawasan ini.

Catatan surat kabar kolonial De Koerier menunjukkan bahwa banjir Gedebage bukan cerita abad ke-21. Pada awal 1930-an, wilayah ini sudah berulang kali dilanda banjir besar. Laporan-laporan itu ditulis dengan gaya dingin khas administrasi kolonial, tetapi justru di situlah kekuatannya. Angka, lokasi, dan dampak dicatat tanpa emosi, seakan banjir hanyalah rutinitas musiman yang tak perlu diperdebatkan.

Gedebage pada masa itu berada di hamparan dataran rendah Bandung Timur. Di sekitarnya terbentang sawah luas, dialiri sungai-sungai kecil yang menampung limpahan air dari wilayah lebih tinggi seperti Ujungberung dan Rancaekek. Ketika hujan deras turun, air mencari tempat paling rendah. Gedebage menjadi tujuan akhirnya.

Baca Juga: Riwayat Bandung Tiris, saat Hawa Dingin Kepung Kota Cekungan

Sawah Tenggelam, Jalan Rusak

Laporan paling awal datang dari De Koerier edisi 4 Maret 1930. Dalam berita berjudul Banjir Besar, koran itu menyebut wilayah Ujungberung dilanda banjir hebat. Dampaknya menjalar hingga kawasan antara halte Gedebage dan tempat pemberhentian kereta api Cijendog. Lebih dari 600 bau sawah terendam air. Jika satu bau setara sekitar 7.000 meter persegi, maka genangan ini meliputi jutaan meter persegi lahan pertanian.

Genangan air tidak berhenti di sawah. Jalan-jalan desa di Cikidang dan kampung-kampung sekitarnya mengalami kerusakan berat. Di Cidoerian dan beberapa tempat lain, jalan desa terendam air hingga hampir 60 sentimeter. Banyak rumah penduduk pribumi rusak akibat banjir. De Koerier menutup laporan itu dengan kalimat yang nyaris menjadi pola tetap, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Laporan De Koerier tentang banjir Gedebage tahun 1930. (Sumber: De Koerier)
Laporan De Koerier tentang banjir Gedebage tahun 1930. (Sumber: De Koerier)

Tiga tahun berselang, situasi serupa terulang. Pada 24 Januari 1933, De Koerier kembali melaporkan banjir di Gedebage dan desa-desa di sebelah selatan halte kereta api dengan nama yang sama. Banjir kali ini disebut lebih tinggi dibandingkan kejadian sebelumnya. Sawah-sawah dengan tanaman padi muda terendam seluruhnya. Kampung-kampung di selatan jalur rel kereta ikut tenggelam.

Koran itu mencatat waktu dan tinggi air dengan teliti. Pada pukul empat pagi, ketinggian air di beberapa tempat hampir mencapai 80 sentimeter. Di Cimintrang dan kampung-kampung sekitarnya, tanaman padi rusak akibat genangan. Desa-desa dan sawah-sawah antara Gedebage dan Sapan kembali terendam, bahkan dengan ketinggian air yang lebih tinggi dibanding banjir sebelumnya.

Baca Juga: Hikayat Cicadas, Kerasnya Hidup Kawasan Beling di Jantung Bandung

Salah satu kalimat laporan berbunyi, “Sawah-sawah dengan tanaman padi muda dan kampung-kampung yang terletak di sebelah selatan jalur kereta api kini seluruhnya terendam air.” Kutipan dari De Koerier 24 Januari 1933 ini menunjukkan bahwa banjir tidak bersifat lokal, melainkan merata di satu bentang wilayah.

Lebaran di Tengah Genangan

Enam hari kemudian, 30 Januari 1933, De Koerier kembali menurunkan berita dengan judul yang sama, Banjir Besar. Skala bencananya lebih luas. Hampir seluruh desa dan sawah di onderdistrik Buahbatu terendam, disusul sebagian wilayah onderdistrik Rancaekek, Ujungberung, dan Cijadas. Di beberapa desa, tinggi air mencapai 1,20 meter.

Yang menarik, banjir besar ini terjadi bertepatan dengan Hari Lebaran. Pada hari Sabtu itu, banyak rumah kampung di Cisaranten Kulon dan desa-desa lain yang berada di dataran rendah terendam air. Jalan kabupaten dan jalan desa tergenang, sebagian rusak berat hingga tidak dapat dilalui. Tanggul-tanggul desa dan jembatan kecil rusak atau hancur diterjang air.

De Koerier menulis singkat namun tegas, “Di beberapa desa, ketinggian air mencapai 1,20 meter.” Kalimat ini cukup untuk membayangkan kondisi kampung yang berubah menjadi kolam luas, dengan rumah-rumah hanya menyisakan atap dan dinding bagian atas.

Sawah-sawah antara Gedebage dan Sapan kembali dilanda banjir, seolah kawasan ini memang sudah ditandai sejak lama sebagai daerah tampungan air. Sekali lagi, laporan itu ditutup dengan keterangan bahwa sejauh diketahui tidak ada korban jiwa. Banjir dicatat sebagai bencana ekonomi dan infrastruktur, bukan tragedi kemanusiaan.

Jika disusun berurutan, laporan De Koerier tahun 1930 hingga 1933 memperlihatkan pola yang konsisten. Gedebage banjir, sawah rusak, jalan hancur, lalu air surut. Tidak ada tanda perubahan struktural yang signifikan. Banjir datang kembali beberapa minggu atau bulan kemudian, dengan skala yang sering kali lebih besar.

Baca Juga: Sejarah Cicalengka, Gudang Kopi Kompeni dengan Sejuta Cerita di Ujung Timur Bandung

Catatan arsip ini menegaskan satu hal. Banjir Gedebage bukan akibat tunggal pembangunan modern. Jauh sebelum beton dan aspal mendominasi, wilayah ini sudah menjadi langganan genangan. Bedanya, pada masa kolonial yang terendam adalah sawah dan kampung. Kini, yang kebagian air adalah perumahan, gudang, dan ruas jalan utama.

Sumber De Koerier zaman baheula menunjukkan bahwa banjir Gedebage bersifat struktural dan historis. Ia lahir dari geografi, bukan semata dari kelalaian zaman kini. Sejarah sudah mencatatnya dengan rapi. Persoalannya tinggal satu, apakah catatan lama itu mau dijadikan pelajaran, atau kembali tenggelam bersama air setiap musim hujan tiba.

News Update

Ayo Jelajah 14 Jan 2026, 15:12 WIB

Sejarah Rumah Sakit Cicendo Bandung, Lawan Kebutaan Sejak 1909

Sejarah RS Mata Cicendo Bandung sejak era kolonial hingga menjadi Pusat Mata Nasional. Dari wabah trachoma sampai teknologi operasi mata modern.
RS Mata Cicendo, Bandung. (Sumber: rsmatacicendo.go.id)
Ayo Netizen 14 Jan 2026, 15:01 WIB

Melipir dari Kota: Pesona Magnetis Pinggiran Bandung

Mengajakmu 'melipir' ke 4 penjuru Bandung. Dari karst Barat hingga kabut Selatan, temukan pesona alam pinggiran yang melengkapi jiwa Bandung sejati.
Situ Cileunca di Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Jelajah 14 Jan 2026, 15:00 WIB

Hikayat Banjir Gedebage Zaman Kolonial, Bikin Gagal Panen dan Jalan Rusak

Dahulu sawah dan kampung yang tenggelam, kini perumahan dan jalan. Sejarah banjir Gedebage telah tercatat sejak kolonial.
Ilustrasi banjir zaman baheula.
Ayo Netizen 14 Jan 2026, 12:46 WIB

24 Jam Versi Risky Aly: Gaya Hidup Sang Peraih Double Degree dalam Satu Waktu

Tulisan ini menceritakan tentang gaya hidup disiplin Risky Aly, pemuda asal Bondowoso yang berhasil meraih double degree.
Foto Risky Aly ketika wisuda double degree. (Sumber: Dari Risky Aly setelah sesi wawancara selesai)
Ayo Netizen 14 Jan 2026, 10:19 WIB

Tes Kemampuan Akademik sebagai Perbaikan Mutu Pembelajaran

Seyogianya kualitas pendidikan di negeri ini harus terus ditingkatkan dari tahun ke tahun.
Ilustrasi sekolah di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: el jusuf)
Ayo Netizen 14 Jan 2026, 08:31 WIB

Dari Pinggiran Jalan: Menyambung Hidup untuk Kebutuhan Harian

Ketika kas tak lagi mampu menjaga kompor tetap menyala, kios kecil namun penuh makna.
Kios distro Dimas Angga menawarkan berbagai pakaian dan aksesori bergaya streetwear di pinggir jalan kawasan Pasar
Ciwastra pada malam hari di Kota Bandung (4/11/2025). (Sumber: Tito Andrean | Foto: Tito Andrean)
Beranda 14 Jan 2026, 07:30 WIB

Modal Kolaborasi dan Relasi, Cerita SeputarSoettaBdg Bertahan di Tengah Riuhnya Media di Bandung

Kisah SeputarSoettaBdg menjadi bukti bahwa di tengah riuhnya media besar di Bandung, kedekatan personal dan relasi antarwarga masih menjadi modal utama untuk bertahan.
Rezza Radian Zulfikar (kanan) dan Muhammad Saeful, pengelola homeless media seputarsoetta.bdg. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 19:48 WIB

Kenapa Americano Jadi Favorit Baru Anak Muda? Ini Manfaatnya!

Americano lagi viral karena rasanya ringan, dan kalorinya rendah.
Ini dia manfaat dari kopi Americano yang perlu kamu ketahui! (Sumber: Freepik)
Ayo Jelajah 13 Jan 2026, 18:47 WIB

Riwayat Bandung Tiris, saat Hawa Dingin Kepung Kota Cekungan

Letak geografis Bandung membuat udara dingin mudah terperangkap dan menciptakan sensasi sejuk hingga menggigil sejak dulu.
Ilustrasi cuaca dingin Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 18:04 WIB

Profesi dan Hobi Harus Seimbang: Seorang Guru SMA Membuktikan Ambisinya

Guru SMA Lisda Nurul Romdani sukses menaklukkan maraton dan trail run (35 km) di tengah jadwal padat, membuktikan ambisi, mental, dan konsistensi.
Lisda Nurul Romdani seorang guru SMA membuktikan hobinya sebanding dengan rutinitas mengajar saat mengikuti Half Marathon Pocari Sweat Run 2024 di Bandung. (Sumber: @lisdaanr | Foto: @fotoyu_official Pocari Sweet RUN 2024)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 18:04 WIB

Kekurangan Vitamin D, Masalah Nutrisi Anak yang Masih Mengakar di Indonesia

Kekurangan vitamin D masih cukup sering ditemukan pada anak usia sekolah dan dapat berdampak pada kesehatan tulang dan gigi.
Ilustrasi kekurangan vitamin D masih menjadi masalah nutrisi yang cukup umum pada anak dan remaja, termasuk di Bandung. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 17:19 WIB

Resolusi 2026 Warga Bandung: Berharap Transportasi Umum yang Lebih Terintegrasi

Keluhan warga Bandung mengenai transportasi umum yang dinilai belum efisien dan kurang terintegrasi.
Suasana metro jabar trans dipenuhi penggunana di sore hari sepulang kerja (03/12/2025). (Sumber: Pribadi | Foto: M. Kamal Natanegara)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 16:18 WIB

Penyairan Masa Kini: Bahasa yang Mencari Rumah Baru

Penyair masa kini menjaga kedalaman di tengah riuh digital, merawat bahasa, melampaui klise, dan menghadirkan ruang hening saat dunia bergerak terlalu cepat.
Puisi mencari napas baru, sementara penyair menjaga jantung bahasanya. (Sumber: Pixnio/Bicanski)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 16:06 WIB

Gen Z dari Scrolling ke Running, Gaya Hidup Baru yang Menggerakkan Pasar Kebugaran

Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru.
Ilustrasi. Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 14:34 WIB

'Doom Spending' dan Generasi yang Menyerah Membeli Masa Depan

Mengapa anak muda memilih "kebahagiaan kecil" yang mahal saat impian besar seperti rumah makin mustahil dicapai gaji UMR.
Ilustrasi dompet kosong. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 13:13 WIB

Bandung Makin Macet, Transportasi Umum Bisakah Jadi Penolong?

Kesenjangan Pusat Kota yang Diperhatikan dan Pinggiran Kota yang Terlupakan
Halte Cicaheum, Kota Bandung, yang sudah mulai usang dan banyak tumpukan sampah di belakang bangku, (3/12/25). (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Putriana Basar)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 11:37 WIB

Chopper: Sejarah dan Makna Desain Mesin Kebebasan Roda Dua

Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an.
Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an. (Sumber: Pexels | Foto: Rachel Claire)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 10:19 WIB

Tren Coffee Shop Jadi Markas Mahasiswa Bandung 'Ngebut Tugas' Menjelang UAS

Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 09:34 WIB

Menjadi Mahasiswa IKIP Bandung (Bagian Dua)

Di sekitar kampus IKIP Bandung (UPI), Jalan Setiabudhi dulu berjajar penjual pisang Lembang.
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)