Hikayat Banjir Gedebage Zaman Kolonial, Bikin Gagal Panen dan Jalan Rusak

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi banjir zaman baheula.
Ilustrasi banjir zaman baheula.

AYOBANDUNG.ID - Setiap kali hujan turun lama di Bandung Timur, nama Gedebage hampir selalu muncul dalam laporan genangan. Air naik, jalan tergenang, sawah tersisa lumpur. Seolah ini penyakit baru kota modern. Padahal, jika membuka arsip lama, Gedebage sudah lama hidup berdampingan dengan banjir. Jauh sebelum perumahan tumbuh, jauh sebelum jalan beton dibangun, air sudah lebih dulu berkuasa di kawasan ini.

Catatan surat kabar kolonial De Koerier menunjukkan bahwa banjir Gedebage bukan cerita abad ke-21. Pada awal 1930-an, wilayah ini sudah berulang kali dilanda banjir besar. Laporan-laporan itu ditulis dengan gaya dingin khas administrasi kolonial, tetapi justru di situlah kekuatannya. Angka, lokasi, dan dampak dicatat tanpa emosi, seakan banjir hanyalah rutinitas musiman yang tak perlu diperdebatkan.

Gedebage pada masa itu berada di hamparan dataran rendah Bandung Timur. Di sekitarnya terbentang sawah luas, dialiri sungai-sungai kecil yang menampung limpahan air dari wilayah lebih tinggi seperti Ujungberung dan Rancaekek. Ketika hujan deras turun, air mencari tempat paling rendah. Gedebage menjadi tujuan akhirnya.

Baca Juga: Riwayat Bandung Tiris, saat Hawa Dingin Kepung Kota Cekungan

Sawah Tenggelam, Jalan Rusak

Laporan paling awal datang dari De Koerier edisi 4 Maret 1930. Dalam berita berjudul Banjir Besar, koran itu menyebut wilayah Ujungberung dilanda banjir hebat. Dampaknya menjalar hingga kawasan antara halte Gedebage dan tempat pemberhentian kereta api Ciendog. Lebih dari 600 bau sawah terendam air. Jika satu bau setara sekitar 7.000 meter persegi, maka genangan ini meliputi jutaan meter persegi lahan pertanian.

Genangan air tidak berhenti di sawah. Jalan-jalan desa di Cikidang dan kampung-kampung sekitarnya mengalami kerusakan berat. Di Cidurian dan beberapa tempat lain, jalan desa terendam air hingga hampir 60 sentimeter. Banyak rumah penduduk pribumi rusak akibat banjir. De Koerier menutup laporan itu dengan kalimat yang nyaris menjadi pola tetap, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Laporan De Koerier tentang banjir Gedebage tahun 1930. (Sumber: De Koerier)
Laporan De Koerier tentang banjir Gedebage tahun 1930. (Sumber: De Koerier)

Tiga tahun berselang, situasi serupa terulang. Pada 24 Januari 1933, De Koerier kembali melaporkan banjir di Gedebage dan desa-desa di sebelah selatan halte kereta api dengan nama yang sama. Banjir kali ini disebut lebih tinggi dibandingkan kejadian sebelumnya. Sawah-sawah dengan tanaman padi muda terendam seluruhnya. Kampung-kampung di selatan jalur rel kereta ikut tenggelam.

Koran itu mencatat waktu dan tinggi air dengan teliti. Pada pukul empat pagi, ketinggian air di beberapa tempat hampir mencapai 80 sentimeter. Di Cimintrang dan kampung-kampung sekitarnya, tanaman padi rusak akibat genangan. Desa-desa dan sawah-sawah antara Gedebage dan Sapan kembali terendam, bahkan dengan ketinggian air yang lebih tinggi dibanding banjir sebelumnya.

Baca Juga: Hikayat Cicadas, Kerasnya Hidup Kawasan Beling di Jantung Bandung

“Sawah-sawah dengan tanaman padi muda dan kampung-kampung yang terletak di sebelah selatan jalur kereta api kini seluruhnya terendam air.” Kutipan dari De Koerier 24 Januari 1933 ini menunjukkan bahwa banjir tidak bersifat lokal, melainkan merata di satu bentang wilayah.

Lebaran di Tengah Genangan

Enam hari kemudian, 30 Januari 1933, De Koerier kembali menurunkan berita dengan judul yang sama, Banjir Besar. Skala bencananya lebih luas. Hampir seluruh desa dan sawah di onderdistrik Buahbatu terendam, disusul sebagian wilayah onderdistrik Rancaekek, Ujungberung, dan Cicadas. Di beberapa desa, tinggi air mencapai 1,20 meter.

Yang menarik, banjir besar ini terjadi bertepatan dengan Hari Lebaran. Pada hari Sabtu itu, banyak rumah kampung di Cisaranten Kulon dan desa-desa lain yang berada di dataran rendah terendam air. Jalan kabupaten dan jalan desa tergenang, sebagian rusak berat hingga tidak dapat dilalui. Tanggul-tanggul desa dan jembatan kecil rusak atau hancur diterjang air.

“Di beberapa desa, ketinggian air mencapai 1,20 meter.” Kalimat ini cukup untuk membayangkan kondisi kampung yang berubah menjadi kolam luas, dengan rumah-rumah hanya menyisakan atap dan dinding bagian atas.

Sawah-sawah antara Gedebage dan Sapan kembali dilanda banjir, seolah kawasan ini memang sudah ditandai sejak lama sebagai daerah tampungan air. Sekali lagi, laporan itu ditutup dengan keterangan bahwa sejauh diketahui tidak ada korban jiwa. Banjir dicatat sebagai bencana ekonomi dan infrastruktur, bukan tragedi kemanusiaan.

Jika disusun berurutan, laporan De Koerier tahun 1930 hingga 1933 memperlihatkan pola yang konsisten. Gedebage banjir, sawah rusak, jalan hancur, lalu air surut. Tidak ada tanda perubahan struktural yang signifikan. Banjir datang kembali beberapa minggu atau bulan kemudian, dengan skala yang sering kali lebih besar.

Baca Juga: Sejarah Cicalengka, Gudang Kopi Kompeni dengan Sejuta Cerita di Ujung Timur Bandung

Catatan arsip ini menegaskan satu hal. Banjir Gedebage bukan akibat tunggal pembangunan modern. Jauh sebelum beton dan aspal mendominasi, wilayah ini sudah menjadi langganan genangan. Bedanya, pada masa kolonial yang terendam adalah sawah dan kampung. Kini, yang kebagian air adalah perumahan, gudang, dan ruas jalan utama.

Sumber De Koerier zaman baheula menunjukkan bahwa banjir Gedebage bersifat struktural dan historis. Ia lahir dari geografi, bukan semata dari kelalaian zaman kini. Sejarah sudah mencatatnya dengan rapi. Persoalannya tinggal satu, apakah catatan lama itu mau dijadikan pelajaran, atau kembali tenggelam bersama air setiap musim hujan tiba.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Wisata & Kuliner 26 Jul 2026, 10:47

5 Street Food Pilihan di Bandung yang Wajib Dicoba

Cari street food murah di Bandung? Cek lima kuliner legendaris dengan cita rasa autentik dan harga terjangkau yang wajib Anda coba.

Kolak Bu Mimin. (Sumber: YouTube K U B I L E R)
Ayo Netizen 26 Jul 2026, 10:02

Estetika Kota Bandung Menuju Kota Cerdas Berkelanjutan

Berestetika di kota tidak sekadar teknologinya melainkan gambaran umum bahwa kota Bandung diurus dan ditata sedemikian rupa.

Pelajar menggunakan Alun-alun Regol sebagai tempat santai dan ngobrol-ngobrol. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 18:02

Serunya Belajar di Alam Bebas

Pendidikan terbaik bukan selalu tentang seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, berhitung. Melainkan ketika anak tumbuh menjadi manusia yang rasa ingin tahunya tetap hidup, hatinya tetap lembut

Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 17:00

Hari Anak Nasional: Kenalkan Proses Kreatif Sejak Dini Lewat Program Little Creator

Kreativitas di segala bidang kehidupan adalah kunci masa depan anak.

Program Kreator Cilik yang diselenggarakan oleh Omochatoys menekankan proses kreatif sejak usia dini (Foto: dok Omochatoys)
Wisata & Kuliner 23 Jul 2026, 16:22

Wahana Pilihan TMII, dari Kereta Gantung hingga Drone Show Gratis

Rencanakan kunjungan ke TMII dengan panduan wahana terbaik, lengkap dengan tiket, museum pilihan, Jagat Satwa Nusantara, dan tips berkunjung hemat.

Museum Indonesia TMII. (Sumber: TMII)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 16:21

Hari Anak Nasional: Sudahkah Anak-Anak Indonesia Merdeka?

Apakah anak-anak layak dikatakan sudah merdeka? jika rasa aman, nyaman dan hak-hak dasar dalam hidup mereka belum sepenuhnya bisa ditunaikan.

Seorang anak sekolah di Aceh yang menyebrangi jembatan tali menuju sekolah. (Sumber: Generated AI (Terinspirasi dari Video Asli di Aceh))