Mudik kepada 'Basa Lemes'

4 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Senin 02 Mar 2026, 19:56 WIB
Ilustrasi mudik. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ilustrasi mudik. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

AYOBANDUNG.ID -- Merantau dalam tradisi Sunda bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan fase hidup yang hampir normatif. Sejak lama, “indit ka kota” dipahami sebagai jalan mobilitas: mencari kerja, memperluas jaringan, menaikkan status sosial keluarga di lembur.

Kota menawarkan upah lebih tinggi, peluang lebih besar, dan akses yang tidak tersedia di kampung. Dalam logika ekonomi, keputusan merantau rasional. Orang berpindah ke tempat dengan produktivitas dan insentif lebih baik.

Namun perpindahan itu tidak hanya mengubah sumber pendapatan. Mengubah cara bicara.

Di kota, terutama di ruang urban seperti Jakarta dan sekitarnya, bahasa Indonesia menjadi lingua franca yang egaliter. Relasi sosial lebih cair. Atasan dan bawahan tetap berjarak, tetapi struktur bahasa tidak seketat dalam budaya Sunda. Seorang perantau yang setiap hari menggunakan bahasa Indonesia lugas perlahan terbiasa dengan pola komunikasi langsung, efisien, bahkan kadang konfrontatif. Bahasa menjadi alat produktivitas: cepat, ringkas, to the point.

Perubahan gaya bahasa ini bukan sekadar soal kosakata, melainkan perubahan kerangka relasi sosial. Dalam bahasa Sunda, dikenal undak-usuk basa: loma, lemes, dan variasi tingkat tutur lain yang menandai posisi sosial penutur dan lawan bicara. Menggunakan basa lemes kepada orang tua bukan hanya soal sopan santun, tetapi pengakuan atas struktur hormat. Bahasa mengandung etika.

Ketika seorang perantau kembali ke lembur saat mudik, dia tidak hanya menempuh jarak ratusan kilometer. Dia masuk kembali ke sistem sosial yang berbeda. Tiba di rumah, gaya bahasa kota yang egaliter sering kali harus disesuaikan. Nada suara diturunkan. Pilihan kata diperhalus. “Aing” berubah menjadi “abdi”. “Kumaha” mungkin bergeser menjadi bentuk yang lebih hormat tergantung konteks. Adaptasi ini kerap terasa canggung, terutama bagi generasi muda yang lebih fasih bahasa Indonesia daripada Sunda lemes.

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: bahasa adalah institusi sosial. Dalam perspektif ekonomi institusional, masyarakat bertahan bukan hanya karena hukum formal, tetapi karena aturan informal, norma, adat, dan kebiasaan yang mengatur perilaku sehari-hari. Basa lemes berfungsi sebagai mekanisme pengendali konflik. Dengan struktur bahasa yang menuntut kehati-hatian, potensi benturan antargenerasi ditekan. Hierarki sosial ditegaskan tanpa perlu perintah eksplisit.

Di kota, relasi cenderung transaksional. Jaringan dibangun atas dasar profesionalitas dan efisiensi. Di kampung, relasi bersifat komunal dan jangka panjang. Bahasa menjadi instrumen untuk menjaga kesinambungan itu. Ketika seorang anak berbicara lemes kepada orang tuanya, dia sedang memperkuat legitimasi moral dalam jaringan keluarga. Legitimasi ini bernilai sosial tinggi: memudahkan dukungan, menjaga reputasi, dan mempertahankan kepercayaan.

Kepercayaan atau trust adalah modal sosial yang mahal. Dalam teori ekonomi, semakin tinggi tingkat kepercayaan dalam sebuah komunitas, semakin rendah biaya transaksi sosialnya. Orang tidak perlu curiga berlebihan, tidak perlu kontrak tertulis untuk urusan sederhana, dan konflik bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Bahasa yang santun membantu menciptakan atmosfer itu. Dia memperhalus perbedaan pendapat dan meredam ego.

Mudik menjadi momen krusial dalam siklus ini. Setahun merantau bisa menggeser kebiasaan berbahasa. Namun pulang ke lembur memaksa proses “penyesuaian ulang”. Anak-anak menyaksikan langsung bagaimana orang tua mereka berbicara kepada kakek-nenek. Mereka belajar bahwa ada konteks di mana nada harus diturunkan dan kata harus dipilih dengan cermat. Mudik, dengan demikian, berfungsi sebagai sekolah etika tahunan.

Tentu, ada tantangan nyata. Generasi muda Sunda di perkotaan banyak yang pasif dalam basa lemes. Mereka memahami, tetapi tidak lancar menggunakan. Sebagian orang tua pun mulai memaklumi, beralih ke bahasa Indonesia demi kemudahan. Dalam jangka panjang, ini bisa menggerus fungsi etis bahasa. Jika struktur tingkat tutur melemah, maka salah satu mekanisme halus pengatur hormat ikut melemah.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Namun perubahan tidak selalu berarti kepunahan. Identitas Sunda justru kerap menguat secara simbolik di era digital melalui konten media sosial, musik, hingga kebanggaan kultural. Tantangannya adalah bagaimana simbol itu tetap diiringi praktik. Sebab tanpa praktik berbahasa yang mencerminkan tata krama, identitas mudah menjadi dekorasi semata.

Baca Juga: Wali Kota Bandung Ultimatum PT BII Bereskan Proyek Galian Jalanan Kota Bandung Sebelum 5 Maret

Tradisi merantau akan terus berlangsung karena faktor ekonomi tidak berubah: kota tetap menjadi pusat peluang. Tetapi setiap arus urbanisasi selalu membawa konsekuensi kultural. Pertanyaannya bukan apakah gaya bahasa berubah, itu pasti terjadi, melainkan apakah ada mekanisme yang menjaga keseimbangannya.

Selama mudik masih dijalani bukan hanya sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai pertemuan antargenerasi, selama itu pula basa lemes memiliki ruang untuk bertahan. Ia mungkin tidak lagi dominan dalam percakapan sehari-hari di kota, tetapi tetap hidup dalam momen-momen krusial yang menegaskan struktur hormat.

Mrantau mengajarkan kemandirian ekonomi. Tetapi pulang dengan bahasa yang disesuaikan mengingatkan bahwa ada tata nilai yang lebih tua dari sekadar perhitungan upah. Di antara mobilitas dan modernitas, basa lemes berdiri sebagai pengingat bahwa kemajuan tidak selalu harus memutus akar. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Bandung 10 Jun 2026, 21:21

Menjembatani Komunitas dan Profesional Urban, Strategi Respiro Definisikan Ulang Fashion Berkendara Tropis

Respiro menangkap peluang emas ini dengan merumuskan ulang konsep estetika visual produk agar selaras dengan kebutuhan gaya hidup kaum urban yang serbacepat.

Koleksi perlengkapan berkendara atau riding apparel dari Respiro Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 20:24

Tugu Koperasi Tasikmalaya, Bukti Nyata Lahirnya Semangat Koperasi Indonesia

Artikel ini membahas Tugu Koperasi Tasikmalaya sebagai simbol sejarah lahir dan berkembangnya semangat koperasi di Indonesia.

Depan Tugu koperasi Tasikmalaya saat ini (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nabila imania)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 18:47

Ulos: Kain yang Menjadi Simbol dari Masyarakat Batak

Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan persatuan.

Kain Ulos Ragi Hidup (Sumber: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/19484/1/2010-Booklet-Mengenal%20Ulos.pdf)
Bandung 10 Jun 2026, 17:55

Mengenal Kanemura, Brand Kuliner Jepang yang Mengusung Sistem Manajemen Terpusat dalam Bisnis Waralaba

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise).

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise). (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 10 Jun 2026, 17:29

Denyut Digitalisasi Perbankan yang Menghidupi Perajin Sepatu Kulit Cibaduyut

Sejak 2018, Mochamad Indra Yusuf Wahyudin aktif mengikuti pelatihan di Rumah BUMN Bandung.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik Koku Footwear (produsen sepatu kulit) di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 10 Jun 2026, 16:50

Ibun Bajra, Fenomena Alam Embun Membeku di Kertasari Bandung

Fenomena ibun bajra kembali muncul di Kertasari. Embun membeku jadi lapisan es dan berdampak pada pertanian.

Daun teh membeku di Kertasari saat cuaca dingin menyergap Bandung 2019 silam. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 16:48

Menelusuri Jejak Historis Surabi, Oleh-Oleh Khas Jawa Barat

Surabi adalah salah satu makanan tradisional khas Jawa Barat.

Surabi Cihapit Bandung. (Sumber: Instagram | Foto: Surabi Cihapit)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 15:31

Menyusuri Bukit Plangon: Saat Sejarah dan Kepercayaan Menjaga Alam

Bukit Plangon menjadi contoh bagaimana nilai spiritual dan kearifan lokal berperan dalam menjaga keseimbangan alam.

Sinar matahari menerobos rimbunnya pepohonan di sekitar bangunan makam Bukit Plangon, Cirebon. (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi, 2025)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 14:48

Kesadaran Masyarakat terhadap Penggunaan Kain Wol dengan Fashion Old Money

Penerapan gaya old money dan pemakaian kain wol menjadi strategi yang sangat efektif untuk menekan laju pertumbuhan fashion cepat di Indonesia.

Ilustrasi kain wol. (Sumber: Pexels | Foto: Vlada Karpovich)
Wisata & Kuliner 10 Jun 2026, 14:33

Jelajah TMII, Panduan Lengkap Wisata, Harga Tiket, dan Wahana Terbaru

Panduan lengkap berkunjung ke TMII Jakarta, mulai dari harga tiket, museum, anjungan daerah, Jagat Satwa Nusantara, hingga cara menjelajahi kawasan seluas 150 hektare.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 12:49

Filosofi Kendi, Animo Pemakaian Tumbler dan Mesin Air Minum Gratis

Kendi adalah ikon sosialisme air minum pada zamannya.

Ilustrasi kendi yang merupakan ikon sosialisme air minum warisan budaya bangsa. (Sumber: Pexels | Foto: Eda Yılmaz)
Sejarah 10 Jun 2026, 12:21

Jelajah Candi-candi di Bandung, Jejak Peradaban Kuno yang yang Hampir Terlupakan

Jejak peninggalan Hindu kuno di Bandung masih bertahan, tetapi kondisi situsnya memerlukan perhatian serius.

Situs Candi Bojongemas di Solokanjeruk Kabupaten Bandung memprihatinkan dan tak terawat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 11:29

Toponimi Lembang (Bagian 1)

Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang.

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 10:18

Gedung Juang 45: Transformasi Bangunan Kolonial Menjadi Museum Berbasis Digital

Revitalisasi Gedung Juang 45 Bekasi dari bangunan cagar budaya yang sempat terbengkalai menjadi museum modern berbasis teknologi digital.

Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)
Beranda 10 Jun 2026, 10:12

Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

Di balik janji energi bersih dari proyek geotermal, warga di sejumlah lereng gunung di Jawa Barat menyuarakan kekhawatiran atas ancaman terhadap sumber air, lahan pertanian, dan ma

Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 09:17

Mengenal Peuyeum sebagai Makanan Tradisional Khas Jawa Barat

Peuyeum sebagai makanan tradisional khas Jawa Barat

Peuyeum Bandung. (Foto: Sofi Putri)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 08:38

Taat Rambu Lalu Lintas adalah Hal Sepele tapi Menyelamatkan Nafas Kehidupan

Satu detik yang menurut kita sepele bisa saja jadi harapan kehidupan bagi orang lain.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)