Mudik kepada 'Basa Lemes'

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Senin 02 Mar 2026, 19:56 WIB
Ilustrasi mudik. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ilustrasi mudik. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

AYOBANDUNG.ID -- Merantau dalam tradisi Sunda bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan fase hidup yang hampir normatif. Sejak lama, “indit ka kota” dipahami sebagai jalan mobilitas: mencari kerja, memperluas jaringan, menaikkan status sosial keluarga di lembur.

Kota menawarkan upah lebih tinggi, peluang lebih besar, dan akses yang tidak tersedia di kampung. Dalam logika ekonomi, keputusan merantau rasional. Orang berpindah ke tempat dengan produktivitas dan insentif lebih baik.

Namun perpindahan itu tidak hanya mengubah sumber pendapatan. Mengubah cara bicara.

Di kota, terutama di ruang urban seperti Jakarta dan sekitarnya, bahasa Indonesia menjadi lingua franca yang egaliter. Relasi sosial lebih cair. Atasan dan bawahan tetap berjarak, tetapi struktur bahasa tidak seketat dalam budaya Sunda. Seorang perantau yang setiap hari menggunakan bahasa Indonesia lugas perlahan terbiasa dengan pola komunikasi langsung, efisien, bahkan kadang konfrontatif. Bahasa menjadi alat produktivitas: cepat, ringkas, to the point.

Perubahan gaya bahasa ini bukan sekadar soal kosakata, melainkan perubahan kerangka relasi sosial. Dalam bahasa Sunda, dikenal undak-usuk basa: loma, lemes, dan variasi tingkat tutur lain yang menandai posisi sosial penutur dan lawan bicara. Menggunakan basa lemes kepada orang tua bukan hanya soal sopan santun, tetapi pengakuan atas struktur hormat. Bahasa mengandung etika.

Ketika seorang perantau kembali ke lembur saat mudik, dia tidak hanya menempuh jarak ratusan kilometer. Dia masuk kembali ke sistem sosial yang berbeda. Tiba di rumah, gaya bahasa kota yang egaliter sering kali harus disesuaikan. Nada suara diturunkan. Pilihan kata diperhalus. “Aing” berubah menjadi “abdi”. “Kumaha” mungkin bergeser menjadi bentuk yang lebih hormat tergantung konteks. Adaptasi ini kerap terasa canggung, terutama bagi generasi muda yang lebih fasih bahasa Indonesia daripada Sunda lemes.

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: bahasa adalah institusi sosial. Dalam perspektif ekonomi institusional, masyarakat bertahan bukan hanya karena hukum formal, tetapi karena aturan informal, norma, adat, dan kebiasaan yang mengatur perilaku sehari-hari. Basa lemes berfungsi sebagai mekanisme pengendali konflik. Dengan struktur bahasa yang menuntut kehati-hatian, potensi benturan antargenerasi ditekan. Hierarki sosial ditegaskan tanpa perlu perintah eksplisit.

Di kota, relasi cenderung transaksional. Jaringan dibangun atas dasar profesionalitas dan efisiensi. Di kampung, relasi bersifat komunal dan jangka panjang. Bahasa menjadi instrumen untuk menjaga kesinambungan itu. Ketika seorang anak berbicara lemes kepada orang tuanya, dia sedang memperkuat legitimasi moral dalam jaringan keluarga. Legitimasi ini bernilai sosial tinggi: memudahkan dukungan, menjaga reputasi, dan mempertahankan kepercayaan.

Kepercayaan atau trust adalah modal sosial yang mahal. Dalam teori ekonomi, semakin tinggi tingkat kepercayaan dalam sebuah komunitas, semakin rendah biaya transaksi sosialnya. Orang tidak perlu curiga berlebihan, tidak perlu kontrak tertulis untuk urusan sederhana, dan konflik bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Bahasa yang santun membantu menciptakan atmosfer itu. Dia memperhalus perbedaan pendapat dan meredam ego.

Mudik menjadi momen krusial dalam siklus ini. Setahun merantau bisa menggeser kebiasaan berbahasa. Namun pulang ke lembur memaksa proses “penyesuaian ulang”. Anak-anak menyaksikan langsung bagaimana orang tua mereka berbicara kepada kakek-nenek. Mereka belajar bahwa ada konteks di mana nada harus diturunkan dan kata harus dipilih dengan cermat. Mudik, dengan demikian, berfungsi sebagai sekolah etika tahunan.

Tentu, ada tantangan nyata. Generasi muda Sunda di perkotaan banyak yang pasif dalam basa lemes. Mereka memahami, tetapi tidak lancar menggunakan. Sebagian orang tua pun mulai memaklumi, beralih ke bahasa Indonesia demi kemudahan. Dalam jangka panjang, ini bisa menggerus fungsi etis bahasa. Jika struktur tingkat tutur melemah, maka salah satu mekanisme halus pengatur hormat ikut melemah.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Namun perubahan tidak selalu berarti kepunahan. Identitas Sunda justru kerap menguat secara simbolik di era digital melalui konten media sosial, musik, hingga kebanggaan kultural. Tantangannya adalah bagaimana simbol itu tetap diiringi praktik. Sebab tanpa praktik berbahasa yang mencerminkan tata krama, identitas mudah menjadi dekorasi semata.

Baca Juga: Wali Kota Bandung Ultimatum PT BII Bereskan Proyek Galian Jalanan Kota Bandung Sebelum 5 Maret

Tradisi merantau akan terus berlangsung karena faktor ekonomi tidak berubah: kota tetap menjadi pusat peluang. Tetapi setiap arus urbanisasi selalu membawa konsekuensi kultural. Pertanyaannya bukan apakah gaya bahasa berubah, itu pasti terjadi, melainkan apakah ada mekanisme yang menjaga keseimbangannya.

Selama mudik masih dijalani bukan hanya sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai pertemuan antargenerasi, selama itu pula basa lemes memiliki ruang untuk bertahan. Ia mungkin tidak lagi dominan dalam percakapan sehari-hari di kota, tetapi tetap hidup dalam momen-momen krusial yang menegaskan struktur hormat.

Mrantau mengajarkan kemandirian ekonomi. Tetapi pulang dengan bahasa yang disesuaikan mengingatkan bahwa ada tata nilai yang lebih tua dari sekadar perhitungan upah. Di antara mobilitas dan modernitas, basa lemes berdiri sebagai pengingat bahwa kemajuan tidak selalu harus memutus akar. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Apr 2026, 19:55

Travel Antarkota Menjamur di Bandung: Masalah Parkir, Ruang Jalan, dan Perilaku Pengemudi

Keberadaannya dapat memicu persoalan parkir, ruang jalan dan perilaku berkendara yang problematik.

Penindakan praktik parkir liar terhadap sejumlah perusahaan travel di Jalan Dipatiukur, Kota Bandung. (Sumber: Instagram/@infobandungkota)
Ikon 21 Apr 2026, 18:46

Hikayat Tol Cipali, Warisan Enam Presiden yang jadi Jantung Penghubung Jawa Barat

Sejarah panjang Tol Cipali dari krisis 1998 hingga beroperasi, serta dampaknya terhadap konektivitas dan ekonomi Pulau Jawa.

Tol Cipali. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 18:32

Profil Dr. Riadi Darwis: Menjaga Marwah Tatar Sunda Melalui Rasa

Darah kuliner Dr. Riadi Darwis mengalir dari ekosistem rumah makan milik kakek dan neneknya.

Ilustrasi Dr. Riadi Darwis. (Sumber: Istimewa)
Bandung 21 Apr 2026, 18:11

Tantangan Bisnis Roastery Kopi: Bedah Supply Chain dan Peluang Pasar Global ala Good Things

Bedah tantangan bisnis roastery kopi mulai dari fluktuasi harga bahan baku, rumitnya supply chain, hingga strategi menembus pasar internasional ala Good Things.

Bedah tantangan bisnis roastery kopi mulai dari fluktuasi harga bahan baku, rumitnya supply chain, hingga strategi menembus pasar internasional ala Good Things. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 17:57

Jiwanta: Berendam di Air Panas, Rasakan Ketenangan Hidup

Keajaiban air panas alami di tengah sejuknya alam Ciwidey yang memesona.

Jiwanta Cimanggu Hot Spring. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dudung Ridwan)
Wisata & Kuliner 21 Apr 2026, 17:50

Wisata Curug Cihanyawar, Air Terjun di Kaki Gunung Cikuray

Panduan wisata Curug Cihanyawar Garut, meliputi lokasi, akses jalur, kondisi jalan, serta daya tarik air terjun di kawasan kebun teh dan hutan pinus.

Curug Cihanyawar Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 21 Apr 2026, 17:08

Di Hari Kartini, Dua Perempuan Ojol Ceritakan Realitas Kerasnya Pekerjaan di Jalanan

Di Hari Kartini, dua perempuan pengemudi ojol di Bandung berbagi pengalaman menghadapi risiko, stigma, dan ketidakpastian penghasilan saat bekerja di jalanan.

Bagi Enis, menjadi Kartini masa kini berarti pantang menyerah mencari nafkah di usia senja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 16:12

Kartini Masa Kini yang Menggeluti Energi Angin

Wanita yang mendapat julukan ”Iron Lady” ini tumbuh dalam budaya Betawi yang kental.

Ani Dwi Octavia, Kartini masa kini yang menggeluti energi angin. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ani Dwi Octavia)
Komunitas 21 Apr 2026, 15:51

Lewat Kearifan Lokal, Komunitas Cika-Cika Konsisten Jaga Ekosistem Sungai Selama 17 Tahun

Komunitas Cika-Cika menjaga ekosistem Sungai Cikapundung selama 17 tahun melalui edukasi dan kearifan lokal. Aksi nyata ini mengubah bantaran sungai menjadi ruang sosial ekonomi yang berkelanjutan.

Pengunjung beraktivitas di bantaran Sungai Cikapundung, Cikalapa pada Minggu 19 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 15:29

Langkah Kecil Merawat Bumi

Menjaga lingkungan bukan sekadar kebiasaan baik, tetapi menjadi bagian dari ibadah.

Sejumlah siswa SD Darul Hikam Bandung menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 12:32

Jejak Kiprah Radio Bandung Era Tahun 70-an

Romantisme mendengarkan radio di Bandung pada awal dekade 1970-an bukan sekadar hiburan.

Para penyiar Radio Flippies Psychedelic, salah satu radio favorit di Bandung pada awal 1970-an. (Sumber: Majalah Aktuil)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 10:21

Mewujudkan Bandung Kota Vokasional

Bandung memiliki potensi besar menjadi kota vokasional, terutama berbasis industri kreatif, teknologi, dan jasa.

Ilustrasi sekolah kejuruan SMKN 4 Bandung. (Sumber: Laman SMKN 4 Bandung)
Beranda 21 Apr 2026, 09:41

Memburu Senyum Wisatawan, Rezeki Fotografer Jalanan di Asia Afrika Kota Bandung

Kisah inspiratif para fotografer jalanan di Asia Afrika Bandung yang tetap eksis di era ponsel, mengubah momen liburan wisatawan menjadi kenangan berharga demi mengais rezeki.

Wisatawan lokal berpose di Jalan Asia Afrika Kota Bandung dengan latar belakang gedung bersejarah, Hotel Savoy Homann. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 08:58

Tangkuban Parahu dari Sudut yang Tak Biasa

Kisah perjalanan empat orang ke Upas Hill yang tidak hanya soal puncak, tapi juga cara baru melihat Tangkuban Perahu.

Empat orang di perjalanan menuju puncak Upas Hill, sebelum semua sudut pandang berubah di atas ketinggian 2084 Mdpl. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S.)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 07:55

Rahasia Dapur Putri Jepara: Menghidupkan Kembali 209 Resep Autentik R.A. Kartini

Warisan kuliner ini kini terdokumentasi secara megah dalam buku Kisah dan Kumpulan Resep Putri Jepara: Rahasia Kuliner RA Kartini, RA Kardinah, RA Roekmini.

Sampul depan buku Kisah dan Kumpulan Resep Putri Jepara: Rahasia Kuliner RA Kartini, RA Kardinah, RA Roekmini. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Bandung 20 Apr 2026, 21:13

Dari Kantoran ke Roastery, Cerita Good Things Membangun “Rasa” dan Relasi Lewat Kopi

Good Things dimulai dari langkah sederhana sang founder, Alvira Kanusa Putra, yang memilih resign dari pekerja kantoran dan gagasan sederhana yang berkaitan dengan ketertarikannya dengan kopi.

Good Things dimulai dari langkah sederhana sang founder, Alvira Kanusa Putra, yang memilih resign dari pekerja kantoran dan gagasan sederhana yang berkaitan dengan ketertarikannya dengan kopi. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Wisata & Kuliner 20 Apr 2026, 20:28

Wisata Gunung Singah, Gunung Api Purba yang Cocok untuk Pendaki Pemula

Panduan pendakian Gunung Singah Bandung, termasuk jalur pendakian, estimasi waktu, kondisi trek, dan pemandangan luas Cekungan Bandung dari puncaknya.

Pemandangan dari puncak Gunung Singah. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Apr 2026, 20:22

Meningkatkan Kerjasama Ketenagakerjaan dengan Jepang

Salah satu isu penting yang perlu terus ditekankan kepada pemerintah Jepang adalah masalah ketenagakerjaan

Keberangkatan pekerja dari Bandung untuk magang dan bekerja di Jepang (Sumber: lpksekaimustika.com)
Seni Budaya 20 Apr 2026, 14:27

Ketakutan dalam Kehidupan Baduy Luar: Modernisasi yang Diterima Diam-Diam dan Adat yang Tetap Mengawasi

Di Baduy Luar, barang modern seperti sabun hingga panel surya mulai digunakan, namun tetap disembunyikan karena aturan adat yang kuat.

Rumah dengan panel surya, bukti Baduy luar menerima modernisasi dengan cara sembunyi-sembunyi dari ketua adat.
Ayo Jelajah 20 Apr 2026, 13:39

Di Tanah Baduy, Kesetaraan Tak Perlu Didebatkan

Di tanah Baduy, kesetaraan laki-laki dan perempuan tak diperdebatkan, melainkan dijalani dalam keseharian yang sederhana dan harmonis.

Di tanah Baduy, kesetaraan laki-laki dan perempuan tak diperdebatkan, melainkan dijalani dalam keseharian yang sederhana dan harmonis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)