Ngabuburit Digital: Bahasa Sunda di Era Reels dan Shorts

4 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Ngabuburit telah berpindah ruang. Dari jalanan ke linimasa. (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock project)
Ngabuburit telah berpindah ruang. Dari jalanan ke linimasa. (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock project)

AYOBANDUNG.ID -- Menjelang magrib, suasana alun-alun di sejumlah kota di Jawa Barat tak lagi seramai satu dekade lalu. Sebagian anak muda memilih duduk di teras rumah atau kafe kecil, kepala menunduk, jempol bergerak cepat di layar ponsel. Waktu menunggu azan kini diisi dengan menonton video berdurasi 30 detik—atau merekamnya.

Ngabuburit telah berpindah ruang. Dari jalanan ke linimasa.

Di TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts, konten bertema Ramadan mulai membanjiri beranda sejak pertengahan sore. Pukul 16.30 hingga menjelang 18.00 menjadi jam sibuk mikro. Video komedi ringan, sketsa keluarga, hingga potongan dakwah singkat diputar berulang. Di antara itu, bahasa Sunda terdengar akrab: lemes, loma, kadang ceplas-ceplos.

“Geus adzan can?”

“Sabar atuh, sakedap deui.”

Dialog sederhana itu, yang dulu mungkin hanya terdengar di dapur atau ruang tamu, kini menjadi potongan audio yang ditiru ribuan pengguna. Intonasi khas, jeda dramatik, dan ekspresi wajah yang dibuat-buat menjadi formula konten viral.

Bahasa Sunda, dalam konteks ini, bukan sekadar alat komunikasi. Ia menjadi identitas, bahkan strategi.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)

Secara tradisional, ngabuburit identik dengan aktivitas fisik: jalan sore, berburu takjil, atau nongkrong di pinggir jalan. Kini, sebagian aktivitas itu tergantikan oleh konsumsi dan produksi konten digital. Perubahan ini bukan semata soal gaya hidup, tetapi juga pola ekonomi perhatian.

Menjelang berbuka, publik memiliki waktu luang singkat dengan tingkat fokus tinggi. Platform membaca momen ini sebagai peluang distribusi konten cepat. Video pendek yang mudah dicerna lebih berpotensi ditonton hingga selesai, bahkan diulang.

Kreator lokal menangkap celah itu. Mereka memproduksi sketsa “anak kos Sunda di perantauan yang kangen masakan indung,” parodi emak-emak yang panik menunggu azan, hingga kompilasi ekspresi lapar yang dibalut humor bahasa daerah. Campuran Sunda dan Indonesia memperluas jangkauan tanpa kehilangan rasa lokal.

Konten seperti itu tidak selalu membutuhkan produksi mahal. Satu ponsel, pencahayaan alami, dan dialog yang relatable sudah cukup. Yang menentukan adalah kedekatan emosional.

Iustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Zulfikar Arifuzzaki)
Iustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Zulfikar Arifuzzaki)

Bahasa daerah memiliki keunggulan yang sering diabaikan: komunitas yang solid. Pengguna yang merasa terwakili cenderung lebih aktif berkomentar, membagikan, dan meniru. Interaksi ini memperpanjang usia konten dalam sistem rekomendasi.

Satu audio khas Sunda bisa menjadi template kolektif. Ribuan video dibuat ulang dengan variasi situasi berbeda. Efeknya menyerupai obrolan di alun-alun, tetapi dalam skala digital. Setiap pengguna berpartisipasi dalam percakapan yang sama.

Di sinilah ruang digital berfungsi sebagai alun-alun baru. Bukan lagi ruang fisik, melainkan halaman for you yang dikurasi algoritma.

Bagi kreator, penggunaan bahasa Sunda juga menjadi pembeda di tengah lautan konten nasional. Dalam pasar yang padat, diferensiasi menentukan visibilitas. Identitas lokal justru memberi daya saing.

Momentum Ekonomi Ramadan

Ramadan bukan hanya musim spiritual, tetapi juga periode dengan aktivitas konsumsi tinggi. Produk kuliner, fesyen muslim, hingga kebutuhan rumah tangga meningkat. Kreator yang memiliki audiens loyal—terutama berbasis komunitas daerah—menjadi mitra potensial bagi pelaku usaha.

Endorse takjil lokal, promosi busana lebaran, atau program afiliasi kerap muncul menjelang buka. Konten ngabuburit menjadi etalase promosi yang terasa alami karena dibalut humor dan percakapan sehari-hari.

Bahasa Sunda memperkuat rasa percaya. Bagi pelaku UMKM di Jawa Barat, promosi dalam bahasa yang sama terasa lebih akrab dan meyakinkan. Ada kedekatan yang sulit digantikan oleh bahasa formal.

Namun, di balik peluang itu, muncul pertanyaan tentang batas antara ekspresi budaya dan komersialisasi.

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)

Tidak semua konten memuliakan tradisi. Ada pula yang menjadikan bahasa daerah sekadar pemancing tawa tanpa konteks. Ungkapan religius dipotong menjadi punchline, nilai Ramadan disederhanakan menjadi latar komedi.

Risiko lain adalah homogenisasi. Ketika satu format terbukti viral, ia ditiru berulang-ulang. Kreativitas bisa terjebak dalam pola yang sama. Budaya yang kaya direduksi menjadi template.

Meski begitu, dinamika ini menunjukkan satu hal: bahasa Sunda tidak tinggal diam di tengah arus digitalisasi. Ia beradaptasi.

Baca Juga: Dari Bolendrang, Kolek, hingga Bala-bala: 7 Makanan 'Wajib' Ramadan di Tanah Pasundan

Jika dulu ngabuburit berarti menunggu matahari tenggelam sambil berjalan di tepi lapangan, kini ia juga berarti menunggu azan sambil menonton layar. Tradisi tidak hilang; ia bergeser medium.

Di ruang digital, bahasa Sunda menemukan panggung baru. Ia hidup dalam potongan video 30 detik, dalam komentar yang saling menyahut, dalam tawa yang dibagikan lintas kota dan negara.

Alun-alun mungkin tidak selalu berupa tanah lapang. Kadang ia hadir dalam bentuk linimasa yang terus bergulir.

Dan menjelang magrib, ketika azan akhirnya terdengar, jempol berhenti sejenak. Layar diredupkan. Ngabuburit digital pun usai—untuk sementara. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)