Hikayat Gunung Burangrang, Saksi Sunyi Jejak Gunung Sunda Purba

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Potret Gunung Burangrang dan Gunung Tangkubanparahu tahun 1921. (Sumber: KITLV)
Potret Gunung Burangrang dan Gunung Tangkubanparahu tahun 1921. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Gunung Burangrang tidak pernah sibuk mempromosikan diri. Ia berdiri tenang di perbatasan Bandung Barat dan Purwakarta, dengan ketinggian sekitar dua ribu meter lebih sedikit. Cukup untuk membuat lutut pendaki bergetar, tapi tidak cukup populer untuk jadi bahan swafoto massal.

Di dunia gunung, Burangrang seperti tokoh sepuh yang duduk di pojok warung kopi: mendengarkan, sesekali tersenyum, jarang bicara. Namun jika ia mau membuka suara, ceritanya panjang, berlapis, dan jauh lebih tua dari kalender mana pun.

Jejak nama Burangrang sendiri sudah memberi petunjuk tentang karakter gunung ini. Dalam bahasa Sunda, rangrang merujuk pada ranting, cabang kecil yang tidak pernah jadi batang utama. Ada pula tafsir lain yang mengaitkannya dengan bentuk lereng yang berlekuk dan penuh jurang, seperti carang yang tak beraturan.

Syahdan, nama itu seolah menegaskan posisi Burangrang sejak awal: bukan pusat perhatian, tapi justru di situlah daya tariknya. Dari sinilah, kita mulai memahami bahwa gunung ini menyimpan cerita yang tak rapi, namun penuh makna.

Baca Juga: Gunung Burangrang, Eksotisme Kaldera Tropis dalam Imajinasi Wisata Kolonial Priangan

Legenda Sunda menempatkan Burangrang sebagai tokoh pendamping dalam kisah Sangkuriang yang sering disederhanakan. Jika Tangkuban Perahu adalah klimaks drama, Burangrang adalah sisa panggung setelah tirai ditutup. Ia dipercaya berasal dari ranting-ranting pohon besar yang berserakan ketika ambisi manusia bertabrakan dengan batas waktu.

Tafsir ini terasa masuk akal secara budaya, karena masyarakat lama selalu punya cara puitis menjelaskan lanskap yang tak bisa mereka ukur dengan alat, tapi bisa mereka rasakan dengan tubuh dan ingatan.

Yang menarik, kisah legenda ini bertemu dengan ilmu pengetahuan modern. Secara geologis, Burangrang memang bukan gunung muda. Ia adalah bagian dari sisa Gunung Sunda Purba, raksasa vulkanik yang pernah mendominasi Jawa Barat puluhan ribu tahun lalu.

Ketika Gunung Sunda Purba runtuh akibat letusan maha dahsyat, lanskap Bandung berubah total. Dari kehancuran itu lahirlah gunung-gunung baru, dan Burangrang termasuk yang selamat sebagai saksi paling tua. Dengan lereng yang lebih tergerus dan lembah yang lebih dalam, tanahnya menyimpan jejak waktu yang panjang, menjadikannya “paman” yang jarang muncul di foto keluarga lanskap Jawa Barat.

Baca Juga: Bencana Longsor Cisarua, Tragedi Kelabu di Hulu KBU

Sejarah manusia juga meninggalkan jejak di Burangrang. Namanya tercatat dalam naskah kuno Bujangga Manik, manuskrip perjalanan seorang bangsawan Sunda pada abad ke-15. Di sana, Burangrang bukan sekadar latar, tetapi penanda wilayah, batas kekuasaan, dan pusat kehidupan.

Di kaki gunung ini pernah berdiri wilayah Saung Agung, entitas politik yang kini hanya tersisa dalam nama Wanayasa. Gunung ini lama dipahami sebagai ruang penting, bukan sekadar tumpukan tanah dan batu.

Orang Sunda memandang gunung sebagai poros keseimbangan. Burangrang, dengan hutannya yang luas, air yang mengalir ke berbagai arah, dan tanah yang subur, menjadi penyangga kehidupan. Tidak heran jika kawasan sekitarnya berkembang sebagai ruang agraris, spiritual, dan simbolik. Ia tidak disembah, tetapi dihormati; tidak ditakuti, tetapi dijaga jaraknya. Dengan begitu, Burangrang membentuk hubungan yang lembut namun tegas dengan manusia di sekitarnya.

Baca Juga: Jejak Sejarah Peuyeum Bandung, Kuliner Fermentasi Sunda yang Bertahan Lintas Zaman

Lereng Berkabut hingga Puncak yang Tidak Suka Pamer

Kini, Burangrang dikenal sebagai gunung pendakian yang jujur. Jalurnya tidak banyak basa-basi. Dari hutan pinus yang tampak ramah, pendaki segera dihadapkan pada tanjakan yang menguras napas dan kesabaran. Jalur Legok Haji terkenal cepat sekaligus menyiksa, sementara jalur Pangheotan lebih panjang tapi bersahabat.

Selain itu, ada pula jalur lain yang namanya saja sudah cukup membuat betis merasa terancam. Jalur-jalur ini menjadi pintu masuk untuk memahami karakter gunung: ia tidak memanjakan, tapi memberi pengalaman yang nyata.

Gunung Burangrang. (Sumber: KITLV)
Gunung Burangrang. (Sumber: KITLV)

Pendakian Burangrang sering menjadi ruang reflektif. Hutan rapat membatasi pandangan, kabut datang tanpa permisi, dan suara kota perlahan menghilang. Gunung ini mengajarkan kesabaran: pemandangan indah tidak datang instan. Pendaki yang terburu-buru biasanya hanya merasakan lelah, sementara mereka yang menapaki langkah demi langkah akan menemukan ketenangan yang tersembunyi.

Di puncaknya, Burangrang tetap setia pada karakternya. Tidak ada kawah dramatis atau lanskap teatrikal. Yang terlihat hanyalah ruang terbuka dengan tugu triangulasi, langit yang terasa dekat, dan pemandangan luas ke arah Bandung. Dari sini, bekas kaldera raksasa Gunung Sunda Purba tampak jelas, menyerupai mangkuk yang pernah menampung danau purba. Pemandangan ini diam, tetapi bagi yang mau berhenti sejenak, berbicara banyak.

Baca Juga: Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Gunung ini juga menyimpan sisi mistis yang tak pernah benar-benar hilang. Cerita tentang kawasan magnetik, pesawat yang jatuh, dan gunung gaib terus beredar dari generasi ke generasi.

Sebagian orang mengaitkannya dengan kekuatan tak kasat mata, sebagian lain memilih penjelasan cuaca ekstrem dan kabut tebal. Di tanah Sunda, logika dan mitos sering duduk semeja, hidup berdampingan tanpa saling mengalahkan.

Kecelakaan pesawat yang pernah terjadi di sekitar Burangrang menjadi cerita yang terus diulang. Namun gunung ini tidak pernah mengklaim apa pun. Ia tetap berdiri, berkabut, dan menyimpan rahasia. Bagi warga sekitar, kisah-kisah itu bukan sekadar sensasi, tetapi pengingat bahwa alam punya aturan sendiri yang tidak selalu ramah pada manusia.

Dalam kehidupan budaya, Burangrang tetap hadir sebagai ruang spiritual. Ritual adat, pencarian ketenangan, hingga laku tapa masih menemukan tempatnya di lereng gunung ini. Tidak selalu ramai, tidak selalu terlihat, tetapi terus berlangsung. Gunung ini menjadi ruang jeda dari dunia yang semakin bising.

Baca Juga: Sejarah Julukan Garut Swiss van Java, Benarkah dari Charlie Chaplin?

Di tengah popularitas gunung-gunung lain yang sibuk menghitung jumlah pengunjung, Burangrang memilih jalannya sendiri. Ia terbuka, mudah diakses, murah, tetapi tidak menjilat. Ia menerima siapa saja yang datang dengan niat baik dan tubuh yang siap lelah. Gunung ini tidak menjanjikan sensasi, hanya pengalaman yang nyata dan bermakna.

Hikayat Gunung Burangrang pada akhirnya bukan tentang siapa yang paling tinggi atau paling terkenal. Ia adalah cerita tentang waktu yang panjang, lanskap yang dibentuk oleh letusan dan kesabaran, serta manusia yang datang dan pergi. Burangrang mengajarkan bahwa menjadi penting tidak selalu berarti ramai. Kadang, justru dengan diam dan sedikit menjauh, sebuah tempat bisa menyimpan cerita paling panjang.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)