Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Hikayat Gunung Burangrang, Saksi Sunyi Jejak Gunung Sunda Purba

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Kamis 29 Jan 2026, 15:03 WIB
Potret Gunung Burangrang dan Gunung Tangkubanparahu tahun 1921. (Sumber: KITLV)

Potret Gunung Burangrang dan Gunung Tangkubanparahu tahun 1921. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Gunung Burangrang tidak pernah sibuk mempromosikan diri. Ia berdiri tenang di perbatasan Bandung Barat dan Purwakarta, dengan ketinggian sekitar dua ribu meter lebih sedikit. Cukup untuk membuat lutut pendaki bergetar, tapi tidak cukup populer untuk jadi bahan swafoto massal.

Di dunia gunung, Burangrang seperti tokoh sepuh yang duduk di pojok warung kopi: mendengarkan, sesekali tersenyum, jarang bicara. Namun jika ia mau membuka suara, ceritanya panjang, berlapis, dan jauh lebih tua dari kalender mana pun.

Jejak nama Burangrang sendiri sudah memberi petunjuk tentang karakter gunung ini. Dalam bahasa Sunda, rangrang merujuk pada ranting, cabang kecil yang tidak pernah jadi batang utama. Ada pula tafsir lain yang mengaitkannya dengan bentuk lereng yang berlekuk dan penuh jurang, seperti carang yang tak beraturan.

Syahdan, nama itu seolah menegaskan posisi Burangrang sejak awal: bukan pusat perhatian, tapi justru di situlah daya tariknya. Dari sinilah, kita mulai memahami bahwa gunung ini menyimpan cerita yang tak rapi, namun penuh makna.

Baca Juga: Gunung Burangrang, Eksotisme Kaldera Tropis dalam Imajinasi Wisata Kolonial Priangan

Legenda Sunda menempatkan Burangrang sebagai tokoh pendamping dalam kisah Sangkuriang yang sering disederhanakan. Jika Tangkuban Perahu adalah klimaks drama, Burangrang adalah sisa panggung setelah tirai ditutup. Ia dipercaya berasal dari ranting-ranting pohon besar yang berserakan ketika ambisi manusia bertabrakan dengan batas waktu.

Tafsir ini terasa masuk akal secara budaya, karena masyarakat lama selalu punya cara puitis menjelaskan lanskap yang tak bisa mereka ukur dengan alat, tapi bisa mereka rasakan dengan tubuh dan ingatan.

Yang menarik, kisah legenda ini bertemu dengan ilmu pengetahuan modern. Secara geologis, Burangrang memang bukan gunung muda. Ia adalah bagian dari sisa Gunung Sunda Purba, raksasa vulkanik yang pernah mendominasi Jawa Barat puluhan ribu tahun lalu.

Ketika Gunung Sunda Purba runtuh akibat letusan maha dahsyat, lanskap Bandung berubah total. Dari kehancuran itu lahirlah gunung-gunung baru, dan Burangrang termasuk yang selamat sebagai saksi paling tua. Dengan lereng yang lebih tergerus dan lembah yang lebih dalam, tanahnya menyimpan jejak waktu yang panjang, menjadikannya “paman” yang jarang muncul di foto keluarga lanskap Jawa Barat.

Baca Juga: Bencana Longsor Cisarua, Tragedi Kelabu di Hulu KBU

Sejarah manusia juga meninggalkan jejak di Burangrang. Namanya tercatat dalam naskah kuno Bujangga Manik, manuskrip perjalanan seorang bangsawan Sunda pada abad ke-15. Di sana, Burangrang bukan sekadar latar, tetapi penanda wilayah, batas kekuasaan, dan pusat kehidupan.

Di kaki gunung ini pernah berdiri wilayah Saung Agung, entitas politik yang kini hanya tersisa dalam nama Wanayasa. Gunung ini lama dipahami sebagai ruang penting, bukan sekadar tumpukan tanah dan batu.

Orang Sunda memandang gunung sebagai poros keseimbangan. Burangrang, dengan hutannya yang luas, air yang mengalir ke berbagai arah, dan tanah yang subur, menjadi penyangga kehidupan. Tidak heran jika kawasan sekitarnya berkembang sebagai ruang agraris, spiritual, dan simbolik. Ia tidak disembah, tetapi dihormati; tidak ditakuti, tetapi dijaga jaraknya. Dengan begitu, Burangrang membentuk hubungan yang lembut namun tegas dengan manusia di sekitarnya.

Baca Juga: Jejak Sejarah Peuyeum Bandung, Kuliner Fermentasi Sunda yang Bertahan Lintas Zaman

Lereng Berkabut hingga Puncak yang Tidak Suka Pamer

Kini, Burangrang dikenal sebagai gunung pendakian yang jujur. Jalurnya tidak banyak basa-basi. Dari hutan pinus yang tampak ramah, pendaki segera dihadapkan pada tanjakan yang menguras napas dan kesabaran. Jalur Legok Haji terkenal cepat sekaligus menyiksa, sementara jalur Pangheotan lebih panjang tapi bersahabat.

Selain itu, ada pula jalur lain yang namanya saja sudah cukup membuat betis merasa terancam. Jalur-jalur ini menjadi pintu masuk untuk memahami karakter gunung: ia tidak memanjakan, tapi memberi pengalaman yang nyata.

Gunung Burangrang. (Sumber: KITLV)
Gunung Burangrang. (Sumber: KITLV)

Pendakian Burangrang sering menjadi ruang reflektif. Hutan rapat membatasi pandangan, kabut datang tanpa permisi, dan suara kota perlahan menghilang. Gunung ini mengajarkan kesabaran: pemandangan indah tidak datang instan. Pendaki yang terburu-buru biasanya hanya merasakan lelah, sementara mereka yang menapaki langkah demi langkah akan menemukan ketenangan yang tersembunyi.

Di puncaknya, Burangrang tetap setia pada karakternya. Tidak ada kawah dramatis atau lanskap teatrikal. Yang terlihat hanyalah ruang terbuka dengan tugu triangulasi, langit yang terasa dekat, dan pemandangan luas ke arah Bandung. Dari sini, bekas kaldera raksasa Gunung Sunda Purba tampak jelas, menyerupai mangkuk yang pernah menampung danau purba. Pemandangan ini diam, tetapi bagi yang mau berhenti sejenak, berbicara banyak.

Baca Juga: Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Gunung ini juga menyimpan sisi mistis yang tak pernah benar-benar hilang. Cerita tentang kawasan magnetik, pesawat yang jatuh, dan gunung gaib terus beredar dari generasi ke generasi.

Sebagian orang mengaitkannya dengan kekuatan tak kasat mata, sebagian lain memilih penjelasan cuaca ekstrem dan kabut tebal. Di tanah Sunda, logika dan mitos sering duduk semeja, hidup berdampingan tanpa saling mengalahkan.

Kecelakaan pesawat yang pernah terjadi di sekitar Burangrang menjadi cerita yang terus diulang. Namun gunung ini tidak pernah mengklaim apa pun. Ia tetap berdiri, berkabut, dan menyimpan rahasia. Bagi warga sekitar, kisah-kisah itu bukan sekadar sensasi, tetapi pengingat bahwa alam punya aturan sendiri yang tidak selalu ramah pada manusia.

Dalam kehidupan budaya, Burangrang tetap hadir sebagai ruang spiritual. Ritual adat, pencarian ketenangan, hingga laku tapa masih menemukan tempatnya di lereng gunung ini. Tidak selalu ramai, tidak selalu terlihat, tetapi terus berlangsung. Gunung ini menjadi ruang jeda dari dunia yang semakin bising.

Baca Juga: Sejarah Julukan Garut Swiss van Java, Benarkah dari Charlie Chaplin?

Di tengah popularitas gunung-gunung lain yang sibuk menghitung jumlah pengunjung, Burangrang memilih jalannya sendiri. Ia terbuka, mudah diakses, murah, tetapi tidak menjilat. Ia menerima siapa saja yang datang dengan niat baik dan tubuh yang siap lelah. Gunung ini tidak menjanjikan sensasi, hanya pengalaman yang nyata dan bermakna.

Hikayat Gunung Burangrang pada akhirnya bukan tentang siapa yang paling tinggi atau paling terkenal. Ia adalah cerita tentang waktu yang panjang, lanskap yang dibentuk oleh letusan dan kesabaran, serta manusia yang datang dan pergi. Burangrang mengajarkan bahwa menjadi penting tidak selalu berarti ramai. Kadang, justru dengan diam dan sedikit menjauh, sebuah tempat bisa menyimpan cerita paling panjang.

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)