Bencana Longsor Cisarua, Tragedi Kelabu di Hulu KBU

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Longsoran tanah yang mengubur pemukiman warga di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Longsoran tanah yang mengubur pemukiman warga di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Longsor hampir selalu datang tanpa salam pembuka. Ia tidak mengabari, tidak meminta izin, dan jarang memberi tanda yang bisa segera diterjemahkan manusia. Dini hari Sabtu, 24 Januari 2026, sekitar pukul tiga pagi, Kawasan Bandung Utara (KBU) berada pada jam paling lengah. Cisarua yang selama ini dikenal sejuk dan hijau, sedang terlelap. Lampu rumah padam satu per satu, suara televisi berhenti, dan Kampung Pasirlangu, Pasirkuning, serta Pasirkuda tenggelam dalam tidur yang tak pernah mereka duga akan terputus secara brutal.

Hujan turun seperti biasa. Gunung Burangrang, yang menjadi salah satu penyangga KBU, tidak menampakkan gelagat aneh. Tidak ada suara retakan, tidak ada tanah yang lebih dulu bergeser. Hingga tiba-tiba, dari arah hulu, terdengar gemuruh panjang. Bukan dentuman singkat, melainkan suara berat yang bergerak, menyerupai kereta barang yang kehilangan jalurnya.

Dalam hitungan menit, wilayah KBU itu digerus arus lumpur. Bukan longsor kecil yang berhenti di lereng, melainkan aliran padat berisi tanah, batu, dan batang kayu yang meluncur mengikuti alur sungai. Ia tidak memilih korban. Apa pun yang berdiri di jalurnya dihantam tanpa kompromi. Rumah-rumah warga runtuh bukan karena tanah di bawahnya amblas, melainkan karena dihajar material kiriman dari tempat yang tak pernah mereka lihat dan tak pernah mereka bayangkan akan mengirim maut.

Pagi harinya, Cisarua berubah wajah. Atap rumah menyembul seperti pulau pulau kecil di lautan lumpur. Jalan lingkungan menghilang, digantikan permukaan cokelat pekat yang masih bergerak perlahan. Udara berbau tanah basah dan kayu patah. Di beberapa titik, suara alat berat terdengar putus putus, lebih sering berhenti karena tanah di bawah roda terlalu labil untuk diajak berunding.

Baca Juga: Banjir dan Longsor Terjang Lembang: Hulu Saja Dilanda Bencana, Hilir Bagaimana!

Duka tidak berhenti di Cisarua. Sekitar satu jam setelah kejadian utama, longsor juga menyentuh Kecamatan Lembang. Sebuah tebing runtuh di Kampung Sukadami, tepat di kawasan yang selama ini dipersepsikan aman. Rumah warga yang berdiri di jalur jatuhan tertimbun. Dua nyawa melayang di sana, menambah daftar korban di Bandung Barat pada pagi yang sama.

Hingga Selasa malam, 27 Januari 2026, jumlah korban meninggal dunia akibat longsor di Cisarua tercatat 34 orang. Seluruh korban telah diidentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification Polri dari 50 kantong jenazah yang diterima. Sebanyak 30 jenazah telah diserahkan kepada keluarga, termasuk empat jenazah yang baru teridentifikasi pada hari itu.

Secara keseluruhan, bencana ini berdampak pada 155 jiwa dari 35 kepala keluarga. Sebanyak 75 orang selamat, 34 orang meninggal dunia, dan 46 lainnya masih dinyatakan hilang. Operasi pencarian terus berjalan, dan angka korban masih berpotensi bertambah seiring berlanjutnya penggalian lumpur di jalur aliran.

Ribuan personel gabungan dikerahkan. Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan, hingga unit K9 bekerja di medan yang nyaris tak bersahabat. Sebanyak 2.000 personel disiagakan, dengan sekitar 250 orang diterjunkan langsung ke lokasi menyesuaikan kondisi lapangan. Lumpur tebal, cuaca buruk, dan ancaman longsor susulan membuat setiap langkah pencarian harus dihitung dengan cermat.

Baca Juga: Kang Deddy, Yeuh … KBU dan KBS Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Di balik operasi besar itu, muncul pertanyaan yang mengendap dan sulit ditepis. Mengapa longsor ini terasa berbeda, lebih jauh menjalar, lebih cepat, dan jauh lebih mematikan. Jawabannya membawa kita pada persoalan yang lebih dalam dari sekadar hujan dan lereng curam. Jawabannya ada pada tubuh KBU itu sendiri.

Baca Juga: Sejarah Longsor Cigembong Garut Zaman Kolonial, Warga Satu Kampung Lenyap Tanpa Jejak

Ketika Sungai Berubah jadi Jalan Raya Lumpur

Banyak warga merasa rumah mereka berdiri di tempat yang aman. Tidak di lereng terjal, tidak tepat di bawah tebing, dan tidak masuk zona longsor klasik. Justru di situlah letak ironi KBU. Longsor ini tidak lahir di halaman rumah korban, melainkan di bagian hulu sistem sungai di lereng Gunung Burangrang. Wilayah ini selama ini menjadi tulang punggung ekologis kawasan utara Bandung.

Kiriman material lumpur menutupi hampir seluruh permukiman. Jalan tertutup, akses terputus, dan hujan yang masih turun memperparah situasi. Longsor Cisarua bukan peristiwa tunggal, melainkan rangkaian proses yang berlangsung diam-diam di hulu KBU.

Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung, Imam Achmad Sadisun, menjelaskan bahwa wilayah Kabupaten Bandung Barat didominasi oleh produk vulkanik tua dengan lapisan pelapukan tebal. Batas antara tanah pelapukan dan batuan dasar yang lebih kedap air kerap menjadi bidang gelincir. Ketika hujan turun dalam durasi panjang, air meresap dan mengisi pori-pori tanah hingga jenuh. Pada titik itu, kekuatan tanah menurun drastis dan lereng kehilangan daya tahan.

Baca Juga: Tragedi Longsor Sampah Leuwigajah 2005: Terburuk di Indonesia, Terparah Kedua di Dunia

Proses evakuasi jenazah bencana longsor Cisarua, Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Proses evakuasi jenazah bencana longsor Cisarua, Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Di bagian hulu, longsoran menutup alur sungai dan membentuk bendungan alami dari tanah, batu, dan sisa vegetasi. Air hujan terus datang, tertahan, menggenang, dan mengumpulkan sedimen. Proses ini berjalan senyap tanpa letusan dramatis. Hingga akhirnya, bendungan itu jebol.

Yang meluncur ke bawah bukan sekadar air, melainkan campuran lumpur berat dengan daya rusak tinggi. Inilah aliran lumpur atau mudflow yang menjadikan sungai sebagai jalur cepat bagi bencana. Rumah rumah di bantaran sungai yang selama ini merasa berada di luar zona bahaya mendadak menjadi sasaran utama.

Fenomena ini menjelaskan mengapa kerusakan terparah justru terjadi jauh dari titik sumber longsoran. Sungai yang selama ini menjadi penanda kampung dan sumber kehidupan berubah menjadi pembawa maut. Curah hujan memang tinggi, tetapi bukan sesuatu yang ekstrem dalam catatan klimatologis. Yang membuat bencana ini menemukan momentumnya adalah kombinasi durasi hujan, kondisi geologi KBU, dan perubahan tata guna lahan.

Pemotongan lereng, permukiman yang merayap ke hulu, drainase yang tak memadai, serta vegetasi yang terus berkurang mempercepat pelemahan tanah. Ironisnya, tanda-tanda awal kerap hadir namun luput dibaca. Salah satunya adalah surutnya aliran sungai secara tiba-tiba saat hujan masih turun, indikasi klasik adanya sumbatan di hulu.

Baca Juga: Banjir Cikapundung 1919 Rendam Braga Gegara Deforestasi Lereng Bandung

Darurat Usai, Risiko Tetap Tinggal

Pasca longsor, status tanggap darurat ditetapkan. Bantuan logistik mengalir, dapur umum berdiri, teknologi modifikasi cuaca diterapkan untuk menekan hujan. Pejabat daerah dan pusat berdatangan. Semua bergerak cepat, seolah waktu menjadi musuh bersama.

Tapi bencana tidak selesai ketika lumpur mulai mengering. Justru setelah fase darurat itulah pertanyaan paling menentukan muncul. Apakah KBU akan kembali dibangun dengan pola yang sama. Apakah bantaran sungai tetap dianggap lahan murah yang layak dihuni. Apakah peringatan ilmiah akan sungguh diterjemahkan ke dalam kebijakan tata ruang.

Upaya mitigasi longsor di KBU tidak cukup dengan tembok penahan dan papan peringatan. Dibutuhkan pendekatan menyeluruh. Mulai dari stabilisasi lereng di hulu, perlindungan jalur aliran, struktur pengendali lumpur, cekungan penampung sedimen, hingga sistem peringatan dini berbasis sensor. Di kawasan sekompleks KBU, semua itu bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar.

Baca Juga: Banjir Bandang Cililin Bukan Lagi Bencana Tahunan, Tapi Alarm Kerusakan Hulu Bandung Barat

Tragedi longsor Cisarua adalah potret kelam jantung KBU yang kian rapuh. Ia juga mengingatkan betapa pendeknya ingatan kolektif tentang kebencanaan. Setiap bencana selalu melahirkan janji evaluasi dan perbaikan. Namun seiring waktu, ingatan memudar, tekanan ekonomi kembali mendesak, dan kompromi dengan alam kembali dibuat.

Gunung, sungai, dan hujan tidak pernah berubah watak. Mereka bekerja dengan hukum yang sama sejak lama. Yang berubah hanyalah cara manusia membaca tanda dan mengambil sikap. Longsor di jantung KBU ini bukan sekadar catatan korban dan kerusakan, melainkan pengingat bahwa di wilayah pegunungan dengan geologi rumit, kewaspadaan bukan pilihan tambahan, melainkan syarat hidup.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)