Tragedi Longsor Sampah Leuwigajah 2005: Terburuk di Indonesia, Terparah Kedua di Dunia

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
TPA Sarimukti, Bandung Barat, setelah kebakaran pada 2023 lalu. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
TPA Sarimukti, Bandung Barat, setelah kebakaran pada 2023 lalu. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

AYOBANDUNG.ID - Pada Senin dini hari, tanggal 21 Februari 2005 pukul 02.00 WIB, suara dentuman keras mengagetkan warga di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Jawa Barat. Dentuman itu bukan suara guntur atau ledakan pabrik, melainkan datang dari tubuh raksasa TPA yang selama bertahun-tahun menggunung dan akhirnya ambrol, melepaskan longsoran sampah ke arah dua desa di bawahnya: Leuwigajah dan Batujajar.

Tumpukan sampah itu longsor sejauh satu kilometer. Sampah bercampur lumpur, gas, dan api meluncur cepat, menghancurkan 71 rumah, menewaskan 143 orang (beberapa menyebut 157 orang), dan membakar sebagian besar tubuh korban. Mereka yang tertimbun bahkan tak sempat melarikan diri, meskipun pos evakuasi hanya berjarak sekitar 100 meter.

Bencana itu menjadi longsor sampah paling mematikan kedua dalam sejarah dunia, setelah tragedi Payatas di Filipina tahun 2000 yang menewaskan 278 orang. Namun berbeda dari banyak bencana alam lainnya, Leuwigajah bukanlah gempa atau banjir. Ia adalah hasil dari akumulasi kelalaian manusia: cara kita memperlakukan sampah, dan lebih dari itu, cara kita memperlakukan manusia yang hidup dari sampah.

Beberapa bulan setelah bencana, tim peneliti internasional—termasuk dari Badan Geologi—mulai mencari data di lapangan. Himpunan temuan lapangan tersebut dirangkai dengan sejumlah data dan analisis literatur sebelum kemudian diterbitkan dalam Jurnal Geoenvironmental Disasters tahun 2014.

Penelitian menyebutkan bahwa sebelum menjadi titik maut, Leuwigajah adalah bagian dari sistem pembuangan limbah Metropolitan Bandung. Tempat ini mulai digunakan sebagai TPA pada tahun 1987. Lembah kecil di kaki gunung itu sebelumnya hanyalah aliran air yang tenang, namun berubah menjadi tempat tumpukan limbah harian dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kota Cimahi.

Pada tahun 2005, wilayah Bandung Raya menghasilkan lebih dari 14.000 meter kubik sampah per hari. Dari angka itu, hanya 46% yang berhasil dikumpulkan. Sebagian sisanya dibuang ke sungai, dibakar di halaman rumah, atau berakhir di TPA Leuwigajah.

Setiap harinya, lebih dari 4.500 ton sampah dibuang ke sana. Komposisinya beragam, mulai dari limbah rumah tangga, sampah industri, hingga limbah dari fasilitas umum. Rumah tangga menyumbang porsi terbesar, yakni sekitar 7.700 meter kubik per hari.

Baca Juga: Tragedi AACC Bandung 2008, Sabtu Kelabu Konser Beside

TPA ini tidak dikelola oleh satu pihak saja. Ada tiga otoritas yang terlibat—Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kota Cimahi. Namun sayangnya, tata kelolanya tidak seragam dan semakin tidak terkontrol dari waktu ke waktu. Dari yang awalnya merupakan sistem controlled landfill atau pembuangan terkendali, Leuwigajah berubah menjadi open dumping di mana sampah ditumpuk begitu saja tanpa perencanaan teknis, sistem drainase, atau pemadatan.

Ironis memang. Alih-alih ditata dan dipadatkan, sampah dibuang begitu saja, dibiarkan menumpuk tanpa perlakuan. Sampah organik, plastik, logam, hingga limbah rumah tangga dan industri bercampur menjadi satu, menggunung setinggi gedung lima lantai.

Di sekeliling TPA, terutama di dua desa terdekat, tinggal ratusan keluarga yang menggantungkan hidup pada kegiatan memulung. Mereka bekerja dari pagi hingga sore, memilah plastik, logam, dan kertas bekas. Diperkirakan sekitar 50% dari penduduk dua desa itu bergantung penuh pada TPA untuk mata pencaharian. Mereka tinggal di rumah-rumah darurat yang dibangun dari bahan sisa: seng, kayu, plastik. Sebagian besar berada dalam radius 500 meter dari kaki gunungan sampah.

Longsor kecil pernah terjadi pada tahun 1992. Tujuh rumah tertimbun, namun tidak ada korban jiwa. Sayangnya, tidak ada perubahan signifikan setelah peristiwa itu. Aktivitas di TPA tetap berjalan, dan gunungan sampah terus bertambah tinggi.

Rekonstruksi Tragedi Leuwigajah: Kombinasi Ledakan Gas dan Longsor Sampah

Hasil analisis dinamika longsoran dari endapan sampah yang terjadi kala itu disimpulkan bahwa longsoran Leuwigajah tidak bisa disebut sebagai longsor tanah biasa. Kejadian tersebut adalah kombinasi antara "ledakan" gas dan longsoran mekanis dari tumpukan sampah yang sangat tidak stabil. Tekanan air hujan selama berhari-hari yang terjadi kala itu menyebabkan bagian bawah tumpukan menjadi jenuh air.

Sampah organik yang menumpuk selama bertahun-tahun juga menghasilkan gas metana dalam jumlah besar karena proses dekomposisi anaerobik—yakni pembusukan tanpa oksigen. Gas-gas ini terperangkap di lapisan bawah sampah yang padat dan lembap.

Tim peneliti menduga bahwa tekanan dari gas metana dan uap air ini mencapai titik kritis saat hujan deras melanda, sehingga menciptakan kondisi mirip seperti ledakan dalam tanah. Beberapa saksi mata menyebut adanya suara dentuman dan api merah sebelum longsoran terjadi. Kesaksian tersebut mendukung dugaan bahwa ledakan gas metana ikut berperan dalam melepaskan energi yang mendorong tumpukan sampah ke bawah dengan kecepatan sangat tinggi.

Dari rekonstruksi tersebut, diketahui bahwa longsoran terjadi dengan kecepatan mencapai 100 kilometer per jam, menjalar sejauh lebih dari satu kilometer, dan menyapu dua kampung dalam hitungan menit. Tidak hanya tanah yang longsor, tetapi juga material plastik, logam, lumpur, dan air tercampur menjadi aliran raksasa yang tak bisa dibendung.

Yang mencolok adalah fakta bahwa semua tubuh korban ditemukan dalam kondisi terbakar walaupun saat itu hujan deras mengguyur semalaman suntuk. Kondisi ini menunjukkan bahwa sampah tidak hanya longsor, tetapi juga terbakar hebat dalam prosesnya.

Kondisi TPA Leuwigajah saat dikunjungi peneliti pada Juli 2005. (Foto: Franck Lavigne)
Kondisi TPA Leuwigajah saat dikunjungi peneliti pada Juli 2005. (Foto: Franck Lavigne)

Para peneliti mengusulkan dua kemungkinan skenario tentang bagaimana bencana ini bisa terjadi. Meski urutannya berbeda, keduanya melibatkan kombinasi yang sama: hujan deras, gas metana, panas, dan plastik.

  • Skenario Pertama: Longsor Terjadi Dulu, Baru Terjadi Ledakan

Dalam skenario ini, hujan deras menyerap ke dalam tumpukan sampah dan membuat isinya jenuh air. Sampah menjadi berat dan kehilangan kekuatan, hingga akhirnya longsor. Saat longsor bergerak, kantong-kantong gas metana yang terperangkap di dalam timbunan ikut pecah.

Gas metana itu kemungkinan bertemu dengan bara api atau titik-titik panas sisa pembakaran yang masih menyala di dalam tumpukan. Kontak ini menyebabkan ledakan dan kebakaran besar. Material yang masih panas ikut terbawa dalam aliran longsor dan membakar korban-korban yang tertimbun.

  • Skenario Kedua: Ledakan Terjadi Dulu, Baru Longsor Bergerak

Dalam versi ini, air hujan tidak hanya membasahi sampah, tapi juga menyusup ke bagian dalam tumpukan yang sebelumnya sudah terbakar diam-diam. Uap air yang terbentuk menambah tekanan gas di bagian dalam timbunan. Tekanan ini akhirnya memicu ledakan pertama.

Ledakan itu mengangkat sebagian massa sampah, menciptakan celah bagi udara segar masuk ke dalam zona pembakaran. Masuknya udara segar membuat api semakin besar, dan muncullah ledakan kedua dan ketiga. Setelah itu, seluruh timbunan bergerak cepat menuruni lereng, membawa api yang menjalar di antara kantong-kantong plastik berisi gas metana.

Baca Juga: Hikayat Sunda Empire, Kekaisaran Pewaris Tahta Julius Caesar dari Kota Kembang

Dua skenario ini, meski berbeda urutan, sama-sama melibatkan kombinasi mematikan antara air, gas, api, dan plastik. Ledakan, gas, dan panas membuat sampah memuai dan bergerak semakin cepat, membakar apapun yang dilewati. Kondisi ini diperparah oleh buruknya manajemen sampah dan lemahnya sistem peringatan dini.

Sebelum bencana 2005, sejumlah titik kebakaran sudah dilaporkan terjadi di TPA Leuwigajah. Para saksi mata juga melihat asap atau bara menyala dari dalam tumpukan sampah. Kebakaran ini bisa berlangsung lama, tersembunyi di bawah permukaan, memanaskan gas metana, dan menciptakan rongga tak kasat mata yang melemahkan struktur sampah.

Sementara itu, lokasi TPA secara geologis memang rawan. Dasarnya berupa batuan vulkanik andesit yang dilapisi tanah lempung, yang memiliki daya serap air rendah. Air hujan yang masuk tidak bisa mengalir dengan cepat, membuat sampah jenuh air dan memperbesar risiko longsor.

Bencana Leuwigajah mengakhiri seluruh aktivitas TPA tersebut. Pemerintah menutup lokasi pembuangan. Beberapa pejabat dijatuhi hukuman karena dianggap lalai. Namun, para pemulung kehilangan sumber penghidupan tanpa ada solusi yang memadai. Banyak dari mereka hanya berpindah lokasi tanpa jaminan keamanan yang lebih baik.

Jadi Inspirasi Hari Sampah, Tapi Bandung Belum Banyak Berubah

Peristiwa itu begitu mengguncang, hingga pemerintah menetapkan 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. Sebuah pengakuan, bahwa kita pernah membiarkan sampah membunuh manusia. Tapi seperti banyak peringatan lainnya, tanggal itu berubah menjadi sekadar seremoni. Spanduk, seminar, dan aksi pungut sampah di taman-taman kota. Sementara di sisi lain kota, tumpukan baru terus tumbuh.

Dua puluh tahun lebih telah berlalu. Leuwigajah kini tinggal kenangan kelam di pinggiran Cimahi. TPA-nya tak lagi berfungsi sejak peristiwa itu. Di atas kawah bencana itu kini tumbuh semak dan ilalang. Kondisinya sepi. Tapi di kota, seperti biasa, orang-orang terus menghasilkan sampah tanpa ampun.

Kebutuhan akan tempat pembuangan baru membuat pemerintah memindahkan beban itu ke TPA Sarimukti, belasan kilometer ke utara. Sarimukti semula hanya dirancang sebagai solusi sementara. Tapi ‘sementara’ dalam tata kelola negara bisa berarti puluhan tahun. Kini, Sarimukti mulai sekarat. Lahan puluhan hektare itu sudah penuh sesak. Sampah dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Cimahi, dan Bandung Barat terus ditimbun setiap hari, seperti menanam bom waktu baru.

Proyek TPA Legoknangka, yang konon akan menjadi tempat pembuangan dengan teknologi modern dan sistem pengolahan energi berbasis refuse derived fuel (RDF), belum juga selesai. Dulu dijanjikan akan rampung tahun 2020. Kini sudah 2025, dan belum juga ada asap atau bau dari cerobong Legoknangka. Pekerjaannya melulu tertunda, seokah terlalu rumit untuk dijelaskan dengan logika waras.

Baca Juga: Krisis Sampah Bandung Raya di Tengah Sarimukti yang Sekarat

Sementara itu, kota mulai kewalahan. Beberapa pekan bahkan bulan terakhir, di berbagai titik di Bandung Raya, gunungan sampah mulai muncul di tempat yang tak semestinya. Di pinggir jalan, di bawah flyover, di trotoar. Karung-karung hitam dan putih yang dibiarkan membusuk di tengah lalu lintas manusia. Petugas kebersihan kesulitan mengangkut sampah karena antrean di Sarimukti semakin panjang. Truk-truk pengangkut menunggu berjam-jam hanya untuk menurunkan satu muatan. Mereka tak bisa bolak-balik seperti dulu.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)