Santri Jangan Cuma Dirayakan, tapi Dihidupkan

2 menit baca
nonny irayanti
Ditulis oleh nonny irayanti diterbitkan
Santri di Indonesia. (Sumber: Unsplash/ Muhammad Azzam)
Santri di Indonesia. (Sumber: Unsplash/ Muhammad Azzam)

Setiap tahun, peringatan Hari Santri selalu menarik perhatian publik. Dari upacara hingga kirab, dari lomba baca kitab hingga festival sinema—semuanya terasa meriah. Tahun ini pun begitu. Dengan tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia,” Presiden Prabowo Subianto menyerukan agar santri menjadi penjaga moral sekaligus pelopor kemajuan.

Seruan itu tentu mengingatkan kita pada semangat Resolusi Jihad yang dikumandangkan KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945—momen yang menandai keberanian ulama dan santri mengorbankan diri demi kemerdekaan bangsa.

Namun, di tengah gegap gempita perayaan itu, kita patut bertanya: apakah esensi Hari Santri benar-benar hidup dalam diri para santri hari ini, atau justru terkubur di balik seremonial yang penuh simbol? Apakah santri masih dikenal sebagai sosok fakih fiddin yang memahami agama secara mendalam, atau kini lebih sering dijadikan wajah formal dalam proyek-proyek moderasi dan pemberdayaan ekonomi?

Di banyak kesempatan, penghargaan terhadap santri sering berhenti pada nostalgia perjuangan masa lalu. Padahal, jika menelusuri akar sejarahnya, peran santri bukan sekadar pelengkap dalam narasi perjuangan bangsa—mereka adalah ruh yang menjaga keutuhan umat dan akidah. Ironisnya, di era sekarang, santri justru diarahkan untuk menjadi agen “penengah”, bukan agen perubahan.

Di saat sistem sekuler dan kapitalistik semakin mencengkram kehidupan umat, santri sering kali didorong menjadi bagian dari sistem itu sendiri, bukan penantangnya.

Baca Juga: Antara Kebebasan Berpendapat dan Pengawasan Digital: Refleksi atas Kasus TikTok di Indonesia

Pujian atas peran santri dalam jihad masa lalu seakan kontras dengan kebijakan masa kini. Alih-alih menghidupkan semangat jihad intelektual dan spiritual untuk melawan penjajahan gaya baru—seperti dominasi ekonomi global, kemiskinan struktural, atau rusaknya moral generasi—peran santri justru dibingkai dalam narasi “moderat” yang steril dari ruh perjuangan Islam yang sejati. Akibatnya, potensi besar pesantren sebagai benteng peradaban malah melemah, terjebak dalam pola pikir pragmatis: sibuk mencari dana, proyek, atau sekadar pengakuan.

Padahal, jika kembali ke akar sejarahnya, pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, melainkan kawah candradimuka lahirnya pejuang—mereka yang fakih fiddin, tapi juga peka terhadap realitas umat. Santri sejati bukan hanya hafal kitab, tapi juga tangguh dalam menghadapi tantangan zaman. Ia tidak menunggu perubahan datang dari luar, melainkan menggerakkannya dari dalam—dengan ilmu, iman, ketakwaan, dan keberanian.

Di titik inilah, negara sejatinya punya tanggung jawab besar. Bukan sekadar memberi penghargaan simbolik atau fasilitas minimal, tetapi memastikan pesantren tetap berdiri dengan visi mulia: mencetak generasi yang berani melawan kezaliman dan penjajahan dalam bentuk apa pun. Santri bukan hanya aset kultural, tapi penentu arah masa depan umat dan bangsa.

Hari Santri seharusnya bukan sekadar pengingat sejarah, tapi momentum aktivasi peran. Momentum untuk menghidupkan kembali semangat jihad intelektual, spiritual, dan moral. Agar santri tidak sekadar dikenang sebagai penjaga masa lalu, tapi diakui sebagai agen perubahan menuju peradaban yang berkeadilan—peradaban yang menempatkan syariat dan fitrah manusia dalam satu tarikan napas.

Karena sejatinya, santri bukan hanya bagian dari sejarah bangsa. Ia adalah masa depan yang sedang dipertaruhkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)