Bandung dan Paradoks Kota Hijau: Potensi Besar yang Belum Tergarap

6 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan
Bandung, kota kreatif dengan sejuta potensi, kini berhadapan dengan paradoks hijau. (Sumber: Unsplash/Ikhsan Assidiqie)
Bandung, kota kreatif dengan sejuta potensi, kini berhadapan dengan paradoks hijau. (Sumber: Unsplash/Ikhsan Assidiqie)

Menakar arah Bandung menuju kota berkelanjutan di tengah kemacetan, sampah, dan krisis ruang hijau.

Bandung, kota dengan sejarah panjang inovasi dan kreativitas, seharusnya memiliki peluang besar untuk tampil sebagai salah satu kota hijau di Indonesia. Dengan warisan alam yang indah, masyarakat yang kreatif, serta ekosistem akademik dan komunitas lingkungan yang aktif, Bandung memiliki semua modal menuju kota berkelanjutan.

Namun kenyataannya, sejak penilaian UI GreenCityMetric tahun 2022 hingga kini, Bandung belum juga menembus sepuluh besar kota hijau di Indonesia. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan kritis: mengapa kota dengan potensi sebesar Bandung justru tertinggal dalam indikator kota berkelanjutan? Secara kasat mata, situasi terkini memperlihatkan bahwa Bandung tengah menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan cita-cita kota hijau.

Data dan informasi yang mudah diakses melalui kanal resmi pemerintah maupun pemberitaan publik menunjukkan bahwa Bandung membutuhkan percepatan signifikan menuju nominasi kota berkelanjutan. Tingginya indeks kemacetan di berbagai titik dan waktu tertentu menandakan belum efektifnya pengelolaan mobilitas perkotaan.

Sejumlah proyek pembangunan pun belum menunjukkan hasil nyata, seperti proyek Flyover Nurtanio yang belum fungsional sejak 2022, pembangunan tol dalam kota Bandung Intra Urban Toll Road (BIUTR) sepanjang 27,3 km yang direncanakan sejak 2007, proyek rumah deret Tamansari, dan revitalisasi Pasar Cihaurgeulis yang tak kunjung rampung, hingga rencana pembangunan Underpass Cibiru di Bandung Timur yang belum terealisasi.

Pengelolaan sampah juga menjadi catatan penting. Dari sekitar 1.496 ton sampah yang dihasilkan per hari, hanya sekitar 799,68 ton yang berhasil diangkut ke TPA. Kondisi ini memburuk saat ada perhelatan besar seperti Asia Afrika Festival 2025, yang menyumbang timbunan sampah kertas, plastik, dan bungkus makanan hingga mencapai 21 meter kubik.

Di sisi lain, persoalan banjir di beberapa kawasan terutama Bandung Selatan, menunjukkan lemahnya tata kelola lingkungan perkotaan lintas wilayah. Kualitas udara pun memprihatinkan: indeks kualitas udara (AQI⁺ US) mencapai 153 pada 21 Oktober pukul 14.00, yang dikategorikan tidak sehat.

Sementara itu, pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dari target jangka menengah 20 persen, baru mencapai sekitar 12,8 persen. Meski begitu, angka tersebut masih jauh dari amanat UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, yang menetapkan proporsi minimal RTH kota sebesar 30 persen dari total wilayah.

Fakta-fakta tersebut memperlihatkan bahwa Bandung masih berjuang keras mengatasi paradoks antara citra kota kreatif dan realitas ekologis yang menekan.

Absennya Bandung dalam daftar utama kota hijau bukan semata karena kurangnya niat. Tantangan utama justru terletak pada keterpaduan sistemik antara kebijakan, data, dan implementasi. Banyak inisiatif hijau berjalan sendiri-sendiri, melalui berbagai inovasi atau proyek perubahan hasil pelatihan. Namun, belum terarah pada indikator penilaian yang diukur secara objektif oleh UI GreenCityMetric.

UI GreenCityMetric menuntut keterpaduan dan konsistensi data dalam setiap aspek yang diukur, Instrumen ini menjadi cermin penting untuk menilai seberapa jauh sebuah kota telah menapaki jalur pembangunan berkelanjutan.

Penilaian UI GreenCityMetric didasarkan pada enam kelompok indikator yang mencerminkan keseimbangan antara aspek ekologi, sosial, dan tata kelola, yaitu: tata ruang dan infrastruktur hijau, efisiensi energi dan mitigasi perubahan iklim, pengelolaan sampah dan air, mobilitas berkelanjutan, peran pendidikan dan riset, serta tata kelola dan partisipasi masyarakat. Penilaian ini bukan sekadar lomba hijau antar kota, melainkan instrumen penting untuk menakar konsistensi kebijakan dan efektivitas tata kelola perkotaan.

Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Pexels/Matafanaku)
Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Pexels/Matafanaku)

Dalam konteks ini, upaya Bandung sebenarnya sudah terlihat. Pemerintah melalui Dinas Lingkungan Hidup berperan dalam pengelolaan limbah dan konservasi ruang terbuka hijau. Dinas Perhubungan berupaya mengembangkan transportasi ramah lingkungan serta mengendalikan emisi kendaraan, sementara Dinas Pekerjaan Umum fokus pada infrastruktur hijau dan drainase berkelanjutan. Bappelitbang sebagai lembaga perencana kota memiliki peran strategis menyinergikan kebijakan lintas sektor agar tidak berjalan terpisah. Perguruan tinggi dan komunitas warga juga turut menjadi penggerak inovasi serta penjaga kesadaran publik terhadap isu lingkungan.

Pemerintah memiliki pekerjaan besar untuk menyatukan kerja antar instansi dalam satu sistem yang terintegrasi. Meminimalisir tumpang tindih kewenangan antar dinas serta memperkuat koordinasi dalam perencanaan dan pelaporan berbasis data.

Tanpa orkestrasi yang kuat antar instansi, berbagai upaya tersebut akan bias dan kehilangan arah dan daya dorong.

Selain persoalan kelembagaan, Bandung juga dihadapkan pada tantangan dalam pengelolaan sumber daya. Kebutuhan air bersih, energi, dan ruang terbuka hijau kerap berbenturan dengan tekanan pembangunan infrastruktur serta laju urbanisasi yang pesat. Volume sampah yang tinggi belum diimbangi dengan kapasitas pengelolaan yang memadai. Pemanfaatan energi terbarukan dan transportasi rendah emisi pun masih terbatas skalanya. Dari sisi kelembagaan, sumber daya manusia yang mengelola isu lingkungan perlu diperkuat, baik dalam kapasitas teknis maupun kemampuan berpikir strategis lintas sektor.

Tantangan lain yang tak kalah penting adalah soal sumber daya anggaran. Program keberlanjutan lingkungan sering kali tidak mendapat alokasi dana yang memadai atau hanya bersifat jangka pendek tanpa kesinambungan yang jelas. Fokus fiskal pemerintah kota masih cenderung diarahkan pada pembangunan fisik dan pelayanan dasar, sementara program lingkungan hidup tersebar dalam berbagai pos terbatas.

Akibatnya, sulit menilai dampak komprehensif terhadap indikator kota hijau. Padahal, keberhasilan menuju kota hijau memerlukan pola anggaran yang konsisten, terukur, dan berbasis hasil, bukan sekadar kegiatan. Keterbatasan fiskal dan prioritas jangka pendek sering membuat agenda lingkungan hidup terpinggirkan dari arus utama pembangunan daerah.

Di luar aspek struktural dan sumber daya, tantangan terbesar justru terletak pada budaya masyarakat perkotaan itu sendiri. Masih banyak warga yang memandang isu lingkungan sebagai urusan pemerintah, bukan tanggung jawab bersama. Perubahan perilaku menuju gaya hidup hijau, seperti memilah sampah, menghemat energi, atau menggunakan transportasi publik masih menjadi pekerjaan rumah.

Bahkan, pergantian kepemimpinan daerah kerap mengubah arah kebijakan sebelum program hijau benar-benar matang. Hal ini menjadi pengingat bahwa menuju kota hijau bukanlah program “sim slabim”, melainkan perjalanan panjang yang memerlukan komitmen lintas waktu, lintas generasi, dan lintas kepemimpinan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Bandung perlu mengembangkan program unggulan yang menjadi motor perubahan menuju kota hijau. Program semacam Zero Waste City atau pengembangan kawasan Net Zero Emission (NZE) yang merujuk pada Perpres Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon (NEK), dapat menjadi ikon transformasi baru bagi kota ini. Namun, keberhasilan program semacam itu tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau kebijakan, tetapi sejauh mana masyarakat dilibatkan secara aktif.

Kesadaran lingkungan harus dibangun dari keluarga, sekolah, hingga komunitas, agar gerakan menuju kota hijau tidak berhenti sebagai jargon administratif. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas kreatif yang menjadi ciri khas Bandung dapat menjadi kekuatan besar untuk mendorong perubahan. Masyarakat bukan hanya menjadi penikmat kebijakan, tetapi bagian dari proses perencanaan dan pengawasan, memastikan setiap langkah menuju kota hijau berjalan dengan transparan dan berkelanjutan.

Ketiadaan nama Bandung dalam daftar sepuluh besar kota hijau di Indonesia tahun 2025 bukanlah tanda kegagalan, melainkan cermin dari pekerjaan besar yang belum tuntas. Potensi dan kapasitas yang dimiliki kota ini sesungguhnya sangat besar, namun membutuhkan sistem yang lebih terukur, kolaboratif, dan berorientasi pada hasil.

Kota hijau bukan hanya tentang taman yang rindang, tetapi juga tentang cara berpikir, mengelola, dan hidup dengan kesadaran keberlanjutan. Jika Bandung mampu membangun sinergi antara kebijakan, data, inovasi, dan partisipasi publik, maka predikat kota hijau bukan sekadar peringkat dalam tabel UI GreenCityMetric, melainkan identitas baru bagi kota yang terus belajar menjaga keseimbangan antara kemajuan, budaya, dan kelestarian alam. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Bayu Hikmat Purwana
Analis Kebijakan dengan bidang kepakaran pengembangan kapasitas ASN di Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Talenta ASN Nasional LAN RI

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 21 Jun 2026, 13:04

5 Kuliner Semarang Pilihan yang Wajib Dicoba Wisatawan

Dari lumpia khas Pecinan hingga tahu gimbal dan nasi ayam malam hari, inilah rekomendasi kuliner Semarang yang wajib masuk daftar perjalanan Anda.

Kuliner Tahu Gimbal. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)