Mengapa Tidak Satu pun dari Bandung Raya Masuk 10 Besar UI GreenCity Metrics 2025?

6 menit baca
Guruh Muamar Khadafi
Ditulis oleh Guruh Muamar Khadafi diterbitkan
Dago, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Dago, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bandung Raya, kawasan metropolitan yang membentang dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, hingga Cimahi, sejak lama dikenal sebagai wilayah dengan lanskap yang memesona.

Dikelilingi pegunungan, beriklim sejuk, dan memiliki sejarah panjang dalam perencanaan kota tropis, kawasan ini seharusnya menjadi kandidat kuat untuk menempati posisi puncak dalam pemeringkatan UI GreenCity Metrics 2025, hal ini merupakan sebuah inisiatif yang menilai kinerja keberlanjutan kota berdasarkan enam dimensi yaitu tata guna lahan dan infrastruktur, energi dan mitigasi perubahan iklim, pengelolaan limbah, pengelolaan air, transportasi dan mobilitas, serta pendidikan dan kesadaran masyarakat.

Namun kenyataannya, tak satu pun kota atau kabupaten di Bandung Raya berhasil menembus 10 besar peringkat nasional tahun 2025. Padahal di sisi lain, kota-kota seperti Surabaya, Denpasar, dan Balikpapan justru konsisten berada di papan atas. Ketimpangan ini bukan sekadar angka di tabel pemeringkatan, tetapi potret bahwa Bandung Raya sedang berada di persimpangan antara idealisme hijau dan realitas urban yang terus menekan daya dukung lingkungannya.

Mengapa kawasan yang identik dengan kreativitas, inovasi, dan sejarah pergerakan ini justru tertinggal dalam kompetisi keberlanjutan kota?

Keterputusan Visi Antarwilayah

Sejumlah pengunjung bermain di Taman Alun-Alun Bandung, Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Sabtu 5 April 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah pengunjung bermain di Taman Alun-Alun Bandung, Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Sabtu 5 April 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Salah satu kunci penilaian GreenCity Metrics adalah adanya citywide approach, hal ini melihat sejauh mana pemerintah daerah membangun integrasi lintas sektor dan wilayah dalam mengelola lingkungan hidup.

Di sinilah titik lemah Bandung Raya. Kota Bandung mungkin memiliki visi “Bandung Utama” dengan semangat smart dan green city, namun Kabupaten Bandung dan Bandung Barat membawa prioritas yang berbeda, cenderung pragmatis pada kebutuhan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi.

Koordinasi antardaerah dalam kawasan metropolitan ini masih bersifat event-based yang muncul ketika ada program nasional atau kompetisi, namun tak berlanjut menjadi sistem kolaboratif yang berkelanjutan. Isu transportasi publik misalnya, dikelola secara terpisah, Kota Bandung mengembangkan sistem bus listrik, sementara Kabupaten Bandung berjuang menata angkot.

Padahal, tanpa integrasi antarwilayah, upaya pengurangan emisi dan efisiensi energi sulit tercapai secara sistemik. UI GreenCity Metrics menilai koordinasi semacam ini sebagai indikator kunci dalam dimensi tata guna lahan dan transportasi berkelanjutan. Ketika koordinasi minim, skor pun ikut merosot.

Bandung Raya ibarat rumah besar dengan empat kamar yang indah, tapi tiap kamar sibuk menata diri sendiri tanpa memperhatikan atap yang bocor.

Pertumbuhan Kota yang Tidak Terkendali

Selama dua dekade terakhir, Bandung Raya menghadapi tekanan urbanisasi yang masif. Data BPS menunjukkan bahwa populasi gabungan keempat wilayahnya kini melampaui 8 juta jiwa. Pertumbuhan ini diiringi oleh ekspansi kawasan perumahan, industri, dan komersial yang menekan ruang terbuka hijau (RTH).

Kota Bandung, misalnya, hanya memiliki sekitar 12 persen RTH publik dari total luas wilayahnya, capaian ini jauh di bawah target nasional 30 persen. Kabupaten Bandung Barat pun menghadapi deforestasi mikro akibat maraknya alih fungsi lahan di kawasan Lembang dan Padalarang.

Dalam konteks GreenCity Metrics, kondisi ini berdampak langsung pada dimensi land use and infrastructure, yang menilai keseimbangan antara ruang hijau dan ruang terbangun. Kota-kota seperti Denpasar dan Balikpapan unggul karena mampu menahan laju urbanisasi sekaligus memperkuat fungsi ekologis ruang publiknya. Sementara Bandung Raya terjebak dalam paradoks: semakin banyak proyek revitalisasi taman dan trotoar di pusat kota, tetapi ruang hijau di pinggiran justru terus tergerus.

Di atas kertas, program “Citarum Harum” menjadi salah satu kebijakan ikonik yang seharusnya mendongkrak citra hijau Jawa Barat. Namun dalam praktiknya, penanganan sungai ini belum menyentuh dimensi tata kelola air perkotaan secara utuh. Sampah rumah tangga, limbah domestik, hingga sedimentasi masih menjadi persoalan sehari-hari. Hasilnya, skor Bandung Raya di dimensi water management tetap tertinggal jauh dari kota-kota pesisir yang lebih terorganisir.

Ketimpangan Antara Inovasi dan Implementasi

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Bandung dikenal sebagai kota inovasi. Banyak kampus dan komunitas kreatif yang melahirkan ide-ide urban hijau seperti taman tematik, pengelolaan sampah digital, hingga konsep eco-village. Namun, dalam konteks GreenCity Metrics, inovasi semata tidak cukup.

Penilaian UI GreenCity menekankan bukti konkret, indikator kuantitatif, serta konsistensi implementasi kebijakan. Kota Bandung kerap unggul dalam presentasi konsep, tetapi tertinggal dalam dokumentasi dan bukti terukur. Misalnya, proyek transportasi listrik belum memiliki data valid tentang dampak penurunan emisi CO₂, sehingga tidak bisa diakui sebagai capaian dalam indikator energi dan mitigasi iklim.

Inilah yang menjelaskan mengapa banyak kota besar yang lebih “senyap” justru bisa menyalip Bandung Raya. Surabaya misalnya, memiliki sistem waste-to-energy yang terukur dan terdokumentasi baik, dengan pengelolaan bank sampah di 500 lebih titik. Sementara Bandung masih bergulat dengan krisis TPA Sarimukti dan tumpukan sampah di bantaran sungai. Ketika data dan kebijakan tidak berjalan seirama, keberlanjutan hanya menjadi jargon.

Keterbatasan bukti administrasi dan sistem pelaporan juga menjadi tantangan. Berdasarkan template evidence yang digunakan dalam penilaian UI GreenCity, setiap kota harus menyiapkan dokumen pendukung mulai dari rencana aksi, laporan emisi, hingga dokumentasi foto lapangan. Banyak pemerintah daerah yang gagal bukan karena tidak memiliki program, tetapi karena tidak siap dengan evidence-based reporting. Bandung Raya pun tidak luput dari masalah ini.

Edukasi Lingkungan Belum Menjadi Gerakan Sosial

Dimensi terakhir dalam GreenCity Metrics yaitu pendidikan dan kesadaran masyarakat, hal ini menjadi cermin sejati dari budaya kota. Di Bandung Raya, edukasi lingkungan sering kali berhenti di tataran kampanye musiman seperti lomba kebersihan, penghijauan sekolah, atau festival lingkungan. Padahal kota yang berkelanjutan menuntut perubahan perilaku warga secara kolektif dan berkelanjutan.

Program pemilahan sampah rumah tangga misalnya, belum benar-benar menjadi kebiasaan. Transportasi publik masih dianggap opsi terakhir, bukan pilihan sadar. Kesadaran warga untuk mengurangi konsumsi energi juga masih rendah. Dalam hal ini, Bandung Raya kalah jauh dibandingkan kota-kota seperti Denpasar yang memiliki kurikulum lingkungan sejak sekolah dasar, atau Balikpapan yang melibatkan komunitas warga dalam pengawasan drainase dan kebersihan sungai.

Kesadaran ekologis bukan hanya soal regulasi, tetapi budaya. Dan Bandung, dengan segala potensi kreativitasnya, justru kehilangan momentum untuk menjadikan isu hijau sebagai bagian dari gaya hidup urban baru. GreenCity Metrics menilai hal-hal seperti ini bukan dari seberapa besar kampanye dilakukan, tetapi dari sejauh mana warga terlibat dalam praktik nyata.

Momentum untuk Berbenah

Transportasi umum di Kota Bandung yang murah, nyaman, dan terintegrasi sangat dibutuhkan warganya dalam mendukung aktivitas sehari-hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Transportasi umum di Kota Bandung yang murah, nyaman, dan terintegrasi sangat dibutuhkan warganya dalam mendukung aktivitas sehari-hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ketertinggalan Bandung Raya dalam peringkat GreenCity Metrics seharusnya tidak dibaca sebagai kegagalan, melainkan peringatan. Indeks ini memberi cermin bahwa pembangunan kota kini tak lagi cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi atau infrastruktur, melainkan dari daya tahan ekologisnya. Bandung Raya perlu menggeser paradigma pembangunan dari “kota yang keren” menjadi “kota yang bertahan”.

Artinya, perlu ada perubahan pada tiga lapis utama yaitu tata kelola kawasan metropolitan yang integratif, kebijakan berbasis data dan bukti nyata, serta transformasi budaya warga. Pemerintah daerah perlu membangun sistem pelaporan lingkungan terpadu antarwilayah, memperkuat jejaring akademik untuk riset data emisi dan energi, serta menghidupkan kembali peran masyarakat dalam pengawasan lingkungan. Tanpa itu, kota ini akan terus bergerak cepat, tetapi menuju arah yang salah.

UI GreenCity Metrics bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan panggilan untuk introspeksi dalam memandang sejauh mana kota kita siap menghadapi masa depan yang semakin panas, padat, dan tidak pasti. Bandung Raya, dengan seluruh sejarah dan kecerdasan warganya, punya semua bahan untuk bangkit. Tapi seperti halnya gunung yang mengelilinginya, keindahan tidak cukup, yang dibutuhkan adalah keteguhan menjaga keseimbangan.

Bandung pernah menjadi simbol kemajuan dan perlawanan terhadap ketimpangan. Kini, tantangan baru hadir dalam bentuk lain yaitu menjaga kelestarian di tengah tekanan urban. Kegagalan masuk 10 besar UI GreenCity Metrics 2025 seharusnya tidak membuat Bandung Raya kecil hati, tetapi sadar diri. Sebab kota hijau bukan dibangun dari penghargaan, melainkan dari kebiasaan seperti dari keputusan kecil warga yang memilih berjalan kaki, menanam pohon, dan memilah sampahnya sendiri.

Bandung Raya masih punya waktu untuk menulis ulang kisahnya. Bukan sebagai kota yang pernah hijau, tapi sebagai kota yang memilih untuk hijau lagi, dan selamanya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)