Sampah Plastik di Bandung: Ancaman Sunyi yang Kita Ciptakan Setiap Hari

3 menit baca
Fikri  Syahrul Mubarok
Ditulis oleh Fikri Syahrul Mubarok diterbitkan
Tumpukan sampah di sekitar Pasar Cicadas, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Tumpukan sampah di sekitar Pasar Cicadas, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Sore itu seorang ibu pulang dari pasar. Di tangannya, lima kantong plastik berisi sayur, telur, dan daging segar. Sesampainya di rumah, anaknya membuka keripik, lalu membuang bungkusnya ke selokan tanpa berpikir panjang.

Di gang sebelah, anak-anak menikmati es batu dalam plastik bening yang langsung tergeletak di pinggir jalan. Semua berlangsung begitu biasa, seolah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Padahal, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan lebih dari 60 juta ton sampah setiap tahun, dan hampir seperlimanya adalah plastik.

Jika selembar plastik kecil saja bisa bertahan ratusan tahun di bumi, pernahkah kita bertanya dalam hati ke mana semua plastik yang kita buang itu pergi? Pertanyaan ini jarang muncul karena efeknya tidak terasa hari ini tetapi diam-diam sedang mengganggu tanah, air, dan tubuh manusia.

Plastik dibuat dari bahan berbasis minyak bumi dan gas alam. Ia dirancang kuat, lentur, dan tidak mudah rusak karakteristik yang membuatnya disukai industri. Namun justru karena sifat “tahan lama” itulah, plastik menjadi mimpi buruk bagi alam.

Ia tidak bisa terurai oleh mikroorganisme seperti daun atau makanan sisa; plastik hanya hancur menjadi serpihan kecil yang disebut mikroplastik. Penelitian yang dilakukan L. Rochman pada tahun 2016 menemukan bahwa partikel mikroplastik dapat masuk ke tubuh manusia melalui ikan laut, garam dapur, dan air minum.

Ilustrasi. Tumpukan sampah. (Sumber: Ayobandung.id)
Ilustrasi. Tumpukan sampah. (Sumber: Ayobandung.id)

Artinya, plastik yang kita buang hari ini berpotensi kembali masuk ke tubuh kita dalam bentuk yang tak terlihat, membawa risiko kesehatan yang belum sepenuhnya kita pahami.

Dari sisi sosial dan lingkungan, plastik adalah cermin dari gaya hidup modern yang tidak memikirkan konsekuensi jangka panjang. Teori Ecological Modernization menjelaskan bahwa perubahan teknologi dan ekonomi tanpa keseimbangan lingkungan menciptakan masalah baru yang lebih kompleks.

Konsumsi plastik di Indonesia meningkat seiring kemudahan belanja, makanan cepat saji, dan barang murah yang dikemas menarik. Laporan World Bank (2021) menunjukkan bahwa negara-negara berkembang mengalami lonjakan sampah plastik akibat urbanisasi dan budaya praktis yang makin mengakar. Di kota, plastik menumpuk di TPA yang sudah hampir penuh. Di desa, plastik sering dibakar karena ketiadaan fasilitas pengolahan sampah menghasilkan asap beracun yang perlahan masuk ke paru-paru kita.

Yang membuat persoalan ini semakin rumit adalah cara kita memandang sampah. Kita terbiasa berpikir bahwa sampah adalah urusan pemerintah, truk pengangkut, atau petugas kebersihan. Sikap “asal buang” menjadi normal. Inilah yang disebut sebagai tragedy of the commons: ketika ruang publik dimanfaatkan secara bebas, namun tanggung jawabnya dihindari. “

Tidak apa-apa, hanya satu plastik,” begitu kata banyak orang.

Namun jutaan “satu plastik” berubah menjadi banjir di selokan, bau busuk di sungai, dan tumpukan hitam di pesisir pantai. Kita baru tersadar ketika dampaknya menghampiri rumah air got meluap, anak-anak sakit kulit, ikan yang dibeli di pasar terasa amis dan mencurigakan.

Meski begitu, harapan selalu ada ketika manusia bergerak bersama. Banyak warga membentuk bank sampah, menukar plastik dengan uang atau produk kebutuhan rumah tangga. Beberapa masjid menginisiasi program “Masjid Hijau,” mengumpulkan sampah plastik setelah acara keagamaan lalu menjualnya untuk kegiatan sosial. Tindakan kecil seperti membawa tas kain sendiri, memakai botol minum isi ulang, atau memilah sampah di rumah mungkin terlihat sederhana. Namun ketika dilakukan banyak orang secara konsisten, dampaknya bisa jauh lebih besar dari yang kita bayangkan.

Baca Juga: Trotoar di Bandung Semrawut: Dari Jalur Aman Menjadi Arena Berebut Ruang

Sampah plastik bukan hanya soal benda bekas yang tidak terpakai ia merefleksikan siapa kita sebagai masyarakat. Kita terbiasa dengan kenyamanan cepat, tetapi lupa bahwa bumi tidak memiliki kemampuan yang sama untuk membersihkan diri. Jika kita terus bersikap acuh, generasi yang akan datang mungkin tumbuh di lingkungan yang airnya tercemar, sungainya mati, dan lautnya penuh partikel plastik.

Coba bayangkan dua puluh tahun lagi: apakah anak-anak masih bisa berenang di sungai tanpa rasa takut? Apakah ikan laut masih bisa dikonsumsi tanpa rasa khawatir? Atau apakah kita akan hidup di kota-kota yang tampak bersih, namun beracun secara diam-diam?

Perubahan tidak dimulai dari kebijakan megah atau kampanye besar. Perubahan dimulai dari pilihan kecil di dapur, di pasar, di warung, bahkan di kantong belanja kita. Pertanyaan yang tinggal kita jawab adalah apakah kita benar-benar ingin menunggu bumi menyerah, sebelum berhenti berkata “ini cuma satu plastik”? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Fikri  Syahrul Mubarok
mahasiswa juruesan Komunikasin Penyiaran Islam semester 5, sorang jurnalis muda dan seorang penulis

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 21 Jun 2026, 13:04

5 Kuliner Semarang Pilihan yang Wajib Dicoba Wisatawan

Dari lumpia khas Pecinan hingga tahu gimbal dan nasi ayam malam hari, inilah rekomendasi kuliner Semarang yang wajib masuk daftar perjalanan Anda.

Kuliner Tahu Gimbal. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)