Insinerator Digencarkan, Tapi Bukan Solusi Tuntas Atasi Krisis Sampah di Kota Bandung

6 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Salah satu insinerator di tempat pembuangan sampah di Kota Bandung. (Sumber: Pemkot Bandung)
Salah satu insinerator di tempat pembuangan sampah di Kota Bandung. (Sumber: Pemkot Bandung)

AYOBANDUNG.ID - Krisis sampah di Bandung Raya memuncak seiring menipisnya kapasitas TPA Sarimukti. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengambil langkah cepat.

“Dalam rapat Pak Gubernur menyampaikan bahwa tidak bisa kita hanya mengandalkan Sarimukti karena terbatas. Jadi harus ada upaya progresif dari kabupaten kota di cekungan Bandung dan kita akan perjuangkan bersama-sama,” ujar Sekda Jabar, Herman Suryatman beberapa waktu lalu.

TPA Sarimukti kini hanya bertumpu pada Zona 3 yang tersisa sekitar 50.000 ton. Dengan timbunan sampah harian mencapai 1.200 ton, daya tampung itu diperkirakan hanya bertahan 41 hari. “Zona 3 Sarimukti tinggal 41 hari lagi. Tapi kami sudah antisipasi. Zona 5 sedang dalam tahap finishing dan ditargetkan operasional pertengahan Juni (2025),” kata Herman.

Namun pemerintah sadar, solusi jangka pendek tidak cukup. Pemdaprov Jabar bersama pemda di Bandung Raya menyiapkan strategi lebih besar: menghadirkan insinerator skala menengah berbasis teknologi Motah yang mampu mengolah 10 ton sampah per hari.

“Untuk mengurangi ketergantungan pada Sarimukti, kita butuh sekitar 84 insinerator tambahan. Proyeksinya senilai Rp117 miliar dan akan dibagi secara gotong royong antara provinsi dan kabupaten kota,” jelas Herman.

Kota Bandung menjadi penerima terbanyak, yakni 43 unit. Pemerintah juga meminta teknologi pengolahan lain seperti maggot dan composting dioptimalkan. “Pak Gubernur minta semua insinerator yang ada sekarang difungsikan maksimal,” ujar Herman. Upaya ini disambung dengan skema jangka panjang seperti proyek Legok Nangka.

Namun, di lapangan, insinerator bukan tanpa masalah. Kota Bandung sebelumnya pernah memasang insinerator kecil di tingkat RW untuk mengurangi sampah rumah tangga. Hasilnya belum signifikan, justru memunculkan persoalan baru terkait polusi udara dan keamanan lingkungan.

Aktivis lingkungan dari Nexus3 Foundation, Nindhita Proboretno, menilai kebijakan ini terlalu instan. "Ya jadi kita tuh akhir-akhir ini melihat pemerintah tuh untuk mengatasi permasalahan sampah malah membuat solusi, pengen membuat solusi instan gitu ya. Pengen sampah tuh sesegera mungkin hilang dari pandangan gitu ya,” ujarnya.

Ia mengkritisi bahwa penggunaan insinerator tidak boleh hanya soal teknis pembakaran. “Nah itu tapi yang harus kita kritisi, itu benar enggak alatnya aman dan sebagainya,” katanya. Menurutnya, teknologi seperti RDF dan pirolisis pun belum tentu menjadi jawaban karena tetap menghasilkan emisi berbahaya.

Lebih jauh, ia menyebut sebagian insinerator kecil di permukiman justru tak layak disebut insinerator. “Di setiap RW atau kelurahan tuh pasti ada gitu yang kecil-kecil insineratornya, itu bagi kami bukan insinerator, cuma pembakaran terbuka di dalam wadah aja," ujarnya.

Bahaya yang mengintai bukan hanya asap, tetapi senyawa kimia berbahaya seperti dioksin. “Jika insinerator tidak memenuhi beberapa hal yang harus diperhatikan tersebut, senyawa Dioksin yang berbahaya akan terbentuk dan dilepaskan ke lingkungan melalui udara dan abu hasil pembakaran," kata Nindhita. Ia menyebut dampak jangka panjang dioksin dapat menyebabkan kanker, gangguan hormon, reproduksi, hingga perkembangan anak dan janin.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, pun mengakui bahwa penggunaan insinerator tak bisa serampangan.

“Insinerator boleh, tapi dengan syarat yang sangat ketat. Ada beberapa sertifikasi yang harus dilakukan, bahkan untuk beberapa hal perizinannya sudah sampai ke level AMDAL," tegasnya.

Ia juga menggarisbawahi bahwa insinerator bukan solusi utama. “Insinerator itu pilihan terakhir untuk pemusnahan. Kita harus betul-betul pemilahan yang benar, pengolahan yang benar, dan pemanfaatan yang benar.”

Pemkot Bandung bahkan memutuskan menghentikan sementara pengoperasian mesin insinerator kecil. Kepala DLH Kota Bandung, Darto, mengatakan kebijakan ini diambil karena sebagian alat belum memenuhi standar. “Yang kecil-kecil karena kita tidak bisa memastikan bahwa itu sudah ber-SNI, memiliki standar SNI, kemudian operatornya juga memiliki KBLI yang memadai,” ujarnya.

Ia juga menilai pengolahan sampah lebih baik dilakukan terpusat dalam unit minimal 10 ton per hari agar mudah diawasi. “Daripada kecil-kecil banyak, mending disatukan dalam bentuk yang minimal 10 ton sehari, supaya kita memantaunya, mengontrolnya gampang," ucapnya. Namun ia tak menampik bahwa teknologi thermal seperti insinerator tetap berpotensi mencemari udara. "Polusi itu harus dikendalikan sesuai dengan regulasi, harus sesuai Peraturan KLHK 2023 mesinnya," katanya.

Artinya, rencana pengadaan 84 insinerator bukan tanpa konsekuensi. Di satu sisi, pemerintah mengejar solusi cepat mengurangi volume sampah. Di sisi lain, risiko emisi beracun, abu berbahaya, dan polusi udara—terutama jika tidak dipantau ketat—masih menghantui. Krisis sampah mungkin berkurang di mata, tapi tak serta-merta hilang dari udara yang dihirup warga Bandung.

Tumpukan sampah di sekitar Pasar Cicadas, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Tumpukan sampah di sekitar Pasar Cicadas, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Insinerator Masih Menyisakan Banyak Masalah

Menurut fakta Trash Incineration (“Waste-to-Energy”) yang dirilis Energy Justice Network, selama ini insinerator sering dipromosikan sebagai cara modern mengolah sampah menjadi energi. Namun kenyataannya, teknologi ini justru paling mahal dan paling mencemari dibanding pilihan lain seperti daur ulang atau kompos.

Di Amerika Serikat, hanya sekitar 11 persen sampah yang dibakar. Sisanya lebih banyak dipilah, diolah, atau dibuang ke landfill. Agar terdengar lebih ramah, industri memakai istilah seperti waste-to-energy atau resource recovery, padahal secara hukum tetap dikategorikan sebagai insinerasi.

Banyak pihak mengira insinerator bisa menghasilkan listrik, tetapi sebenarnya lebih banyak energi yang hilang dibanding manfaatnya. Jika kertas, plastik, dan bahan organik didaur ulang atau dikomposkan, energi yang dihemat bisa tiga hingga lima kali lebih besar daripada energi yang dihasilkan dari membakar sampah tersebut. Sampah juga bukan sumber energi terbarukan karena berasal dari bahan yang diambil dari alam, seperti kayu dan minyak bumi. Dengan adanya insinerator, muncul kebutuhan pasokan sampah terus-menerus yang akhirnya menghambat upaya pengurangan dan daur ulang.

Masalah lain muncul dari sisi keadilan lingkungan. Banyak insinerator dibangun di daerah yang dihuni komunitas berpenghasilan rendah atau masyarakat berwarna. Artinya, kelompok yang sudah rentan justru paling banyak terkena dampak polusi dari fasilitas ini. Bahkan dalam beberapa kasus, faktor ras lebih menentukan dibanding tingkat ekonomi.

Dari sisi polusi udara, insinerator jauh lebih kotor dibanding pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. Untuk menghasilkan energi dalam jumlah yang sama, insinerator menghasilkan 28 kali lebih banyak dioxin, enam kali lebih banyak timbal dan merkuri, serta emisi karbon dioksida hampir dua setengah kali lipat. Sampah yang dibakar tidak berubah menjadi uap air, tetapi menghasilkan racun seperti arsenik, klorin, logam berat, hingga dioxin dan furan.

Setelah dibakar, sampah tidak hilang begitu saja. Yang tersisa adalah abu sangat beracun yang tetap harus dibuang ke landfill. Abu ini lebih mudah terbawa angin dan lebih cepat mencemari air tanah dibanding sampah biasa. Jadi, insinerator tetap butuh landfill, hanya saja versinya lebih kecil tapi jauh lebih berbahaya.

Pengawasan emisi insinerator juga sangat minim. Kebanyakan hanya memantau tiga jenis polutan—karbon monoksida, nitrogen oksida, dan sulfur dioksida—secara rutin. Sementara zat beracun lainnya hanya diuji setahun sekali atau bahkan tidak diukur. Artinya, bisa jadi insinerator melepaskan polusi lebih tinggi ketika sedang tidak diawasi.

Dampaknya terhadap kesehatan pun sangat serius. Studi di sekitar lokasi insinerator menemukan peningkatan kelahiran bayi prematur, cacat lahir, dan berbagai jenis kanker seperti kanker paru, lambung, hati, hingga leukemia pada anak-anak. Para pekerja insinerator juga ditemukan memiliki kadar dioxin lebih tinggi dalam darah.

Selain berisiko bagi kesehatan, insinerator ternyata juga paling mahal secara biaya. Mereka membutuhkan modal pembangunan hingga sembilan kali lebih besar dibanding pembangkit listrik tenaga gas alam, dan biaya operasionalnya bisa mencapai 30 kali lebih mahal. Banyak pemerintah daerah akhirnya terjebak kontrak put-or-pay, yaitu tetap harus membayar walaupun sampah yang masuk tidak sesuai target. Beberapa kota di Amerika bahkan bangkrut karena beban biaya ini.

Dari sisi lapangan kerja, insinerator juga tidak menguntungkan. Untuk setiap 10.000 ton sampah, teknologi ini hanya menciptakan satu pekerjaan. Sebaliknya, industri daur ulang menciptakan sepuluh lapangan kerja, dan kegiatan guna ulang atau perbaikan barang bisa menghasilkan jauh lebih banyak kesempatan kerja.

Melihat seluruh fakta tersebut, insinerator bukan jalan keluar terbaik untuk masalah sampah. Alih-alih membakar, solusi masa depan lebih pada pengurangan sampah dari sumbernya, pemilahan, daur ulang, kompos, hingga desain ulang produk agar tidak menghasilkan limbah. Pendekatan zero waste menjadi lebih masuk akal: lebih murah, lebih sehat, dan lebih adil bagi masyarakat dan lingkungan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)