Gerakan Warga Kota Bandung Mengubah Kebiasaan Buang Jelantah Sembarangan

5 menit baca
Ikbal Tawakal
Ditulis oleh Ikbal Tawakal diterbitkan
Warga membuang minyak goreng bekas atau jelantah ke dalam tabung UCOllet di Gereja Katolik Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, Buahbatu, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Warga membuang minyak goreng bekas atau jelantah ke dalam tabung UCOllet di Gereja Katolik Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, Buahbatu, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

AYOBANDUNG.ID – Di balik gurih dan renyahnya makanan yang digoreng, tersimpan satu bahan yang kerap luput dari perhatian: minyak goreng. Setiap kali wajan dipanaskan dan adonan tenggelam dalam minyak panas, sesungguhnya ada limbah yang perlahan menumpuk. Minyak yang telah berubah warna menjadi pekat itu dikenal sebagai jelantah.

Banyak orang membuangnya begitu saja, tanpa menyadari dampaknya bagi tanah dan air. Padahal, jika tidak dikelola dengan baik, jelantah dapat mencemari lingkungan dan merusak ekosistem di sekitarnya. Sebaliknya dengan pengelolaan limbah yang baik, jelantah bisa menjadi duit.

Sebagian pedagang menganggap minyak bekas hanya limbah dapur yang bisa diabaikan atau dibuang dimana saja. Eti (61), penjual gorengan di Pagarsih, mengaku membuangnya begitu saja.

Minyak jalantah mah teu dikumpulkeun deui. Eta we mun nyuci ketel kan milu palid. Teurang eta oge tiasa diical deui ka bandar, tapi abdi mah teu pernah kitu, da teu seeur oge jalantahna (Minyak jelantah tidak saya kumpulkan lagi. Kalau mencuci wajan, biasanya ikut terbawa aliran air ke saluran pembuangan. Sebenarnya saya tahu minyak itu bisa dijual ke penadah, tapi saya tidak pernah melakukannya karena minyak bekas saya juga tidak terlalu banyak),” katanya sambil mengaduk adonan gorengan yang sedang digoreng di minyak mendidih.

Minyak gorengan di sebuah penjual gorengan di Kota Bandung. (Foto: Faisal Fachmy)
Minyak gorengan di sebuah penjual gorengan di Kota Bandung. (Foto: Faisal Fachmy)

Dalam sehari, Eti menggunakan sekitar dua liter minyak goreng baru. Minyak itu dipakai berulang kali hingga keruh dan kental. Setelah itu, sisa jelantah akan ikut hanyut bersama air cucian ke saluran pembuangan tanpa pikir panjang.

Berbeda dengan Eti, Wahyu (49), pedagang pecel lele di Jalan Buahbatu, justru memilih membawa minyak bekasnya pulang.

“Ya lumayan banyak (jelantah), itu dibawa aja ke rumah. Biasanya dibuang di tanah, kalau sembari dicuci sempat mampet saluran air di rumah,” tuturnya.

Ia mengaku baru tahu bahwa jelantah bisa dijual atau didaur ulang setelah mendengar ada perusahaan yang menampungnya.

“Kalau ke tanah mungkin gakan terlalu kelihatan efeknya, enggak kayak dibuang ke air atau selokan. Tahunya dijual ke bandar jelantah, baru tahu ada Noovoleum,” sambungnya.

Sementara itu, Restu (27), penjual gorengan di kawasan Dipatiukur, menganggap kebiasaan membuang jelantah sudah jadi rutinitas turun-temurun.

“Mungkin udah kebiasaan, jadi enggak tahu dampaknya jelek. Saya bawa (jelantah) ke rumah kadang dibuang dulu atau langsung dicuci aja. Hilang mengalir dibawa air sabun,” katanya.

Kebiasaan dari para penjual ini menggambarkan realitas yang kerap luput dari perhatian: limbah minyak goreng mengalir diam-diam ke tanah dan sungai, menimbulkan dampak ekologis yang tak kasat mata. Ketika minyak bekas itu bercampur dengan tanah, pori-porinya tertutup dan kesuburannya berkurang. Jika masuk ke saluran air, lemaknya mengeras dan menyumbat pipa dan ketika terbawa arus ke sungai atau laut, minyak itu mengapung di permukaan, menghalangi sinar matahari, dan mengganggu kehidupan biota air.

Ini baru sebagian dari penjual kecil-kecilan, bagaimana dengan penjual makanan kelas kakap atau tetesan dari ratusan juta dapur rumah tangga.

Survei Katadata Insight Center (KIC) tahun 2020 menunjukkan, hanya 35,7 persen rumah tangga yang tidak membuang minyak bekas mereka. Sebanyak 73,3 persen responden mengaku tidak tahu cara mengolah jelantah, 38,9 persen tidak tahu ke mana harus menjual, dan 34,4 persen merasa repot. Angka ini menunjukkan persoalan utama bukan semata niat, melainkan kesadaran dan informasi yang minim.

Inisiator BERKAH SARI Yosafat Nugroho dan Antonius Sapto M bersama menuangkan sekompan kecil jelantah ke tabung UCOllet di Gereja Katolik Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, Cijagra, Buahbatu Kota Bandung pada Selasa, 7 Oktober 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Inisiator BERKAH SARI Yosafat Nugroho dan Antonius Sapto M bersama menuangkan sekompan kecil jelantah ke tabung UCOllet di Gereja Katolik Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, Cijagra, Buahbatu Kota Bandung pada Selasa, 7 Oktober 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Namun, di sisi lain kota yang sama, kesadaran itu mulai tumbuh. Di Gereja Katolik Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, Cijagra, Buahbatu, sekelompok umat mencoba membalik paradigma: dari limbah menjadi berkah. Gerakan itu dipelopori oleh dua pria, Yosafat Nugroho (58) dan Antonius Sapto M (58), yang terinspirasi oleh Laudato Si, ensiklik Paus Fransiskus tentang tanggung jawab manusia terhadap bumi.

Laudato Si yang diterbitkan pada Mei 2015 menjadi dasar lahirnya program Berkah Sari. “Salah satu gerakan yang ingin kami giatkan adalah Laudato Si. Ini adalah ajaran gereja tentang bumi, alam, dan lingkungan adalah ciptaan Tuhan dan kita sebagai manusia harus menjaga dan merawat bumi kita bersama,” kata Nugroho, Selasa, 7 Oktober 2025.

Dia menjelaskan tentang bahaya jelantah jika dibuang sembarangan.

“Jika sudah parah, bisa menyebabkan banjir. Misal jelantah yang dibuang ke selokan lalu berkumpul di danau atau laut ini juga bahaya. Karena sifat yang tak bisa menyatu antara air dan minyak. Ia akan membuat film yang menahan sinar matahari masuk, automatis biota pendukung ekosistem akan mati,” tuturnya.

Bagi Nugroho, gerakan ini bukan hanya tentang lingkungan, tapi juga solidaritas sosial.

“Mengingat tidak semua individu punya finansial yang kuat untuk menyumbang, dengan adanya donasi jelantah ini semua bisa ikut terlibat,” ucapnya. Setiap liter jelantah yang disumbangkan diolah menjadi dana untuk membantu pembangunan Gereja St. Antonius Padua Rancasari yang sudah berjalan sejak Desember 2024.

Hingga September 2025, donasi yang terkumpul mencapai Rp69.950.752. Gereja bekerja sama dengan perusahaan Noovoleum yang menyediakan jerigen UCOllect untuk menampung minyak.

Warga berbincang tentang minyak goreng bekas atau yang dikenal sebagai jelantah yang bisa dijual di Jalan Raden Patah No. 6, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Warga berbincang tentang minyak goreng bekas atau yang dikenal sebagai jelantah yang bisa dijual di Jalan Raden Patah No. 6, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

“Pihak gereja mengajukan untuk kerjasama kemudian setelah jerigen penuh, Noovoleum akan mengambil jelantah. Harga satu liter itu fluktuatif, yang terakhir Rp6.000 per liter,” ujar Nugroho.

Selain berperan dalam penggalangan dana, kerja sama ini juga menjadi langkah kecil melawan praktik gelap penjualan jelantah yang disuling ulang untuk dikonsumsi.

“Tidak sedikit penadah minyak jelantah mengolahnya lagi menjadi bening kemudian dijual lagi untuk dipakai. Itukan tidak sehat, kasinogennya karena sudah terkena panas,” katanya.

Kesadaran baru itu tidak lahir begitu saja.

“Ragu karena konsep awalnya adalah minyak jelantah. Seiring berjalannya waktu, jemaat mulai sadar sendiri dan ada nilai ibadah dan ekonomis juga didapat,” kata Sapto.

Sapto paham betul gerakan mengelola limbah minyak goreng ini memiliki tantangan dan keterbatasan. Terutama soal kesadaran.

“Kami berharap ada kesadaran kolektif yang lebih luas tentang ancaman iklim bagi bumi. Seperti masalah jelantah ini, kemudian memilah sampah, mungkin hal kecil tapi ini perlu digaungkan karena itu ajaran Laudato Si,” tutur Nugroho.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)