Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Selasa 03 Feb 2026, 17:02 WIB
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)

Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)

Asal katanya ramida-ramada yang terdiri dari ra, mim, dan dhad. Rangkaian huruf ini secara arti berhubungan dengan panas, pembakaran, atau sesuatu yang membakar. Ramadan telah menjadi nama pada salah satu bulan sistem kalender Arab pra-Islam, kemungkinan waktunya jatuh pada puncak musim kemarau. Pastinya pada hari-hari itu cuaca akan terasa sangat terik yang menyebabkan banyak orang merasa tidak nyaman, apalagi harus berjalan di bawah sorot matahari. Bayangkan saja situasi ini terjadi di tanah gersang dan berpasir.

Suasana hingga makna seperti ini yang diambil Islam untuk melihat lagi Ramadan. Bulan yang dapat menggugurkan dosa dan menyucikan jiwa, sebagaimana sakit demam dan panas neraka. Proses "pembakaran" adalah cara kerja Ramadan agar kita kembali pada keadaan fitrah insani. Allah menyeru kepada orang beriman untuk mengambil waktu perhentian sejenak guna menahan diri. Membiarkan sengatan “panas” menjalar pada seluruh tubuh, terpapar rasa lapar dan menolak sementara gejolak hasrat seksual. Kita belajar menunda keinginan materialistik, malah menyirnakan pikiran picik. Inilah yang disebut dengan shaum yang berarti menahan diri.

Puasa adalah wahana yang sengaja dirancang Allah untuk kita merasa lapar. Oleh karena itu, adalah hal yang lucu, jika saat makan sahur kita makan sebanyak mungkin dengan alasan “biar nanti siang enggak lapar”. Tidur sepanjang siang Ramadan yang menjadi jurus andalan untuk mengakali durasi puasa, juga terlalu menggelikan untuk dipikir lagi. Termasuk ngabuburit yang kalap membeli segala rupa kudapan. Apalagi pas waktu berbuka tiba, kita seperti berbalas dendam dengan rasa lapar hingga begah.

Shaum

Ilustrasi santri di Indonesia. (Sumber: Unsplash/Muh Makhlad)
Ilustrasi santri di Indonesia. (Sumber: Unsplash/Muh Makhlad)

Satu hari berpuasa, satu kali melewatkan jatah makan siang. Meninggalkan puasa, tidak bisa lepas dari kewajiban pribadi untuk mengganti puasa pada hari yang lain. Atas alasan syar’i tertentu, puasa qada ini dapat diganti dengan mengeluarkan satu kali jatah makan wajar (kebiasaan) sehari-hari bagi orang miskin. Inilah fidyah, ketentuan fikih yang seharusnya mencelikkan kita agar betul-betul meresapi makna puasa. Kita diajak Allah pada suasana kemiskinan dan tubuh yang berkelaparan. Melalui keresahan perut kita dipanggil untuk menjumpai penderitaan di sekitar, meninggalkan puasa itu dosa. Kewajiban qada atau fidyah adalah perintah nyata agar kita ikut bertanggungjawab pada masalah kemiskinan.

Maka dari itu, tidak makan dan minum saja, tidaklah cukup; malah anak-anak pun bisa menunaikan puasa yang semodel ini. Puasa adalah mengalihkan jatah makan kita sendiri kepada mereka yang membutuhkan. Tentu kita dibuatnya tidak nyaman dengan hal ini, sebab kita merasa memiliki jatah tersebut. Namun suasana yang “membakar” itulah, menjadi cara Allah mendidik umat beriman agar kian pandai mengasah kepekaan. Dalam panjang puasa Ramadan, siang akan menjadi momen untuk menengok dan menghayati ringis rasa lapar yang datang secara secara istiqamah.

Bukan hanya bicara pada waktu yang lama, puasa juga bersifat privat. Sebab puasa merupakan ibadah tersembunyi, hanya Allah dan kita yang tahu. Orang-orang mungkin berdusta dengan sengaja membatalkan puasanya. Dengan begitu ibadah puasa tidak pantas untuk ajang riya’. Orang yang sejatinya berpuasa tidak akan menampakkan dirinya, tidak haus akan penghormatan dari orang lain. Dia dengan riang gembira mentraktir sahabat non-muslimnya pas jam makan siang. Dia adalah mukmin yang tidak goyah dengan aroma terasi, kopi, dan mi goreng, justru berlembut hati berusaha memahami bahwa tidak semua orang diwajibkan berpuasa: anak-anak, orang sakit, lansia, perempuan hamil dan menyusui, musafir, dan pekerja berat. Sekalipun di sekitarnya banyak orang yang mokel atau godin.

Cukuplah baginya derita lapar itu, tidak ada drama yang memaksa warung-warung nasi untuk mengulurkan gorden yang menjuntai. Sebab bukankah seperti itu yang dirasakan orang miskin sepanjang hari dan setiap harinya? Mereka menatap lumernya es krim dan mendengar seruputan kuah kaldu. Sebelas bulan dalam setahun, orang miskin berpuasa seumur hidupnya. Dalam lakon puasa Ramadan, bersama sahur dan iftar yang berkecukupan malah penuh kemewahan, tidaklah sebanding dengan keadaan yang dihadapinya. Tapi mengapa kita masih merasa berat menjalankan puasa?

Puasa yang Sempurna

Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)

Bersamaan dengan rasa lapar yang timbul karena berpuasa, kita sedang belajar jadi orang miskin sekaligus berkali-kali terjatuh pada penyembahan ego, apatisme, dan gaya hidup konsumtif. Maka diperintahkan lagi atas kita untuk menyempurnakan kecerobohan puasa kita dengan menunaikan zakat fitrah. Melalui ibadah ini, kegagalan kita dalam merasakan lapar harus ditebus dengan memulihkan rasa lapar yang ‘sungguhan’. Setidaknya meringankan sedikit penderitaan orang miskin, membawa kabar bahagia dengan satu sha’ kurma/ gandum (qiyas: makanan pokok, beras, uang). Inilah barang yang akan menjadi bekal bagi orang miskin beridulfitri.

“Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin.” Begitu pentingnya zakat fitrah, ia tidak boleh ditunaikan setelah salat hari raya atau matahari terbenam pada hari itu. Hal ini adalah siratan yang senada dengan syariat yang mengharamkan berpuasa pada hari tersebut, bahwa Allah menghendaki jangan ada yang berkelaparan!

Ada waktunya berpuasa, ada waktunya berbuka. Secara hari, kita punya waktu maghrib yang akan tiba. Begitupun secara bulan kita punya hilal baru yang akan tampak. Keduanya merupakan waktu berbahagia yang ditunggu oleh kita yang berpuasa. Lalu, kapankah orang miskin yang berpuasa sepanjang hayat itu akan memperoleh waktu berbukanya? Bukankan ini yang dikabarkan Rasulullah saw. tentang kegembiraan yang akan diraih oleh orang yang berpuasa, selain kelak akan bertemu Tuhannya?

Baca Juga: Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Biarlah idulfitri kita persiapkan untuk dimiliki orang miskin. Melalui semangat berpuasa yang disempurnakan zakat di bulan Ramadan, kita sedang belajar merangkai kebahagiaan-kebahagiaan kecil bagi mereka yang berkelaparan. Sejak puasa pertama dimulai nanti, kita akan berikhtiar menjalani puasa dengan hati yang lapang. Tidak berhenti di Ramadan, puasa sunnah ba'da lebaran (afdhal pada tanggal 2-7 Syawal) akan menjadi pengingat bahwa semangat ini akan terus kita emban pada bulan-bulan berikutnya; sepanjang hayat sebagaimana orang-orang miskin itu berpuasa. Kita akan menghadirkan kebahagian idulfitri setiap hari.

Kita telah memandang puasa Ramadan jauh ke depan dengan membawa ghirah pembebasan bagi mereka yang tertawan karena rasa lapar, kemiskinan, keterlilitan utang, perbudakan, dan segala bentuk zalim-lalim (penindasan). Membawa visi agama Allah, menjadi rahmat bagi semesta Allah. Maka hiduplah dengan penuh kesederhanaan, setia pada lautan kesabaran. Kita menjajaki hari-hari dengan pengampunan dan pertobatan. Mendahulukan hak-hak orang lain, berbagi rasa, serta turut dalam penderitaan. Insyaallah kita selalu diberi taufik dan hidayah agar mampu berpuasa; Ramadan ataupun tidak, wajib atau sunnah, saat berkecukupan atau berkekurangan. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 17:43 WIB

Quo Vadis BKKBN dalam Kepungan Patologi Sosial

Jika fenomena YOLO, FOMO, dan FOPO dihubungkan, muncul gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana komunikasi digital mempengaruhi kesehatan mental individu.
Ilustrasi perubahan perilaku generasi milenial dan Z. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 02 Feb 2026, 17:06 WIB

Mojang Bandung Merumput: Geliat Akar Rumput dan Investasi Masa Depan di Kota Sepak Bola

Lapangan hijau Kota Bandung tak lagi hanya didominasi oleh anak laki-laki, melainkan riuh dengan langkah kaki mojang-mojang cilik yang membawa harapan baru bagi industri sepak bola putri Indonesia.
Mojang-mojang cilik yang membawa harapan baru bagi industri sepak bola putri Indonesia lewat kemeriahan MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Bandung Seri 2 2025 - 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 02 Feb 2026, 15:58 WIB

Geliat Bisnis Perlengkapan Anak, Mengupas Strategi IMOBY Bandung Menangkap Ledakan Pasar Millennial Parents

Sektor perlengkapan ibu dan anak di Indonesia menunjukkan daya tahan dan pertumbuhan yang sangat progresif. Fenomena ini sejatinya berakar pada data demografis yang solid.
Ribuan orang tua rela mengantre demi mendapatkan kurasi produk terbaik bagi buah hati, mencerminkan pergeseran pola konsumsi masyarakat yang kini lebih mengutamakan kualitas. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Jelajah 02 Feb 2026, 15:24 WIB

Hikayat Toko De Vries, Cikal Bakal Toserba di Bandung

Berlokasi di bekas Societeit Concordia, Toko De Vries menjadi motor tumbuhnya Braga sebagai pusat belanja dan jalan jalan kolonial.
Toko De Vries, cikal bakal toserba modern di Bandung. (Sumber: KITLV)