Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

5 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)

Asal katanya ramida-ramada yang terdiri dari ra, mim, dan dhad. Rangkaian huruf ini secara arti berhubungan dengan panas, pembakaran, atau sesuatu yang membakar. Ramadan telah menjadi nama pada salah satu bulan sistem kalender Arab pra-Islam, kemungkinan waktunya jatuh pada puncak musim kemarau. Pastinya pada hari-hari itu cuaca akan terasa sangat terik yang menyebabkan banyak orang merasa tidak nyaman, apalagi harus berjalan di bawah sorot matahari. Bayangkan saja situasi ini terjadi di tanah gersang dan berpasir.

Suasana hingga makna seperti ini yang diambil Islam untuk melihat lagi Ramadan. Bulan yang dapat menggugurkan dosa dan menyucikan jiwa, sebagaimana sakit demam dan panas neraka. Proses "pembakaran" adalah cara kerja Ramadan agar kita kembali pada keadaan fitrah insani. Allah menyeru kepada orang beriman untuk mengambil waktu perhentian sejenak guna menahan diri. Membiarkan sengatan “panas” menjalar pada seluruh tubuh, terpapar rasa lapar dan menolak sementara gejolak hasrat seksual. Kita belajar menunda keinginan materialistik, malah menyirnakan pikiran picik. Inilah yang disebut dengan shaum yang berarti menahan diri.

Puasa adalah wahana yang sengaja dirancang Allah untuk kita merasa lapar. Oleh karena itu, adalah hal yang lucu, jika saat makan sahur kita makan sebanyak mungkin dengan alasan “biar nanti siang enggak lapar”. Tidur sepanjang siang Ramadan yang menjadi jurus andalan untuk mengakali durasi puasa, juga terlalu menggelikan untuk dipikir lagi. Termasuk ngabuburit yang kalap membeli segala rupa kudapan. Apalagi pas waktu berbuka tiba, kita seperti berbalas dendam dengan rasa lapar hingga begah.

Shaum

Ilustrasi santri di Indonesia. (Sumber: Unsplash/Muh Makhlad)
Ilustrasi santri di Indonesia. (Sumber: Unsplash/Muh Makhlad)

Satu hari berpuasa, satu kali melewatkan jatah makan siang. Meninggalkan puasa, tidak bisa lepas dari kewajiban pribadi untuk mengganti puasa pada hari yang lain. Atas alasan syar’i tertentu, puasa qada ini dapat diganti dengan mengeluarkan satu kali jatah makan wajar (kebiasaan) sehari-hari bagi orang miskin. Inilah fidyah, ketentuan fikih yang seharusnya mencelikkan kita agar betul-betul meresapi makna puasa. Kita diajak Allah pada suasana kemiskinan dan tubuh yang berkelaparan. Melalui keresahan perut kita dipanggil untuk menjumpai penderitaan di sekitar, meninggalkan puasa itu dosa. Kewajiban qada atau fidyah adalah perintah nyata agar kita ikut bertanggungjawab pada masalah kemiskinan.

Maka dari itu, tidak makan dan minum saja, tidaklah cukup; malah anak-anak pun bisa menunaikan puasa yang semodel ini. Puasa adalah mengalihkan jatah makan kita sendiri kepada mereka yang membutuhkan. Tentu kita dibuatnya tidak nyaman dengan hal ini, sebab kita merasa memiliki jatah tersebut. Namun suasana yang “membakar” itulah, menjadi cara Allah mendidik umat beriman agar kian pandai mengasah kepekaan. Dalam panjang puasa Ramadan, siang akan menjadi momen untuk menengok dan menghayati ringis rasa lapar yang datang secara secara istiqamah.

Bukan hanya bicara pada waktu yang lama, puasa juga bersifat privat. Sebab puasa merupakan ibadah tersembunyi, hanya Allah dan kita yang tahu. Orang-orang mungkin berdusta dengan sengaja membatalkan puasanya. Dengan begitu ibadah puasa tidak pantas untuk ajang riya’. Orang yang sejatinya berpuasa tidak akan menampakkan dirinya, tidak haus akan penghormatan dari orang lain. Dia dengan riang gembira mentraktir sahabat non-muslimnya pas jam makan siang. Dia adalah mukmin yang tidak goyah dengan aroma terasi, kopi, dan mi goreng, justru berlembut hati berusaha memahami bahwa tidak semua orang diwajibkan berpuasa: anak-anak, orang sakit, lansia, perempuan hamil dan menyusui, musafir, dan pekerja berat. Sekalipun di sekitarnya banyak orang yang mokel atau godin.

Cukuplah baginya derita lapar itu, tidak ada drama yang memaksa warung-warung nasi untuk mengulurkan gorden yang menjuntai. Sebab bukankah seperti itu yang dirasakan orang miskin sepanjang hari dan setiap harinya? Mereka menatap lumernya es krim dan mendengar seruputan kuah kaldu. Sebelas bulan dalam setahun, orang miskin berpuasa seumur hidupnya. Dalam lakon puasa Ramadan, bersama sahur dan iftar yang berkecukupan malah penuh kemewahan, tidaklah sebanding dengan keadaan yang dihadapinya. Tapi mengapa kita masih merasa berat menjalankan puasa?

Puasa yang Sempurna

Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)

Bersamaan dengan rasa lapar yang timbul karena berpuasa, kita sedang belajar jadi orang miskin sekaligus berkali-kali terjatuh pada penyembahan ego, apatisme, dan gaya hidup konsumtif. Maka diperintahkan lagi atas kita untuk menyempurnakan kecerobohan puasa kita dengan menunaikan zakat fitrah. Melalui ibadah ini, kegagalan kita dalam merasakan lapar harus ditebus dengan memulihkan rasa lapar yang ‘sungguhan’. Setidaknya meringankan sedikit penderitaan orang miskin, membawa kabar bahagia dengan satu sha’ kurma/ gandum (qiyas: makanan pokok, beras, uang). Inilah barang yang akan menjadi bekal bagi orang miskin beridulfitri.

“Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin.” Begitu pentingnya zakat fitrah, ia tidak boleh ditunaikan setelah salat hari raya atau matahari terbenam pada hari itu. Hal ini adalah siratan yang senada dengan syariat yang mengharamkan berpuasa pada hari tersebut, bahwa Allah menghendaki jangan ada yang berkelaparan!

Ada waktunya berpuasa, ada waktunya berbuka. Secara hari, kita punya waktu maghrib yang akan tiba. Begitupun secara bulan kita punya hilal baru yang akan tampak. Keduanya merupakan waktu berbahagia yang ditunggu oleh kita yang berpuasa. Lalu, kapankah orang miskin yang berpuasa sepanjang hayat itu akan memperoleh waktu berbukanya? Bukankan ini yang dikabarkan Rasulullah saw. tentang kegembiraan yang akan diraih oleh orang yang berpuasa, selain kelak akan bertemu Tuhannya?

Baca Juga: Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Biarlah idulfitri kita persiapkan untuk dimiliki orang miskin. Melalui semangat berpuasa yang disempurnakan zakat di bulan Ramadan, kita sedang belajar merangkai kebahagiaan-kebahagiaan kecil bagi mereka yang berkelaparan. Sejak puasa pertama dimulai nanti, kita akan berikhtiar menjalani puasa dengan hati yang lapang. Tidak berhenti di Ramadan, puasa sunnah ba'da lebaran (afdhal pada tanggal 2-7 Syawal) akan menjadi pengingat bahwa semangat ini akan terus kita emban pada bulan-bulan berikutnya; sepanjang hayat sebagaimana orang-orang miskin itu berpuasa. Kita akan menghadirkan kebahagian idulfitri setiap hari.

Kita telah memandang puasa Ramadan jauh ke depan dengan membawa ghirah pembebasan bagi mereka yang tertawan karena rasa lapar, kemiskinan, keterlilitan utang, perbudakan, dan segala bentuk zalim-lalim (penindasan). Membawa visi agama Allah, menjadi rahmat bagi semesta Allah. Maka hiduplah dengan penuh kesederhanaan, setia pada lautan kesabaran. Kita menjajaki hari-hari dengan pengampunan dan pertobatan. Mendahulukan hak-hak orang lain, berbagi rasa, serta turut dalam penderitaan. Insyaallah kita selalu diberi taufik dan hidayah agar mampu berpuasa; Ramadan ataupun tidak, wajib atau sunnah, saat berkecukupan atau berkekurangan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 09:27

Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan.

Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)