Asal katanya ramida-ramada yang terdiri dari ra, mim, dan dhad. Rangkaian huruf ini secara arti berhubungan dengan panas, pembakaran, atau sesuatu yang membakar. Ramadan telah menjadi nama pada salah satu bulan sistem kalender Arab pra-Islam, kemungkinan waktunya jatuh pada puncak musim kemarau. Pastinya pada hari-hari itu cuaca akan terasa sangat terik yang menyebabkan banyak orang merasa tidak nyaman, apalagi harus berjalan di bawah sorot matahari. Bayangkan saja situasi ini terjadi di tanah gersang dan berpasir.
Suasana hingga makna seperti ini yang diambil Islam untuk melihat lagi Ramadan. Bulan yang dapat menggugurkan dosa dan menyucikan jiwa, sebagaimana sakit demam dan panas neraka. Proses "pembakaran" adalah cara kerja Ramadan agar kita kembali pada keadaan fitrah insani. Allah menyeru kepada orang beriman untuk mengambil waktu perhentian sejenak guna menahan diri. Membiarkan sengatan “panas” menjalar pada seluruh tubuh, terpapar rasa lapar dan menolak sementara gejolak hasrat seksual. Kita belajar menunda keinginan materialistik, malah menyirnakan pikiran picik. Inilah yang disebut dengan shaum yang berarti menahan diri.
Puasa adalah wahana yang sengaja dirancang Allah untuk kita merasa lapar. Oleh karena itu, adalah hal yang lucu, jika saat makan sahur kita makan sebanyak mungkin dengan alasan “biar nanti siang enggak lapar”. Tidur sepanjang siang Ramadan yang menjadi jurus andalan untuk mengakali durasi puasa, juga terlalu menggelikan untuk dipikir lagi. Termasuk ngabuburit yang kalap membeli segala rupa kudapan. Apalagi pas waktu berbuka tiba, kita seperti berbalas dendam dengan rasa lapar hingga begah.
Shaum

Satu hari berpuasa, satu kali melewatkan jatah makan siang. Meninggalkan puasa, tidak bisa lepas dari kewajiban pribadi untuk mengganti puasa pada hari yang lain. Atas alasan syar’i tertentu, puasa qada ini dapat diganti dengan mengeluarkan satu kali jatah makan wajar (kebiasaan) sehari-hari bagi orang miskin. Inilah fidyah, ketentuan fikih yang seharusnya mencelikkan kita agar betul-betul meresapi makna puasa. Kita diajak Allah pada suasana kemiskinan dan tubuh yang berkelaparan. Melalui keresahan perut kita dipanggil untuk menjumpai penderitaan di sekitar, meninggalkan puasa itu dosa. Kewajiban qada atau fidyah adalah perintah nyata agar kita ikut bertanggungjawab pada masalah kemiskinan.
Maka dari itu, tidak makan dan minum saja, tidaklah cukup; malah anak-anak pun bisa menunaikan puasa yang semodel ini. Puasa adalah mengalihkan jatah makan kita sendiri kepada mereka yang membutuhkan. Tentu kita dibuatnya tidak nyaman dengan hal ini, sebab kita merasa memiliki jatah tersebut. Namun suasana yang “membakar” itulah, menjadi cara Allah mendidik umat beriman agar kian pandai mengasah kepekaan. Dalam panjang puasa Ramadan, siang akan menjadi momen untuk menengok dan menghayati ringis rasa lapar yang datang secara secara istiqamah.
Bukan hanya bicara pada waktu yang lama, puasa juga bersifat privat. Sebab puasa merupakan ibadah tersembunyi, hanya Allah dan kita yang tahu. Orang-orang mungkin berdusta dengan sengaja membatalkan puasanya. Dengan begitu ibadah puasa tidak pantas untuk ajang riya’. Orang yang sejatinya berpuasa tidak akan menampakkan dirinya, tidak haus akan penghormatan dari orang lain. Dia dengan riang gembira mentraktir sahabat non-muslimnya pas jam makan siang. Dia adalah mukmin yang tidak goyah dengan aroma terasi, kopi, dan mi goreng, justru berlembut hati berusaha memahami bahwa tidak semua orang diwajibkan berpuasa: anak-anak, orang sakit, lansia, perempuan hamil dan menyusui, musafir, dan pekerja berat. Sekalipun di sekitarnya banyak orang yang mokel atau godin.
Cukuplah baginya derita lapar itu, tidak ada drama yang memaksa warung-warung nasi untuk mengulurkan gorden yang menjuntai. Sebab bukankah seperti itu yang dirasakan orang miskin sepanjang hari dan setiap harinya? Mereka menatap lumernya es krim dan mendengar seruputan kuah kaldu. Sebelas bulan dalam setahun, orang miskin berpuasa seumur hidupnya. Dalam lakon puasa Ramadan, bersama sahur dan iftar yang berkecukupan malah penuh kemewahan, tidaklah sebanding dengan keadaan yang dihadapinya. Tapi mengapa kita masih merasa berat menjalankan puasa?
Puasa yang Sempurna

Bersamaan dengan rasa lapar yang timbul karena berpuasa, kita sedang belajar jadi orang miskin sekaligus berkali-kali terjatuh pada penyembahan ego, apatisme, dan gaya hidup konsumtif. Maka diperintahkan lagi atas kita untuk menyempurnakan kecerobohan puasa kita dengan menunaikan zakat fitrah. Melalui ibadah ini, kegagalan kita dalam merasakan lapar harus ditebus dengan memulihkan rasa lapar yang ‘sungguhan’. Setidaknya meringankan sedikit penderitaan orang miskin, membawa kabar bahagia dengan satu sha’ kurma/ gandum (qiyas: makanan pokok, beras, uang). Inilah barang yang akan menjadi bekal bagi orang miskin beridulfitri.
“Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin.” Begitu pentingnya zakat fitrah, ia tidak boleh ditunaikan setelah salat hari raya atau matahari terbenam pada hari itu. Hal ini adalah siratan yang senada dengan syariat yang mengharamkan berpuasa pada hari tersebut, bahwa Allah menghendaki jangan ada yang berkelaparan!
Ada waktunya berpuasa, ada waktunya berbuka. Secara hari, kita punya waktu maghrib yang akan tiba. Begitupun secara bulan kita punya hilal baru yang akan tampak. Keduanya merupakan waktu berbahagia yang ditunggu oleh kita yang berpuasa. Lalu, kapankah orang miskin yang berpuasa sepanjang hayat itu akan memperoleh waktu berbukanya? Bukankan ini yang dikabarkan Rasulullah saw. tentang kegembiraan yang akan diraih oleh orang yang berpuasa, selain kelak akan bertemu Tuhannya?
Baca Juga: Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa
Biarlah idulfitri kita persiapkan untuk dimiliki orang miskin. Melalui semangat berpuasa yang disempurnakan zakat di bulan Ramadan, kita sedang belajar merangkai kebahagiaan-kebahagiaan kecil bagi mereka yang berkelaparan. Sejak puasa pertama dimulai nanti, kita akan berikhtiar menjalani puasa dengan hati yang lapang. Tidak berhenti di Ramadan, puasa sunnah ba'da lebaran (afdhal pada tanggal 2-7 Syawal) akan menjadi pengingat bahwa semangat ini akan terus kita emban pada bulan-bulan berikutnya; sepanjang hayat sebagaimana orang-orang miskin itu berpuasa. Kita akan menghadirkan kebahagian idulfitri setiap hari.
Kita telah memandang puasa Ramadan jauh ke depan dengan membawa ghirah pembebasan bagi mereka yang tertawan karena rasa lapar, kemiskinan, keterlilitan utang, perbudakan, dan segala bentuk zalim-lalim (penindasan). Membawa visi agama Allah, menjadi rahmat bagi semesta Allah. Maka hiduplah dengan penuh kesederhanaan, setia pada lautan kesabaran. Kita menjajaki hari-hari dengan pengampunan dan pertobatan. Mendahulukan hak-hak orang lain, berbagi rasa, serta turut dalam penderitaan. Insyaallah kita selalu diberi taufik dan hidayah agar mampu berpuasa; Ramadan ataupun tidak, wajib atau sunnah, saat berkecukupan atau berkekurangan. (*)
