Hikayat Lara di Baleendah, Langganan Banjir yang Gagal Jadi Ibu Kota

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Potret kawasan Baleendah, Kabupaten Bandung, saat diterjang banjir musiman. (Sumber: Ayobandung)
Potret kawasan Baleendah, Kabupaten Bandung, saat diterjang banjir musiman. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Baleendah adalah wilayah yang setiap musim hujan berubah jadi danau tanpa perlu izin Balai Besar Wilayah Sungai. Orang Bandung Selatan tahu betul: kalau hujan turun lebih dari dua hari, jalanan menuju Dayeuhkolot, Bojongsoang, dan Baleendah akan berubah jadi kolam raksasa. Motor mogok, mobil tersendat, dan perahu karet—entah dari BPBD atau warga setempat—mendadak jadi alat transportasi paling bergengsi.

Daerah yang saban tahun tenggelam ini pernah direncanakan jadi ibu kota Kabupaten Bandung. Ya, Baleendah, si langganan banjir itu, pernah disiapkan sebagai pusat pemerintahan, tempat bupati berkantor dengan gagah di antara sawah dan sungai.

Kisahnya bermula pada masa kepemimpinan Kolonel Lily Sumantri. Pada 20 April 1974, bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Bandung ke-333, batu pertama pembangunan pusat pemerintahan baru diletakkan di Baleendah. Saat itu, Bandung kota sudah terlalu padat. Pemerintah daerah butuh ruang baru, dan Baleendah—yang kala itu masih tenang, hijau, dan belum terlalu basah—dipilih sebagai calon ibu kota.

Rencana itu berlanjut hingga masa Bupati Kolonel R. Sani Lupias Abdurachman (1980–1985). Namun, alam punya cara sendiri untuk membatalkan keputusan manusia. Baleendah ternyata terletak di cekungan raksasa yang menjadi tempat berkumpulnya air dari segala penjuru Bandung Selatan. Sungai Cisangkuy dan Ciwidey menyalurkan limpahan airnya ke Citarum, dan Citarum yang murung itu sering tak mampu menampungnya.

Baca Juga: Hikayat Kiaracondong, Tujuan Urbanisasi Kaum Pekerja Zaman Baheula

Kemudian jadilah Baleendah setiap tahun berendam dalam genangan. Bukan genangan cinta, tapi air setinggi dada orang dewasa. Pada masa Bupati Kolonel Cherman Affendi (1985–1990), rencana pemindahan ibu kota dibatalkan. Kabupaten Bandung akhirnya menancapkan ibu kotanya di Soreang—daerah yang lebih tinggi, lebih kering, dan tentu saja lebih ramah bagi arsip pemerintahan.

Kalau Baleendah jadi ibu kota waktu itu, rapat dinas pasti sering tertunda karena air naik. Dan pejabatnya tidak perlu membawa payung, cukup sepatu bot.

Basis Pejuang Bandung Selatan hingga Kawasan Rawan Banjir

Baleendah bukan hanya cerita tentang air. Dalam lembar sejarah, wilayah ini punya peran penting dalam perjuangan kemerdekaan. Setelah peristiwa Bandung Lautan Api pada Maret 1946, pasukan Republik mundur ke selatan sejauh sebelas kilometer. Mereka berkumpul di Baleendah–Ciparay, membentuk Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MPPP). Dari sini, para pejuang menyusun strategi perang gerilya melawan Belanda.

Pada 30 Juni 1946, para pejuang menyerang kedudukan Belanda di Dayeuhkolot. Tank, howitzer, dan senjata penyembur api Belanda tak membuat gentar pasukan rakyat. Bahkan sebuah tank berhasil dilumpuhkan. Keesokan harinya, pesawat-pesawat tempur Belanda membombardir Baleendah dari udara. Tapi seperti biasa, semangat rakyat Bandung Selatan sulit dipadamkan, bahkan dengan hujan peluru.

Baca Juga: Sejarah Dayeuhkolot Jadi Ibu Kota Bandung, dari Karapyak ke Kota Tua yang Kebanjiran

Sejumlah bocah menaiki perahu saat banjir di Baleendah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Sejumlah bocah menaiki perahu saat banjir di Baleendah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)

Tujuh dekade setelah itu, Baleendah masih berperang—kali ini bukan melawan penjajah, melainkan air. Musuhnya tak membawa senapan, hanya debit air Sungai Citarum yang mencapai 14 miliar meter kubik per tahun.

Wilayah ini lahir dengan nasib basah. Secara hidrologis, Baleendah adalah bagian dari cekungan Bandung–Soreang, dataran rendah tempat semua air bertemu untuk nongkrong sebelum mengalir ke utara. Bedanya, air di sini malas bergerak. Topografi yang datar membuat banjir betah berlama-lama, bahkan sampai warga bercanda, “Di Baleendah, musim hujan itu berarti musim perahu.”

Kisah banjir Baleendah sudah seperti serial televisi panjang yang tak pernah tamat. Tahun 1984, luas genangan di cekungan Bandung mencapai 47.000 hektare. Setahun kemudian, banjir besar melanda Baleendah, Bojongsari, Sapan, dan Dayeuhkolot. Sekitar 21.560 jiwa mengungsi, sawah tenggelam, ikan hanyut, ekonomi lumpuh.

Puncaknya terjadi pada Maret 1986. Dua puluh ribu rumah di sepuluh desa terendam. Luas genangan mencapai 7.500 hektare. Sebanyak 68.635 jiwa menderita, 38.672 di antaranya mengungsi. Lima orang tewas. Kerugian ditaksir Rp10 miliar—angka besar untuk masa itu. Pemerintah sempat memindahkan 500 warga ke Kampung Riunggunung, tapi sebagian kembali karena, kata mereka, “tanah di sini sudah keburu jadi bagian hidup.”

Begitulah orang Baleendah: keras kepala sekaligus setia pada tempatnya. Bahkan ketika banjir datang setiap tahun, mereka lebih memilih menguras rumah sendiri daripada pindah ke tempat baru.

Dua dekade kemudian, sejarah banjir Baleendah tak banyak berubah. Tahun 2014, luapan Citarum menenggelamkan 2.589 rumah dan membuat 13.000 orang mengungsi. Dua tahun setelahnya, Maret 2016, datang banjir yang disebut-sebut sebagai yang terparah dalam sepuluh tahun terakhir: 35.000 rumah terendam di Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang.

Baca Juga: Sejarah Kegagalan Program Pembersihan Sungai Citarum, dari Orde Baru sampai Era Jokowi

Pada Maret 2025, air kembali naik. Hujan sepekan membuat Sungai Citarum kehilangan sabarnya. Delapan ribu rumah terendam, 34 ribu warga terdampak, dan 653 orang harus mengungsi. Itu adalah salah satu banjir terbesar dalam lima tahun terakhir. Tapi warga Baleendah cuma mengangkat bahu sambil berkata, “Ah, biasa. Cuma sepinggang kok.”

Iring-iringan warga saat mengagkat keranda jemazah ketika banjir menerjang Baleendah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Hengky Sulaksono)
Iring-iringan warga saat mengagkat keranda jemazah ketika banjir menerjang Baleendah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Hengky Sulaksono)

Walaupun langganan banjir, Baleendah tetap tumbuh padat seperti kawasan urban lain di pinggiran Bandung. Data BPS 2023 menunjukkan penduduknya mencapai 270.306 jiwa, dengan luas wilayah hanya 34,17 kilometer persegi. Artinya, setiap kilometer persegi di Baleendah dihuni sekitar 7.909 orang—angka yang bikin siapa pun berpikir dua kali sebelum mencari rumah di sana.

Kepadatan ini tak lepas dari posisinya sebagai kawasan penyangga Kota Bandung. Harga tanah di Baleendah lebih bersahabat dibandingkan di Kota Bandung, sementara akses transportasi relatif mudah. Pabrik, perumahan, dan toko-toko tumbuh di atas lahan yang dulu sawah. Ironisnya, lahan-lahan serapan air ikut hilang, membuat banjir kian rajin datang.

Baleendah, dalam banyak hal, adalah potret kecil Indonesia: daerah yang tumbuh cepat tapi tak sempat menata diri. Infrastruktur dibangun setengah hati, drainase terabaikan, sungai dikeruk sesekali, tapi sampah kembali menumpuk setiap pekan.

Setiap kali banjir datang, media nasional ramai memberitakan. Wartawan berdiri di tengah air dengan mikrofon, perahu karet melintas di belakang, dan warga melambaikan tangan seperti selebriti. Tapi setelah air surut, perhatian hilang. Proyek penanganan banjir kembali sebatas janji.

Baleendah pernah punya masa depan besar. Ia pernah dibayangkan sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Bandung. Ia juga punya sejarah heroik di masa revolusi. Tapi kini, yang tersisa adalah lara panjang—kisah tentang daerah yang ditakdirkan basah, tak pernah kering sepenuhnya.

Baca Juga: Sejarah Kopo Bandung, Berawal dari Hikayat Sesepuh hingga Jadi Distrik Ikon Kemacetan

Banjir di Baleendah bukan sekadar peristiwa alam, tapi juga potret kebijakan yang separuh hati dan pembangunan yang tak mengenal arah. Selama Citarum masih murung dan cekungan Bandung masih dangkal, Baleendah akan tetap jadi nama yang sinonim dengan banjir.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)