Hikayat Lara di Baleendah, Langganan Banjir yang Gagal Jadi Ibu Kota

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Jumat 07 Nov 2025, 14:27 WIB
Potret kawasan Baleendah, Kabupaten Bandung, saat diterjang banjir musiman. (Sumber: Ayobandung)

Potret kawasan Baleendah, Kabupaten Bandung, saat diterjang banjir musiman. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Baleendah adalah wilayah yang setiap musim hujan berubah jadi danau tanpa perlu izin Balai Besar Wilayah Sungai. Orang Bandung Selatan tahu betul: kalau hujan turun lebih dari dua hari, jalanan menuju Dayeuhkolot, Bojongsoang, dan Baleendah akan berubah jadi kolam raksasa. Motor mogok, mobil tersendat, dan perahu karet—entah dari BPBD atau warga setempat—mendadak jadi alat transportasi paling bergengsi.

Daerah yang saban tahun tenggelam ini pernah direncanakan jadi ibu kota Kabupaten Bandung. Ya, Baleendah, si langganan banjir itu, pernah disiapkan sebagai pusat pemerintahan, tempat bupati berkantor dengan gagah di antara sawah dan sungai.

Kisahnya bermula pada masa kepemimpinan Kolonel Lily Sumantri. Pada 20 April 1974, bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Bandung ke-333, batu pertama pembangunan pusat pemerintahan baru diletakkan di Baleendah. Saat itu, Bandung kota sudah terlalu padat. Pemerintah daerah butuh ruang baru, dan Baleendah—yang kala itu masih tenang, hijau, dan belum terlalu basah—dipilih sebagai calon ibu kota.

Rencana itu berlanjut hingga masa Bupati Kolonel R. Sani Lupias Abdurachman (1980–1985). Namun, alam punya cara sendiri untuk membatalkan keputusan manusia. Baleendah ternyata terletak di cekungan raksasa yang menjadi tempat berkumpulnya air dari segala penjuru Bandung Selatan. Sungai Cisangkuy dan Ciwidey menyalurkan limpahan airnya ke Citarum, dan Citarum yang murung itu sering tak mampu menampungnya.

Baca Juga: Hikayat Kiaracondong, Tujuan Urbanisasi Kaum Pekerja Zaman Baheula

Kemudian jadilah Baleendah setiap tahun berendam dalam genangan. Bukan genangan cinta, tapi air setinggi dada orang dewasa. Pada masa Bupati Kolonel Cherman Affendi (1985–1990), rencana pemindahan ibu kota dibatalkan. Kabupaten Bandung akhirnya menancapkan ibu kotanya di Soreang—daerah yang lebih tinggi, lebih kering, dan tentu saja lebih ramah bagi arsip pemerintahan.

Kalau Baleendah jadi ibu kota waktu itu, rapat dinas pasti sering tertunda karena air naik. Dan pejabatnya tidak perlu membawa payung, cukup sepatu bot.

Basis Pejuang Bandung Selatan hingga Kawasan Rawan Banjir

Baleendah bukan hanya cerita tentang air. Dalam lembar sejarah, wilayah ini punya peran penting dalam perjuangan kemerdekaan. Setelah peristiwa Bandung Lautan Api pada Maret 1946, pasukan Republik mundur ke selatan sejauh sebelas kilometer. Mereka berkumpul di Baleendah–Ciparay, membentuk Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MPPP). Dari sini, para pejuang menyusun strategi perang gerilya melawan Belanda.

Pada 30 Juni 1946, para pejuang menyerang kedudukan Belanda di Dayeuhkolot. Tank, howitzer, dan senjata penyembur api Belanda tak membuat gentar pasukan rakyat. Bahkan sebuah tank berhasil dilumpuhkan. Keesokan harinya, pesawat-pesawat tempur Belanda membombardir Baleendah dari udara. Tapi seperti biasa, semangat rakyat Bandung Selatan sulit dipadamkan, bahkan dengan hujan peluru.

Baca Juga: Sejarah Dayeuhkolot Jadi Ibu Kota Bandung, dari Karapyak ke Kota Tua yang Kebanjiran

Sejumlah bocah menaiki perahu saat banjir di Baleendah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Sejumlah bocah menaiki perahu saat banjir di Baleendah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)

Tujuh dekade setelah itu, Baleendah masih berperang—kali ini bukan melawan penjajah, melainkan air. Musuhnya tak membawa senapan, hanya debit air Sungai Citarum yang mencapai 14 miliar meter kubik per tahun.

Wilayah ini lahir dengan nasib basah. Secara hidrologis, Baleendah adalah bagian dari cekungan Bandung–Soreang, dataran rendah tempat semua air bertemu untuk nongkrong sebelum mengalir ke utara. Bedanya, air di sini malas bergerak. Topografi yang datar membuat banjir betah berlama-lama, bahkan sampai warga bercanda, “Di Baleendah, musim hujan itu berarti musim perahu.”

Kisah banjir Baleendah sudah seperti serial televisi panjang yang tak pernah tamat. Tahun 1984, luas genangan di cekungan Bandung mencapai 47.000 hektare. Setahun kemudian, banjir besar melanda Baleendah, Bojongsari, Sapan, dan Dayeuhkolot. Sekitar 21.560 jiwa mengungsi, sawah tenggelam, ikan hanyut, ekonomi lumpuh.

Puncaknya terjadi pada Maret 1986. Dua puluh ribu rumah di sepuluh desa terendam. Luas genangan mencapai 7.500 hektare. Sebanyak 68.635 jiwa menderita, 38.672 di antaranya mengungsi. Lima orang tewas. Kerugian ditaksir Rp10 miliar—angka besar untuk masa itu. Pemerintah sempat memindahkan 500 warga ke Kampung Riunggunung, tapi sebagian kembali karena, kata mereka, “tanah di sini sudah keburu jadi bagian hidup.”

Begitulah orang Baleendah: keras kepala sekaligus setia pada tempatnya. Bahkan ketika banjir datang setiap tahun, mereka lebih memilih menguras rumah sendiri daripada pindah ke tempat baru.

Dua dekade kemudian, sejarah banjir Baleendah tak banyak berubah. Tahun 2014, luapan Citarum menenggelamkan 2.589 rumah dan membuat 13.000 orang mengungsi. Dua tahun setelahnya, Maret 2016, datang banjir yang disebut-sebut sebagai yang terparah dalam sepuluh tahun terakhir: 35.000 rumah terendam di Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang.

Baca Juga: Sejarah Kegagalan Program Pembersihan Sungai Citarum, dari Orde Baru sampai Era Jokowi

Pada Maret 2025, air kembali naik. Hujan sepekan membuat Sungai Citarum kehilangan sabarnya. Delapan ribu rumah terendam, 34 ribu warga terdampak, dan 653 orang harus mengungsi. Itu adalah salah satu banjir terbesar dalam lima tahun terakhir. Tapi warga Baleendah cuma mengangkat bahu sambil berkata, “Ah, biasa. Cuma sepinggang kok.”

Iring-iringan warga saat mengagkat keranda jemazah ketika banjir menerjang Baleendah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Hengky Sulaksono)
Iring-iringan warga saat mengagkat keranda jemazah ketika banjir menerjang Baleendah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Hengky Sulaksono)

Walaupun langganan banjir, Baleendah tetap tumbuh padat seperti kawasan urban lain di pinggiran Bandung. Data BPS 2023 menunjukkan penduduknya mencapai 270.306 jiwa, dengan luas wilayah hanya 34,17 kilometer persegi. Artinya, setiap kilometer persegi di Baleendah dihuni sekitar 7.909 orang—angka yang bikin siapa pun berpikir dua kali sebelum mencari rumah di sana.

Kepadatan ini tak lepas dari posisinya sebagai kawasan penyangga Kota Bandung. Harga tanah di Baleendah lebih bersahabat dibandingkan di Kota Bandung, sementara akses transportasi relatif mudah. Pabrik, perumahan, dan toko-toko tumbuh di atas lahan yang dulu sawah. Ironisnya, lahan-lahan serapan air ikut hilang, membuat banjir kian rajin datang.

Baleendah, dalam banyak hal, adalah potret kecil Indonesia: daerah yang tumbuh cepat tapi tak sempat menata diri. Infrastruktur dibangun setengah hati, drainase terabaikan, sungai dikeruk sesekali, tapi sampah kembali menumpuk setiap pekan.

Setiap kali banjir datang, media nasional ramai memberitakan. Wartawan berdiri di tengah air dengan mikrofon, perahu karet melintas di belakang, dan warga melambaikan tangan seperti selebriti. Tapi setelah air surut, perhatian hilang. Proyek penanganan banjir kembali sebatas janji.

Baleendah pernah punya masa depan besar. Ia pernah dibayangkan sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Bandung. Ia juga punya sejarah heroik di masa revolusi. Tapi kini, yang tersisa adalah lara panjang—kisah tentang daerah yang ditakdirkan basah, tak pernah kering sepenuhnya.

Baca Juga: Sejarah Kopo Bandung, Berawal dari Hikayat Sesepuh hingga Jadi Distrik Ikon Kemacetan

Banjir di Baleendah bukan sekadar peristiwa alam, tapi juga potret kebijakan yang separuh hati dan pembangunan yang tak mengenal arah. Selama Citarum masih murung dan cekungan Bandung masih dangkal, Baleendah akan tetap jadi nama yang sinonim dengan banjir.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

News Update

Beranda 13 Des 2025, 20:36 WIB

Arif Budianto dari Ayobandung.id Raih Juara 1 Nasional AJP 2025, Bukti Kualitas Jurnalisme Lokal

Arif Budianto, jurnalis dari Ayobandung.id, tampil gemilang dengan meraih Juara 1 Nasional Kategori Tulis Bisnis sekaligus Juara 1 Regional Jawa Bagian Barat dalam AJP 2025.
Arif Budianto, jurnalis dari Ayobandung.id, tampil gemilang dengan meraih Juara 1 Nasional Kategori Tulis Bisnis sekaligus Juara 1 Regional Jawa Bagian Barat dalam AJP 2025. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 13 Des 2025, 17:34 WIB

Jawa Barat Siapkan Distribusi BBM dan LPG Hadapi Lonjakan Libur Nataru

Mobilitas tinggi, arus mudik, serta destinasi wisata yang ramai menjadi faktor utama meningkatnya konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Ilustrasi. Mobilitas tinggi, arus mudik, serta destinasi wisata yang ramai menjadi faktor utama meningkatnya konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 13 Des 2025, 14:22 WIB

Di Balik Gemerlap Belanja Akhir Tahun, Seberapa Siap Mall Bandung Hadapi Bencana?

Lonjakan pengunjung di akhir tahun membuat mall menjadi ruang publik yang paling rentan, baik terhadap kebakaran, kepadatan, maupun risiko teknis lainnya.
Lonjakan pengunjung di akhir tahun membuat mall menjadi ruang publik yang paling rentan, baik terhadap kebakaran, kepadatan, maupun risiko teknis lainnya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 21:18 WIB

Menjaga Martabat Kebudayaan di Tengah Krisis Moral

Kebudayaan Bandung harus kembali menjadi ruang etika publik--bukan pelengkap seremonial kekuasaan.
Kegiatan rampak gitar akustik Revolution Is..di Taman Cikapayang
Ayo Netizen 12 Des 2025, 19:31 WIB

Krisis Tempat Parkir di Kota Bandung Memicu Maraknya Parkir Liar

Krisis parkir Kota Bandung makin parah, banyak kendaraan parkir liar hingga sebabkan macet.
Rambu dilarang parkir jelas terpampang, tapi kendaraan masih berhenti seenaknya. Parkir liar bukan hanya melanggar aturan, tapi merampas hak pengguna jalan, Rabu (3/12/25) Alun-Alun Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ishanna Nagi)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 19:20 WIB

Gelaran Pasar Kreatif Jawa Barat dan Tantangan Layanan Publik Kota Bandung

Pasar Kreatif Jawa Barat menjadi pengingat bahwa Bandung memiliki potensi luar biasa, namun masih membutuhkan peningkatan kualitas layanan publik.
Sejumlah pengunjung memadati area Pasar Kreatif Jawa Barat di Jalan Pahlawan No.70 Kota Bandung, Rabu (03/12/2025). (Foto: Rangga Dwi Rizky)
Ayo Jelajah 12 Des 2025, 19:08 WIB

Hikayat Paseh Bandung, Jejak Priangan Lama yang Diam-diam Punya Sejarah Panjang

Sejarah Paseh sejak masa kolonial, desa-desa tua, catatan wisata kolonial, hingga transformasinya menjadi kawasan industri tekstil.
Desa Drawati di Kecamatan Paseh. (Sumber: YouTube Desa Drawati)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 18:57 WIB

Kota untuk Siapa: Gemerlap Bandung dan Sunyi Warga Tanpa Rumah

Bandung sibuk mempercantik wajah kota, tapi lupa menata nasib warganya yang tidur di trotoar.
Seorang tunawisma menyusuri lorong Pasar pada malam hari (29/10/25) dengan memanggul karung besar di Jln. ABC, Braga, Sumur Bandung, Kota Bandung. (Foto: Rajwaa Munggarana)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 17:53 WIB

Hubungan Diam-Diam antara Matematika dan Menulis

Penjelasan akan matematika dan penulisan memiliki hubungan yang menarik.
Matematika pun memerlukan penulisan sebagai jawaban formal di perkuliahan. (Sumber: Dok. Penulis | Foto: Caroline Jessie Winata)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 16:44 WIB

Banjir Orderan Cucian Tarif Murah, Omzet Tembus Jutaan Sehari

Laundrypedia di Kampung Sukabirus, Kabupaten Bandung, tumbuh cepat dengan layanan antar-jemput tepat waktu dan omzet harian lebih dari Rp3 juta.
Laundrypedia hadir diperumahan padat menjadi andalan mahasiswa, di kampung Sukabirus, Kabupaten Bandung, Kamis 06 November 2025. (Sumber: Fadya Rahma Syifa | Foto: Fadya Rahma Syifa)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 16:29 WIB

Kedai Kekinian yang Menjadi Tempat Favorit Anak Sekolah dan Mahasiswa Telkom University

MirukiWay, UMKM kuliner Bandung sejak 2019, tumbuh lewat inovasi dan kedekatan dengan konsumen muda.
Suasana depan toko MirukiWay di Jl. Sukapura No.14 Desa Sukapura, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Selasa, (28/10/2025). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nasywa Hanifah Alya' Al-Muchlisin)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 15:53 WIB

Bandung Kehilangan Arah Kepemimpinan yang Progresif

Bandung kehilangan kepemimpinan yang progresif yang dapat mengarahkan dan secara bersama-sama menyelesaikan permasalahan yang kompleks.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meninjau lokasi banjir di kawasan Rancanumpang. (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 15:31 WIB

Tren Olahraga Padel Memicu Pembangunan Cepat Tanpa Menperhitungkan Aspek Keselamatan Jangka Panjang?

Fenomena maraknya pembangunan lapangan padel yang tumbuh dengan cepat di berbagai kota khususnya Bandung.
Olahraga padel muncul sebagai magnet baru yang menjanjikan, bukan hanya bagi penggiat olahraga, tapi juga bagi pelaku bisnis dan investor. (Sumber: The Grand Central Court)
Beranda 12 Des 2025, 13:56 WIB

Tekanan Biological Clock dan Ancaman Sosial bagi Generasi Mendatang

Istilah biological clock ini digunakan untuk menggambarkan tekanan waktu yang dialami individu, berkaitan dengan usia dan kemampuan biologis tubuh.
Perempuan seringkali dituntut untuk mengambil keputusan berdasarkan pada tekanan sosial yang ada di masyarakat. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Jones)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 13:39 WIB

Jalan Kota yang Redup, Area Gelap Bandung Dibiarkan sampai Kapan?

Gelapnya beberapa jalan di Kota Bandung kembali menjadi perhatian pengendara yang berkendara di malam hari.
Kurangnya Pencahayaan di Jalan Terusan Buah Batu, Kota Bandung, pada Senin, 1 Desember 2025 (Sumber: Dok. Penulis| Foto: Zaki)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 12:56 WIB

Kegiatan Literasi Kok Bisa Jadi Petualangan, Apa yang Terjadi?

Kegiatan literasi berubah menjadi petualangan tak terduga, mulai dari seminar di Perpusda hingga jelajah museum.
Kegiatan literasi berubah menjadi petualangan tak terduga, mulai dari seminar di Perpusda hingga jelajah museum. (Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 10:28 WIB

Bandung Punya Banyak Panti Asuhan, Mulailah Berbagi dari yang Terdekat

Bandung memiliki banyak panti asuhan yang dapat menjadi ruang berbagi bagi warga.
Bandung memiliki banyak panti asuhan yang dapat menjadi ruang berbagi bagi warga. (Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 09:20 WIB

Menikmati Bandung Malam Bersama Rib-Eye Meltique di Justus Steakhouse

Seporsi Rib-Eye Meltique di Justus Steakhouse Bandung menghadirkan kehangatan, aroma, dan rasa yang merayakan Bandung.
Ribeye Meltique, salah satu menu favorit di Justus Steakhouse. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Seli Siti Amaliah Putri)
Ayo Netizen 12 Des 2025, 09:12 WIB

Seboeah Tjinta: Surga Coquette di Bandung

Jelajahi Seboeah Tjinta, kafe hidden gem di Cihapit yang viral karena estetika coquette yang manis, spot instagramable hingga dessert yang comforting.
Suasana Seboeah Tjinta Cafe yang identik dengan gaya coquette yang manis. (Foto: Nabella Putri Sanrissa)
Ayo Jelajah 12 Des 2025, 07:14 WIB

Hikayat Situ Cileunca, Danau Buatan yang Bikin Wisatawan Eropa Terpesona

Kisah Situ Cileunca, danau buatan yang dibangun Belanda pada 1920-an, berperan penting bagi PLTA, dan kini menjadi ikon wisata Pangalengan.
Potret zaman baheula Situ Cileunca, Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: KITLV)