Sejarah Dayeuhkolot Jadi Ibu Kota Bandung, dari Karapyak ke Kota Tua yang Kebanjiran

3 menit baca
Mildan Abdalloh
Ditulis oleh Mildan Abdalloh diterbitkan
Potret Sungai Citarum di kawasan Dayeuhkolot sekitar tahun 1900-an. (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections)
Potret Sungai Citarum di kawasan Dayeuhkolot sekitar tahun 1900-an. (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections)

AYOBANDUNG.ID - Di era sekarang, menyebut Dayeuhkolot adalah seperti menyebut sebuah kolam raksasa yang saban musim hujan minta jatah banjir. Orang Bandung tahu benar, kalau hujan turun tiga hari tiga malam, Dayeuhkolot bisa berubah jadi kerajaan Atlantis cabang Jawa Barat. Tapi sebelum jadi ‘wilayah rawan genangan’, Dayeuhkolot justru adalah primadona. Ia adalah ibu kota pertama Kabupaten Bandung, tempat di mana segala keputusan dikeluarkan, dan tongkat komando ditancapkan, secara harfiah.

Dayeuhkolot bukan cuma tempat orang mencari jalan pintas ke Bojongsoang atau Ciparay. Ia adalah dayeuh, alias kota, yang kolot, tua, karena memang sudah jadi pusat pemerintahan sebelum Bandung dikenal sebagai kota dengan sejuta kafe dan sejuta ojol.

Sebelum namanya jadi Dayeuhkolot, daerah ini dikenal sebagai Karapyak. Bukan, ini bukan nama camilan sejenis kerupuk atau nama angkringan. Karapyak artinya “rakit penyebrangan”, karena memang tempat ini jadi titik penting di mana orang-orang menyebrang Sungai Citarum yang kala itu belum semengerikan sekarang.

Penuturan Jujun Syarif Hidayat, juru kunci sekaligus sejarawan lisan yang memelihara narasi para leluhur, sekitar tahun 1600-an, Raden Tumenggung Wiraangunangun—yang lebih hits dengan nama Astamanggala—memugar wilayah Karapyak dan membangun sebuah pendopo sebagai pusat kekuasaan pertama Kabupaten Bandung. “Beliau memilih Dayeuhkolot sebagai pusat pemerintahan pertama Kabupaten Bandung,” ujar Jujun.

Baca Juga: Batulayang Dua Kali Hilang, Direbus Raja Jawa dan Dihapus Kompeni Belanda

Tapi keputusan itu rupanya hanya bersifat sementara. Seperti seorang urban planner dadakan, Astamanggala masih belum puas. Ia ingin pusat pemerintahan Bandung betul-betul berada di jantung wilayah, bukan sekadar strategis secara logistik, tapi juga filosofis. Maka ia mulai merancang ulang, mencari puseur Bandung, pusat sejatinya Bandung. Dan cara mencarinya, sungguh tidak biasa: bukan dengan peta, bukan dengan kompas, apalagi dengan konsultan tata kota.

Cukup dengan tongkat.

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Berdasarkan legenda yang dituturkan Jujun, Raden Tumenggung Wiraangunangun punya metode unik untuk menentukan lokasi ideal pusat kota. Ia harus menancapkan tongkatnya ke tanah. Jika dari titik itu air memancar keluar, maka di sanalah pusat Bandung. Tak pakai survei geologi atau sensor tanah. Murni spiritualitas dan kepercayaan lokal.

Setelah menjelajah, ia menemukan titik itu—sebuah tempat yang kelak disebut Sumur Bandung. Di sana, begitu tongkat ditancapkan, muncullah air dari tanah. Petunjuk semesta seolah berkata: “Nah, ini dia Bandung beneran.” Lokasi itu kini sudah jadi bagian pusat kota dan, secara ironis, berdiri bangunan PLN di atasnya.

Tapi kisahnya belum selesai. Belum sempat memindahkan pemerintahan ke Sumur Bandung, Astamanggala keburu harus berangkat ke Belanda. Entah untuk belajar, berdagang, atau sekadar menjenguk kolega VOC. Sebelum berangkat, ia memberi mandat penting kepada sang senopati: “Bangun pusat pemerintahan di titik saya tancapkan tongkat.”

Di sinilah tragedi administratif terjadi. Sang senopati—yang mungkin kurang update atau salah koordinat—membangun pendopo bukan di Sumur Bandung, melainkan di lokasi yang sekarang dikenal sebagai Balai Kota. Ketika Astamanggala kembali dari perantauan Eropa, semua sudah terlanjur berdiri. Tangisan tak mengubah sejarah.

“Pas Raden Wira Angun Angun pulang dari Belanda, pusat pemerintahan sudah keburu berdiri di tempat yang salah,” tutur Jujun. Sebuah kesalahan logistik yang membuat sejarah Bandung belok sedikit dari rencana awalnya.

Baca Juga: Kisah Sumur Bandung, Lidi Bertuah Bupati yang Jadi Penanda Kota

Tak lama berselang, Raden Tumenggung Wiraangunangun wafat pada tahun 1681. Ia sempat dimakamkan di Gunung Batu, Baleendah, sebelum akhirnya dipindahkan ke Leuwi Bandung, Dayeuhkolot—tempat ia pertama kali membangun pendopo dan merancang Bandung dari nol.

Lalu mengapa Dayeuhkolot—atau Karapyak—dilupakan sebagai pusat kota? Jawabannya sederhana: banjir. Ya, sejak dulu daerah ini memang langganan air naik pangkat. Citarum yang dulu jadi alasan orang tinggal, berubah jadi alasan orang pindah. Sejarah memberi ruang bagi ironi: dari pusat kekuasaan, Dayeuhkolot berubah jadi pusat keluhan saat musim hujan tiba.

Kini Dayeuhkolot dikenal sebagai wilayah genangan. Tapi sejarahnya tidak bisa digenangi begitu saja. Ia tetap kota tua yang pernah menjadi pusat, sebelum takdir dan debit air membuatnya tersingkir.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)