Apa Kabar Perekonomian Indonesia Jika Boikot Produk Terafiliasi Israel?

5 menit baca
Nurfarahim Sugih Lestari
Ditulis oleh Nurfarahim Sugih Lestari diterbitkan
Apakah boikot terhadap Israel benar-benar efektif secara ekonomi dan bermakna secara sosial? (Sumber: Pexels/Markus Winkler)
Apakah boikot terhadap Israel benar-benar efektif secara ekonomi dan bermakna secara sosial? (Sumber: Pexels/Markus Winkler)

Konflik antara Israel dan Palestina kembali mengoyak nurani dunia. Mata seluruh dunia tertuju pada konflik yang telah menelan ratusan ribu korban sipil, kehancuran infrastuktur dan penderitaan tanpa akhir.

Gerakan solidaritas datang dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Salah satu bentuk dukungan yang disuarakan adalah Gerakan boikot terhadap produk dan perusahaan yang terafiliasi dengan aggressor.

Aksi ini diperkuat dengan keluarnya fatwa MUI nomor 83 tahun 2023 tentang Hukum Dukungan Terhadap Perjuanga Palestina. Melalui CNBC Indonesia Roy Nicholas Mandey  (Ketua Umum Aprindo), telah melaporkan bahwa pada tahun 2023 produk fast moving dan consumer goods turun hingga 40% .

Sehingga munculah pertanyaan krusial: Apakah boikot benar-benar efektif secara ekonomi dan bermakna secara sosial? Atau justru berisiko menciptakan dampak domestik yang tak diinginkan?

Solidaritas Kemanusiaan dalam Bingkai Keilmuan

Menurut (Garrett, 1987), boikot adalah penolakan kolektif untuk berbisnis dengan individual atau perusahaan terhadap tindakan atau praktik tertentu yang dilakukan oleh individul atau perusahaan tertentu dengan tujuan mendapatkan konsesi atau menyampaikan keluhan terhadap tinakan atau praktik yang dilakukan oleh indvidu atau perusahaan tersebut.

Boikot sebagai bentuk aksi sosial dapat dianalisis melalui pendekatan teori Etika Global dari  (Thomas Pogge, 2005) yang menyatakan bahwa masyarakat global memiliki tanggung jawab moral untuk tidak berkontribusi, secara langsung maupun tidak langsung, terhadap sistem ketidakadilan.

Dalam konteks ini, memilih untuk tidak membeli produk dari entitas yang mendukung agresi menjadi praktik etis konsumen (ethical consumption), yang memperkuat nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab sebagaimana terkandung dalam Pancasila.

Gerakan boikot juga mencerminkan prinsip nonviolent resistance (Gene Sharp, 1973), di mana tekanan moral dan ekonomi menjadi sarana menggoyahkan kebijakan atau kekuatan yang tidak adil. Ini merupakan bentuk perjuangan tanpa senjata, namun tetap kuat secara politik dan sosial.

Dampak Ekomoni: Tekanan terhadap Global , Peluang bagi Lokal

Tulisan ini merupakan pendapat penulis dengan perspektif ekonomi terhadap aksi ini tanpa mengesampingkan nilai-nilai kemanusaiaan. Dalam prespektif ekonomi mikro, aksi ini menciptakan shifting consumer demand.

Ketika terjadinya penurunan permintaan terhadap produk asing yang diduga terafiliasi, ini membuka peluang kenaikan permintaan bagi produk lokal sebagai produk pengganti. Hal ini selaras dengan teori elastisitas permintaan: jika produk yang diboikot memiliki subtitusi yang kompetitif, maka konsumen akan beralih.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa brand multinasional yang diduga terafiliasi mengalami penurunan signifikan di Indonesia dan negara-negara mayoritas muslim. Peluang berpindahnya pada penggunaan produk lokal tetap harus diwaspadai.

Apakah ini diikuti dengan tidak turunnya daya beli masyarakat akibat dampak yang ditimbulkan pada pelaku usaha lokal yang merupakan mitra dari brand tersebut. Jika ternyata pada kenyataannya permintaan masyarakat terhadap suatu barang menurun akibat turunnya daya beli. Maka kesempatan shifting consumer demand ini tidak akan terjadi sepenuhnya.

Namun di sisi lain , jika UMKM lokal siap menangkap peluang baik dari shifting ini dengan penyediaan produk yang kompetitif dan berkualitas. Ini akan menjadi momentum bangkitnya produk lokal. Dengan tetap terjaganya jumlah permintaan di pasar dan didorong oleh narasi kemanusiaan, konsumen akan beralih dengan sukarela kepada produk-produk yang disediakan oleh UMKM.

Hal ini akan sejalan dengan konteks ekonomi kerakyatan, di mana kekuatan ekonomi diarahkan untuk mendukung produsen kecil dan menengah yang berperan dalam pembangunan. Sehingga diharapkan perekonomian secara makro dapat tetap dapat tumbuh.

Walaupun pada kenyataanya pertumbuhan yang terjadi pada sektor mikro belum dapat mengimbangi penurunan yang terjadi secara nasional pada beberapa sektor bisnis. Ini dapat dijadikan bibit awal untuk tetap menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.

Agar dapat menghadapi dampak dari aksi ini, perlu adanya strategi holistik yang melibatkan semua elemen yang terlibat dalam perekonomian secara makro maupun mikro. Pemerintah diharapkan dapat memberikan stimulus ekonomi yang diakibatkan naiknya angka penggaguran agar daya beli dan permintaan masyarakat dapat tetap terjaga.

Pada sektor mikro, pelaku usaha harus cerdas dalam mengelola ongkos produksi dengan tetap mempertahankan kualitas agar dapat menciptakan kepuasan konsumen dan pembelian berulang.

Selain itu ini dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Dengan menguatnya produk UMKM dan optimalisasi hilirasi industri, sehingga sumber daya yang dimiliki oleh negara ini dapat dikelola dan dirasakan kebermanfaatannya oleh kita sendiri.

Di mana palestina bukan milik dari suatu bangsa tapi sudah masuk ke dalam krisis kemanusiaan yang mendesak dan menuntut perhatian dari khalayak. (Sumber: Pexels/Ömer Faruk Yıldız)
Di mana palestina bukan milik dari suatu bangsa tapi sudah masuk ke dalam krisis kemanusiaan yang mendesak dan menuntut perhatian dari khalayak. (Sumber: Pexels/Ömer Faruk Yıldız)

Ketahanan ekonomi dalam negeri pun akan semakin kuat, terutama jika didukung oleh kebijakan yang berpihak pada produksi lokal, insentif bagi pelaku usaha kecil, dan penguatan ekosistem industri nasional.

Momentum ini juga mendorong munculnya kesadaran kolektif masyarakat untuk lebih memilih produk dalam negeri sebagai bentuk nyata bela negara di bidang ekonomi. Dengan demikian, krisis global akibat konflik perang dapat direspons secara strategis, tidak hanya sebagai tantangan, tetapi juga sebagai peluang untuk membangun kemandirian dan daya saing bangsa.

Hasil dari strategi dan kebijakan yang dibuat untuk menghadapi kondisi ini memang tidak dapat terlihat secara instan. Aksi boikot memberikan dampak yang cukup masif, namun respon terhadap dampak yang terjadi msih terkesan lambat dan belum menunjukkan dampak yang signifikan.

Namun dengan pemahaman dan kesamaan tujuan, semoga hal tersebut menjadi cikal bakal dari bangkitnya perekonomian Indonesia dan perdamaian dunia.

Dampak Sosial: Menguatkan Solidaritas, Merawat persatuan

Gerakan boikot menimbulkan gelombang solidaritas sosial yang kuat. Penyebaran yang dilakukan melalui media sosial menjadi alat penyebaran informasi dan kampanye. Namun hal ini menjadi seperti dua sisi mata uang, dampak sosial itu uga dapat menciptakan polarisasi.

Sebagian masyarakat mendukung penuh gerakan ini sebagai bentuk bela Palestina, sementara sebagaian lain mengkhawatirkan terhadap ekonomi lokal dan khawatir pada bisa informasi. Sehingga peran penting literasi digital dan kedewasaan sosial diperlukan untuk menghindari konflik horizontal.

Secara sosiologis, fenomena ini bisa dibaca melalui teori aksi sosial Max Weber, bahwa tindakan sosial bukan hanya soal hasil, tetapi juga soal nilai yang mendasarinya. Aksi boikot menjadi bentuk manifestasi nilai—yakni kepedulian terhadap keadilan dan kemanusiaan—yang perlu dijaga agar tidak disalahartikan sebagai bentuk intoleransi atau permusuhan buta.

Boikot sebagai Jalan Tengah Kemanusiaan

Aksi boikot terhadap entitas yang mendukung penjajahan adalah hak moral sekaligus bentuk tanggung jawab sosial. Namun, gerakan ini perlu dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, kejelasan informasi, dan orientasi pada solusi.

Boikot bukan sekadar menolak membeli, tetapi membangun kesadaran bersama bahwa kita tidak boleh menjadi bagian dari sistem penindasan. Dengan mengedepankan prinsip kemanusiaan, kedaulatan ekonomi, dan kesatuan bangsa, gerakan ini bisa menjadi momentum edukatif dan transformatif.

Sebagai bangsa, kita perlu menjadikan konflik di luar negeri sebagai cermin untuk memperkuat keadaban di dalam negeri. Aksi ini dapat dimulai dari diri sendiri dengan menjadi menjadi teladan yang menjunjung nilai, menjaga persatuan, serta berpihak pada kemanusiaan dalam laku nyata dan suara kita sehari-hari. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)