Bystander Effect yang Dialami Perempuan dalam Film Shutter (2025)

4 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Isu Byestander Effect dalam Film Shutter (Sumber: Instagram | Falconpicture)
Isu Byestander Effect dalam Film Shutter (Sumber: Instagram | Falconpicture)

Menurut saya film bergenre horor mampu menarik peminat penonton yang luar biasa di Indonesia. Bahkan dari 10-15 film yang naik ke bioskop setiap bulannya, sejumlah film dengan genre horor bisa mendominasi jumlahnya. Berdasarkan beberapa pengalaman saya saat menonton film ke bioskop bahkan dalam aplikasi salah satu bioskop sering kali film horor lebih banyak diminati dibandingkan genre lain.

Menurut saya ketertarikan yang besar terhadap isu-isu gaib tidak lepas dari akar budaya yang sudah mendarah daging di Indonesia. Sejak kecil kita sudah mendapat asupan cerita horor dari orang tua. Misalnya seperti jangan keluar rumah ketika magrib karena bisa dibawa wewe gombel, anak yang rewel ditakut-takuti oleh keberadaan hantu lewat suara-suara yang dianggap misterius dihasilkan dari keberadaan mereka yang tidak terlihat.

Sebetulnya saya pribadi cukup bosan dengan alur setiap film horor Indonesia. Selain penggunaan jumpscare yang berlebihan-- berapa alur cerita sangat mudah untuk ditebak. Rata-rata alur cerita film dibuat repetitif seperti adaptasi dari kisah yang dianggap nyata atau mengikuti trend film sebelumnya karena jumlah penonton yang membludak.

Salah satu contoh film yang diangkat dari kisah yang dianggap nyata adalah KKN di Desa Penari 2022(10 juta penonton, Pengabdi Setan 2022 (6.3 juta) dan Vina Sebelum 7 hari. Bahkan diantara yang viral, ada satu kisah yang dianggap nyata tersebut faktanya justru dramatisasi di dunia nyata.

Menjadi bahan pebanding ketika saya pernah menonton film Ex-Huma pada 2024 yaitu film genre horor dari Korea Selatan. Tanpa jumpscare yang berlebihan bahkan hampir tidak ada-- justru membuat saya sebagai penonton cukup creepy. Selain unsur budayanya tersampaikan dengan baik, eksekusinya pun sangat berhasil membuat jantung berdebar dan menstimulus otak untuk berpikir bagaimana plot film selanjutnya.

Kali ini saya menonton film Shutter garapan dari Falcon Picture. Satu hal yang membuat saya tertarik menonton film ini adalah karena kehadiran Vino G.Bastian yang kemampuan aktingnya tentu tidak diragukan lagi.

Namun siapa sangka dari film ini saya menemukan isu yang cukup menarik karena sering dialami oleh perempuan yang belum merdeka atas dirinya karena kejadian traumatis yang dialaminya di masa lalu.

Narasi Perempuan Baik yang Menjadi Korban

Saya sering menemukan dan bertanya kenapa film horor selalu mengobjektivikasi perempuan sebagai korban pelecehan dan ketakutan. Dalam kehidupan nyata perempuan sering mendapatkan perilaku kekerasan dan diskriminasi. Sementara setelah menjadi hantu distereotipkan sebagai sosok yang penuh dendam yang menghasilkan rasa takut bagi para penonton.

Perempuan sering dinarasikan sebagai sosok lemah karena fisiknya dan terlalu sensitif dan emosional dibandingkan dengan laki-laki dalam pandangan budaya populer. Penggambarn sosok kerentanan tersebut disinyalir menjadi daya tarik bagi penonton untuk merasakan ketakutan pada sosok perempuan. Perempuan menjadi korban dari stereotipe gender dan kerentanan.

Baca Juga: Perempuan Pemuka Agama, Kenapa Tidak?

Industri perfilman sering kali didominasi oleh perspektif patriarki yang kental. Hal ini membuat perempuan dieksploitasi dengan cara menempatkan mereka menjadi korban. Sedihnya tokoh perempuan sering dijadikan objek hasrat seksual, tokoh sumber masalah atau bangkit menjadi hantu pendendam.

Bahkan karakter "Perempuan baik-baik" atau polos sering dijadikan jembatan yang bisa menghubungkan emosional cerita dengan para penonton. Strategi ini diambil karena penonton lebih mudah simpati kepada karakter yang tidak bersalah, mendapat kemalangan atau cerita sedih lainnya yang menempel pada karakter.

Selain itu karakter perempuan dieksploitasi melalui suaranya, lewat suara jeritan, tangisan atau tertawa perempuan yang lagi dan lagi menghadirkan ketakutan. Suara jeritan perempuan secara tidak langsung bisa mempengaruhi psikologis yang memicu rasa takut dalam otak karena dinarasikan sebagai sosok horor.

Fenomena Bystander Effect di Lingkungan Sosial

Bystander Effect merupakan fenomena dari kecenderungan sosial yang enggan melakukan pertolongan kepada orang lain dalam kondisi yang darurat namun terdapat sejumlah orang di sana. Seberapa sering kita melihat kerumunan orang-orang pada kecelakaan lalu lintas tapi enggan menolong dan didiamkan begitu saja. Mirisnya daripada menolong mereka lebih mementingkan dokumentasi berupa foto atau video. Seolah kejadian tersebut layak diberitakan secepat kilat tapi kondisi korban tidak diperhatikan.

Bystander Effect juga sering disebut sebagai pengamat. Berdasarkan pengamatan seorang psikolog dengan aliran sosial bernama Bib Latane dan John Darley bahwa di lingkungan sosial banyak orang yang kehilangan rasa empatinya untuk menolong korban kekerasan atau pelecehan seksual.

Dilansir dari gramediablog dari jurnal ilmiah yang berjudul From empathy to apathy: The bystander effect revisited mengemukakan bahwa terdapat lima proses terjadinya bystander effect. Dimulai dari hadirnya kondisi darurat lalu menangkap sebuah perhatian individu, mengevaluasi apakah layak dikatakan darurat, memutuskan tanggung jawab dan kompetensi dalam diri dan keputusan untuk menolong atau tidak.

Dalam film Shutter, laki-laki seolah memperlakukan perempuan dengan terus memberikan atensi. Sementara dia tidak memiliki prinsip dan komitmen bahkan cinta. Mendekati seorang perempuan hanya sekedar objek fotografi semata. Sementara ketika perempuan yang bersangkutan mendapatkan pelecehan seksual dari teman-temannya, laki-laki itu seolah tidak memiliki perasaan dan menutupi kejahatan teman-temannya.

Bahkan dalam film ini perempuan direpresentasikan sebagai pihak yang secara terus menerus mendapatkan kemalangan. Selain dijadikan bahan untuk komersialisasi fotografi, perempuan juga direnggut haknya dengan diperkosa secara paksa. Lalu dia dihidupkan kembali sebagai sosok pengganggu, sebagai sosok yang menakutkan, sebagai sosok yang penuh amarah. Bahkan harapan untuk ketenangan saja tidak dia dapatkan dari hidup hingga kematiannya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 18:57

Ini Omah Sawah: Tempat Makan Hidden Gem Sekaligus Cozy di Cianjur

Cianjur yang menjadi julukan kota santri ini selain punya ikonik tauco ternyata banyak tempat kuliner hidden gem yang wajib disambangi

Cianjur memang selalu punya tempat menarik untuk dikunjungi (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 17:08

Bakul Pikul Kopi Tubruk di Terminal Kebon Kalapa Bandung

Nostalgia Terminal Kebon Kalapa Bandung (1964-1996) lewat aroma kopi tubruk bakul pikul.

Terminal Kebon Kalapa, Kota Bandung, pada 1980-an. (Sumber: Facebook | Foto: Foto2 TEMPO DOELOE kita semua)